
Sepanjang perjalanannya menaiki lift, tangan Renxa terasa nyeri. Ia baru bisa merasakan rasa sakitnya sendiri setelah semua ini berakhir. Ia menatap tangan kirinya, perban putih itu kini sudah penuh dengan warna merah. Lift-nya sampai ditempat dimana seharusnya ia kembali, kedua penjaga itu segera menghampirinya.
" Nona, tangan anda. Jika tuan muda tau dan tidak seorang pun dari kita yang mengatakannya, maka beliau akan memarahi kita. " Mereka sangat cemas dan takut disaat yang bersamaan
" Tidak perlu takut, hanya kalau kalian menjaga rahasia ini. Saya akan menunggu didalam, suruh orang untuk membersihkan tanganku. Sebelum ka Joe tau. "
Kedua penjaga itu mengangguk mengerti. Mereka membukakan pintu untuk gadis itu masuk. Pada awalnya Renxa merasa sangat tenang, tetapi saat langkah kelimanya ia mulai mendongak. Mata Renxa langsung menangkap dari jauh 3 orang pria berlari kearahnya. Renxa menyipitkan matanya dan menyadari siapa mereka.
Shit! Mereka lagi..
Renxa langsung mundur dan dengan cepat mendorong pintu belakangnya dengan punggungnya hingga terbuka sedikit. Kedua penjaga itu terkejut mendapati gadis itu dengan tergesa-gesa membuka pintu.
" Saya sedang diganggu orang, ada 3 pria disana. Tolong tangkap 3 pria yang akan mengejar sa..." (berteriak) Penjaga sangat terkejut dengan perkatakaannya, sebelum menyelesaikan kalimatnya gadis itu langsung berlari
Renxa sangat panik, hingga paniknya ia tidak tau apa yang akan dia lakukan. Ia selalu menabrak orang ditengah larinya, mereka bertiga semakin mendekatinya. Karena kejadian sebelumnya menguras tenaga Renxa, gadis itu tidak bisa berlari terlalu cepat. Ia menyadarinya, bahwa dirinya sangat lelah..
" ...jangan lari..."
" ...damn! Where you..."
Ka Joe.. ka Joe! Iya gue harus kesana..
Renxa baru menyadarinya, ia segera memutar jalanya dan mengambil jalan lain. Ia segera menuju keruangan dimana Joe dan teman-temannya berada. Ia tau bahwa ruangan itu adalah tempat teraman dimana dirinya berlindung, tidak akan ada yang berani memasuki ruangan itu tanpa seizin Joe.
Sedangkan penjaga itu segera memecah keramaian dan mengejar balik ke-tiga pria itu. Mereka berhasil menangkap pria-pria itu dan membawanya keluar dari situ. Keadaan menjadi kacau karena mereka, semua orang yang sebelumnya senang menikmati musik malam, menjadi terkejut dan histeris dengan penangkapan mereka. Berulang kali pria-pria itu menolak untuk ditangkap, tetapi penjaga lain entah dari mana datang membantu kedua penjaga untuk mengatasi pemuda tersebut. Sehingga mereka berhasil mengatasinya.
Sebelum pria-pria itu menangkapnya, Renxa secepat mungkin berlari melewati koridor ruangan dan mendorong pintu ruangan Joe dengan cepat.
(Brakk!)
Tanpa melihat kebelakang, gadis itu segera menutup pintu itu dengan rapat. Renxa sangat lelah, bahkan ia tidak bisa bernafas dengan lancar. Ia menjatuhkan tasnya dilantai dan penyandarkan punggungnya pada pintu yang telah ia tutup.
" Ah.. takut-takut, gue.." (terengah) Gumam gadis itu, ia memejamkan matanya
Saat gadis itu tiba-tiba membanting pintu dengan keras, semua orang yang berada disana merasa sangat terkejut. Renxa tidak menyadarinya, ia memecahkan ketenangan mereka semua. Mereka menatap gadis itu dengan bertanya-tanya, sebenarnya apa yang terjadi? Dia pergi sangat lama dan datang dengan keadaan seperti ini.
