MY Lovely Story

MY Lovely Story
Eps. 26



B/n Jorgo


" Oh.. ya udah duluan ya. Bye.. " (pergi meninggalkan ruangan)


(Renxa terlihat sangat sibuk dengan dress yang ia kenakan. Ia sangat panik ketika mengetahui ujung bajunya yang tersangkut begitu rapat di sela-sela kursi yang ia duduki. Ia berdiri dan menarik ringan bajunya agar terlepas dari kursi, ia tidak tau kenapa bisa bajunya tersangkut disitu. Padahal awalnya tidak ada sela untuk tersangkutnya barang apapun disana)


" Jess.. " Teriak Jorgo sambil berjalan cepat menghampiri Jessica yang telah meninggalkan ruangan


Sebelum ia benar-benar mengejar Jessica, ia sekilas melihat kearah gadis dibelakangnya dan mendapati kenapa gadis itu belum juga meninggalkan kelas. Akhirnya ia mendapati bahwa dress yang gadis itu kenakan sedang tersangkut, dan terlihat kesulitan menghadapi itu.


Apa peduli gue..


Pikir pria itu dan mulai berjalan kembali meninggalkan kelas, tetapi ada suara itu yang memanggilnya. Ia berhenti dan berbalik mendapati sumber suara yang berasal dari gadis sombong yang tidak ia sukai.


" Um.. gue butuh.. bantuan, sedikit.. bisa nggak.. loe bantu gue? " Tanya gadis itu dengan terbata-bata


" ... " Jorgo memandang gadis itu sejenak dan mengangkat pangkal alis kanannya dan berkata,


" Katanya.. 'gue bagus dalam segala hal. Tidak ada yang perlu gue buktikan' . Mana? Ah.. urus aja urusan loe sendiri, gue sibuk.. " Ia berbalik kembali dan berjalan menuju pintu, sebelum melangkah keluar ia bisa mendengar gadis dibelakangnya menghembuskan nafasnya dengan perlahan.


Ternyata bisa minta bantuan. Butuh bantuan juga? Haha..


Jorgo berjalan dan berlari sedikit menuju lift mengejar Jessica, tetapi sayangnya ia sudah kehilangan jejak sahabatnya tersebut.


" Huh.. Jessica.. itu anak, nggak pernah berubah." Jorgo membenarkan arah tas yang ia bawa dipundaknya


Setelah lift-nya sampai dilantai dasar, ia berjalan dengan tenang dan meraih kunci mobil yang ada disakunya. Tidak sengaja ia menjatuhkan kunci mobilnya dan berbalik untuk mengambilnya. Ia mendapatkannya, tetapi ia mulai berfikir hal yang tidak seharusnya ia fikirkan.


Kenapa dia nggak ada dari tadi, belum keluar juga? Padahal udah rumayan lama selang gue meninggalkan kelas. Apa masih belum beres juga..


Untuk memastikannya, Jorgo akhirnya mengalah untuk kembali melihat gadis itu dikelas. Ia berjalan menuju lift dan naik ke lantai 7, tempat kelasnya berada.


Sampai dilantai 7 ia keluar lift dan berjalan menuju kelasnya. Saat diperjalanan ia sempat berfikir dan menengok keadaan. Ia melihat lantai 7 itu sudah sangat sepi dan tenang, ia berfikir mungkin saja semua orang sudah pergi termasuk gadis itu.


Mungkin dia udah pergi, udah nggak ada orang lagi disini. Mendingan gue balik aja, ngapain gue pake disini segala. Jorgo.. Jorgo, ada-ada aja loe..


Hampir ia berbalik dan meninggalkan lantai itu, tetapi telinganya mendengar sepercik suara kecil didalam kelas yang ada didepannya. Ia bergegas membuka pintu kelasnya dan mendapati gadis yang ada dalam pikirkan sedang berjongkok membelakangi-nya dengan rintihan suara nafasnya yang terbata-bata.


Jorgo sontak terkejut dan berlari menuju gadis itu, ia melemparkan tas serta kunci mobil yang ia bawa ke lantai. Ia berlari ke hadapan gadis itu dan mendapati tangan gadis itu terluka serta mengeluarkan darah.


Pangkal garis pinggir ibu jari tangan kiri Renxa tergores benda tajam diujung mejanya. Lukanya dikatakan lebar juga tidak, tetapi jika dikatakan tidak lebar itu juga salah. Sepanjang garis hingga hampir mengenai pergelangan tangannya, darah terus saja keluar begitu saja.


