MY Lovely Story

MY Lovely Story
Eps. 76



Saat membelakangi Joe, ia tidak sengaja melihat kearah meja kerja pria itu. Renxa mengerutkan dahinya melihat barang dimeja itu.


Bukannya tadi ada 3 bingkai foto? Bagaimana sekarang hanya ada 2? Foto Neisya dan Joe tidak ada..


Apa.. apa dia menyingkirkannya?


Ka Joe apa loe masih berusaha menutupinya dari gue? Seandainya gue mampu mengatakan, kalau gue sudah mengetahui semuanya.. semuanya!


Renxa menundukkan kepalanya. Ia sangat kecewa dengan pria itu dan dirinya sendiri. Kenapa ia tidak bisa mengatakan apa pun saat menatap mata pria itu, kekuatannya seketika langsung hilang jika berada dihadapannya.


" Renxa, apa loe masih menyukai gue.." Kalimat itu tiba-tiba saja keluar dari mulut pria itu. Joe terdengar serius menanyakan hal itu kepada Renxa


" ..." Renxa terkejut, ia membulatkan kedua matanya. Apa yang Joe maksud?


" ..." Mereka berdua sama-sama diam membeku. Joe masih menatap gadis itu dengan serius


" Apa maksud ka Joe? " Rasanya tidak ada kekuatan dalam kalimat yang Renxa katakan. Entah nantinya apakah ia bisa menjawab pertanyaan pria itu lagi


" Sebelumnya gue sudah mengatakan bahwa dulu loe sangat menyukai gue. Loe salalu ingin bersama dengan gue, kemana pun gue pergi.. "


" ... "


" Apa perasaan.. perasaan itu masih tersisa pada loe, hingga saat ini? "


" ..."


" Apa loe tidak mengingatnya? Masa kecil loe.. " Joe mengubah percakapan seriusnya menjadi lebih santai kembali. Ia memiringkan kepalanya dan merasa binggung karena gadis itu tidak menjawab pertanyaannya


" Tidak! Maaf ka Joe, gue tidak mengingatnya. Soal itu.. apa loe masih menganggap anak kecil itu serius dengan perkataannya? Kita sama-sama sudah dewasa.. " Renxa akhirnya menjawab pertanyaan pria itu. Ia kembali merapikan rambutnya, ia berusaha untuk terlihat biasa saja didepan Joe


" Cittch.. yeah, okay lah.. " Joe berjalan melewati gadis itu. Ia mengambil dua bingkisan lainnya dan membawanya pada gadis itu


" ..." Tanpa mengatakan sepatah kata apapun, Joe menyerahkan barang yang ada ditangannya kepada Renxa


" Huh? Apa ini.. " Renxa menerimanya dan melihat kedalam isi bingkisan itu


Saat melihat kedalam, ada kotak sepatu dan tas yang sangat indah. Renxa tidak mengerti kenapa Joe memberikan semua ini, ia hanya akan pulang kerumah, tetapi kenapa harus dengan semua pakaian dan barang formal ini.


" Pakai ini, tinggalkan semua baju, tas serta sepatu loe disini. Tidak perlu membawanya pulang.." (berbalik) Joe mengatakannya dengan santai dan mengambil dasi serta jasnya yang masih ada didalam bingkisan itu


" Tapi kenapa? Bukannya gue hanya akan pulang.."


" Karena.. loe akan menemani gue bertemu dengan client.. "


" Apa? Kenapa jadi begini? Loe ti-


Huh.. okay! " Pada awal gadis itu sangat kesal dan berteriak pada pria itu. Tetapi.. ia tidak menyelesaikan kalimatnya dan menghela nafas, dengan tenang ia menurut


" ..." (berbalik) Joe mengerutkan dahinya dan menatap gadis itu dengan penasaran


Gue tidak perlu mendebatnya lagi, jika gue melakukannya.. maka dia akan melakukan hal-hal yang akan lebih menyusahkan gue.


Ih.. G-ra An Arvadhafiose.. loe sangat tidak beruntung memiliki seorang kakak yang Be-re-ng-sek!


Renxa berusaha menenangkan fikirannya.


Setelah selesai dengan rambutnya, ia duduk dikursi panjang dibawah ranjang ruangan itu. Ia mengambil kotak sepatu dan memakainya. Tidak lama kemudian, Joe duduk disebelah kanannya dan juga memakai sepatunya.


(Takk..takk..takk..)


Renxa beranjak dari kursinya dan berjalan menuju tasnya. Ia mengeluarkan isinya dan memindahkan semuanya pada tas yang sudah Joe berikan. Tas itu sangat indah dan memiliki warna putih yang sama dengan sepatu yang ia pakai. Joe memilihnya dengan sangat baik, semua barang yang dikenakan gadis itu terlihat sangat cantik dan manis.