" Loe? Kenapa loe masuk tiba-tiba? Mengagetkan kita.. " Lateshia langsung menghakimi gadis itu
" ..." Renxa tidak bisa mendengar wanita itu berbicara kepada mereka. Ia masih berusaha menata nafasnya
" Renxa, loe dari mana saja? Gue mencari loe.." (berdiri) Joe terkejut melihat gadis itu, wajahnya sangat cemas
" Apa loe baik-baik saja? Wajah loe terlihat pucat.. " Zab mengerutkan dahinya dan menatap gadis itu
" Haha.. bentar, gue harus minum.." (tertawa) Renxa berjalan dan mengambil air mineral yang berada dimeja, ia segera meminum setengahnya. Saat ia mulai masuk ruangan, ia selalu menyembunyikan tangan kirinya dari hadapan mereka semua
" Gue.. gue baik-baik saja. Seperti yang loe lihat, gue masih utuh.. " Tambah gadis itu. Renxa memunggungi mereka semua, ia bergeser dan meraih beberapa tissue disudut ruangan
" Apa yang terjadi? Kemana saja loe, gue menghubungi nomer loe. Tetapi, tidak aktif.. " Joe berjalan separuh mendeti gadis itu
Ah.. karena gue mengaktifkan airplane mode saat itu, dan gue tidak mematikannya.
" Ah.. handphone gue, lowbatt.. " Renxa diam-diam mengusap bercak darah yang terlihat dilengan kirinya
Renxa menggenggam rapat tissue yang ia gunakan sebelumnya. Ia berbalik dan mendapati Joe sedang berjalan kearahnya. Renxa terkejut dan langsung menyembunyikan tangan kirinya kebelakang.
" Apa terjadi sesuatu dengan loe? Kemana jacket loe, apa ada yang berusaha menganggu loe? " Joe mendekati gadis itu. Ia membisikannya disaat semua orang meributkannya
" Tidak, ka Joe. Gue baik-baik saja, tidak ada yang menganggu gue.. " Joe memegang kedua lengannya dengan cemas dan gadis itu perlahan menghindari sentuhan pria itu
(Tok..tok)
Saat gadis itu ingin menjelaskannya lebih pada pria dihadapannya. Seseorang mengetuk pintu ruangan mereka, Renxa merasa hal ini menjadi urusannya. Sehingga harus ia sendiri yang membukanya, jika orang lain maka akan menjadi masalah yang rumit.
Gue tidak bisa membicarakan ini kepada ka Joe. Selama ini gue mengenal dia, jika dia mendengarkannya.. dia pasti akan marah.
" ..." Joe hampir berjalan menuju pintu, tetapi Renxa menarik tangannya. Gadis itu menghentikan langkahnya, Joe menatap gadis itu dengan penasaran
" Biar gue saja.. "
Renxa berjalan dan membuka sedikit pintu itu, saat membukannya ternyata instingnya benar. Salah seorang penjaga yang ada didepan mengetuk pintu ruangan mereka.
" Nona.. " Pria itu sangat sopan
" Ssstt.. jangan keras-keras.. " Renxa memberikan isyarat tangan pada pria itu
" Siapa? " Joe bertanya pada gadis itu
" Huh? Hanya seorang teman, sebentar gue akan menemuinya.." (tersenyum) Renxa segera menutup pintu ruangan itu
" Bagaimana? " (menengok seluruh arah) Renxa mengecilkan suaranya agar tidak terdengar semua orang
" Mereka sudah kami pergi, anda tidak perlu khawatir. Saya sudah meminta seseorang untuk membersihkan luka anda, jadi tolong ikut saya. " Dengan sopan pria itu menjelaskannya
" Baiklah, saya akan kembali.. " Renxa membuka sedikit pintu dibelakangnya
" Hhm.. anu, ka Joe.. gue pergi sebentar.. " Ia hanya memasukkan kepalanya saja
" Kemana? Lo- " Belum selesai ia mengatakannya, gadis itu menyelanya dan menutup pintu itu kembali
" Gue tidak akan pergi dari sini, tenang saja.." (menutup pintu)
" Ayo.. " Renxa berjalan mendahului pria dibelakangnya
Pria itu lalu menuntun jalan mereka, mereka keluar dari tempat itu dan menaiki lift. Renxa diarahkan pada sebuah ruangan khusus dan ada beberapa orang yang sudah menunggunya disana. Mereka segera mempersilahkannya duduk dan mulai membersihkan tangan kirinya.
...°¢¢¢¢¢°
...