" Are you alright? " Jorgo dengan cepat membalikkan tubuh gadis itu mengahadap dirinya


Ia bisa melihat luka yang ada pada tangannya membuat gadis itu takut dan menangis dengan kencang. Ia memandang sejenak mata gadis itu dan langsung memeluk tubuh gadis itu.


" G-Gue.. sakit, t-tolong.. gue.. " Tambah gadis itu dengan suara menangis tersedu-sedu dipelukkannya


" Hey.. hey. It's okay. " Ia memeluk dan berusaha menenangkan keadaan gadis itu


Sekali lagi ia melihat keadaan Renxa dan ia mengerutkan dahinya. Gadis itu terus saja menekan lukanya dengan tangannya, ia perlahan membuka tangan gadis itu agar tidak lagi menekan lukanya yang membuat darahnya semakin mengalir.


" Please.. kamu tidak boleh menekan luka loe. Akan bertambah banyak yang keluar saat kamu menekannya. Lagi pula tanganmu belum tentu steril juga. " Arahan Jorgo yang diterima baik oleh gadis itu, ia perlahan menarik tangan yang penuh dengan darah itu dan mendekatkan kearahnya


" ... " Renxa tetap saja merintih kesakitan saat pria itu menyentuh telapak tangannya, Jorgo menyadarinya dan mulai lebih berhati-hati dalam menggerakkan tangannya.


Saat ia menyentuh tangan yang jauh lebih kecil dari pada miliknya, ia bisa merasakan tangan mungil itu terasa sangat dingin. Terlihat jelas gadis itu menahan rasa sakitnya, ia sekilas mengengok ke belakang dan mendapati apa yang terjadi. Saat itu ia menemukan ada bekas darah yang mengalir pada sela kaki meja besi yang cukup tajam.


Ah.. jadi itu penyebabnya. Mengapa mereka sangat begitu ceroboh? Bagaimana bisa ini terjadi, seharusnya tidak ada hal yang bisa membahayakan nyawa anak-anak disekolah ini. Damn.. gue benar-benar kesal.


Dalam hatinya ia benar-benar kesal dengan kelalaian yang dilakukan oleh pengurus sekolah. Bagaimana jika ada anak kecil lain yang berada pada posisi Renxa saat ini.


Jorgo perlahan mengangkat tangan kiri gadis, ia melipat lengan jacket putih Renxa yang saat ini menjadi merah karena darah gadis itu. Ia membersihkan darah yang mengalir ke lengan gadis itu dengan lengan hoodie-nya yang sebelumnya ia turunkan keduanya.


" Sekarang ayo kita membersihkan luka kamu dulu supaya pendarahannya berhenti. Aku bantu kekamar mandi." Ia membantu gadis itu berdiri dan menutup lukanya dengan kedua tangannya sampai ke kamar mandi yang ada dilantai itu


Dipertengahan perjalanan, Jorgo melihat dari jauh ada seorang pengurus sekolah yang sedang mengecek setiap kelasnya. Kebetulan pria tersebut melihat mereka berdua dan berlari menghampiri mereka.


" Tuan, nona.. ada apa ini? Kenapa nona terluka? Apakah anda berdua baik-baik saja? " Tanya petugas itu dengan cemas, melihat keadaan mereka berdua yang bersimbah darah


" Pak, saya tidak mau tau. Kamu harus mengganti semua bangku dan kursi yang ada dikelas saya, saat ini juga! Asisten pribadi saya yang akan mengatur ini semua kepada pihak sekolah. Saya tekankan lagi kamu harus segera menggantinya, jika saya kembali nanti masih ada bangku-bangku sialan itu saya tidak akan segan-segan menuntut sekolah ini. " Jorgo terlihat sangat marah kepada petugas itu dan membuatnya takut


" Baiklah tuan. Saya akan segera mengurusnya. Tetapi, tuan Jorgo.. bagaimana dengan nona ini? Apakah saya harus menghubungi dokter kemari menemui anda? "


" Tidak perlu. Saya bisa menggurusnya sendiri. Kamu tidak perlu ikut campur, kamu bisa pergi sekarang. Saya buru-buru. " Ia mulai memeluk gadis itu ke pelukannya dengan tangan kirinya agar tidak terlalu banyak mencuri perhatian dan berbalik menjauhi petugas itu


" Baik tuan. " Jawab petugas itu dengan sopan dan menundukkan kepalanya


...°¢¢¢¢¢°...