MY Lovely Story

MY Lovely Story
Eps. 77



Mata Joe tidak bisa melepaskan tatapannya dari gadis itu. Renxa menyadarinya, tidak sengaja ia menatap Joe kembali, tetapi ia dengan cepat berpaling.


Renxa mengikat dasi itu dan merapihkan kembali kerah kemejanya. Sewaktu ada kakaknya Renxa biasa membantu kakaknya mengikatkan dasi, jadi bukanlah hal baru untuknya membantu orang lain mengikat dasi.


" Kenapa loe tidak mendebat gue? Gue fikir loe akan membantah gue, seperti biasanya.. " Joe menatap mata gadis itu dengan serius


" ..." Renxa tidak menjawabnya, ia bahkan tidak ingin menatap pria itu. Ia akan selesai melakukannya dan baru menjawab pria itu


" ..." (menatap)


" ..." (menatap)


Renxa sudah selesai dengan dasinya dan tidak sengaja ia menatap mata pria itu. 3 detik kemudian, gadis itu tidak bisa melepaskan matanya dari mata pria itu.


Mata Joe benar-benar indah, bibirnya.. sangat merah seperti darah, sangat sempurna. Perasaan gadis itu telah menguasainya, kedua matanya.. turun menatap bibir pria itu.


Apa tidak masalah..


Ia tau apa yang selama ini ia inginkan. Bukan hanya Joe, tetapi dirinya juga sangat menginginkan sosok pria itu. Selama ini ia berusaha menahan semuanya.


2 detik gadis itu menatap bibir merah pria itu, ia tidak menyadarinya..


Hatinya menguasai kendali tubuhnya tanpa sadar, perlahan Renxa mencondongkan tubuhnya. Ia mendekati bibir pria itu, tangannya kini meraih leher pria itu.


Entah sadar atau tidak, ia merasakan tangan kanan Joe ada dipinggangnya. Seketika jantungnya berdegup begitu kencang, ini pertama kalinya..


Tidak! Apa yang telah gue lakukan..


Keinginan itu sangat kuat, Renxa sejenak tidak bisa mengendalikannya. Renxa menarik wajahnya sebelum bibir mereka benar-benar saling bersentuhan. Terlambat 1 detik saja, itu akan mengubah segalanya..


Ia tidak akan pernah bisa melepaskannya, melepaskan pria itu..


Renxa menarik wajahnya dan beralih menyandarkan dahinya pada bahu kiri pria itu. Mereka berdiam diri ditempat dan posisi yang sama, tidak mengatakan sepatah kata apapun.


" Maaf ka Joe, gue.. gue tidak bermaksud.. gue tau bahwa gue tidak berhak.. " Ujar gadis itu. Ia merendahkan suaranya dan melepaskan pria itu


" ..."


Renxa turun dari kursi itu dan berjalan menuju jas yang pria itu taruh diatas ranjangnya.


" Gue bukan siapa-siapa loe and.. I'm not even your wife, why are you treating me so well?


Huh.. better save your good treatment for the others..


[Aku bahkan bukan istrimu, kenapa kamu memperlakukanku dengan sangat baik?


Huh.. lebih baik simpan perlakuan baikmu untuk orang lain] "


" ..."


Renxa mengambil jas itu dan membantu Joe memakainya. Beberapa saat mereka tidak saling bicara, Renxa tidak tau lagi harus menanggapi pria itu bagaimana.


Lalu..


" Jika loe adalah istri gue..


Apakah loe akan menerimanya? " Tiba-tiba saja pria itu mengatakannya. Joe memakai jas-nya dan membalikkan pertanyaan itu pada Renxa


" ..." Renxa terkejut, ia membulatkan kedua bola matanya. Sesaat setelah selesai memakaikan jas pada pria itu, ia dengan cepat berpaling dari tatapan pria itu


" ..."


Apa yang bisa gue perbuat?


Ka Joe.. bukan gue nantinya yang akan berada disamping loe..


Hanya dengan membayangkan saja, semua gambaran masa depan itu membuat Renxa sangat sedih. Entah Joe tidak mengerti atau justru.. pura-pura tidak mengerti.


