MY Lovely Story

MY Lovely Story
Eps. 82



Ih.. kenapa dia selalu menatap gue?


Gue jadi gimana gitu, hihihi..


Setelah pelayan itu pergi. Joe menghabiskan waktunya hanya untuk menatap gadis itu. Pria itu tidak tersenyum, hanya cukup menatapnya saja. Renxa beberapa kali melirik kearah pria itu, tetapi tetap saja Joe masih menatapnya. Renxa sangat risih, ia hampir saja meneriaki pria itu. Tetapi..


" Loe sangat cantik. Selama ini, gue baru menyadarinya.." Joe tersenyum lebar


" ..." (melirik) Renxa tidak mengerti apa yang pria itu katakan


" Uweekk.. basi. Loe mengatakan hal itu kepada semua wanita.. " Dengan kesal


" Hhm.. gue penasaran. Apa loe tidak pernah bersama dengan seorang pria sebelumnya? "


" Ehem.. sorry, that's my personal life. It's none of your business! " Renxa menekankan kalimatnya


" Cittch.. " (memalingkan wajah)


Joe bangkit dari tempat duduknya. Ia mengatakan akan pergi ke toilet dan Renxa tidak peduli. Joe mengerutkan dahi-nya menatap gadis itu. Ia terlihat kesal karena Renxa mengacuhkannya. Joe meraih jas yang tadi ia sampirkan, dan..


" Aahh.. ka Joe! " (berteriak)


" Hahaha.. " (berjalan menjauh) Joe membuka lipatan jas-nya dan menaruhnya diatas kepala gadis itu dengan cepat


" Gue buang jas loe. " Ancam Renxa. Ia menarik jas itu dari pandangannya dengan kesal. Ia merapihkan kembali rambutnya yang dibuat acak-acakan oleh Joe


" Buang aja, masih banyak ditoko." (tertawa) Dari jauh Joe mengatakannya


Renxa hanya mengertak saja, ia tidak berniat melakukannya. Ia hanya merasa kesal karena perlakuan usil pria itu. Renxa melipat kembali jas itu dengan rapi dan menaruhnya dibangku samping kirinya.


...°¢¢¢¢¢°...


Beberapa menit kemudian, seorang pelayan menghampirinya dan membawakan ice cream pesanannya.


" Yey.. datang juga. " Renxa tersenyum bahagia melihat mangkuk penuh dengan scoop ice cream favoritnya


" Nona, apakah anda butuh 2 sendok?" Tanya pelayan itu dengan sopan. Ia menyodorkan satu sendok tambahan kepada Renxa. Karena pelayan itu tau dia tidak sendirian


" Tidak, tidak perlu. Ice cream ini, hanya untuk saya. Saya akan memakannya sendiri! " Jawab gadis itu dengan tegas


" Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu.." (tersenyum)


Saat melihat pelayan itu pergi, Renxa tidak menunggu lama untuk menyantap ice cream kesukaannya. Satu sendok penuh masuk kedalam mulutnya.


Hhm.. ini sangat enak..


Pikir gadis itu. Rasa manis dari pisang dan rasa gurih dari ice creamnya, langsung meleleh didalam mulut gadis itu.


Joe baru saja kembali. Ia melihat dari jauh, Renxa telah memakan ice creamnya. Joe hanya tersenyum dan ia berjalan mendekati bangku mereka. Tangan kirinya perlahan mulai menyentuh kepala Renxa dan mengacak-acak rambut indahnya.


Renxa berteriak sekali lagi dengan kesal. Tetapi pria itu serasa tidak mempunyai salah dan malah mengambil tempat disamping kiri gadis itu. Pria itu mengambil jas yang sudah dilipat rapi oleh Renxa dan menaruhnya diatas meja, ia akan duduk disamping gadis itu.


