
Gadis itu tidak berhenti mengeluarkan air matanya dalam diam sepanjang mereka berjalan melewari lorong dan memasuki kamar mandi. Ia benar-benar merasakan sakit yang bisa ia rasakan. Gadis itu bahkan tidak tersadar bahwa ia telah memegang erat baju-nya dengan tangan kanannya.
Dalam perjalanan ia selalu memandang gadis itu tanpa gadis itu sendiri sadari. Ia benar-benar tidak bisa melihat seseorang, terlebih lagi wanita menangis dihadapannya.
Kenapa dengan gue? Gue bener-bener nggak tega dengan dia. Ah.. kenapa tadi gue.. lupakan!
Setelah mereka berada diwastafel toilet itu, ia segera menempatkan dirinya disamping kiri gadis itu sehingga ia bisa mengatasi pendarahannya.
" Aku akan mencuci tangan kamu dulu dengan air hangat.."
" Tapi, nanti tambah sakit.. " Jawab gadis itu yang sedikit menarik tangannya kembali kearahnya
" Udahlah, percaya aja. Kita harus henti-in pendarahan ditangan kamu, dengan mencuci tangan dapat mencegah lukanya jadi infeksi karena kontaminasi kuman dari tangan yang kotor. " Ia menjawab gadis itu dengan tenang dan menuntun tangan gadis itu kepada air hangat yang mengalir
Semua darah yang ada ditangan gadis itu terbawa bersamaan dengan air yang mengalir. Membuat lukannya menjadi jauh terlihat sangat jelas. Jorgo melihat luka itu, segera ia menekan lembut pada area sekitar luka gadis itu.
" Ah.. " Rintih gadis itu yang kini tidak berani melihat lukanya sendiri. Jorgo menyadarinya dan sedikit memberikan jeda pada penekanannya.
" Ah.. sialan! " Ia bergumam kepada dirinya sendiri dan berkata,
" Kamu.. tunggu disini, aku akan mengambil tissue dan kasa di kelas. " Ia melepaskan genggamannya dari tangan gadis itu dan pergi
" ... " Renxa memandang ia pergi meninggalkan toilet dengan cepat
Sesaat setelah ia melepaskan tangannya, ia segera berlari sekencang-kencangnya menuju kelasnya. Sampai dimuka pintu ia segera mengambil dan mencari tissue ditasnya yang tergeletak dilantai.
Shit! Mana sih tissue gue? Perasaan tadi pagi baru ditaruh ditas.
Ia mencari diseluruh isi tasnya, akhirnya mendapatkannya dan melempar kembali tasnya kelantai. Selanjutnya, dengan cepat ia menghampiri kotak P3K yang ada dikelas dan mendapatkan kasa steril yang tersimpan disana.
Semua hal yang ia butuhkan sudah ia dapatkan dan dengan segera ia berlari kembali menuju toilet dimana gadis itu berada.
Sesampainya disana, ia segera mengambil tissue-nya dan melakukan penekanan ringan sekali lagi pada sekitar luka tersebut dengan tissue.
" Please.. tahan. Aku mau melakukan ini lagi.. " Ia menekan sekali lagi agar darahnya keluar dan berhenti, ia mengusap darah yang keluar dengan tissue.
" Aa.. hhm.. sakit. " Gadis itu memalingkan wajahnya dan kali ini menutup mulutnya agar pria itu tidak terganggu
" Huh.. " Jorgo menghembuskan nafasnya melihat gadis itu menangis kembali
Setelah mengusap darah yang keluar, ia segera mengangkat tangan area luka yang mengalami pendarahan sedikit ke atas, lebih tinggi dari dada untuk lebih memperlambat pendarahan-nya. Setelah itu, ia langsung membersihkan kembali area luka dengan air mengalir dan sabun untuk menghilangkan kotoran yang masih menempel. Ia membersihkan dengan sabun pada area sekitar luka, tidak pada lukannya, karena besi yang menusuk tangan gadis itu pasti sudah kotor terkena debu dan tidak mungkin masih steril.
Karena luka gadis itu berada diarea yang mudah kotor atau mudah terkena gesekan pakaian, maka dari itu ia menutup lukanya dengan kasa steril yang ia ambil untuk sementara.
Ia tau bahwa gadis itu sedang memperhatikannya saat ini. Ia tidak terlalu memperdulikannya karena ia terlalu fokus pada apa yang ia lakukan. Ia sesekali melirik gadis itu yang saat ini sudah berhenti menangis, tetapi tetap saja gadis itu menatap dirinya.
" Ah.. anu, baju kamu.. aku, minta maaf. Aku.. "
" ..." Ia mendengarkannya tetapi tidak memperdulikannya. Ia membetulkan letak kasa yang akan ia lekatkan pada tangan gadis itu.
" Aku, hanya.. aku benar-benar meminta maaf. Karena aku.. baju kamu.. " Gadis itu benar-benar tidak bisa berkata-kata dengan lancar
" Well, the hell with my clothes! " Ia menyela pembicaraan gadis itu dengan tidak perduli
Pakaian yang ia kenakan benar-benar penuh dengan warna merah dari gadis itu. Karena ia mengenakan hoodie putih sehingga membuat warna darahnya begitu terlihat jelas. Semua bagian tubuhnya, kedua lengan dan dadanya terdapat noda darah dari gadis itu. Sebelumnya ia memeluk gadis itu dengan tangan gadis itu menyentuh dada dan perutnya, terlebih lagi ia beberapa kali mengusapkan kain dilengan jacketnya untuk membersihkan darah yang mengalir pada lengan gadis itu. Tidak ada celah lagi bagi bajunya untuk tidak terkena noda darah. Tetapi, ia tidak begitu perduli atau pun terganggu dengan itu, sebaliknya ia berusaha sebaik mungkin untuk menenangkan perasaan gadis itu dengan dirinya.
