
[Kediaman Arvadhafiose, Indonesia]
Richo menghampiri semua orang ditaman belakang, ia terkejut mendapati Brian dan Joe belum ada disana. Padahal sudah cukup lama ia baru akan turun.
" Brian and Joe? Belum turun." Richo mengambil bangku tepat disebelah G-ra
" Em.. nggak bareng sama loe? Mereka-nya." Tanya Zab yang penasaran
" Enggak. Bukan seharusnya Brian udah turun duluan? "
" Ah.. ka Joe pastilah. Dia pasti belum bangun makanya Brian kesusahan. " Tambah G-ra dengan santai
" Ah.. iya jug- " Belum sempat Christ menyelesaikan kata-katanya dan melihat bahwa Brian serta Joe sedang berjalan kearah mereka ber-empat.
" Yo.. mau cabut sekarang? " Tanya Brian dari jauh
" Nih dia. Lama banget sih kalian." Zab sungguh kesal dibuatnya, mereka sudah menunggu cukup lama
" Sorry, gue baru bangun. Dari malam kemarin lusa nggak bisa tidur. " Jelas Joe yang memijit pelipis-nya lembut
" Yaudah, ayo berangkat. Sebelum mereka datang. "
Entah apa dan siapa yang mereka bicarakan. Mereka segera bersiap meninggalkan G.
" Loe.. hari ini dirumah aja? " Tanya Joe kepada adiknya sebelum ia bergabung dengan teman-temannya yang sudah terlebih dahulu meninggalkannya
" Oh.. no, no. Gue ada kelas hari ini, mungkin habis kalian pergi gue juga pergi. Kalian nggak sarapan dulu? "
" Nggak, telat. Ntar aja diluar sekalian kita sarapannya. Oh.. buat loe, jangan lupa makan nanti. " Joe meninggalkan adiknya dan berlari menyusul teman-temannya ke garasi rumah
" Iya."
...□■□■...
[Kediaman Nocthadhanaksa, Indonesia]
Lembar kertas berserakan di meja belajar gadis itu, serta semua buku yang ia miliki terbuka secara acak memenuhi mejanya. Ia sangat kacau dengan semua tugas yang ia tinggalkan selama beberapa hari. Sebagai timbal baliknya ia harus mengerjakan semuanya secara bersamaan dan harus mengumpulkannya besok di akademi.
Ia sendiri binggung, kenapa bisa sebanyak ini tugas-tugasnya. Sebenarnya, semua tugas itu adalah hal yang sangat mudah untuk ia kerjakan tetapi ia frustasi dengan banyaknya jumlah tugasnya.
Ia memutuskan untuk kembali ke Indonesia dari Swiss empat-tiga hari yang lalu dan Zurich Academic yang ia tuai untuk pendidikan secara cepat langsung mengalihkan proses pendidikannya ke negara tujuannya yaitu Indonesia. Prosedurnya sangat cepat hanya sebagai siswi pindahan dan itupun juga tidak berganti tempat. Zurich Academics Homeschooling mempercayakan Renxa Nocthadhanaksa di Indonesia's Academic Homeschooling, yang juga salah satu cabang negara milik Zurich Academics.
Baru 3 hari ia pindah, itu pun belum mengikuti kelas langsung dan baru besok ia mengikuti kelas tambahannya. Tetapi sudah ada banyak tugas yang disisipkan pengajarnya ke handphone-nya.
Zürich Academics atau Indonesia's Academic Homeschooling (International Curriculum) tempat Renxa saat ini merupakan salah satu sekolah paling eksklusif yang hanya dapat masuk jika kita merupakan keluarga besar orang-orang paling berpengaruh diberbagai penjuru dunianya, dan sekolah ini menerapkan tiga program yaitu Community Class, Distance Learning, and Tutor Visiting. Renxa merupakan salah satu siswi yang memilih program Cummunity Class, yang untuk metode belajar homeschooling dilakukan di dalam kelas eksklusif yang terdiri hanya 6-7 siswa dengan waktu belajar relatif 2 atau 3 kali seminggu dan durasi belajar dua jam setiap pertemuan. Renxa sendiri hanya memiliki kelas 2 kali pertemuan seminggu, yaitu Selasa dan Jumat saja. Sama seperti G-ra yang juga memilih program Community Class dan hanya 2 kali pertemuan seminggu, yaitu Selasa dan Kamis, sekolah G-ra dan Renxa serupa tetapi mereka tidak pada sekolah yang sama.
