MY Lovely Story

MY Lovely Story
Eps. 22



Pria itu dengan tenang membaca seluruh isi buku yang ada ditangan kanannya. Ia sangat cermat, berusaha mengerti apa yang gadis itu tulis. Terlihat sedikit rauh wajah terkejutnya, tetapi dengan cepat ia menutupinya dengan raut muka datar.


" Hhm.. menurut saya..." Kalimatnya yang sedikit diperlambat dengan pemberian jeda pada setiap kata


Renxa menunggu dan menatap pria itu dengan penasaran, ia sedikit memiringkan kepalanya ke kanan. Ia menunggu dan mulai menggerakkan kedua alisnya keatas dan kebawah secara bersamaan ketia pria itu melihat kearahnya sebagai kode agar semua ini cepat diselesaikan.


Semoga dan semoga, gue nggak dapet masalah gara-gara cowok brengsek ini..


" Jadi, menurut.. " Pria itu melihat kearah gadis yang sedang memberikannya kode untuk menyelesaikan


" Ehem.. menurut saya ini adalah suatu jawaban yang sangat cerdas. Dia dapat memahami apa yang akan dan dia tulis saat ini. Begitu terlihat jelas, bahwa dia tidak diragukan lagi kemampuannya dalam mengamati suatu mikroorganisme yang belum tentu orang lain dapat lakukan, saya bahkan tidak bisa untuk mengkomentari pekerjaannya. Itu menurut saya, Ms. Wilda." Pria itu tertawa ringan diawal, hingga akhirnya ia serius dalam menjelaskan apa yang ada dalam otaknya


" Hhm.. baiklah.. " Jawab Ms. Wilda menanggapi pria itu


" Huh.. " Renxa dapat menghembuskan nafasnya dengan lega setelah mendengar jawaban pria itu. Ia tidak mengerti mengapa pria itu tertawa diawal kalimatnya, apakah tulisan bisa mengeluarkan sebuah lelucon? Cowok aneh..


" Cittch.. " Pria itu menutup dan melemparkan buku yang ia bawa tepat kepada pemiliknya tanpa memandangnya sedikit pun


" ... " Renxa menangkap kembali buku yang pria itu lemparkan kepadanya


Chatzi? Gue penasaran.


" Mr. Chatzi, saya sangat percaya dengan penilaian anda. Terimakasih.."


" ... " Pria itu mengangguk pelan menanggapi


Ms. Wilda membawa serta laptop serta buku yang ada dimejanya dan bersiap pergi meninggalkan kelas tersebut. Karena memang sudah waktunya untuk pendalaman materi berikutnya.


Sementara itu Renxa tengah sibuk dengan handphone-nya dari tadi. Sebenarnya ia sangat penasaran dengan pria yang berada disebrangnya, ia mencari nama Chatzi di internet karena ia benar-benar tak asing dengan nama dan wajah pria itu. Saat ia selesai mengetik Chatzi, betapa terkejutnya ia ketika mendapati siapa pria itu sebenarnya.


Jorgo Constantinos Chatzi, seorang putra sulung dari Demian Constantinos Chatzi yang juga merupakan seorang milioner German sekaligus pemilik agensi Chatzi'e Enterprice. Agensi rekaman terbesar di German dan Rusia, Jorgo Constantinos Chatzi sendiri merupakan seorang model pria tersukses diusianya yang masih sangat muda, sekaligus pewaris Chatzi'e Enterprice.


" Yah.. ternyata dia. " Renxa menaruh kembali handphone-nya di meja tempatnya


" Pantesan aja.. gue pernah liat. Kalau begini ceritanya, mah.. gue nggak sudi juga kali. " Renxa sengaja berbicara lebih keras agar Jorgo dapat mendengarnya, terlebih lagi ia menekankan kata terakhirnya. Ia tidak terlalu mengenalinya pada awal, karena topi baseball Jorgo menutupi hampir separuh wajahnya dan ia hanya dapat melihat hidung kebawah saja.


