MY Lovely Story

MY Lovely Story
Eps. 20



Sekolah favorite yang berjejer 3 gedung dengan 1 gedung utama berada ditengahnya. Gedung paling besar dan tinggi, terdapat lebih dari 15 lantai didalamnya. Arsitektur yang sangat modern dengan sentuhan klasik day memperluas pandangan. Dengan fasilitas yang sangat lengkap, mulai dari tempat olahraga/gym, lapangan basket, tempat tennis meja maupun lapangannya, library yang besar. Sangat memuaskan hanya dengan 2-3 jam perhari bagi siswa-siswinya. Modern art menghiasi sepajang koridor setiap lantainya.


Mereka berdua melangkah bersama memasuki gedung utama sekolah, sepanjang perjalanan menuju lift Renxa sama sekali tidak berbicara sampai Mr. Harris sendiri yang memulai topik pembicaraannya.


" Em.. bagaimana perasaan anda setelah sampai disekolah kami? " Tanyanya yang begitu sopan


Mr. Harris merupakan seorang guru bahasa perancis disana. Ia pria dewasa yang masih muda, cakap, pintar dan tampan. Sebenarnya secara visual ia adalah pria blasteran yang tidak terlalu kental, tetapi dengan hanya sekilas melihatnya maka orang akan tau bahwa ia adalah blasteran.


" Hhm.. baik, saya merasa akan menyukai sekolah ini. "


" Baiklah. Saya lega mendengarnya, anda mungkin akan lebih cepat terbiasa dengan sekolah ini. Karena kebanyakan dari siswa-siswi kita adalah campuran, akan lebih mempermudah anda dalam bergaul sama seperti di Zurich. " Jelas pria itu dengan senyum lebar dibibirnya


" Sebenarnya, saya aware dengan situasi disekeliling saya, jadi itu mempermudah saya untuk bergaul. Dengan siapa pun saya tidak menjadikannya masalah. " Jelasnya hingga mereka memasuki lift dan pergi ke lantai 7 gedung tersebut


" ... "


" ..."


Tidak dari keduannya yang berbicara sampai mereka berdiri didepan kelas yang akan menjadi kelas Renxa nanti.


Renxa merasa khawatir dengan keadaan saat melihat jam tangannya dan waktu 30 menit sudah berlalu. Mr. Harris menjelaskan bahwa akan ada jam 1 jam tambahan untuk kelas mereka karena ia baru saja datang. Renxa merasa tidak enak hati, karena kecerobohannya semua siswa yang mendapatkan ganjarannya.


" Maaf karena saya datang terlambat, waktu menjadi semakin singkat.. "


" Tenang saja. Itu tidaklah masalah, mereka bahkan sangat senang dengan 1 jam pelajaran tambahan yang mereka dapatkan. " Mr. Harris berusaha menenangkan Renxa yang sangat merasa bersalah


" Hhm.. didalam kelas ini hanya ada 6 orang siswa dan siswi, 7 termasuk dengan anda. And, saya mendengar kemungkinan anda akan jadi yang paling muda diantara mereka nantinya. So.. jangan terlalu gugup."


" Yeah.. by the way, Mr. Harris.. guru mata pelajaran apa? Nanti ke kelas ini atau? " Tanyanya dengan penasaran, karena sudah sejak mereka bertemu ia sangat penasaran pelajaran apa, dengan bawaan-nya ia berfikir seharusnya akan English or German or French atau mungkin political theology.


" Saya? I'm a French teacher. Anda di Zurich.. Um, French or.." Dengan ragu ia mengatakannya


" Ah.. German. " Dengan yakin


" Okay, nanti ada jam saya juga dikelas ini. Mari silahkan masuk, saya perkenalkan kepada guru yang sedang mengajar. "


Pria itu membukakan pintu kelas yang tertutup kepada Renxa dan mempersilahkannya masuk. Hal pertama saat Renxa melangkah memasuki exclusive class adalah perasaan canggung yang mengganggunya saat memandang siswa-siswi yang duduk dengan tenang saat mereka belajar. Ia bisa melihat ada beberapa bahkan bisa dikatakan hampir semua siswa-siswi disana adalah campuran. Ia merasa bahwa ia memang benar-benar yang termuda, mereka semua terlihat seperti orang yang sangat pintar. Ini membuat hati Renxa merasa tertantang dengan itu, ia sangat menyukai seseorang yang bisa menjadikannya sebagai rival.


Mereka terdiri dari 4 orang laki-laki serta 3 orang perempuan termasuk Renxa. Dengan model traditional rows pada pengaturan tempat duduk setiap siswa dikelas tersebut menjadikannya lebih mudah untuk mengamati satu satu dari mereka.


