MY Lovely Story

MY Lovely Story
Eps. 62



Entah kenapa, ia selalu salah mengucapkan alasannya jika berada didepan pria itu.


Aarrk.. maksud gue. Gue tidak mau melakukannya.. gila!


" Loe.. mau beralasan apa lagi? " Joe meminum anggur yang ada ditangannya


" Hahaha.. tidak-tidak. Gue tidak sedang beralasan.. " Ia mundur dan mendorong tubuh pria itu. Joe selalu berusaha mendekatinya


" ..." Joe mengangkat pangkal alisnya dan menatap gadis itu penasaran


" Ka Christ sorry, gue tidak bisa melakukannya.." Renxa lebih baik berkata jujur dari pada semuanya menjadi semakin terlambat


Asal loe tau, gue tidak berani memulai sesuatu yang bahkan gue sendiri tidak tau bisa menghentikannya atau tidak.


Gue tidak mau memberikan hati gue terlalu jauh saat merasakan sentuhan dia..


" Beri alasan gue.. " Tanggap Christ dengan serius


" Karena.. Ehem. Uh? Em? Hhm.. karena, gue.. apa namanya, ih.. itu apa sih sa-ri-awan. Nah itu, sariawan gue.." (tertawa) Renxa menyentuh bibir bawahnya dengan tangan kirinya


" Hahaha.. " Mereka tertawa terbahak-bahak saat mendengar alasan gadis itu. Mereka tidak mempercayai kata yang keluar begitu saja dari mulutnya


" Haha.. kebetulan banget.. "


" ..." (duduk) Joe memutar kedua bola matanya dan menatap gadis itu


" Kenapa loe banyak tingkah? Semua wanita disini, selalu menginginkan berada diposisi loe. Termasuk gue.. " Lateshia terlihat sangat kesal melihat gadis itu. Dia berbicara dengan sedikit meninggikan nada suaranya. Ditengah keributan, dia memecahkannya dengan perasaan kesal


" Sayang, jangan marah gitu. Nanti cantik kamu hilang.. " Kata manis Joe pada wanita yang kini duduk disebelah kirinya itu. Pria itu mengusap rambut panjang Lateshia dan tersenyum


Iya semua orang, termasuk gue sendiri..


Tapi gue tidak bisa, asal loe tau..


Renxa membalikkan tubuhnya dan membelakangi mereka. Ia hampir mengeluarkan air mata dan tidak bisa mengontrol perasaannya lagi, ia menarik nafasnya dan berusaha tersenyum.


" Nona.. apa kamu mau menggantikan aku? Gue dengan senang hati menyerahkannya.." (tersenyum)


" Apa loe yakin? " Wanita itu berubah 180° dan menjadi bahagia


" ... " (mengangguk)


" Joe.. apa kamu tidak keberatan, kalau aku yang menggantikan dia? " Lateshia dengan malu-malu mengatakannya pada pria itu


" Tentu saja, sayang.. dia sangat payah! " Pada awalnya Joe menatap gadis itu dan ingin mencari tau jawabannya. Tetapi, mata gadis itu menutup segalanya


Joe tidak pernah mengambil langkah pertama, selalu wanita didekatnya yang memulainya. Lateshia meraih gelas wine pada Joe dan meminumnya. Perlahan Lateshia mendekati tubuh Joe dan.. mereka berdua melakukannya.


Renxa tidak akan pernah bisa melihat hal ini. Seketika saat bibir wanita itu mulai menyentuh bibir Joe, ia memejamkan matanya dan membalikkan tubuhnya.


Gue harus menahannya, gue tidak boleh menangis..


Hati gadis itu serasa berguncang, bahkan tubuhnya pun ikut gemetar. Satu dua tetes air mata jatuh di telapak tangannya. Ia berusaha untuk tidak mengeluarkan reaksi apapun, maka dari itu ia membelakangi semua orang. Tangannya terlalu keras bergoyang untuk menghapus air matanya sendiri. Tangan kirinya menutup rapat mulutnya dan ia memejamkan matanya.


Gue harus pergi dari tempat ini..


Ia bersiap untuk menghapusnya dan ingin pergi dari situ.


" ..." Renxa menarik nafasnya lagi dan mulai melangkah maju


" Loe sangat payah, loe bahkan tidak bisa dibandingkan dengan wanita-wanita gue.. " Ujar Joe menatap punggung gadis itu dengan kesal


" ..." Saat langkah keduanya Renxa berhenti dan ia sudah menyiapkan itu sebelumnya


" Joe.. " Zab ingin menghentikan pria itu, ia tidak tau apa yang sebenarnya difikirkan oleh Joe


" Apa? Gue salah.. " Dengan polosnya Joe bertanya pada teman-temannya, apa yang salah dengan pertanyaannya


