
Keesokan harinya..
[Kediaman Nocthadhanaksa, Indonesia]
5.16 AM
Kamar gadis itu masih gelap, ia sama sekali tidak bisa membuka matanya. Karena semalam ia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Walaupun ia bertekat untuk bangun lebih awal, tetapi ia tidak bisa melakukannya.
(Ceklek.. ciutt..)
Seseorang membuka dan menutup pintu kamar gadis itu serta menyalakan lampu penerangan utamanya. Renxa masih tertidur dan posisinya membelakangi arah pintu, walaupun ia tidak membelakanginya ia tetaplah tidak akan tau karena ia masih tidur.
" Hhm.. masih tidur? Katanya ibadah pagi.." (mengelengkan kepala) Ujar seorang pria yang kita tau adalah seorang Joe An Arvadhafiose
Joe berjalan menghampiri ranjang gadis itu dan menatapnya. Ia tidak melakukan apa-apa, bahkan membangunkannya pun juga tidak. Sebaliknya, ia malah ikut berbaring disamping gadis itu. Ia menengok ke kiri, ia bisa melihat rambut panjang Renxa yang lembut. Ia tersenyum dan memainkan rambut panjang gadis itu.
Dalam tidurnya, Renxa merasa ada seseorang yang berada dibelakangnya. Ia tidak tau itu siapa, tetapi ia mulai merasakan nafas hangat berhembus disekitar punggung dan lehernya.
Ah sialan.. siapa lagi yang mengganggu gue..
Pikir gadis itu, ia perlahan membuka matanya dan melihat lampu kamarnya telah menyala. Ia curiga, lalu ia melirik kearah belakang. Perlahan ia membalikkan tubuhnya kearah Joe, ia terkejut pria itu sudah menatapnya.
Joe An Arvadhafiose..
" Sudah bangun? " Tanya Joe dengan serius
" ..." Renxa segera bangun dan meraih robe/jubah tidurnya dibawah kakinya
Saat ia akan mengenakannya, tangan Joe menarik tubuhnya dan mendorongnya ke tempat tidur kembali. Joe mendekati dan berbisik ketelinga kirinya.
" Aa..." Teriak Renxa dengan panik, ia memejamkan matanya dan tidak ingin menatap pria dihadapannya
" Huh.. why do you always put us in the same position? Setiap kali kita bertemu, loe selalu membuat gue melewati batas kita..
[Kenapa kamu selalu menempatkan kita pada posisi yang sama] " Bisik Joe perlahan
" Ah.. tidak, tidak. Gue mohon, kali ini kita jangan bermain-main.. please, ka Joe. "
" Bermain-main? Apa maksud loe.. gue tidak melakukan apa pun kepada loe. Hhm.. apa yang sebenarnya loe pikirkan? " Joe tersenyum dan melepaskan gadis itu
" Huh? " Renxa membuka matanya dengan binggung, ia melihat pria itu melepaskannya dan perlahan menjauhinya
" Gue bahkan tidak memikirkan apa pun. Loe yang memikirkan hal-hal seperti itu, bukan gue.." Jawab Joe dengan santai
" Ah.. sialan, dia menjebak gue! " Gumam gadis itu bangkit dan memakai kembali jubah tidurnya
" Apa? Barusan loe bilang apa.. " Joe membenarkan posisi tidurnya diranjang gadis itu. Ia tidak beralih dari tempat tidur gadis itu, ia bahkan membuat dirinya nyaman ditempat itu.
Joe melihat Renxa yang meninggalkan kasurnya dan memakai kembali robe-nya. Renxa sangat kesal kepada pria itu, karena selalu mengganggunya saat ia akan beristirahat dengan tenang.
" Tidak.. gue tidak mengatakan apa-apa. "
" ..." (Tersenyum)
Memangnya dia siapa? Sesuka hati masuk ruangan orang lain. Hih.. mana sepatunya tidak dilepas lagi. Ih.. dia sungguh menyebalkan.
Renxa tidak sengaja melihat pria itu dengan sepatu yang masih terpasang dikakinya. Joe berbaring dikasur Renxa masih dengan sepatunya.
" Bisa nggak.. sepatunya dilepas, dan kenapa loe bisa masuk ke sini? Kenapa pelayan membiarkan loe masuk. Apa kejadian kemarin membuat loe punya hak untuk masuk kamar gue sesuka loe? " Berbagai pertanyaan langsung gadis itu lontarkan dengan kesal. Joe menyipitkan matanya dan menghiraukan gadis itu
" Kalau gue lepas.. nanti akan susah buat pakainya lagi, harus ada yang mengenakannya untuk gue. Apa loe mau jadi orang itu? Hahaha.." Canda Joe pada gadis itu
" ..." Renxa memutar kedua bola matanya dan tidak memperdulikan pria itu
" Dan.. mana mungkin mereka berani mencegah gue, mereka bahkan mempersilahkan gue untuk keatas dan menemui loe. Hhm.. lagi pula, dulu waktu kita masih kecil gue biasa menginap di sini.. dan seingat gue, loe selalu tidur bersama gue dulu. Toh.. apa bedanya? " Dengan polosnya Joe mengatakan semuanya tanpa berfikir, ia menggoda gadis itu
" ..." Renxa terkejut dan ia mulai berfikir dengan apa yang Joe katakan. Ia menggedipkan matanya berulang kali dengan canggung
Ah.. benar juga..