*(Traditional rows adalah susunan dimana siswa duduk satu-satu dalam beberapa baris menghadap guru serta papan tulis/layar LCD. Susunan ini menjadikan otoritas guru yang memberi pengajaran lebih mudah)*


Damn! They're so good looking, all of them. Ah.. I'm so scared! Oh my goodness..


Mereka semua menatapnya dan itu membuatnya merasa takut. Biasanya ia baik-baik saja saat berhadapan dengan client besar, tetapi hal sekecil ini membuatnya takut.


Renxa dengan canggung membalas wanita cantik tersebut. Sedangkan Mr. Harris membuka percakapan awal dengan siswa-siswi dikelas tersebut.


" Well, you guys have a new friend again. I hope you guys can work together as well.


[Nah, kalian punya teman baru lagi. Saya harap kalian bisa bekerja sama juga] " Jelas Mr. Harris dengan santai kepada murid-murid yang mendengarkannya


" Saya tidak menyangka akan melihat anda sekarang. Ms. Nocthadhanaksa. Anda bisa memperkenalkan diri anda." Ms. Wilda (Biology teacher) mempersilahkan Renxa untuk memperkenalkan diri.


" Um.. should I speak English or some other language? Or Indonesia? Ah.. they don't understand..


[Um .. haruskah saya berbicara bahasa Inggris atau bahasa lain? Atau Indonesia? Ah .. mereka tidak mengerti] " Tanyanya dengan canggung kepada Ms. Wilda yang berdiri disampingnya


Pernyataan Renxa tersebut, membuat beberapa dari mereka tersenyum ringan kepadanya. Hal ini justru membuatnya merasa tambah canggung. Ia memutuskan untuk tertawa ditengah keadaan canggung tersebut, ia benar-benar gugup. Karena ini pertama kali dalam hidupnya pindah sekolah dengan teman-teman yang asing baginya.


" It's okay, terserah kamu mau berbicara menggunakan bahasa apa. Oh ya.. kami bisa berbahasa Indonesia, just information." Salah seorang siswi blasteran cantik yang senyum kepadanya dari baris kedua dihadapannya


" Ah.. " Renxa tertawa canggung


" So your name? Hhm.. I thought, I've seen you before.. but I don't remember.


[Jadi namamu? Hhm .. Kupikir, aku pernah melihatmu sebelumnya .. tapi aku tidak ingat] " Tambah seorang pria tampan yang sangat familiar bagi gadis itu


Michael A. Alvarez, putra seorang duta besar Mexíco di Indonesia. Seorang putra bungsu dari tiga bersaudara, ia adalah satu-satunya putra dikeluarganya. Dia pernah mengikuti ayahnya pada sebuah acara symphony di Argentina 2 tahun yang lalu, di sanalah ia bertemu dengan Nocthadhanaksa family. Ia tidak terlalu mengenal Renxa, mereka hanya tegur sapa satu sama lain.


" Ah.. Symphony, Argentina? 2 years ago.. " Tambah pria itu yang seketika bangkit dari tempat duduknya yang membuat seluruh kelas dan termasuk Renxa terkejut


" Hhm.. Uh. I remembered you, nice to see you again." Menundukkan kepalanya


" Nice to see you too.." Jawab Michael dengan sopan dan kepala tertunduk


" Okay, Ms. Nocthadhanaksa silahkan perkenalkan dirimu kepada mereka. " Tanggap Mr. Harris agar tidak membuang banyak waktu


" Baiklah."


" Perkenalkan nama saya Renxa Nocthadhanaksa Widjaya. I'm 16 and will be 17 next mounth. Aku harap kita semua dapat berteman baik kedepannya. Terimakasih. " Penutupan yang disertai senyuman manis dibibirnya


" Are you really Renxa Nocthadhanaksa? Oh gosh, I can't believe we're in the same class. You are much prettier in real life, compared to the photos I have ever seen.


[Apakah Anda benar-benar Renxa Nocthadhanaksa? Ya ampun, aku tidak percaya kita sekelas. Anda jauh lebih cantik dalam kehidupan nyata, dibandingkan dengan foto yang pernah saya lihat] " Puji salah satu siswi cantik dikelas itu


" Ah.. Terimakasih. Jangan terlalu memujiku, aku jadi merasa tidak enak kepada kalian semua. " Ucap Renxa dengan malu sehingga membuat semua orang disana tersenyum lebar kepadanya


...°¢¢¢¢¢°...