MY Lovely Story

MY Lovely Story
Eps. 33



Jorgo perlahan-lahan melepaskan tangan dan tubuhnya menjauh dari tubuh gadis itu. Merasakah hal itu, Renxa segera mendorong tubuh Jorgo menjauhi tubuhnya. Ia membenarkan posisi tubuhnya dan melirik kearah pria itu. Jacketnya, ia melihat jacketnya kini berada pada sisi kiri pria itu, tidaklah mudah nantinya untuk mengambil kembali.


Jorgo sangat tidak canggung menghadapi gadis itu, ia sangat tenang dan santai.


" Jauh sebelum hal ini, saat melihat loe tidur disamping gue. Loe tidak sengaja menjatuhkan jacket yang loe pegang, gue berusaha mengambilnya dan memakaikannya ketubuh loe. Tapi.. itu benar-benar diluar dugaan gue. Mendekati tubuh loe dengan mencium aroma wangi tubuh loe benar-benar membuat gue tidak bisa berfikir jernih, and.. hampir saja gue kehilangan kendali. " Jelas pria itu yang sesekali melirik kearah gadis itu dengan kesal


" Jangan-jangan.. loe udah.. waktu gue tidur? " Renxa menunjuk dirinya sendiri dan bertingkah aneh kesana kemari dengan menangis.


Dia benar-benar terlihat seperti orang bodoh.


Pikir pria itu yang memiringkan kepalanya ke kiri dan menatap gadis itu dengan heran.


" Huh.. sorry, gue panik. " Akhirnya ia berhenti dan menghembuskan nafasnya dengan tenang sambil mengipasi dirinya dengan telapak tangan kanannya


" ..." Pria itu mengangkat kedua alisnya bersamaan


" Did you kiss me while I was asleep?


[Apakah kamu menciumku saat aku tertidur] " Kali ini dia benar-benar serius, tetapi pria itu malah tersenyum disudut bibirnya dan memalingkan pandangannya


" Cittch.. Kenapa? " (memalingkan wajahnya)


" G-gue serius.. " Ia menjadi ragu saat melihat kearah pria itu


" Gue juga serius, loe masih mau menguji gue? Ha.. " Kini ia berbalik memandang gadis itu


Perasaan gue tidak enak..


Sejak awal percakapan ini, ia sudah merasa tidak enak. Karena yang dia hadapi adalah seorang pria brengsek yang hanya tau mempermainkan wanita.


" It's okay. Jika ini yang loe mau, gue dengan senang hati... " Jorgo perlahan memajukan tubuhnya kembali ke arah gadis disampingnya, dengan cepat kini pandangannya dari mata mencari bibir gadis itu.


Ia benar-benar mencari masalah dengan pria itu. Jorgo benar-benar memojokkan gadis itu, dan tangannya sudah meraih punggung gadis itu. Detik kemudian ia menarik tubuh gadis itu untuk lebih mendekatinya. Kali ini tidak ada keraguan disetiap gerakan yang dilakukan pria itu. Gadis itu terus saja mendorong tubuh pria itu menjauh, tetapi tentu saja tidak akan berhasil, pria itu jauh lebih kuat dari padanya. Saat wajah mereka benar-benar berdekatan, gadis itu merasakan detak jantungnya berdetak dengan kencang dan tepat sebelum pria itu berhasil mencari bibirnya. Ia berteriak dengan kencang dan berusaha menjauhkan dirinya dari tubuh pria itu.


" Aaa... tidak, tidak. Mr. Chatzi.. aku tidak bermaksud seperti itu.. " Ia memejamkan matanya dan mengalihkan pandangannya menjauh dari pria itu.


" Tolong lepaskan saya.. aa.. " Tambah gadis itu tanpa memandang pria yang berada tepat dihadapannya


" ... " Pria itu hanya tersenyum tipis melihat tingkah laku gadis itu. Ia sama sekali tidak berniat untuk dengan mudah melepaskannya.


" Terus aja teriak, tidak ada yang akan mendengarkanmu. Disini hanya ada kita.. kita berdua saja. "


" Huh? " Ia membuka matanya dan ternyata pria itu kini menatapnya dari dekat. Hal ini membuatnya canggung dan malu.


