
Joe pagi ini tiba-tiba menelepon nomornya, ia tidak mengerti kenapa hal itu bisa terjadi. Ia sama sekali tidak pernah memberikan nomor pribadinya kepada siapa pun di Indonesia, kecuali sahabatnya G-ra.
Sangat tidak mungkin G-ra memberikan nomornya kepada kakaknya. Karena ia tau, Joe tidak akan sebodoh itu untuk meminta nomor teleponnya.
" What, w-what the heck.. k-ka Joe! Dari.. mana dia bisa tau nomor gue? " Ia melempar handphone-nya ke ranjang dan berdiam diri
Ia sangat terkejut dengan panggilan tiba-tiba Joe An Arvadhafiose. Ini pertama kali baginya mendapatkan telepon dari seorang Joe. Karena baru pertama kali, ia merasa sangat binggung dengan apa yang terjadi, ia berusaha untuk mengerti dengan ini. Ia berulang kali mondar-mandir disekeliling tempat tidurnya dengan gelisah, ia sangat tidak mempercayai ini. Ia sangat gugup dan takut..
Apa yang harus gue lakukan? Gue spontan memutuskan panggilannya karena terkejut. Dia pasti sangat marah..
Ah.. buat apa gue perduli, tidak ada hubungannya sama gue. Tapi.. gue takut kalau dia marah-marah ke gue, Ah.. terus gimana?
Gimana caranya dia bisa tau nomor pribadi gue? Gue tidak menyangka dia akan menghubungi gue, selama ini..
(Kring..kring..kring)
Mati gue..
Renxa meraih handphone-nya dan mematikan kembali panggilan dari nomor yang sama.
(Kring..kring..kring)
Sudah 3x dering handphone itu berbunyi dan gadis itu masih tidak berani untuk mengangkatnya. Akhirnya, pada dering ke tiga ia memberanikan diri untuk menjawab panggilan nomor itu
" Y-ya.. " (terbata-bata)
" Loe cari mati ya! Nggak habis fikir gue, loe menolak panggilan gue 4x. Ini pertama kalinya untuk gue ditolak." Pria itu benar-benar marah dengannya
" I-iya.. ka Joe, m-maaf. "
" Kenapa loe tidak mengangkat telepon gue? "
" Hhm.. nggak. G-gue.. kepencet! " Ia sangat panik dan dengan spontan menggatakannya. Great Renxa! Alasan yang bodoh.. mana ada kepencet berkali kali. Dia selalu saja membuat gue takut.. huu..
" Hah.. apa maksud loe? Mana ada kepencet selama 4x berturut-turut. Tidak ada yang berani menolak seorang Joe An Arvadhafiose."
" Iya, beneran. Lic.. "
" Cittch.. lupakan. Sekarang gimana keadaan loe? Apa masih sakit, luka loe? " Tanpa basa-basi ia mengatakannya
" Ka Joe.. tau soal luka gue? Terus, bisa tau nomor pribadi gue dari mana? "
" Billan."
" Oh.. "
" Sekarang ada dimana loe? "
" Dirumah, kenapa? "
" Gue kesana sekarang! "
" Aa.. jangan, jangan.. " (ia hampir gila dengan berteriak)
" Kenapa? Dulu gue biasa kerumah loe, apa yang berubah dari sekarang.."
Yang berubah.. loe jadi benar-benar brengsek! Gue tidak mau berdua lagi dengan loe..
Pikir gadis itu, mengingat apa yang telah terjadi antara ia dan pria itu
" Maksud gue.. ka Joe tidak perlu repot-repot dateng kesini, buat liat gue. "
" Hah? Gue yang mau.. kenapa? "
" Tidak, tidak. Gue.. t-tidak mau, berdua s-sama loe.. "
" Chuhh.." Joe tertawa sinis menanggapi apa yang dikatakan gadis itu, ia tidak bisa mempercayai itu
" ... " Renxa segera menjauhkan handphone-nya dan bersiap-siap menekan tombol pengakhir panggilan. Tetapi..
" Kalau, loe berani-beraninya menutup telfon gue lagi. Gue.. benar-benar akan kesana sekarang! "
" Ah.. tidak, tidak. Gue tidak ada niatan seperti itu.. haha. "
" Udah minum obat? "
" Sudah.."
