
(Kring..kring..)
Mereka akhirnya bangkit dan pergi meninggalkan dirinya. Ia membuka kembali handphone-nya yang berdering, ia mendongak sekali lagi dan gadis itu sudah cukup jauh meninggalkan dirinya. Semua orang telah meninggalkannya, kecuali Brian.
" ..." Brian menatapnya dengan heran
" Loe.. nggak tidur? Siapa yang telfon " Tambah Brian
" Hhm.. bentar. Neisya! Dia telfon gue, gue harus jawab. " Handphone-nya terus saja berdering
" Oh.. kalau gitu gue tinggal, nggak papa? "
" Yeah.. it's okay. " Ia menjawab Brian dengan pelan dan pergi meninggalkan pria itu
Brian meninggalkannya dan menuju kedalam rumah. Joe berjalan menepi di bawah pohon besar di taman, ia menyandarkan tubuhnya dan menjawab panggilan itu. Ia tidak menyadari bahwa gadis itu sempat melihat kearahnya sebelum gadis itu benar-benar masuk kedalam rumah.
" ..." Joe menjawab panggilan itu dan tidak berbicara sebentar
" Hai sayang.. aku kangen. " Terdengar suara seorang wanita yang manja
" Hai, ney. Haha.. aku juga kangen, kamu apa kabar. "
" Baik. Joe, maaf sayang aku udah ganggu kamu. Di Indonesia sekarang malam, kan? "
" Nggak. Kamu nggak ganggu aku, tiba-tiba telfon ada apa? Kamu ada masalah? "
" No, no. Hhm.. aku cuman kangen aja sama kamu, udah lama kita nggak ngobrol. Tugas kuliah aku banyak banget beberapa hari ini, jadinya aku nggak bisa telfon kamu deh. "
" Iya... "
Sudah hampir 1 jam Joe mengobrol dengan wanita itu. Akhirnya, ia memutuskan mengakhiri telepon terlebih dahulu, ada 2 alasan mengapa ia memutuskan panggilan itu. Pertama, ia tidak ingin mendengarkan suara wanita itu lagi. Kedua, ia hanya ingin istirahat sejenak dan merebahkan tubuhnya.
Joe perlahan mulai memasuki area rumahnya, semua lampu utama sudah padam sejak ia menerima telfonnya. Hanya tersisa lampu-lampu kecil penerang jalan diseluruh dinding ruangan lantai itu. Semua pelayan utama juga terlihat sudah masuk dan tidur di kamar mereka masing-masing, sehingga rumah dalam keadaan hening dan tenang. Ia menaiki tangga dan mengambil jalur kanan untuk menuju kamarnya. Kamar Joe bersebrangan bersebrangan dengan adiknya.
Ia tidak pernah mengizinkan seorang wanita manapun untuk masuk kedalam kamar pribadinya, kecuali beberapa orang seperti adik dan ibunya. Ia tidak ingin wanita lain kecuali calon istrinya nanti melihat isi kamarnya dengan bebas, itu adalah hal yang sangat ia benci. Itulah alasan kenapa saat Joe menghabiskan waktunya dengan wanita lain dikamar lain, yang bukan kamar pribadinya.
Ia duduk ditempat tidurnya dan menghembuskan nafasnya. Ia memijit lembut pelipis kepalanya dan baru saja tersadar sesuatu olehnya.
Ah.. kenapa gue bisa lupa untuk memberitahu Richo. Mereka sudah tidur atau belum ya, ah.. ini hal penting.
Ia perlahan bangkit dan berjalan menuju pintu, ia membuka kuncinya dan menariknya.
Hal pertama yang ia lihat adalah seorang gadis dengan gaun tidur dark blue baru saja keluar dari kamar adiknya. Ia tau gadis yang memunggunginya bukanlah adiknya G-ra, tetapi orang lain.
Dia.. masih belum tidur?
Renxa Nocthadhanaksa! Bukankah ini hal yang menarik..
" Huh.. ka Joe! " (terkejut)
...°¢¢¢¢¢°...