Renxa memperbaiki rambutnya dan segera fokus kembali kepada ice creamnya. Ia tidak peduli bahkan dengan pria itu duduk disampingnya. Joe membuat kursinya sedikit lebih dekat pada kursi gadis itu. Renxa menyadarinya dan melirik pria itu, pria itu malah tersenyum tipis dan menatapnya.


" Kenapa sih? Gitu banget liatnya, dari tadi.." (menyendok) Renxa melahap kembali ice cream-nya


" Hhm.. apa harus gue ulang kembali? Kata-kata gue sebelumnya.." (mengangkat pangkal alis)


" Ih.. basi banget.. " Gumam Renxa


" Mau? " (melirik) Dengan terpaksa, akhirnya ia mau berbagi dengan pria itu


" ..." (mengelengkan kepala) Joe tersenyum dan menolak tawaran gadis itu. Gadis itu tau, Joe menginginkan hal lainnya


" Ya sudah.. " Dengan mulut penuh dengan ice cream


Mereka berada diatas atap terbuka lantai 2 restoran itu. Angin berhembus sangat kencang, walaupun hari sudah siang. Tetapi, matahari tidak terlalu menyengat, tertutup oleh awan yang menjadikan suhu tidaklah sepanas biasanya.


Angin kencang perlahan menyentuh helai-helai rambut panjang Renxa yang terurai. Beberapa kali rambutnya selalu datang menutupi matanya, ia sedikit terganggu. Ia menaruh mangkuk ice cream-nya dan mencari ikat rambut ditasnya. Renxa menemukannya, ia mengangkat separuh rambutnya keatas. Hanya rambut-rambut yang mengganggu pandangannya saja.


Joe menatap gadis yang sedang mengangkat rambutnya, dan..


(Deg..deg..)


" ..." Kedua mata Renxa terbuka lebar. Ia merasakan detak jantung dan nafasnya berhenti seketika. Ia bisa merasakannya, bibir pria itu..


" Hhm.. sangat lezat! " (tersenyum) Joe mengecap ibu jari kanannya dan menatap gadis itu. Ia mengangkat pangkal alis kanannya


Tanpa Renxa sadar, Joe perlahan mendekatkan dirinya pada gadis itu. Joe melihat ada noda ice cream di sudut bibir kanan gadis itu. Entah sadar atau tidak, pria itu mengecup bibir Renxa.


" ..." Renxa langsung mengusap bibir dengan tangan kirinya. Ia sedikit membalikkan tubuhnya agar tidak terlihat oleh pria itu


Apa ini? Huh.. huh..


Detak jantung Renxa berdebar begitu kencang. Ia bahkan baru bisa bernafas lancar saat Joe melepaskan bibirnya. Suatu perasaan yang tidak bisa digambarkan oleh kata-kata. Ini pertama kali untuknya, pria itu tidak akan bisa mengerti.


" Ini sangat enak.. " Dengan polosnya Joe berkata. Ia segera meraih mangkuk ice cream dihadapan gadis itu dan memakannya


" ..." (berbalik) Renxa melirik pria itu dengan kesal. Tangan kirinya masih menyentuh bibir


" ..." Joe tersenyum dan memakan ice cream-nya, ia melihat kearah gadis itu. Joe terlihat seperti seseorang yang tidak memiliki kesalahan apapun, ia sangat santai dan menikmati ice cream itu


" Eh, eh.. haha. Renxa.. kenapa? Haha.. " (tertawa) Joe mengangkat mangkut ice cream-nya menjauhi gadis itu. Renxa tiba-tiba memukuli-nya tanpa henti, mungkin baginya ini tidaklah sakit. Tapi Joe tidak bisa berhenti tertawa melihat gadis itu


" Joe An Arvadhafiose.. apa yang sudah loe lakukan? Kenapa loe mencium gue, tanpa seizin gue.. " Dengan kesal Renxa terus memukul tubuh pria itu


" Eh.. haha.. Renxa.. " (tertawa) Joe tidak menghindari pukulan gadis itu kepadanya


" Ih.. loe sangat menyebalkan! Gue membenci loe.. Ih.. " (terus memukul)


