
Renxa masuk dan duduk ditempatnya, kelas masih sepi dan hanya ada dirinya serta pria itu, mungkin! Kali ini ia telah kembali pada tempat duduknya semula, sebelumnya 1 minggu berturut-turut ia selalu meminjam tempat duduk Jessica. Tetapi sekarang ia akan beradaptasi dengan tempat duduknya sendiri dan berusaha tidak memperdulikan pria itu.
Setelah ia duduk, Jorgo baru saja masuk kedalam kelas dan terlihat sedikit terkejut melihatnya kini sudah duduk disamping bangku pria itu. Ia dan pria itu saling menatap, Jorgo malah tersenyum disudut bibirnya dan segera meraih bangkunya.
" ..." Renxa menyipitkan matanya menatap pria itu
" Cittch.. " (tersenyum disudut bibir) Jorgo mengelengkan kepalanya dan duduk dibangkunya sendiri
Renxa mengeluarkan buku-buku mata pelajarannya dijam pertama dan mengecek kembali jawaban dari tugas yang ia kerjakan semalam. Suasana kelas terasa hening untuk sesaat, hanya ada suara benturan besi dengan kancing tas dan suara lembaran kertas yang dibalik halamannya.
" Jadi.. udahan ni marahnya? " Tiba-tiba suara itu memecah keheningan
" ... " Renxa menengok ke sumber suara. Suara satu-satunya orang yang ada dikelas bersamanya, Mr. Chatzi!
" Hhm.. 1 minggu lebih dan loe baru mau duduk disamping gue? " (mengangkat pangkal alis) Jorgo beralih dari handphone-nya menuju gadis itu. Ia menengok dan tersenyum pada gadis itu
" Ha-ha-ha.. maaf ya, Mr. Chatzi! Saya tidak marah dengan anda, saya hanya ingin menghindar dari anda! " Ia menegaskan setiap kalimatnya
" Oh.. kalau begitu, kenapa loe menghindari gue?" (tertawa)
" Karena gue hanya ingin meminimalisir keadaan yang akan menimpa gue. " Jawab gadis itu dengan kesal
" Meminimalisir keadaan? Dari apa? " Jorgo mengerutkan dahinya dan menatap gadis itu
" Tentu saja dari loe! " Renxa mau tidak mau harus mengingat kembali kejadian yang ia alami bersama dengan pria itu. Saat pria itu mulai mendekatinya..
" Maksudnya.. " Jorgo terlihat tidak mengerti dengan apa yang baru saja gadis itu katakan. Beberapa saat ia membutuhkan waktu untuk menelan maksud gadis itu dan akhirnya ia mengerti
" Oh.. jadi waktu itu? Hhm.. Ms. Nocthadhanaksa, kamu telah mengingatkan aku.. " Pria itu tersenyum pada Renxa
" Apaan sih. Jangan senyum kepada gue, gue takut! " (berteriak)
Jorgo tetap saja menatapnya dan tersenyum. Renxa merasa ada maksud tersembunyi dibalik senyuman pria itu. Ia berusaha melupakannya dan fokus pada bukunya, tetapi ia tetap tidak bisa.
Renxa mendengar suara kursi ditarik mendekatinya, ia melirik kearah kirinya dan benar saja. Jorgo menarik bangkunya untuk lebih dekat dengan bangku gadis itu.
Aa.. dia mulai lagi. Gue tidak bisa..
huhu..
Renxa menggeser sedikit bangkunya lebih menjauh dari pria itu. Tetapi, Jorgo meraih kursinya dan menariknya kembali mendekatinya.
" Aa.. tidak, tidak! Jangan dekati gue.." (memejamkan mata) Renxa merengek seperti anak kecil. Ia mendorong tubuh Jorgo menjauhinya, tetapi ia tidak bisa
" ..." Jorgo hanya tersenyum tipis menatap gadis itu
Renxa tidak bisa keluar atau pun pergi. Karena jalan bangku keluarnya berada disebelah kiri dan Jorgo sudah menutup jalan itu dengan bangkunya. Disisi kanan Renxa terhalang oleh meja kayu yang melingkar hingga kebelakang, sehingga satu-satunya jalan untuk keluar adalah disebelah kiri.
" Apa loe sudah gila? Menjauh dari gue, kenapa loe sangat suka melakukan hal ini kepada gue? " Dengan kesal ia mengatakannya
Jorgo tidak menjawabnya, tetapi pria itu mulai mendekatinya. Renxa terkejut, ia segera menghindari pria itu tetapi karena keterbatasan ruang dan keadaan membuatnya tidak bisa leluasa menjauh.
Jorgo menatapnya dan tangan kanan pria itu perlahan menyingkirkan rambut-rambut panjang yang menutupi sebagian leher gadis itu.
Apa.. apa yang akan dia lakukan?
Kedua mata Renxa terbuka lebar, jantungnya berdetak begitu kencang. Bukan pertama kalinya pria itu melakukannya, Renxa sangat takut. Ia tidak bisa melakukan apa-apa, tubuhnya sama sekali tidak bisa bergerak.
Renxa memejamkan matanya dengan erat, berharap pria itu tidak akan melewati batasannya. Ia merasakan sentuhan lembut di lehernya dan membuatnya merasa geli. Ia menggeliat dan menungkupkan kepalanya, ia berusaha membuat pria itu menjauhinya. Tetapi Jorgo menahannya dan menyingkirkan kembali rambutnya.
Nafas-nafas hangat Renxa rasakan dibawah telinganya, seakan membuatnya kehilangan akal. Tanpa sadar kini ia telah memegang erat kerah jacket yang pria itu pakai.
" Mungkin, mungkin gue sudah gila. Tapi.. aroma tubuh loe.. gue suka! " Jorgo membisikkan kalimat itu pada telinga gadis itu
" ..."