" Iya, apa loe menyukainya." (memakai sepatu) Tanpa menatap gadis itu


" Iya, terimakasih.. "


Gue sangat lapar.. kapan kita akan pergi makan?


Renxa sudah merasa lapar bahkan saat ia sedang mandi. Joe belum mengajaknya keluar dan makan, ia tidak bisa mengatakannya lebih dulu. Untuk mengisi kekosongannya, ia memainkan handphone-nya sambil berdiri ditempatnya. Semalam ia mengatakan bahwa handphone-nya lowbatt pada Joe, tetapi sebenarnya ia hanya berbohong.


Saat ia sedang menatap layar ponselnya, tiba-tiba dari atas kepalanya jatuh sebuah gulungan dasi. Renxa sedikit meloncat karena terkejut, ia mendongak dan melihat apa yang terjadi.


" ..." Gadis itu mendongak keatas dan mendapati pria itu menggantungkan dasinya diatas kepala gadis itu. Joe sudah ada dibelakangnya dan ia tidak menyadarinya


" ..." (tersenyum) Joe terlihat seperti tidak mempunyai kesalahan. Ia sudah mengagetkan gadis itu dan sekarang.. ia masih dengan tenang tersenyum?


" Ka Joe, mengagetkan gue saja. Kenapa loe masih belum bersiap? Ini sudah hampir jam 12 lewat, rapat loe jam berapa? " Renxa berjalan menjauhi pria itu. Ia masih melihat pria itu belum selesai bersiap, dasi dan jas-nya bahkan belum dipakai


" Jam 1 siang. Maka dari itu, bantu gue bersiap-siap. Ini.. " (tersenyum) Joe menyerahkan dasi yang ia genggam pada gadis itu


" Ken- " Ia hampir berteriak dan marah pada pria itu. Tetapi ia tidak melakukannya, ia mengambil dasi itu dengan terpaksa


" ..." Joe menatap gadis itu dengan binggung, ia mengangkat salah satu pangkal alisnya.


Kenapa harus gue? Apa dia tidak punya tangan sendiri?


Huh.. Renxa, stop debating! Lakukan saja..


Renxa berusaha biasa saja dihadapan pria itu.


Ia menaikkan kerah kemeja pria itu dan melingkarkan dasinya. Renxa kesulitan untuk melingkarkan dasinya, karena pria itu sangat tinggi. Bahkan dengan sepatu heels yang ia pakai, tidaklah cukup tinggi untuk menjangkaunya.


Kenapa dia sangat tinggi? Apa dalam waktu 7 tahun, dia tumbuh setinggi ini?


Renxa berjinjit bahkan dengan heels yang ia pakai. Joe selalu tersenyum menatapnya, ia tidak ingin menatap mata Joe. Ia lebih fokus pada dasi yang ia pegang.


" ..." (tersenyum) Joe menatap gadis itu, bukannya menunduk dan membuat gadis itu dengan mudah meraihnya. Tetapi, Joe malah membuat gadis itu semakin sulit. Pria itu meluruskan lehernya keatas dan menjinjit lebih tinggi lagi


Apa dia mengerjai gue?


" Huh.." (menghela nafas) Renxa menyadari hal itu dan ia sangat kesal. Ia mencubit perut Joe hingga pria itu berhenti melakukannya


" Ouch.." (tertawa) Joe mengeliat, ia membungkuk dan memegang perutnya. Karena gadis itu mencubitnya


" Ka Joe berhenti mengerjai gue.. " Ia masih berusaha mengikatkan dasi pria tinggi itu


" Hahaha.. loe sudah pakai heels tapi.. loe masih saja pendek. Haha.." (tertawa)


" Ih.. " Renxa kembali mencubit perut pria itu, tetapi kali ini sedikit lebih keras


" Oucch.. sakit! " (tertawa)


" Gue sudah tinggi, tapi loe yang terlalu tinggi! Kenapa loe jadi setinggi ini, sih? " Renxa menatap pria itu dengan kesal


" Karena.. gue sudah dewasa! Bukan anak kecil seperti loe.. " Joe menghentikan gadis itu sebentar. Ia menunduk dan mengambil kursi kecil dibawah kursi panjang di belakang gadis itu


Joe membawanya kepada gadis itu dan mengisyaratkannya untuk naik. Renxa naik kursi itu dan benar saja, kursi membuatnya dengan mudah meraih kerah pria itu. Dengan bantuan kursi itu, ia dapat sejajar dengan tinggi pria itu.


...°¢¢¢¢¢°...