
" ...but that's an..."
" ...semuanya dijadikan satu..."
" ...came the others..."
Kelas Mr. Henry hampir selesai, Renxa bertanya-tanya apakah disekolah ini menerapkan jam istirahat. Karena sewaktu ia di Zurich, mereka selalu menerapkan jam istirahat walaupun durasi pertemuan mereka singkat.
Gue mengantuk! Argh.. selalu saja seperti ini, masih pagi dan jam kedua saja rasanya sudah lelah. Kemarin gue tidak bisa tidur..
Renxa sesekali menyandarkan pipinya pada meja dan mengangkatnya saat Mr. Harris mulai berbicara. Masih tersisa 2 kelas lagi yang harus ia ikuti. Semalam ia tidak bisa tidur dengan nyenyak, kejadian kemarin selalu membayangi fikirannya.
Tidak seharusnya ia memperlakukan Joe seperti itu, secara tidak langsung juga ia membuka semua isi hatinya pada pria itu. Tetapi disisi lain ia tau bahwa tidak akan mungkin Joe memikirkannya. Joe sama sekali tidak peduli kepadanya, apalagi kepada perasaannya.
" Joe.. buang-buang waktu! " Gumam gadis itu sambil memperbaiki letak topinya
Renxa mengangkat kepalanya dan ia melihat kardus didepan kelas. Kardus berisi air mineral, yang memang disediakan untuk seluruh kelas.
Gue haus, apa itu boleh diambil?
Renxa ingin mengambil satu botol saja, tetapi ia tidak tau apakah itu boleh diambil atau tidak. Renxa menengok kearah kiri dan Grizelle duduk disana.
" Excuse me, Grizelle... " (bisik) Renxa memanggil namanya dan wanita itu menengok
" Ya? " Jarak mereka hanya satu meter dan suara mereka bisa terdengar dengan jelas
" Apa air itu bisa diambil?" (menunjuk)
" Oh.. of course. Kamu haus? "
" ... " Renxa mengangguk dan menatap guru-nya yang sedang mengajar
(Kringg..kringg)
Tidak lama kemudian suara bel berbunyi 2 kali, Mr. Henry bersiap meninggalkan kelas dan memberikan salam terakhirnya.
Renxa terkejut, ia hanya tau bahwa itu tanda kelas berakhir. Semua murid mulai bangkit dari tempat duduk mereka dan satu persatu meninggalkan kelas, termasuk Jorgo.
Oh.. jadi ini bel istirahatnya. Huh.. gue sangat lega!
Renxa menghela nafas melihat teman-temannya keluar dari kelas. Ia akan mengambil minum, tetapi setelah kelas menjadi sepi.
" Kamu tidak istirahat? Kita pergi ke kantin.." (tersenyum) Jessica menepuk pundak Renxa. Jessica dan Grizelle menunggu gadis itu
" Ah.. tidak. Aku disini saja, aku ingin tidur sebentar. Istirahatnya berapa menit?" (mendongak)
" 30 menit. Yaudah, kita pergi duluan ya.." (berjalan)
Kedua wanita itu berjalan meninggalkan kelas. Setelah itu, Renxa baru bangkit dari tempat duduknya dan mengambil sebotol air mineral untuk dirinya. Ia membuka dan meneguk separuh dari isi botol itu.
" Hurfh.. " (berjalan) Ia menghela nafas dan duduk kembali ketempat duduknya
Diluar kelas tidak terlalu banyak murid yang tinggal. Hanya beberapa dari mereka yang duduk disepanjang lorong lantai itu. Kebanyakan dari mereka menghabiskan waktunya di kantin atau studio musik untuk menghabiskan waktu istirahatnya.
" Huaahh.. " (menguap) Renxa melepaskan topinya dan menyandarkan dahi pada meja dihadapannya
Ia mulai memejamkan matanya. Suara hening melintasi telinganya dan menghilang.
..._____________
...
" ..Renxa.." Derupan suara seorang wanita memanggil namanya 2 kali
Renxa perlahan mendapatkan kesadarannya. Tidak terasa 30 menit sudah ia memejamkan matanya. Bel masuk sudah berlalu dan semua murid telah didalam kelas, hanya dirinya seorang yang masih tertidur.
" Renxa.. bangun. Bel masuk sudah bunyi, bangun! " Grizelle mengusap lembut punggung gadis itu dan berusaha membangunkannya
" Hhm.. " Gumam Renxa. Ia perlahan mengangkat kepalanya dan mendongak kearah wanita itu
" Tuh liur-nya di ilangin dulu.." (tersenyum) Suara seorang pria yang duduk didepan Renxa. Pria tampan itu berbalik dan menatap Renxa
" ..." Renxa langsung mengusap mulutnya, karena ia fikir mungkin benar air liurnya keluar saat ia tidur
" Juan.. apaan? Ngga ada.." (mengerutkan dahi) Jawab gadis itu. Saat mengusap mulutnya, ternyata tidak ada air liur-nya
" Haha.. " (tertawa) Juan hanya menggoda gadis itu. Ia tidak bersungguh-sungguh mengatakannya
Juan memang duduk didepan Jessica, karena sekarang ia duduk ditempat itu. Juan Pradana Nareswara, putra sulung dari Nico Pradana Nareswara yang merupakan pengusaha batu bara terkemuka di Asia Tenggara.
