
Gadis itu tidak sengaja melirik kearah Jackson, tetapi ia menjadi sangat canggung saat mengetahui pria itu telah menatapnya. Ia mulai membuka pembicaraannya dengan pria itu, saat semua orang tengah sibuk berbincang dengan Joe.
" Hhm.. ka Jackson, jadi kamu anaknya om Nico? Saudara kembarnya nona Kinara? Tapi, kenapa kamu tidak pernah bilang kepadaku mengenai om Nico, tidaklah mungkin kamu tidak tau kalau aku mengenal orang tua-mu dengan baik. " Ia mempelankan nada suaranya agar tidak mengganggu perbincangan Joe dengan mereka
" Iya, maaf sebenarnya dulu aku mau mengatakannya, tetapi setiap kali kita bertemu. Kita terlalu sibuk dengan pembelajaran sementara kita, jadi aku tidak sempat membicarakan masalah pribadi.. " Jackson berjalan sedikit menjauhi keramaian. Ia menyandarkan tubuhnya pada meja didepan pintu gereja dan gadis itu mengikutinya dari belakang
" Oh.. "
" Hhm.. tadi aku hampir tidak mengenalimu, karena baru pertama kalinya setelah 5 tahun kita berpisah. Kamu terlihat sangat cantik setelah dewasa, tidak dari dulu kamu memang yang paling lucu dan cantik.." (mengangkat salah satu alisnya) Pria tampan itu tersenyum lebar kepadanya
" Ah.. ka Jackson, kamu selalu saja bercanda denganku. Dari dulu hingga sekarang.. " Ia sangat malu, hingga tidak bisa menatap pria dihadapannya
" Hahaha.. baiklah. Satu hal, Stop calling me like that, just Jackson. Kakak.. hanya dulu saat kita sebagai senior dan junior. Kita sudah tidak berhubungan dengan itu lagi. " Jelas pria itu dengan santai
" Okay, jika itu keinginan anda Mr. Yagsawidhana. Sejak dulu kamu tidak berubah, kamu adalah orang baik dan tampan yang pernah aku jumpai." (tersenyum)
" Memangnya, sebelum ini kamu tidak pernah bertemu dengan pria baik sebelumnya. Haha.. " Canda pria itu
" Ah.. haha.. "
Memang belum Jackson. Kamu adalah orang pertama..
" Sepertinya kita harus bertukar nomor handphone, kamu harus memberikannya padaku." Jackson meraih handphone yang ada disaku celananya
" Oh.. iya.. " Renxa mengeluarkan handphone-nya dari dalam tas dan mereka bertukar nomor pribadi masing-masing
" Baiklah, nanti aku akan menghubungimu. Kapan-kapan aku ingin mengajakmu makan malam bersama. "
" Sure.. "
Saat Jackson dan dirinya asik mengobrol, ayah pria itu memanggil mereka berdua untuk bergabung. Karena dengan tiba-tiba Joe ingin segera meninggalkan tempat itu.
" Jackson.. perkenalkan ini Joe An Arvadhafiose." Pdt. Nico mengenalkan putranya dengan sopan kepada Joe
" Mr. Arvadhafiose.. senang bertemu dengan anda. " Jackson menjabat tangan Joe dengan ramah
" Tentu saja, Mr. Jackson." (tersenyum)
" Kalau begitu terimakasih atas sambutannya. Mr. Yagsawidhana, saya rasa kita berdua harus pergi sekarang... " Joe menarik pergelangan tangan gadis itu dari sisi Jackson
" Terburu-buru sekali, kenapa kalian tidak ikut makan pagi dengan kita? " Kinara menawarkannya, membuat Renxa tergiur. Karena memang mereka belum sarapan, ibadah paginya dimulai sebelum waktunya sarapan.
" Iya.. anda berdua bisa bersama dengan kami. " Tambah Jackson dengan sopan
" Wah.. iy- " Renxa hampir menyetujuinya, tetapi Joe memotongnya dan menolak
" Haha.. terimakasih. Tetapi, saya sudah berjanji untuk makan bersama dengan nona ini. Mungkin lain kali kita bisa.. " Jawab pria itu sebelum gadis itu membuat masalah dengannya. Ia sebenarnya tidak ingin bersama mereka
" Huh? " (mendongak) Renxa mengerutkan dahinya menatap pria itu, ia bahkan tidak mengerti dengan apa yang baru saja dia katakan. Ia sangat binggung, tiba-tiba saja pria itu mengatakannya
" Wah.. sayang sekali. Tetapi, kalian berdua memang sangat akrap. Baiklah, lain waktu saya akan mengundang anda makan malam dirumah kami. " Jawab istri pdt. Nico dengan ramah dan tersenyum merekah padanya dan pria itu
" Baiklah.. kita tunggu. " Jawab Joe
" K-kita.. sejak kap- " Gadis itu menunjuk dirinya dan berbisik pada pria itu
" Haha.. maaf, kita harus segera pergi." Joe segera menarik tangan gadis itu pergi menjauh
" Eh.. om tante, Jackson dan Kinara.. saya permisi dulu, senang bertemu dengan kalian... " Renxa berteriak dari jauh saat Joe mulai menarik tangannya tanpa membiarkannya berpamitan terlebih dahulu
" ..." Semua orang tertawa bahagia melihat gadis itu pergi dengan berteriak
...°¢¢¢¢¢°...
