MY Lovely Story

MY Lovely Story
Eps. 34



Berkali-kali ia mencoba meraih jacketnya tetapi selalu gagal, tangannya terlalu pendek untuk itu. Ia berhenti sejenak dan menghembuskan nafasnya dengan kesal. Hal ini menarik perhatian Jorgo yang dengan santai menatap layar ponselnya serta tangan kirinya yang ia angkat ke belakang.


" Ehem.. kenapa? " Tanpa beban ia bertanya kepada gadis itu


" Nggak.. " Jawabnya dengan judes, yang membuat pria itu tertawa


" Ingat Ms. Nocthadhanakasa, jika kali ini loe benar-benar menguji atau pun memancing gue. Jangan harap gue melepaskan diri loe.. " Ia tersenyum begitu senang hanya dengan memikirkannya


" Hurff.. " Sebaliknya, gadis itu tersiksa dan ingin menangis rasanya hanya dengan memikirkannya


Gue benar-benar bisa gila hanya dengan memikirkannya. Dia jauh lebih gila dari Ka Joe..


Jika dipikir, bagaimana mungkin gue mengambil jacket gue disana tanpa menyentuh dia sama sekali. Itu tidak mungkin.. kecuali jika dia pergi dari sini, itu akan jauh lebih mudah.


Renxa sudah memikirkannya, ia akan mencoba salah satu cara ini agar tidak menyentuh tubuh pria itu. Ia mulai menaikkan kedua kakinya dikursi mobil dan mersiku lutut pada kursinya. Pria itu melihat apa yang akan dilakukannya, tetapi ia tidak peduli, yang ia perdulikan hanyalah tidak boleh menyentuh-nya. Setelah ia menopang dirinya pada lututnya, ia mulai mencondongkan tubuhnya, ia mulai berpegangan kepada dashboard dan setir kemudi mobil tersebut.


Ia berhasil untuk tidak menyentuh pria itu, perlahan tangan kirinya mulai meraih jacket yang berada tepat dibawahnya.


" Ah.. dikit lagi. "


Pria itu menatapnya dan tersenyum, ia melirik pria itu tersenyum disudut bibirnya


Dia tersenyum? Apa maksudnya..


Tidak lama kemudian..


Gadis itu kehilangan konsentrasi akan apa yang ia lakukan. Dashboard-nya terlalu licin untuk ia jadikan sandaran dan tangannya terlepas darinya. Ia merasakan dirinya akan terjatuh, ia seketika langsung meraih apa yang dapat ia jadikan pegangan.


Shit..


Pria itu terkejut dan memajukan dirinya, Renxa sontak langsung meraih leher pria itu dengan tangan kirinya. Ia melingkarkan tangannya kebelakang leher pria itu dengan erat, ia bisa merasakan tangan kanannya kini juga berpegangan ke dada pria itu.


Tepat sebelum ia terjatuh, pria itu meraihnya dan menarik tubuhnya. Dengan begitulah ia dapat dengan mudah meraih leher pria itu sebagai pegangannya.


Apa yang baru saja gue lakukan.. Renxa.. kali ini loe beneran.. mati.


Ia tidak menyangka akan memeluk pria itu, bukan pria itu yang memeluknya. Tetapi, ia benar-benar memeluk leher pria itu. Ia merasakan tangan pria itu berada diperut dan pinggangnya.


" ..."


" ..." Tidak dari keduanya yang saling berbicara selama 5 detik. Mereka tetap berada pada posisi yang sama, gadis itu terlihat canggung, sedangkan pria itu tersenyum tanpa alasan.


" Ms. Nocthadhanaksa.. " Bisik pelan pria itu ketelinga Renxa. Ia menarik semua rambut yang menutupi punggung serta lehernya dan menyingkirkannya


" Apakah.. kamu lupa dengan apa yang baru saja kita bahas? " Nafas hangat di leher kiri gadis itu, membuatnya sangat tidak nyaman


Ia benar-benar terkejut, ia butuh beberapa detik untuk mencerna apa yang telah terjadi. Tepat ketika ia menyadarinya, ia segera menarik tubuhnya menjauh dari pria itu. Ia berusaha menjauhkan tubuhnya tetapi pria itu tidak membiarkannya. Sebagai gantinya, ia berusaha untuk meraih jacket yang sudah sangat dekat dengan tangannya, tetapi lagi-lagi pria itu mengagalkannya.


