MY Lovely Story

MY Lovely Story
Eps. 12



Christ, Richo, dan kedua gadis itu menaiki anak tangga menuju lantai dua yang dimana kamar mereka berada. Christ dan Richo memanglah kebetulan berada satu kamar dilantai dua, sedangkan Zab dan Brian yang juga merupakan teman satu kamar lebih memilih untuk berada dikamar lantai dasar dari pada lantai dua. Sesampainya dilantai dua, pertama kali akan bertemu dengan persimpangan jalan menuju beberapa ruangan kamar lainnya. Richo dan Christ mengambil jalan kiri, dan kedua gadis itu mengambil jalan kanan. Mereka hanya berjalan sedikit untuk mencapai kamar masing-masing, disepanjang jalannya terlihat ada begitu banyak lukisan serta foto-foto yang terpasang. Dominan dengan lukisan besar dan artistik disetiap sudutnya, sampai pertengahan lorong terdapat beberapa pintu kamar pada sisi kiri dan kanannya.


Kamar G-ra berada pada sisi kiri, pintu pertama. Sebuah kamar yang cukup luas dengan gaya vintage-nya yang khas, serta beberapa furniture unik menempel pada dinding kamar itu, kamar yang minimalis sekaligus elegan pada setiap sisinya.


" Renxa, loe mandi dulu kan? Sorry, gue nggak bisa nemenin ya. Gue capek banget hari ini, gue mau pergi tidur dulu ya. " Ujar G sambil menutup pintu kamarnya dan berjalan menuju ruang gantinya untuk berganti pakaian tidur yang lebih nyaman


" Oh.. iya. Tidur aja nggak papa, lagian gue juga nggak akan nyuruh loe tungguin mandi gue yang lama juga. " Canda gadis itu dengan senyum dibibirnya


" Good night, G. Pinjam sandalnya juga ya." Tambah gadis itu


" Yeah.. okay, good night." Samar-samar terdengar dan perlahan memejamkan matanya


Tidak butuh waktu lama gadis itu terlihat sudah benar-benar terlelap dalam tidurnya, ia memanglah terlihat lelah tidak heran ia dengan begitu cepat memejamkan matanya. Sedangkan Renxa ia juga cukup lelah rasanya, tetapi ia juga tidak bisa jika tidak membersihkan dirinya dan menanggalkan pakaian yang ia pakai seharian itu. Ia letakkan handphone serta tasnya disofa ujung ruangan, ia mulai menarik rambut panjangnya hingga membentuk high bun style. Setelah itu ia mengambil baju yang baru saja ia beli tadi menuju kamar mandi.


Waktu telah menunjukkan 00.34 saat Renxa keluar dari kamar mandi. Ia terlihat sangat nyaman dengan piyama set kimono-nya yang berpotongan pendek selutut. Tubuhnya terlihat sangat pas jika ia menggunakan itu, piyama dark blue dengan robe sepadan yang berbahan satin polos halus membungkus tubuhnya. Ia berjalan menuju tas-nya dan mengambil sebotol kaca perfume, ia memang akan tidur tetapi sudah kebiasaannya setelah mandi ia mengoleskan perfume ditubuhnya. Ia sangat menyukai aroma perfume saat ia tertidur itu membuatnya sangat nyaman. Ia mengoleskan sedikit cairan minyak kental(perfume) didalam botolnya ke beberapa titik tubuhnya, seperti pergelangan tangan dan bagian belakang telinga. Harum semerbak wangi musim semi yang ia sukai membuat gadis itu bahagia, ia perlahan berjalan menuju ranjang dimana sahabatnya tertidur membelakanginya dengan sangat terlelap bahkan ia heran bagaimana dia bisa tertidur secepat ini.


Ah.. dia pasti sangat lelah, tidur aja cepet banget. Pikirnya


Saat ia tengah merebahkan diri dikasur, ia merasakan tenggorokannya terasa kering. Ia berfikir apakah tidak apa-apa jika dia turun untuk mengambil minum didapur. Terlintas dalam pikirannya, apakah 'dia' sudah masuk kedalam kamarnya atau belum.


Dia udah masuk kekamarnya atau belum ya?


Ah.. gue nggak yakin. Hm.. nggak mungkin ah dia belum tidur, inikan udah lama. Lagi pula semua orang pasti juga sudah tidur termasuk dia. Okay.. kita pergi!


Renxa perlahan bangkit dari ranjang supaya G-ra tidak terganggu dengannya. Ia berjalan menuju pintu dan membukanya perlahan, semua begitu sempurna sampai ia berbalik badan untuk menutup pintu kamar itu perlahan.


Tiba-tiba..


(Click..click..) pintu terbuka


Dia mendengarkan suara kunci pintu dan pintu dibelakang punggungnya perlahan terbuka dan berhenti. Ia sejenak berfikir sebelum badannya berbalik. Ah.. siapa juga yang malam-malam begini masih bangun?