Present day...
(Carlton Place Restaurant)
" ... " Joe terdiam sejenak
" Joe! Entah apa pendapat loe. Gue.. rasa tidak ada cinta diantara kalian. No.. bukan kalian, tapi diri loe sendiri. Gue rasa loe tidak menyukai Neisya, hanya dia yang saja menyukai loe selama ini. " Sahut tiba-tiba Brian menanggapi apa yang telah Joe katakan. Semua orang langsung terkejut dan tersadar oleh perkataannya, tak terkecuali dirinya.. Joe
" ..." Ia menatap Brian yang berada disebelahnya dengan menggigit bibir bawahnya. Ia benar-benar tidak mempunyai jawaban dari pernyataan Brian kepadanya
Sial! Gue benar-benar tidak tau harus bereaksi gimana..
" Ya, ya.. gue setuju dengan Brian." Ujar Christ meyakinkan Joe
" Joe.. kita bersahabat sudah lebih dari 10 tahun, kita mengerti dimana suasana hati loe sebenarnya. Tidak salah jika Brian mengatakannya, tanpa gue mengatakannya, kita semua tau itu. " Tambah Richo dengan tenang
" Tidak, tidak. Gue sangat menyayangi dia selama ini, jika kalian sahabat gue dari kecil. Maka kalian tau kan, perasaan gue sebesar apa sama dia. " Ia memang mengatakannya dengan tegas, tetapi ia tidak bisa untuk menatap mata teman-temannya
" Huh.. terserah loe. " Jawab Richo dengan datar dan meminum kembali gelasnya
Semua orang menatap Joe dengan heran, mereka tidak bisa mengerti apa yang sebenarnya Joe katakan. Setelah mendengarnya, mereka menghela nafas dan mengangguk mengerti. Zab benar-benar tidak memahami jalan perasaan Joe, ia sangat ragu dengan apa yang dipikirkannya dan memutuskan untuk menanyakan kepada Joe langsung.
" Lalu.. apa yang loe fikirkan ketika mendengar.. Renxa Nocthadhanaksa Widjaya? Selama kita bersama, gue ingat tidak pernah gue melihat loe semarah itu. " Zab mengangkat kedua alisnya bersamaan, dengan Joe yang menatapnya
" ..." Joe seketika terdiam memberi jeda sebelum ia berbicara
" Gue.. gue mungkin hanya sedikit peduli dengan gadis kecil itu. " Sambung Joe dengan nada rendah dan mengalihkan perhatiannya kearah lain
" Come'n man. Loe fikir kita bodoh? Dengan apa yang loe lakukan hari ini dan hari itu, loe masih mengatakan peduli? " Zab sangat kesal melihat kelakuan sahabatnya itu
" ..." Joe terkejut dan mendongak kearah Zab. Ia mengerti dengan apa yang sahabatnya maksud kepadanya
Hari itu.. gue..
" Zab.. hari itu gue fikir, gue hanya terlalu senang melihat dia muncul dihadapan gue saat bersama dengan Cassie! " Joe sedikit menaikkan nada suaranya untuk menyangkal sahabatnya itu
" Cittch.. loe berfikir itu hanya terlalu senang. Joe.. Joe, memangnya gue BUTA! Gue tidak habis fikir dengan jalan pikiran loe, harusnya lo- " Zab menggelengkan kepalanya dengan kesal
(Brakk..)
Joe bangkit dari tempat duduknya dan memukul meja dengan keras untuk menghentikan apa yang akan Zab katakan. Semua barang yang ada diatas meja bergonjang dan saling bertabrakan, sehingga mengeluarkan suara yang sangat kencang. Semua teman-temannya terkejut, lalu seketika mendongak dan menatap kearahnya.
Semua perhatian menuju kearah mereka, mereka tidak menyadarinya bahwa semua orang dalam restoran itu tengah menyaksikan mereka. Bukanlah hal yang biasa disaksikan banyak orang, sekelompok orang terpandang yang ada disana. Sebagian dari mereka tengah berbisik-besik membahas apa yang terjadi, tetapi mereka ber-lima tidaklah peduli dengan apa yang orang lain katakan kepada mereka.