Pria itu melepaskan genggamannya dari tangan Renxa saat mereka telah meninggalkan keramaian. Mereka berjalan menuju tempat dimana pria itu memarkirkan motornya.
Renxa mengikuti pria itu dari belakang, ia tidak berani mengatakannya, mengatakannya bahwa ia sangat kesal dengan pria itu. Ia tau jika ia mengatakannya, maka pria itu akan mempersulit dirinya nantinya.
Joe meraih kunci motornya dari saku celananya. Setelah itu, pria itu tiba-tiba berbalik dan menatap gadis itu. Renxa terkejut dan berhenti sebelum ia hampir menabrak pria itu.
" ..." Joe menatapnya dari atas hingga kebawah
" Apa? Kenapa? " Renxa tidak mengerti dengan maksud tatapan pria itu
Memangnya ada yang salah? Perasaan tidak ada angin yang terlalu kencang, sehingga membuat rambut gue berantakan.
Gadis itu refleks memperbaiki rambutnya, walaupun rambutnya tidaklah menjadi permasalahan. Ia berfikir bahwa penampilannya menjadi tidak rapi lagi.
" ..." Joe meraih jacketnya dimotornya, ia berbalik lagi dan menyerahkannya pada gadis dibelakangnya
" Huh? " Ia menerima jacket pria itu dengan binggung
" Pakai, gue tidak ingin.. semua orang menatap loe. " Joe duduk di motor dan memakai helm. Ia menyalakan mesin motornya dan menunggu gadis itu
" Hah.. maksudnya? " (menaikkan salah satu alisnya) Renxa masih memegang jacket pria itu
" Cittch.. loe denger ya, sebaik apa pun cowok itu, yang namanya cowok tetap saja cowok. Semua cowok itu sama saja, I think you know what I mean..
[Aku rasa kamu tau apa yang aku maksud]" (membuka kaca helm)
" ..." Renxa mengangkat kedua pangkal alisnya bersamaan dan ia berusaha menahan senyumnya didepan pria itu
" Beberapa kali gue melihat, ada yang memperhatikan loe.. " Entah bagaimana, tetapi pria itu bisa mengatakannya dengan datar dan dingin. Sedangkan gadis itu berusaha untuk tidak tertawa sebisa mungkin
" Jadi.. Jackson nih, yang kita bicarakan? " Ia malah menggoda pria itu
" Cepat pakai, atau gue yang memakaikannya kepada tubuh loe. Loe tau bukan apa yang ada difikiran gue.. " Joe melepas helm-nya menarik tubuh gadis itu mendekatinya
" Ah.. hahaha. Tidak, tidak.. gue bisa memakainya sekarang. Memangnya ka Joe nggak masalah nggak pake jacket? " Sekarang gadis itu tidak bisa menahan tawanya dan berusaha menepis tangan pria itu
" It's okay, pakai aja. " Joe melihat gadis itu memakai jacketnya dan tersenyum, ia tidak bisa menunjukkan kalau ia tersenyum melihat gadis itu, sehingga ia memalingkan wajahnya dan menahan tawanya
" Udah.." Jawab gadis itu
" ..." Joe menarik lengan gadis itu mendekatinya kembali. Ia menutup resleting jacket gadis itu yang masih terbuka
" Ke-enapa? Lengannya sangat panjang? Ka Joe yang pakai tidak seperti ini. " Renxa tidak mengerti, ia bermaksud membiarkan jacketnya terbuka agar angin tetap berhembus ditubuhnya. Lagipula lengan jacketnya terasa sangat panjang, tetapi jika pria itu yang pakai terasa pas
" Karena.. tangan dan kaki gue jauh lebih panjang dari pada punya loe. Itulah kenapa gue jauh lebih tinggi dan loe masih kecil.. " Canda Joe dan ia tertawa
" Apa? Tidak, mana mungkin tangan gue pendek. Gue udah tinggi, loe saja yang terlalu tinggi. " Renxa memutar bola matanya
" Hhm.. tetapi, nyatanya loe pendek! Bahkan adik gue lebih tinggi dari pada loe. " Joe melipat kedua lengan jacket itu hingga terlihat kedua telapak tangan gadis itu
" ..." Saat melihat pria itu selesai melipat lengannya, Renxa ingin membuka resleting jacketnya sedikit agar tidak terlalu tertutup. Tetapi, pria itu menepis tangannya dan menutupnya kembali sampai ke atas
" Apa? Seriously? " Gumam gadis itu
" Kalau pakai jacket, jangan dibuka! Loe harus memakainya dengan benar." Jelas pria itu, ia juga memakaian helm pada gadis itu
" ..." (menyipitkan mata)
Hhm.. rasanya kaya burung dalam sangkar!
Pikir gadis itu. Joe memakai helm-nya dan menyuruh Renxa untuk segera naik. Renxa menurutinya dan segera naik, ia hanya ingin pulang dan bebas dari pria itu.
...°¢¢¢¢¢°...