Renxa langsung membalikkan tubuhnya untuk mendapati siapa yang baru saja keluar dari ruangan sebrang kamar G-ra tersebut.


Ah.. damn!


Ia sangat terkejut mendapati ternyata Joe An Arvadhafiose-lah yang keluar dari dalam bilik tersebut. Joe ternyata sudah memandanginya terlebih dahulu dengan menyandarkan bahunya pada sisi pintu yang masih terbuka dengan tangan disakunya. Mata mereka sempat bertemu selama dua detik sampai Joe mulai memandang gadis dihadapannya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan senyum tipis dibibirnya. Gadis itu seolah mengerti dengan apa yang akan dipikirkan pria dihadapannya, dengan segera ia menyipat robe/jubah tidurnya rapat-rapat. Karena sebelumnya tali pada robe-nya tidak ia ikat dengan pikiran bahwa ia hanya akan pergi tidur dan tidak ada seorangpun yang akan melihat kecuali G-ra saja.


" Percuma, gue udah lihat juga." Teriak Joe dipertengahan ujung koridor tidak jauh dari Renxa


" Huu.. dasar, you masher! " Jawab gadis itu dengan pelan agar pria itu tidak mendengarnya tanpa memandang kearah pria itu


" ..." (tersenyum tipis) Ia dapat mendengarnya dengan sangat jelas


Joe sudah pasti dapat mendengarnya karena pertama, hari sudah sangat larut sehingga tidak akan ada yang membuat suara lain. Kedua, hanya ada dirinya dan gadis itu dikoridor, sehingga ia dapat dengan mudah mendengar suara kecil apapun yang keluar dari mulut gadis itu.


" Kau cukup bodoh jika berfikir aku tidak dapat mendengarkannya. " Tambah Joe dengan senyum tipis dibibirnya


" Huh.." Gadis itu sangat terkejut


Renxa dapat melihat pria itu mengambil jalan lain dilantai yang sama sehingga ia tidak akan mungkin berada pada tempat yang sama lagi. Ia berjalan dengan hati-hati saat menuruni anak tangga karena semua lampu utama dilantai bawah sudah dimatikan, hanya ada beberapa lampu penerangan biasa disepanjang sisi ruangan.


" Wah.. kalau sudah malam semuanya menyeramkan." Ujar gadis itu seraya menyusuri jalan menuju dapur


Semua lampu utama ruangan yang ada dilantai bawah dalam keadaan padam, kecuali wilayah dapur. Hal ini menguntungkan bagi Renxa karena ia dapat dengan mudah melihat dan memasukinya. Ia mengambil gelas dan menuangkan setengah air biasa digelasnya dan meletakannya dimeja tengah dapur. Ia menyempatkan dirinya untuk memandang sisi taman yang indah karena cahaya lampu yang meneranggi.


" Hhm.. jauh lebih baik dari pada siang hari." (Meminum air)


Ia memperbaiki robe/jubah tidurnya yang ia sengaja tarik asal tadi. Renxa melonggarkan jubahnya, ia merupakan orang yang kurang suka dengan jubah yang terlalu mengikat badannya terlebih lagi saat ia tidur, maka tak heran jika ia membiarkan robe-nya terlonggar. Ia berada disana untuk beberapa menit, sesekali ia menggerakkan punggungnya kebelakang untuk menghilangkan rasa pegalnya. Ia menurunkan setengah robe-nya diwilayah pundak supaya lebih longgar, sehingga membuat kedua pundaknya terbuka dengan jelas sampai ke punggung atas. Ia tidak segan-segan untuk melakukannya disini, karena menurutnya takkan mungkin ada pelayan atau orang lain yang akan memasuki ruangan dapur malam-malam kecuali dirinya.


Renxa beberapa kali menggerakkan kepalanya ke kiri dan kanan dengan perlahan. Setelah ia selesai dan hendak kembali kekamar, ia segera memperbaiki letak robe-nya kembali, tetapi ada suatu hal yang menahan robe-nya untuk ia kenakan dengan benar.


Ah.. shit!


Ia benar-benar terkejut ada sesuatu yang menarik robe-nya dari belakang. Perlahan tapi pasti Renxa merasakan ada seseorang yang meletakkan tangan ditubuhnya dan mulai memeluknya dari belakang. Tubuhnya benar-benar kaku saat ia bisa merasakan nafas hangat yang berhembus ke pundak dan punggung kirinya.


" Damn! Are you planning to tease me, huh? If so, then you are successful. Sangat berhasil padaku!


[Apa kamu berencana untuk menggodaku? Jika demikian, maka kamu berhasil] " Bisiknya perlahan


Suara lembut khas yang mendatanginya membuat perasaan Renxa menjadi tidak nyaman. Bisik seorang pria ditelinga kirinya, Renxa sangat panik ia beberapa kali ingin menaikkan robe-nya keposisi yang benar tetapi tangan pria itu berhasil menghalanginya.


Damn you, Joe An Arvadhafiose!