Eh.. tidak, tidak! Semuanya sudah beda..
" Oi.. ya jelas berbeda. Gue tidak tau kalau loe akan tumbuh menjadi cowok yang brengsek seperti ini. " Jelas gadis itu dengan jujur
" Gue jadi merasa takut saat loe berada didekat gue. Dan.. pintunya, tidak baik kita didalam satu ruangan. Inilah yang menjadikan gue semakin tidak ingin berada dekat-dekat loe. " Gadis itu berjalan dan membuka lebar-lebar pintu kamarnya dengan maksud agar pria itu bisa pergi sekarang
" ..." Joe tersenyum tipis melihat gadis itu dengan kesal membuka pintu kamarnya kembali
" Nah.. You can get out, Now! Gue mau mandi.. " Renxa mempersilahkan pria yang sedang berbaring dikasurnya untuk segera pergi
" Apa sih.. mandi, mandi aja. Kenapa gue harus pergi? Cepetan mandi atau kita akan telat nanti.. " Joe tidak memperdulikan gadis itu. Ia meraih handphone yang ada disaku celananya dan memainkannya
Hihh.. dasar keras kepala! Kenapa ada manusia seperti itu didunia? Apa semua pria tampan memiliki sifat seperti itu...
Renxa benar-benar selesai dengan pria itu. Saat ia melihat jam, waktu sudah semakin pagi dan ia harus segera bersiap-siap. Ia meraih handuknya dan berjalan menuju kamar mandi.
(Braak..)
Gadis itu membanting pintu kamar mandinya dan menguncinya rapat-rapat.
Joe melihat itu dan tertawa, entah apa yang ia pikirkan tetapi ia sangat senang. Pria itu bahkan tidak berhenti tertawa, hingga telepon-nya berdering dan ia harus mengangkatnya.
(Kring..kring)
" Hai.. " Joe bangkit dari ranjang gadis itu dan berjalan keluar kamar. Ia menutup kembali pintu kamar gadis itu. Ada raut wajah bahagia sekaligus serius dalam menerima teleponnya, tak ragu ia akhirnya keluar meninggalkan kamar gadis itu.
Beberapa menit setelah pria itu keluar dari ruangan, Renxa menyelesaikan mandi-nya. Saat ia keluar, ia melihat pria itu tidak diranjangnya lagi, disisi lain ia merasa senang tetapi disisi lainnya juga ia merasa curiga.
Jangan-jangan dia mau ngerjain gue..
Udah nggak ada disini, kan?
Renxa berkeliling kamarnya dan memastikan bahwa pria itu benar-benar tidak ada. Ia merasa lega dan segera bersiap-siap diri, saat ia melihat jarum jamnya ia merasa harus cepat.
...°¢¢¢¢¢°...
Renxa mulai menuruni anak tangga dan perlahan berjalan menuju ruang tamu. Masih ada 15 menit sebelum ibadahnya dimulai, ia tidak terlalu terburu-buru. Ia mencari keberadaan pria itu dan bertanya kepada salah satu pelayannya. Mereka bilang bahwa Joe sudah menunggunya diruang tamu.
Ah.. kenapa gue harus pergi sama dia? Nanti kalau kita barengan.. ntar malah jadi sorotan lagi.
Sebenarnya Renxa tidak ingin pergi bersama dengan pria itu. Perlu diketahui, keluarga mereka selalu menjadi sorotan publik baik dimedia maupun majalah. Apa pun yang mereka lakukan, maka mereka harus berhati-hati agar tidak menjadi asumsi publik.
Dari jauh Renxa melihat pria itu sedang duduk bersantai disofa dengan menatap layar handphone-nya. Pria yang sempurna dari sisi apapun..
Joe sangat sopan dengan kemeja flanel merah dan jeans putih. Kesan ramah dan cool melekat padanya. Satu hal yang membuat Renxa selalu tertarik padanya, yaitu.. Rambut dan Headband. Dalam formalitas, Joe sangatlah sering memakai headband. Dia sangat menyukai itu, begitu pun dengan gadis itu. Joe sangat cocok dengan hal itu, selain membuatnya tampan, itu juga membuatnya berkarisma.
Renxa berjalan mendekati pria itu, tetapi sepertinya pria itu tidak menghiraukannya. Joe tetap saja memainkan handphone-nya.
" ..."
" ..." Renxa menyipitkan matanya dan menunggu beberapa saat pada pria itu. Saat menunggu, pria itu sama sekali tidak memperdulikannya.
Gue yakin dia pasti sudah tau gue ada disini.. kenapa nggak ngerespon?
Renxa menyerah dan memanggil Joe untuk pertama kali.
" Ka Joe.. ayo kita berangkat! " Gadis itu membangunkan lamunan Joe
" Hhm.." Walaupun sudah mendengarkannya, tetapi Joe sama sekali tidak beranjak dari handphone-nya
" Joe! Gue udah siap.. ayo.. " Renxa sedikit meninggikan suaranya
" Iy-.. " Joe mulai mendongak dan menatap gadis itu
" ..."
" ..."
Beberapa saat Joe terdiam menatap gadis itu, ia mematikan handphonenya dan berdiri, perlahan berjalan menghampiri gadis itu. Renxa merasa aneh saat Joe menatapnya begitu lama dan Joe menghampirinya.
" G-gue.. loe harus melepasnya.. " Bisik Joe
" ..."