" Hahaha.. gue memang payah. Siapa yang mengatakan gue tidak pa-ya-h? Lebih baik gue pa-ya-h, dari pada harus bersama dengan loe. Hahaha.." (mengambil tas) Ia sangat berusaha dengan keras untuk menutupi perasaannya. Dia memang ahlinya dalam menjaga dan menutupi perasaannya yang sebenarnya, hal itu berhasil pada mereka. Mereka yang awalnya serius sekarang terpecahkan dengan tawa


" Apa.. loe bil- " Joe sangat kesal pada gadis itu


" ..." Tanpa memperdulikan pria yang berbicara dengannya, Renxa segera berbalik dan berjalan menuju pintu keluar ruangan itu


" Eh.. Renxa, loe mau kemana? Gue belum selesai.. " (berteriak dengan kesal)


" TOILET... " (berjalan)


" Renxa, loe adalah orang pertama yang menolak Joe An Arvadhafiose. Hahaha.. " Ujar Luke


" Dia selalu menolak gue, gue bahkan tidak mengerti.. " Tanggap Joe pada teman-temannya. Mereka semua semakit tertawa keras setelah mendengarkan Joe


" ..." Renxa berhenti melangkah. Ia bahkan sudah mengenggam pegangan pintu dan tinggal mendorongnya


" Itu bukan penolakan, gue tidak pernah menolak ka Joe. Gue.. gue hanya berusaha mengingat bahwa semua itu seharusnya tidak pernah terjadi.. " (berbalik) Renxa tersenyum kepada mereka dengan ramah. Setelah mengatakannya ia segera mendorong pintu itu dan meninggalkan mereka


" ..." Semua teman-teman Joe tertawa. Tetapi.. tidak dengan Joe sendiri. Ia hanya diam menatap gadis itu pergi meninggalkan ruangan itu


Musik begitu kuat diluar ruangan itu, Renxa berjalan melewati keramaian. Ia sempat memutari tempat itu dan mencari dimana toilet berada. Setelah beberapa menit ia menyusuri tempat itu, ia akhirnya menemukannya. Sebuah koridor memisahkan antara ruangan utama dengan toiletnya. Renxa perlahan berjalan melewatinya dan memasuki daerah toilet.


Toilet adalah tempat kedua yang paling tenang ditempat seperti itu. Saat ia melangkah masuk, hanya ada beberapa wanita yang berada disitu. Namun, tidak lama mereka pergi, jadi gadis itu pikir hanya akan ada dia di sana. Renxa masuk salah satu tempat dari deretan pintu putih yang masih tertutup, ia mengunci pintu serta menutup closetnya dan duduk diatasnya.


Huh.. mungkin hanya gue yang nongkrong di toilet. Hahaha..


Renxa tersenyum, ia meraih handphone dan headset yang ia taruh di dalam tasnya. Beruntung ia masih sempat meraih headset-nya saat masih berada di rumah. Ia awalnya berfikir bahwa Joe pasti akan sangat membosankan, jadi ia sengaja membawa headset untuk menghiburnya. Ternyata hal itu benar saja, Joe membawanya ketempat paling berisik dan ia membawa headset-nya sebagai penenang suasana.


Renxa perlahan menyandarkan tubuhnya pada dinding dibelakang punggungnya. Ia sangat tenang berada disitu, dengan musik favorit dikedua telinganya dan ia memejamkan matanya.


Gue sangat lelah..


Alunan musik yang mengalir di telinganya membawa gadis itu memejamkan matanya dan akhirnya tertidur.


...°¢¢¢¢¢°...


" ...kemana kamu..."


" ...tolong..."


" ...orang disini... "


" ...hahaha..."


" ...jangan, Ah..."


Samar-samar suara beberapa orang masuk ke telinga gadis itu, walaupun ia sedang memakai headset-nya.


32 menit sudah berlalu, saat gadis itu memejamkan matanya. Walaupun sebentar tetapi ia tertidur sangat nyenyak, bahkan hampir ia tidak mendengar suara apa pun disekitarnya. Tetapi, ditengah sadar dan tidak pada tidurnya, ia mendengar beberapa orang sedang ribut diluar sana.


" ...tolong..."


Siapa itu.. kenapa mereka sangat ribut?


Matanya terlalu berat untuk ia buka. Gadis itu benar-benar tidur, hingga ia tidak bisa membedakan mana suara yang benar-benar ada. Renxa sudah 3 kali mendengar seorang wanita mengatakan tolong, tetapi ia tidak menyadarinya. Pada saat wanita itu berteriak meminta tolong untuk ke-empat kalinya, Renxa baru sadar.


" ...tolong, please..." (sambil menangis)


" ..." Renxa benar-benar membuka matanya mendengar suara itu. Ia segera melepaskan kedua earphone-nya


" ...tidak, tolong..."


Wah bener.. telinga gue tidak salah..


Saat ia dalam keadaan sadar sepenuhnya serta telinganya mendengar secara langsung dan untuk kesekian kalinya.