" Eh.. Renxa-renxa, denger.. dengerin gue.. " Dengan mudah Joe menangkap kedua tangan gadis itu dengan satu tangan saja


" Ih.. lepasin! " (menarik tangan)


" Gue tidak mencium loe. Tadi ada noda ice cream di bibir loe, jadi.. gue hanya membersihkannya saja. Haha.." (tertawa)


" Ih.. " Renxa berusaha memukul pria itu satu kali lagi. Tetapi, Joe berhasil menghentikannya. Ia menarik kembali tangannya dengan kesal


" Loe sangat berbeda, kenapa loe selalu berusaha menjauhi gue? Disaat semua wanita berusaha mendekati gue? "


" ... "


" Apa dibenak loe, tidak ada keinginan sekecil apapun.. bersama gue? Bersama Joe An Arvadhafiose? "


" ... "


Stupid! Apa loe tidak bisa menyadarinya sendiri, ka Joe?


Renxa tidak bisa mengatakan apapun didepan pria itu. Ia berusaha menahan dirinya sendiri..


" Oh ya.. bukankah, tadi pagi loe juga akan melakukannya? Loe ingin mencium gue.. bagaimana bisa gue melupakannya. " (mengangguk) Joe melahap kembali ice cream-nya


" ... " Renxa terkejut, ia tau apa yang pria itu bahas


" G-gue tidak bermaksud untuk melakukannya. Apa yang loe katakan?" Renxa sangat malu, kedua telinganya bahkan terasa panas


" Hhm.. " Gumam Joe tanpa menatap gadis itu


Dia tidak tau malu. Disini bahkan ada banyak orang, tapi dia melakukan hal sesuka hatinya..


Renxa baru menyadarinya. Bahwa tempat itu cukup ramai, walaupun tidak ada orang dijarak 2 sampai 3 meter dari bangku mereka. Tetapi tetap saja, ada banyak orang disana.


Renxa melihat jarum jam ditangannya dan waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Dari kemarin ia belum pulang, pasti semua orang sedang mencarinya. Saat Renxa melihat Joe, pria itu malah asik menikmati ice cream-nya.


Ih.. Joe sudah berubah menjadi pria brengsek! Brengsek!


Huh.. gue tidak menyangka dia akan menjadi seperti ini.


Renxa mengambil tas-nya dimeja dan segera bangkit dari kursi.


" ..." Joe hanya mendongak menatap Renxa, dengan sendok yang ada dimulutnya


" Gue pulang.. " (cemberut) Ia bersiap untuk pergi


" Hhm.. " Joe menunduk kembali dan fokus pada ice cream-nya. Ia terlihat biasa saja saat mengetahui gadis itu akan pergi meninggalkannya


Kenapa dia tidak menahan gue?


Ih.. dasar tidak peka!


Renxa mulai berjalan menjauh. Saat pada langkah ke-enamnya ia berhenti. Ia fikir pria itu akan menghentikannya dan akan berkata " Gue antar! ", kenyataan sebaliknya. Dengan kesal Renxa berbalik dan menghampiri Joe lagi.


" Kenapa balik? " Tanya Joe dengan polos


" You jerk! I'm going home, you should stop me and said, Renxa stop! I'll take you home.


Apa loe tidak punya hati? Why are all handsome men always jerks?


[Kamu brengsek! Aku mau pulang, kamu seharusnya menghentikankubdan berkata, Renxa berhenti! Aku mengantakmu pulang.


Kenapa semua pria tampan selalu brengsek] " Renxa menarik kerah kemeja Joe dengan kasar dan membuatnya kusut. Ia benar-benar kesal


" ..." (tersenyum) Joe hanya terpaku menatap gadis yang sedang marah kepadanya


" Ah.. sudahlah, gue pulang sendiri saja! " (melepas kerah) Renxa berbalik dan berjalan dengan cepat meninggalkan pria itu


...°¢¢¢¢¢°...