" Come'n.. come'n. Darling, you can do it. Tinggal lima soal lagi, and you're done. " Teriaknya kepada buku-buku yang ia lemparkan
Tepat disaat keadaan memakan fikiran Renxa, ada seseorang yang mengetuk pelan pintu kamar miliknya. Ia benar-benar kesal dibuatnya, seseorang yang mengetuk pintunya ternyata pelayan rumah itu. Pelayan itu membuat keadaannya semakin memburuk saat memberitahukannya harus melakukan sesuatu.
" Permisi, nona muda. Ini saya, Bu Wan (Ja'nae personal assistant)." Ucapnya dengan sopan
" Ha? What's wrong? " Jawabnya dengan sinis
" Maaf mengganggu waktu anda. Saya hanya memberitahukan your private dance teacher is coming. Sudah waktunya anda untuk berlatih.
[guru dansa pribadi telah datang] " Jelas pelayan itu dengan sopan dibalik pintu
Saat Renxa mendengar hal itu, ia benar-benar marah. Renxa melampiaskan kemarahannya dengan buku dan meja dalam diam. Ia tidak bisa jika harus melampiaskan kemarahannya kepada Ja'nae personal assistant, karena dia merupakan orang terpercaya ibu-nya sejak masih muda. Bu Wan sudah bekerja kepada Ja'nae sejak ia masih remaja hingga saat ini. Renxa hanya bisa mengatakan beberapa kata yang mewakili kemarahannya.
" Uh..What the hell are you talking about? Untuk apa juga aku harus belajar dansa, tidak berguna juga untukku. Lebih baik aku mengikuti les lima bahasa sekaligus, dari pada harus berdansa.
[Apa yang baru saja kamu katakan] "
" Maafkan saya, ini perintah dari Nyonya. Bukankah sebentar lagi hari ulang tahun nona muda, anda harus belajar berdansa. "
" Huh.. I hate you! " (menghembuskan nafasnya)
" Baiklah, nanti aku turun. Tapi 30 menit lagi, aku harus mengerjakan semua tugas sekolahku dulu. Entah apa yang harus kalian lakukan selama 30 menit dengan orang itu, I don't fucking care! Kamu boleh pergi sekarang."
" Baiklah, saya permisi." Ia meninggalkan ruangan nona mudanya dengan sopan
Renxa mengomel pada dirinya sendiri setelah pelayannya pergi dari balik pintunya. Ia sangat tidak menyukai dansa, ini kali pertama ia harus belajar berdansa.
Memang benar sebentar lagi usianya akan bertambah 1 tahun bulan depan. Ibunya sudah mempersiapkan segala kebutuhan pestanya dari jauh hari. Ia bahkan dipaksa untuk belajar berdansa, karena dalam daftar acaranya nanti ibunya akan menyelipkan waktu berdansa. Kedua orang tuanya bahkan semua orang tua yang ia kenal sangat menyukai berdansa, kecuali dirinya. Ia merasa bahwa dirinya sama sekali tidak memiliki bakat dalam berdansa dengan orang lain, sebaliknya bahwa ia sangat menyukai orang lain yang berdansa dengan anggun dari pada dirinya yang berdansa dengan anggun.
" Wah.. bukankah satu bulan itu lama? Kenapa mama harus nyuruh gue belajar sekarang." (Matanya fokus pada kertas-kertasnya)
" Yang menyukai berdansa kan mama sama papa. Kenapa jadi gue yang harus ikut, huh.. padahal gue nggak suka berdansa, bukankah melihatnya lebih baik dari pada melakukannya. " Tambah gadis itu tanpa berhenti
Kenapa semua orang yang lebih tua suka bertidak menurut keinginannya sih?
Ah.. gue yang salah, kenapa gue nggak menolak dari awal waktu itu. Huh.. terserah!
" Namanya orang tua, pasti permintaannya aneh-aneh. Kalau dibantah, dimarahin dan kalau diturutin malah nyakitin. Hadéh.. " Ia memijit lembut pelipis kepalanya dan segera menyelesaikan semua tugasnya dengan aman
...°¢¢¢¢¢°...