" Bukankah.. sebelumnya kita sudah membuat perjanjian? Kalau aku tidak akan melepaskanmu begitu saja, setelah kamu menggodaku. " Pria itu terus saja tersenyum kepadanya, ini membuat perasaannya menjadi tidak enak


" Apa? Bukan aku yang membuat perjanjian itu. Itu kamu sendiri, lagi pula aku tidak menggodamu. Tolong lepaskan aku.. " Bantahnya sambil merengek, punggungnya bahkan telah bersandar pada setir kendali mobil tersebut


" Cittch.. tidak akan semudah itu. Aku sudah berbaik hati kepadamu dari awal kita memulai ini.. tetapi tidak untuk sekarang. Bukankah kamu merasa kedinginan? Aku bisa memberikan pelukan yang hangat untukmu, semua wanita tergila-gila kepadaku untuk mendapatkannya. " Pria itu menarik lembut tubuh gadis itu mendekatinya, sedangkan tangan kanannya ia telah meraih tombol AC-nya dan ia berniat untuk mematikan suhu AC mobilnya tanpa sepengetahuan gadis itu.


" Aa.. tidak, tidak. Menjauhlah dariku..


Mr. Chatzi.. " Ia berteriak dan berusaha menjauhkan tubuhnya dari pria itu


Dia sunggung pria brengsek.. gue benci dia!


" Sudahlah.. tidak perlu berpura-pura. Kamu sudah mengetahui berjanjian kita, tetapi kamu tetap saja menggodaku dengan natural. " Ia tersenyum dan mengangkat salah satu pangkal alisnya


" Sebenarnya apa yang sedang kita bicarakan. Aku tidak menggodamu... a-aku bahkan tidak menyentuhmu dengan sengaja. " Terbata-bata ia mengatakannya dan tanpa memandang kearah pria itu


" Oh.. kalau begitu biar aku yang menyentuhmu.." Ia menarik paksa tubuh gadis itu jatuh kepelukannya, ia menyingkirkan rambut-rambut yang menghalangi leher gadis itu


" Bukankah ini yang selama ini kamu inginkan dariku.. " Ia perlahan mulai menyusuri leher samping dan bahu gadis itu. Ia beberapa kali mengecup lembut tubuh gadis itu, dia benar-benar telah kehilangan akal hanya dengan memikirkannya


" Huh.. Mr.. Chatzi. K-kamu tidak.. tidak seharusnya.. melakukan ini. " Ia bahkan tidak bisa berbicara dengan lancar, dengan semua yang dilakukan pria itu. Ia merasakan nafas dan hidung pria itu menyentuh bagian bawah telinga kirinya.


Ini.. sangat tidak benar.


" ..." Jorgo benar-benar tidak bisa mengendalikan apa yang seharusnya tidak ia lakukan. Ia sudah menahannya, tetapi tidak untuk kali ini. Mereka baru pertama kali bertemu, tapi ia sudah merasa tertarik dengan gadis itu.


" Aku bisa merasakannya, tubuhmu.. detak jantungmu.. nafasmu.. aku rasa, a-aku benar-benar kehilangan akal. " Bisik pria itu kepada gadis yang sedang ia dekap


" Mr. Chatzi, ini tidak benar. " Ia terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan oleh pria itu, ia berusaha kembali lepas dari dekapan pria itu


" Bukankah.. disini sangat panas? "


Renxa seakan mengerti dengan apa yang akan dilakukan pria itu. Ia tidak bisa membiarkan pria itu melakukan sesuatu kepadanya seperti itu. Ia merasa panik dan tanpa sengaja lukanya terbentur oleh setir kendali mobil saat ia berusaha menghindar dari pria itu.


" Aw.. s-sakit.. " Keluhnya menarik pergelangan tangan kirinya


Renxa dan Jorgo sama-sama terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Lukanya kembali terbuka dan mengeluarkan darah, kasa dan perban yang awalnya bersih kini telah bertembus darah merah.


Renxa merasakan kesakitannya kembali dan menangis. Ia kembali menangis, tetapi kali ini dengan perasaan yang berbeda. Rasa takut dan kesakitan di saat bersamaan tidak bisa ia bendung, ia mengeluarkan air matanyan sesaat setelah melihat lukanya kembali mengeluarkan darah.


Jorgo sangat panik saat mengetahui luka tangan gadis itu kembali terbuka, ia segera melepaskan tangannya dari tubuh gadis itu. Seketika ia langsung menempatkan gadis itu kembali ke posisi duduknya dengan benar, ia mengendongnya kembali ke kursinya.


" Hey.. hey, tenanglah. Aku ada disini untuk mengurusnya.. " Memegang tangan gadis itu untuk membuatnya merasa lebih tenang