" Udah makan? "
" Be.. " Tepat ketika itu seorang pelayan kembali mengetuk pintu kamarnya dan memberitahukan bahwa sarapannya sudah siap dan dia bisa turun sekarang
" Belum, ini mau makan. Ada lagi yang ka Joe butuhkan? "
" Oh.. yaudah makan aja dulu. Kalau hal yang gue butuhkan.. apa loe bisa memenuhinya? " Pria itu mulai menggodanya kembali
" Ehem.. tidak, tidak. Ka Joe.. beneran nggak kesini kan? Kan? "
" Hhm.. loe mau gue kesana? Kalau gitu gue kesana.. "
" Ah.. tidak, tidak. Gue hanya memastikan saja. Kalau begitu, gue pergi dulu ya. Dadah.. "
Renxa memutuskan panggilannya sebelum Joe berbicara lebih kepadanya. Ia meletakkan kembali handphone-nya dan segera berjalan meninggalkan kamarnya. Sebenarnya ia sudah sangat lapar dari tadi pagi, tetapi karena ia masih mengantuk maka ia lebih untuk melanjutkan tidurnya dibandingkan dengan makan.
...°¢¢¢¢¢°...
" Nona muda, mohon anda temui bu Wan sebentar. " Pelayan itu telah menunggu Renxa dibawah tangga
" Ada apa? Saya mau makan.. " Ia benar-benar lapar, dengan tangannya berada diperut
" Sudah ada suster yang menunggu anda diruang tengah. Penutup luka anda sudah waktunya untuk diganti. "
Ah.. benar juga. Sekarang saatnya membersihkan luka gue..
Ia melihat perban lukanya yang sudah tidak bersih kembali. Ia berjalan menuju ruang tengah rumahnya, disana sudah ada seorang suster dan asisten pribadi ibunya yang menunggu.
" Selamat pagi, Nona Nocthadhanaksa.. " Sapa suster cantik tersebut, ia berdiri dan menundukkan kepalanya dengan sopan
" Selamat pagi, nona. Silahkan anda duduk sebentar, maaf sudah mengganggu waktu sarapan anda. Tetapi, sudah waktunya untuk membersihkan luka anda. "
" Iya, ya.. " Ia duduk diantara mereka berdua, tepat disebelah kanan suster itu
Suster itu mempersiapkan segala keperluan Renxa yang ada ditasnya. Ia membuka perlahan perban yang membalut luka gadis itu dan membersihkannya.
" Saya akan mulai membersihkan luka anda. "
" Hhm.. kira-kira luka ini akan sembuh sampai kapan? "
" Kalau dilihat, luka anda masih basah. Ini seperti luka anda baru saja terbuka kembali, apakah saya salah? "
" Huh? Em.. iya, baru saja terbuka. " Ia teringat saat lukanya terbentur cukup keras di setir mobil pria brengsek itu. Karena dialah, lukanya jadi mengeluarkan darah lagi.
" Baiklah. Saya kira, 2-3 hari lagi lukanya akan kering. Selama itu, saya akan setiap hari datang kemari untuk mengganti perban dan kasanya. Saya akan datang 1 hari sekali, jika diperlukan saya bisa datang kapan pun. Perban anda dapat diganti 1 kali, tetapi lebih baik jika diganti 2 kali sehari, pagi dan malam. Agar meminimalisir kebersihan luka. "
" Okay.. sudah selesai? " Ia bertanya dengan ragu kepada suster itu. Karena ia melihat suster telah mengaitkan perban baru kembali ke tangannya
" Iya, sudah selesai. "
" ... " Renxa menarik kembali tangan kirinya
" Tetapi.. selama anda masih terluka. Saya sarankan agar anda sementara tidak memakan protein. Seperti telur, ayam, ikan, dan lainnya. Agar mempercepat lukanya kering. " Suster itu menjelaskan dengan rinci. Renxa terkejut dengan itu, ia tidak percaya ternyata ada larangannya
" Hah.. kenapa? Terus aku makan apa dong? Bu Wan? " Ia menoleh kesebelah kanan, bu Wan duduk disebelah kanannya
" Em.. nona Renxa. Menu sarapan anda sekarang adalah Salad, Brioche bread with chocolate and cappuccino with orange juice. " Dengan senyuman yang lebar, bu Wan menjelaskannya kepada gadis itu. Ia mengerti nona mudanya tidak akan terbiasa dengan menu random tersebut.
" What! Cuman itu yang bisa aku makan? "
" ... " Hanya tersenyum yang bisa bu Wan dan suster itu berikan kepada gadis itu
Suster segera pamit untuk meninggalkan kediaman Nocthadhanaksa dan bu Wan mengantarnya. Renxa tidak peduli lagi, ia sangat lapar jadi ia sesegera mungkin untuk menuju ruang makannya.
Ia mulai memasuki ruang makan, beberapa pelayan sudah menunggunya disana dan sudah tersaji rapi menu-menu sarapannya. Ia terkejut karena seperti yang asisten ibunya katakan, ia hanya akan memakan makanan random. Tidak ada protein daging dimenunya sama sekali, ia menghela nafas dan duduk disana.
Wah.. beneran makanan gue kaya gini? Benar-benar.. sehat!