" Kenapa bisa seperti ini? Tangan kamu sangatlah kecil serta memiliki kulit yang lembut dan tipis. Kamu seharusnya tau bahwa kulitmu mudah sekali untuk tergores, sehingga lebih berhati-hati. " Dengan kesal ia memandang gadis itu yang kini tidak lagi berani memandangnya
" Ayo.. " Tanpa basa basi ia menarik pergelangan tangan kanan gadis itu keluar toilet
" Eh.. mau kemana? "
" Kita ke rumah sakit sekarang. Lukamu harus diperiksakan ke dokter, sekarang juga! "
" Eh.. tidak perlu. Aku sudah bisa menjaga diriku, saat ini. Terimakasih kamu sudah membantuku.. " Gadis itu menapis tangan Jorgo sehingga membuat pria itu terkejut dan berbalik arah. Gadis itu segera berterimakasih dengan menundukkan badannya dan pergi melaluinya
" ..." Ia maju satu langkah dan membalikkan tubuh gadis itu dengan cepat dan menggandengnya tanpa seizin gadis itu.
" Tapi.. " Bantah gadis itu kepadanya, ia sama sekali tidak mengeluarkan suara apapun sampai didepan kelas.
...°¢¢¢¢¢°...
Jorgo menunduk dan meraih kunci serta handphone-nya yang berserakan dilantai. Segera ia menggandeng gadis itu menuju lift untuk membawanya ke rumah sakit. Sebelumnya ia menekan beberapa nomor di handphone-nya dan berbicara kepada seseorang, tak lain adalah asisten pribadinya.
" Rendy, atur janji saya dengan Dr. Isyana saat ini juga. Saya dalam perjalanan ke rumah sakit-nya sekarang.. " Ia perlahan memasuki lift dan menekan lantai dasar yang ia tuju
" Saya tidak mau tau bagaimana caranya. Kamu harus menghubunginya sebelum saya benar-benar sampai disana. " Dengan nada bicaranya seperti itu membuat gadis disampingnya menjadi takut
" An.. anu.." Bisik gadis itu kepadannya, tetapi ia tidak memperdulikannya
" Satu hal lagi, Rendy. Kamu segera datang ke sekolah saya dan menemui kepala sekolahnya, urus semuanya sekarang juga. "
" Kamu tidak perlu bertanya, nanti ada orang yang akan menjelaskannya. Kamu hanya perlu menyelesaikan semua ini, mengerti? "
" Ya.. saya tunggu. " Ia memutuskan panggilannya dan melihat gadis disampingnya yang kini menunduk serta memainkan jari-jarinya
Jorgo tersenyum tipis melihat Renxa yang tidak berani mendebatnya kali ini. Sesampainya dilantai dasar mereka keluar dari lift dan menuju tempat parkir mobilnya berada. Tetapi, terlihat sudah ada banyak jajaran tinggi sekolah yang telah menunggunya di ruang gedung utama sekolah itu. Ia berniat untuk menghiraukan mereka semua, tetapi mereka justru datang menghampirinya dan menanyakan pertanyaan yang membuang waktunya.
Ah.. males gue. Ngapain sih, buang waktu aja.
" Mr. Chatzi, Ms. Nocthadhanaksa.. apa yang telah terjadi. Apa anda berdua baik-baik saja?" Tanya salah satu komite sekolah yang menghentikan langkahnya
" Saya sungguh menyesal dengan apa yang baru saja terjadi kepada Ms. Nocthadhanaksa. Saya akan memperbaikinya, kami meminta maaf. "
" Sir, don't worry. I'm fine, there's nothing to be sorry about..
[Pak, jangan khawatir. Saya baik-baik saja, tidak ada yang perlu disesali] " Jawab gadis itu dengan sopan dan senyum dibibirnya
" ..." Jorgo hanya memperhatikan mereka berbicara dan menghembuskan nafasnya
" Apa perlu saya panggilkan dokter? Saya.. "
" Tidak perlu. Saya akan mengurus gadis ini.. " Sela Jorgo ditengah perbincangan mereka dan menarik kembali pergelangan tangan kanan gadis itu melewati kerumunan yang menghalanginya
" Tapi, Mr. Chatzi... "
" Oh ya.. asisten saya akan kemari. Saya minta semua bangku dan kursi digedung ini untuk diganti. Nanti, Randy asisten saya yang mengurus semuanya, kalian berdiskusi saja dengannya. " Ia membalikkan badan sebentar dan berbalik lagi meninggalkan mereka semua menuju mobilnya yang terparkir
" Baiklah.. sekali lagi kami meminta maaf. " Sekali lagi mereka menundukkan kepala dan meminta maaf kepada pria muda itu
" Ya.. ya. " Ia hanya mengangkat tangannya dan berjalan kembali menuju mobilnya.
...□■□■...