" Iya, iya.. sayang. " Jawab pria itu
" Huah.. memangnya sudah masuk? " Renxa menengok kebelakang dan melihat sekelilingnya. Karena tidak terlalu banyak murid disana jadi ia dapat dengan mudah melihatnya. Semua murid kini menatap kearahnya dan ia merasa malu.
" Uh? Em? Huh? Hahaha..." (merapikan rambut) Renxa tertawa sangat keras. Kedua telinganya terasa panas dan memerah, ia benar-benar malu
Grizelle mengeleng-gelengkan kepalanya melihat gadis itu dan wanita itu segera duduk dibangkunya kembali. Tepat saat itu juga seorang wanita muda masuk kedalam kelas, semuanya kembali ketempat mereka dengan tenang.
" Good Morning.. " Wanita cantik itu tersenyum ramah kepada semua orang
Muka gue pasti terlihat aneh, gue akan ke toilet.
Pikir gadis itu. Renxa akan mencuci mukanya, karena pasti muka bangun tidurnya terlihat buruk. Sebelum itu ia melihat botol air mineral diatas mejanya, ia segera meneguk habis sisa isi air itu dan bangkit dari tempat duduknya.
" Excuse me ma'am. I'll go to the toilet..
[Permisi bu, saya izin ke toilet] "
" Sure.. "
Renxa meraih topi yang ada didekatnya untuk pergi bersamanya, ia membuka pintu dan keluar.
...____________...
Renxa sudah selesai mencuci mukanya dengan satu tangan saja. Ia menatap luka ditangan kirinya dan bergumam.
" Kenapa loe tidak sembuh-sembuh juga? Selalu menyusahkan gue.. " Renxa berjalan menuju pintu keluar dan membuka pintunya
Tiba-tiba..
" Aa.. " (berteriak)
Saat membuka pintu dan hendak keluar, tiba-tiba ada seseorang yang menarik tangannya. Renxa langsung berteriak, ia terkejut dan tidak tau siapa yang menariknya. Orang itu menarik tubuhnya dan mendorongnya hingga menyentuh dinding belakang punggung.
" Sstt.. diam! " Suara seorang pria. Renxa yakin pernah mendengar suara itu sebelumnya
" ... " Renxa membuka matanya dan ia benar-benar terkejut mendapati siapa pria itu
" Mr. Chatzi.. "
Pria itu adalah Jorgo, entah apa yang pria itu lakukan disini. Jorgo melepaskan gadis itu dan ia menghela nafasnya menatap gadis itu.
Kenapa cowok ini disini? Apa dia mengikuti gue..
Renxa mengerutkan dahinya menatap pria tampan yang ada dihadapannya itu. Kali ini ia mengambil jarak tidak terlalu dekat dari Jorgo.
" ... "
" ... " Tidak dari keduanya yang berbicara. Hingga Jorgo melihat luka ditangan kiri gadis itu
" Apa luka loe belum sembuh juga? " Jorgo meraih tangan kiri gadis itu dan menarik lengan panjang hoodie-nya.
" Ini sudah 4 hari, kenapa belum kering juga. Apa yang loe lakukan? Apa loe tidak meminum obat-nya? " Jorgo terlihat fokus dengan luka itu
" Bukan urusan loe, makasih.. " Dengan malas ia menarik kembali tangannya dan mulai berjalan meninggalkan pria itu
" Loe sangat keras kepala! " Jorgo menaikan sedikit nada bicaranya dan menarik kembali gadis itu
" Ih.. lepasin. Kalau tidak keras kepala, maka kepala kita tidak akan bertahan selama ini. Gila loe.. " (berteriak) Renxa berusaha menapis tangan pria itu
" Ms. Nocthadhanaksa, gue tidak sedang bercanda. Jangan seperti anak kecil! Apa yang loe lakukan sehingga lukanya terbuka kembali? " Dengan tegas pria itu mengarakannya
Kita pasti akan bertengkar.. jika gue melawannya. Ya Tuhan, beri aku kesabaran!
" Mr. Chatzi.. terimakasih karena anda sudah memperhatikan saya. Tapi, ada suatu hal yang tidak bisa saya ceritakan. Jadi.. tolong lepasin gue! " Renxa berbicara lembut dan lebih menekankan kalimat akhirnya.
Ia berusaha melepaskan tangan pria itu dan ia berhasil, Jorgo melepaskannya. Renxa perlahan pergi menjauhi pria itu.
" Huh.. sifat loe sangat berbeda.
Ms. Nocthadhanaksa.. " Jorgo menyerah dan mengikuti gadis itu dari belakang
" ... "
...□■□■...