" Kalau begitu, bisa lepasin ini nggak?" Ia berusaha melepaskan cengkraman tangan pria itu dari tubuhnya


" Eh.. bukannya loe sendiri yang minta.. buat gue.. " Ia tersenyum dan mengangkat pangkal alis kanannya


" What? I didn't even say that. Gue hanya bertanya sama loe, bukannya menyuruh. Lepaskan.. "


" ... " Pria itu tersenyum dan menyerah melepaskan tubuh gadis itu


" Ih.. dasar brengsek.. " Guman pelan gadis itu yang kini menempatkan tubuhnya jauh-jauh dari pria itu


" Ah.. tidak, tidak. Gue hanya bilang, dress gue robek.. " Ia tertawa dengan canggung dan membuang pandangannya dari pria itu


" ..." Jorgo mengerutkan dahinya


" Masih beruntung loe, sudah gue lepaskan dari awal. Gue tidak biasa melepaskan semua cewek yang sudah gue inginkan.. "


" Selain itu, gue juga bukanlah tipe seorang cowok yang baik-baik.. "


Iya setuju, udah kelihatan. Dari tampang kaya loe, tidak perlu dijelaskan..


Terimakasih Tuhan.. gue masih bisa lepas berkali-kali dari model cowok kaya mereka.


" Kalau loe tidak mau bermain dengan gue. Lebih baik loe tidak mendekati atau pun memancing gue.. "


Memancing? Ikan kali dipancing..


Siapa juga yang mau mendekati loe, dia sendiri yang memulainya, bahkan gue tidak melakukan apa pun kepadanya. Malahan dia yang mulai mendekati gue duluan..


" Lain kali jika loe memancing gue, maka jangan salahkan kalau gue tidak akan pernah melepaskan loe.. " Ia terus saja mengatakan sesuatu tanpa memandang kearah gadis itu. Sedangkan gadis itu hanya menatapnya dengan heran dan kesal.


Sorry.. gue tidak berniat untuk mendekati cowok brengsek kaya loe.


Gadis itu hanya berani menjawab Jorgo dengan apa yang ia pikirkan saja. Ia tidak mungkin dan berani menjawab pria brengsek yang mengerjainya itu.


" Mengerti? " Jorgo kini menengok kearah gadis yang dari tadi menatapnya tersebut


" Huh.. iya. Mengerti tuan muda.. " Ia mengangukkan kepalanya dan tersenyum terpaksa kepadanya


" ..." Saat ia melihat kearah gadis itu, ia mengerutkan dahinya. Ia bisa melihat gadis itu mengerucut karena kedinginan. Gadis itu mengusap lembut kedua lengannya yang terbuka. Ia menyadarinya dan mencari dimana ia menaruh jacket gadis itu. Ia menemukannya ternyata berada disisi kirinya, saat ia hendak mengambilkannya ia berhenti dan bertanya,


" Loe kenapa? "


" Kepanasan! Kedinginan lah, mata loe tidak bisa melihat? " Ia mengalihkan pandangannya dan memandang pria itu kembali yang sedang menatapnya


" ... "


" Kenapa.. Ah.. jangan melihat gue seperti itu terlalu lama. Gue jadi takut nantinya. Bisa nggak kembalikan jacket gue? " Tanpa memandang pria itu, ia menyodorkan tangannya kepadanya


" Jacket? Ini.. ambil aja sendiri. Loe kan punya tangan. " Dengan santai ia melempar kembali jacket yang ia pegang sedikit lebih sulit untuk dijangkau gadis itu


" Ah.. " Ia menghembuskan nafasnya dengan tenang dan memejamkan matanya serta memijit pelipisnya sejenak


Damn you.. padahal udah tinggal dikasih. Kenapa dilempar ke bawah.. kan jadi lebih susah..


Aigo.. apa yang harus gue lakukan..


Renxa sama sekali tidak berniat untuk menjadi lebih dekat dengan pria itu. Cukup jauh jarak dadi tempatnya duduk ke tempat jacketnya berada. Beberapa kali ia mencoba menjangkau tanpa menyentuh pria itu, tetapi beberapa kali juga ia gagal. Benar-benar tidak akan bisa mengambilnya jika pria itu masih ditempatnya.


Ia melirik kearah pria itu selama ia mencoba, ternyata pria itu hanya tersenyum dan menatap layar handphone-nya. Renxa bahkan berfikir bahwa, nyaris pria itu memang tidak memiliki otak maupun perasaan manusiawi yang tersisa.


Pria ini benar-benar tau cara mempermainkan seseorang.. Sialan..