" ...benar, itu mereka..."
" ...apakah mereka bertengkar..."
" ...ya Tuhan, mereka adalah..."
" ...keluarga mereka terpandang..."
(Praangg..) suara kaca pecah
Joe sangat marah, ia melemparkan gelas wine yang ia genggam ditangan kirinya. Gelas itu terjatuh ke lantai, tepat ia berdiri.
" Ah.. cukup! gue tidak ingin membahas hal ini lagi. Jika kalian membahasnya, akan berakhir perdebatan. " Jawab Joe dengan marah, ia membalikkan dirinya dan akan meninggalkan mereka. Mereka menatap Joe yang perlahan meninggalkan meja
" Joe.." Zab teriak memanggil namanya, tetapi ia dihentikan oleh Richo
" ..." Richo menggelengkan kepalanya dan menahan bahu Zab yang akan bangkit dari teman duduknya
" ... " Joe berjalan menjauh dan berhenti sejenak, mereka melihat Joe berhenti dan berkata,
" Satu hal yang kalian harus tau. Gue dan dia, mungkin.. terlalu terbiasa bersama sejak kecil.." Tanpa memandang kearah mereka dan ia kembali melangkah meninggalkan mereka disana.
Mereka melihatnya pergi melewati pintu utama restoran tersebut dan menghilang. Teman-temannya menghela nafas dan berdiam diri sejenak.
" ..." Tidak ada dari mereka yang berbicara hanya saling memandang dan tersenyum satu sama lain
" Tidak ada gunanya mengejar Joe. Bukankah kita semua sudah tau, sifat Joe yang keras kepala. " Sahut Richo kepada Zab dengan senyum dibibirnya
" Huh.. kita baru pertama kali tau, kalau sebenarnya Joe sangatlah BODOH dalam hal ini.." Brian menganggukkan kepalanya dengan yakin
Zab awalnya sangat kesal kepada Joe, tetapi dengan apa yang dikatakan sahabat-sahabatnya, hatinya menjadi luluh kembali. Ia tertawa ringan dengan mereka semua, ia akhirnya mengerti dengan Joe sebenarnya dan memilih untuk mengerti.
" Joe.. hanya tidak mau mengakuinya, dia benar-benar bodoh! Haha.. " Christ tertawa dan mulai bangkit dari tempat duduknya
" Eh.. mau kemana loe? " Tanya Brian karena pria itu akan meninggalkan meja
" Gue yang akan menggurus dia dan semua masalah yang dia timbulkan.. " Christ meneguk sisa isi gelasnya habis, ia berbalik menjauh dan berteriak kepada pelayan restoran
" Christ, tidak perlu. Biar gue yang mengurus ini.." Ucap Richo dengan santai
" It's okay, sekalian. " Teriaknya dari jauh dan meraih selembar kertas dijacketnya
...°¢¢¢¢¢°...
B/n Christ
" Pelayan.. berikan bill meja saya! Saya akan mengurus semua biaya kerugian yang teman saya lakukan. " Teriak Christ menjauhi keramaian dan seorang pelayan wanita berlari mengikutinya dari jauh
" Baik, Mr. Afferther. Semua.. " Menyodorkan dengan sopan kertas tagihannya, pria terlihat tidak memperdulikan kertas itu
" Ini cek, Rp. 20 juta. Apa sudah cukup? Saya buru-buru.. " Setelah menyerahkannya ia berjalan cepat meninggalkan pelayan restoran itu
" Tapi tuan.. terlalu banyak. "
" Saya tidak peduli, terserah kalian apakan sisa uangnya.. " Christ berteriak membelakangi pelayan itu dan mempercepat langkahnya seperti berlari meninggalkan restoran itu
" Baik.. terimakasih tuan muda. " Jawab pelayan itu sambil membungkukkan badannya 15 derajat, ia tau pria tampan itu tidak akan mendengarkannya lagi dari jauh
...□■□■...