Gue tidak bisa bernafas..
Jorgo beberapa kali mengecup lembut lehernya dan mulai memperdalam gerakannya. Renxa hampir tidak bisa bernafas karena pria itu terlalu kuat mencium lehernya.
" Mr.. Chatzi.. " Ujar gadis itu. Ia bahkan tidak bisa lancar berbicara
Renxa memukul dada pria itu agar memberinya jeda untuk bernafas. Jorgo mengetahuinya dan ia melonggarkan sedikit untuk memberi gadis itu jeda bernafas.
" ...tidak bisa, tapi..."
" ...I don't care..."
Suara beberapa orang yang ada diluar kelas, lama kelamaan suara itu semakin dekat dan...
Ada orang, mampus gue..
" Jo.. oh, sorry.. " (berbalik) Michael tersenyum dan mengangkat kedua tangannya. Ia keluar, lalu menghalangi teman-temannya untuk tidak masuk. Karena ia masuk pertama kali dan langsung melihat mereka berdua
Renxa langsung mendorong pria itu sekuat tenaga. Jorgo akhirnya melepaskan ciumannya, ia sedikit terpental ketika gadis itu mendorongnya.
" Ouch.. " Gumam Jorgo. Ia memegang perutnya, karena dorongan gadis itu terlalu kuat, tidak sengaja perutnya membentur meja tempat ia duduk
" Ops.. " Renxa menggigit jarinya ketika melihat pria itu kesakitan
Rasain, dasar cowok brengsek!
Pikir gadis itu, ia merapihkan kembali rambutnya yang acak-acakan.
" ..." Jorgo menatap gadis itu sejenak dan tersenyum lebar
" Ih.. loe sangat brengsek! Gue membenci loe.. " Renxa memukul Jorgo dengan keras
" Hahaha... " Jorgo malah tertawa menghadapi gadis itu. Ia menangkap kedua tangan gadis itu dan menghentikannya
Tidak lama kemudian semua teman-temannya masuk ke dalam kelas. Jorgo menarik kembali bangkunya kembali tempat semula dan berhenti mengacaukan gadis itu.
" ...what's wrong..."
" ...Michael sangat aneh..."
Untung saja mereka tidak melihat gue. Fuiihh..
Renxa mengelus dada dan menghela nafas lega. Lalu ia menatap pria itu lagi dengan kesal tetapi sebaliknya, Jorgo malah tersenyum lebar sambil menatapnya, dengan tangan kiri yang menumpu kepala pria itu.
Michael tidak bisa berhenti tertawa ketika masuk dan melihat Jorgo. Mereka semua tidak tau, kecuali Michael.
" Renxa, ada apa? Kenapa Michael tidak memperbolehkan kita masuk? " Tanya Grizelle dengan binggung, ia berjalan menghampiri mereka. Ia mengerutkan dahinya dan menatap kedua orang yang duduk dihadapannya
" ..." Jorgo tersenyum dan mengangkat kedua alisnya bersamaan menatap wanita itu
" Tidak ada apa-apa, Grizelle.. " Jawab gadis itu, tetapi matanya menatap kesal Jorgo. Renxa juga menyipitkan matanya melihat Michael yang sedang duduk dimeja dan menatap mereka
" Hahaha.. Jorgo, Jorgo! Haha.. " Reaksi tidak terduga dari pria itu (Michael). Lalu pria itu tos dengan Jorgo dan tertawa bersama dengan keras
" Kenapa-kenapa? " Nathan datang menghampiri kedua pria itu dan bertanya penasaran
" Hhm.. nothing! " (tertawa) Jawab Jorgo. Michael menyilangkan tangannya dan mengangguk menanggapi Jorgo
...____________...
" Tidak, gue tadi bertanya jawaban dari tugas kita pada Mr. Chatzi. Tidak ada apa-apa, Jess. " Ujar gadis itu
Jessica selalu penasaran dan bertanya pada Renxa. Wanita itu tidak tau apa-apa, karena sebelumnya Michael bersikeras melarangnya masuk ke dalam. Saat mereka masuk, ia melihat hanya ada Renxa dan Jorgo didalam sana, tetapi ia tidak mengerti kenapa Michael melarang mereka masuk jika Renxa dan Jorgo hanya berdiskusi soal mata pelajaran mereka.
Tidak puas dengan jawaban Renxa, Jessica beralih bertanya langsung pada Jorgo. Tetapi pria itu dengan santai mengatakan bahwa, nona Nocthadhanaksa sangat payah dalam mata pelajaran Biologi!
Jorgo mengatakannya begitu keras, sehingga Renxa dapat mendengarnya. Ia sangat tersinggung dan melemparkan semua buku tebal yang ada dimejanya pada Jorgo. Pria itu tertawa dan menangkap semua buku yang melayang kepadanya dengan begitu mudah.
Kemudian, bel masuk sudah berbunyi. Guru mata pelajaran pertama sudah masuk dan mereka memulai pembelajarannya dengan tenang. Semua murid mendengarkan dengan seksama dan melupakan semua kejadian tadi.
Renxa membuat bangku-nya lebih jauh dari Jorgo, agar pria itu tidak mengusik ketenangannya lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Note : Guys.. I'm really sorry to say this, tapi kita break di eps 90 dulu ya. Because.. damn it! Semua file aku tentang cerita ini ada di handphone dan laptop mama aku, and the bad things is.. mama aku lagi di luar kota!! gimana coba, huhu..
Aku ngga mungkin tulis dan ubah lagi alur ceritanya karena itu udah jadi. Aku harus tunggu mama aku balik lagi ke rumah dan salin semua file nya ya. Sorry banget, minggu ini atau minggu depan dia balik kok, jadi sabar ya..
See you next soon❤
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...