"..." Jorgo mendengarnya dan melirik kearah gadis itu, ia mengerutkan dahinya karena heran dengan apa yang dikatakan gadis itu dan menghembuskan nafasnya


" Ah.. padahal ganteng, sayang banget. " Tambah gadis itu memandang lurus kedepan


" Huh.. loe ngomongin gue? Ngomong aja langsung. " Dengan tenang ia mengatakannya tanpa memandang seseorang disampingnya. Hal ini justru tambah membuat Renxa sebal.


" Hah? Apa? Gue.. gue ngomongin loe? Cittch.. gila kali gue ngomongin loe. Loe ganteng? Huh.. masih ganteng anjing peliharaan gue kali! "


" Cittch.. " Jorgo memalingkan wajahnya dan tersenyum disudut bibirnya


" Sorry, bisa nggak loe. Nggak makan didalam kelas? " Ucap gadis itu dengan kesal, sudah sejak tadi ia melihat Jorgo terus saja mengunyah permen karet didepannya. Hal ini membuatnya risih, karena pertama kalinya ia melihat orang melakukan hal itu disaat pembelajaran


" Gue? Gue nggak makan, cuman lagi ngunyah permen karet aja." Jorgo dengan datar mengatakannya


Hih.. baru ketemu aja shows a bad impression! Nggak percaya gue bisa sekelas sama model sekelas dia. Cittch..


Renxa menghembuskan nafasnya sejenak sebelum akhirnya pembelajaran selanjutnya dimulai. Satu pertemuan lagi tersisa sebelum ia benar-benar bebas dari sekolahnya.


Selama pembelajarannya dikelas, Renxa sangat menikmatinya. Ia bertemu dan mengobrol dengan berbagai macam anak dikelasnya, ia sangat kagum betapa cerdasnya mereka semua. Ia juga merasa bahwa semua anak dikelas itu sangat mudah untuk didekatinya, begitu pun dia bagi anak-anak dikelas itu.


Ia menghabiskan satu jamnya dengan nyaman karena kebetulan guru mata pelajarannya saat ini adalah seseorang yang humoris, ia menyukai guru yang humoris. Mr. John namanya, ia adalah seorang guru sastra bahasa indonesia. Mr. John bukanlah seseorang yang tua, tetapi ia seorang pria tampan dan masih muda yang baru saja menyelesaikan study S2-nya di Jepang. Ia memiliki keahlian berbicara yang sangat mengesankan sewaktu ia mengajar dengan serius. Dengan waktu satu jam saja tidaklah cukup untuk murid-murid disana, menurut seorang siswi Mr. John adalah guru favorite mereka semua. Bukan hanya tampan, muda dan pintar, tetapi Mr. John adalah seorang pria yang lemah lembut, ia sangat jarang sekali marah. Ia lebih memilih untuk menegur sekaligus memberi mereka contoh yang baik dari pada harus mengeluarkan kata-kata yang tidak berguna bahkan dapat menyakiti hati orang lain. Dengan guru yang jarang memarahi murid-nya pastilah hal yang sangat dicari dan disukai murid-nya, kan?


Sudah saat terakhir dimana kelas Mr. John berakhir, Renxa sangat menunggu-nunggu dimana jam terakhir tiba. Alasannya, selain jam dimana hari berlalu begitu cepat, jam terakhir ini adalah jam mata pelajaran bahasa Perancis, yang merupakan salah satu mata pelajaran yang sangat Renxa sukai. Pada waktu ia masih di Zurich, bahasa Perancis-nya tidak terlalu berguna dalam bahasa sehari-hari, karena di Zurich merupakan daerah dimana bahasa sehari-harinya adalah bahasa Jerman. Bukannya masyarakat Zurich tidak bisa bahasa Perancis, tetapi terkadang mereka menggunakan kebanyakan bahasa sehari-hari mereka adalah Jerman.


Negara Swiss memiliki 4 macam bahasa nasional seperti Perancis, Jerman, Italia dan Romansh. Setiap kanton/pembagian wilayah menggunakan bahasa yang berbeda. Terdapat 26 kanton di Swiss, setiap kanton bisa memilih bahasa yang dipakai sebagai bahasa resminya. Dari ke-empat bahasa nasional tersebut, 65.6% masyarakatnya menggunakan bahasa Jerman.