" Apa maksud loe ka Joe, gue masih ke-ci-l.. loe sendiri yang berkata gue masih anak-anak. Kenapa tiba-tiba loe jadi melamar gue? " Dengan gaya dekil gadis itu menjawab pertanyaan Joe. Ia berusaha untuk menyembunyikan perasaan sebenarnya dan ia berhasil melakukannya


" Cittch.. " (berjalan) Joe melepaskan pergelangan tangan gadis itu dan memalingkan wajahnya dengan malas


" Apa loe sedang melamar gue? Loe beneran melamar gue? Oh my god, ini pertama kalinya gue dilamar.." (tertawa) Renxa berlari kecil dan mengikuti kemana pria itu pergi. Ia seperti anak kecil yang tidak mengerti dengan apa yang ia katakan


" ..." Joe tidak menjawab gadis itu. Ia menggelengkan kepalanya dan merapihkan jas serta dasinya


" Bukankah loe sedang melamar gue? Ke mana cicin untuk gue? Kenapa tidak berlutut. Haha..." (tertawa) Canda gadis itu yang membuatnya tertawa sangat puas. Ia berteriak tepat dibelakang pria itu


" Ini.. " (tersenyum) Joe melepaskan salah satu cincin yang ada dijarinya dan berbalik menyerahkan cincin itu pada Renxa


Joe memang sangat menyukai beberapa aksesoris ditubuhnya. Seperti cincin dan kalung, ia selalu memakai begitu banyak cincin dijarinya. Pria itu memang terlihat sangat cocok dengan semua itu ditubuhnya.


" Purrff.. " (berbalik) Renxa menapis tangan pria itu dan dengan malas meninggalkannya


" Haha.. memangnya cincin seperti apa yang loe inginkan? " (memakai cincinnya kembali)


" ..." Renxa tidak menjawab pria itu, ia tau bahwa pria itu juga bercanda kepadanya. Ia meraih tasnya dan menengok kearah jam ruangan itu


" Ka Joe.. bisa kita makan dulu? Gue sangat lapar.." (memegang perut)


" ..." (tersenyum) Joe berjalan menuju meja disamping ranjangnya dan mengambil handphone serta dompetnya


" Tenang saja, kita akan meeting di restoran.. " Jawab pria itu


Mereka segera keluar dari ruangan itu. Joe membukakan pintu dan mempersilahkan gadis itu untuk keluar. Renxa keluar dan terkejut melihat keluar ruangan yang luas itu. Renxa benar-benar yakin bahwa ia berada dihotel, tetapi ia tidak mengerti kenapa pria itu bisa ada ditempat ini. Semua lukisan tahun 80-an terasa sangat indah disetiap sisi dinding ruangan luas itu.


Renxa menengok pria yang berjalan dibelakangnya dan mendapati pria itu sedang menerima telepon penting. Sebelumnya ia ingin bertanya, ada dimana mereka saat ini, tetapi tidak jadi. Mereka menaiki lift dan mencapai lantai dasar. Saat itu Renxa baru mengerti bahwa mereka masih ditempat sama seperti kemarin malam. Ia tidak tau bahwa Joe sering menghabiskan waktunya ditempat itu dan bermalam disana.


Sesampainya didepan pelataran play house, mereka disambut oleh sebuah mobil hitam mewah yang pintunya sudah dibukakan oleh seorang pria berseragam yang rapi. Land Rover - Range Rover sport, sport car yang terparkir rapi didepan pelataran.


" Good morning, Mr. Joe and.. nona cantik. " Sapa pria itu dengan sopan sambil membuka pintu bangku belakang. Pria itu tersenyum sumringah kepadanya


" ..." Renxa tersenyum mengangguk kepada pria itu


" Morning, kamu tau kan kita akan pergi kemana.. " Dengan ponsel ditelinganya, Joe masuk kedalam mobil kemudian di ikuti gadis itu


" ..." (mengangguk) Pria itu segera masuk dan membawa mobilnya keluar dari kawasan itu


...°¢¢¢¢¢°...


" Apa loe tidak ingin tau kenapa gue mengajak loe menghadiri meeting gue saat ini? " (memandang layar ponsel) Beberapa saat selama perjalanan mereka terdiam dan akhirnya Joe membuka pembicaraan mereka


" Tidak, gue tau loe tidak akan mengatakannya.. " Spontan ia mengatakannya. Renxa telah mengenal pria itu sejak kecil, hal-hal yang menjadi ketertarikannya justru berbanding terbalik dengan pria itu


" Huh.. loe benar dan loe akan mengetahuinya nanti.. " Joe tersenyum disudut bibirnya


...□■□■...