MY Lovely Story

MY Lovely Story
Eps. 56



Joe An Arvadhafiose, Joe adalah cinta pertama gadis itu. Dari dulu, hingga saat ini dan tidak akan pernah berubah. Renxa selalu menyadarinya sejak mereka masih kecil, tetapi ia tau Joe tidak akan demikian. Dulu ia berfikir bahwa ini akan menghilang seiring berjalannya waktu, tetapi.. ia salah. Level perasaannya pada pria itu, semakin berubah seiring bertambah usianya sendiri. Ia tau bahwa ini adalah salah, itu tidak akan pernah berhasil. Tetapi sekeras apa pun ia mencobanya, hasilnya akan tetap sama.


" ..." (mengusap) Tanpa sadar, air mata mengalir dipipinya. Semakin deras, hingga menetes ditangan dan ranjang pria itu. Renxa sebisa mungkin untuk tidak mengeluarkan suara dan menghapus dengan cepat air matanya.


Renxa sedikit mencondongkan tubuhnya pada wajah pria itu, perlahan ia mengangkat kepala Joe hingga ia bisa melepaskan tali kepala yang dipakai Joe tadi. Ia sangat hati-hati mengangkatnya agar ia tidak membangunkan pria itu. Tidak butuh waktu lama baginya untuk melepaskan itu, setelah selesai ia menurunkan kembali dengan hati-hati kepalanya. Joe terlihat tidak terganggu dan tidaklah terbangun karena itu.


Renxa meletakkan headband Joe pada meja sisi tempat tidur itu, agar pria itu dapat menemukannya dengan mudah.


" ..." Ia menatap Joe sekali lagi dan hatinya bergoncang kembali


Gue tidak bisa memilih siapa yang nantinya akan memiliki hati gue. Seandainya manusia bisa memilih siapa dapat ia cintai. Pasti gue tidak akan pernah memilih loe, Joe. Itu pasti..


Tetapi, kenyataannya tidak seperti yang gue harapkan. Tuhan menaruh hati gue pada loe.. dan gue tidak bisa menyangkal ini. Berulang kali gue menyangkalnya, tetapi.. apa yang gue dapat? Nihil.. gue sudah berusaha melupakan semuanya.. gue hanya ingin loe tau itu.


Mata gadis itu mengeluarkan isi hati terdalamnya kembali. Renxa menyentuh rambut pria itu dengan lembut dan mengusapnya. Ia tau air matanya telah deras berjatuhan, ia mengusapnya dengan tangan kirinya berulang kali, tetapi air matanya tidak ada habisnya.


Beberapa menit ia pada posisi itu. Renxa berusaha mengendalikan perasaannya dan menghembuskan nafasnya. Ia mulai berhenti mengusap rambut pria itu, ia perlahan bangkit dari ranjang itu. Untuk sekali lagi ia ingin menatap wajah pria itu.


Renxa memastikan air matanya tidak akan keluar lagi dan ia baik-baik saja. Renxa akan menarik selimut di bawah kaki pria itu. Ia berniat menyelimuti tubuh Joe, pria itu selalu tertidur dengan bertelanjang dada. Dia selalu melepaskan pakaian atasnya saat hendak tidur, entah apa maksud pria itu. Setahu Renxa, Joe tidak pernah memiliki kebiasaan itu sewaktu mereka kecil. Tetapi, saat ini pertama kalinya bagi Renxa melihat kebiasaan baru pria itu.


Renxa membungkukkan tubuhnya menarik selimut ranjang itu. Tetapi.. Renxa merasakan sesuatu menarik robe/jubah tidurnya dengan kuat. Renxa tidak bisa menahannya, ia terjatuh tepat dihadapan tubuh pria itu. Mata gadis itu terbuka lebar saat ia bisa melihat mata pria itu yang masih terpejam sangat dengannya. Renxa juga merasakan tangan kanan pria itu dibawah pinggangnya.


Tangan kanan Joe meraih robe gadis itu dan menariknya dengan kuat sehingga tubuh gadis itu berada dalam tangannya. Joe membuat tubuh gadis itu mendekati tubuhnya, Joe mulai menyandarkan dahinya pada dahi gadis itu dan tersenyum. Matanya memang masih tertutup, tetapi ia sudah menyadarinya. Tangan kiri pria itu menarik selimut yang sebelumnya gadis itu inginkan untuk menutupi tubuhnya. Dia mulai menyelimuti tubuh mereka berdua dan ia mulai memeluknya dengan erat.


" ..." Mata gadis itu tidak bisa berkedip saat merasakan tubuhnya sedekat ini dengan pria itu. Joe menyandarkan dahinya pada dahi miliknya, sehingga ia bisa melihat mata tepejam Joe dari dekat.


Gue.. tidak bisa bergerak. Joe..


Ia memutuskan untuk memejamkan matanya dan berusaha menundukkan kepalanya agar tidak terlalu dekat dengan wajah Joe. Kedua tangan Joe benar-benar mengunci tubuhnya dibalik selimut mereka.


" Kenapa.. kamu menangis? " Kalimat pertama yang dibisikkan pria itu


" ..." (membuka matanya) Renxa terkejut mendengar perkataan Joe. Ia fikir, ia tidak mengeluarkan suara sekecil apa pun


" Apa aku.. menyakiti kamu? Sehingga kamu menangis didapanku? " Joe semakin mendekatkan tubuh gadis itu pada tubuhnya


" ..." (menutup mulut) Gadis itu berusaha untuk tidak mengeluarkan air matanya lagi disaat pria itu benar-benar sadar. Ia membingkam mulutnya dengan kedua tangannya dan memejamkan matanya


Iya, kamu telah menyakiti hati ku. Asal kamu tau, tidak hanya aku tetapi banyak hati yang kamu patahkan, Joe!


Untuk beberapa saat Renxa berusaha mengendalikan perasaannya dan nafasnya kembali.


" ..." Joe perlahan membuka matanya dan menatap gadis itu yang memejamkan matanya kembali


" Ka Joe, tolong pakai baju loe dan kita turun. Semuanya sudah menyiapkan makan siang kita.." (membuka mata) Sebisa mungkin ia bersikap seperti tidak terjadi apa-apa


" Loe belum menjawab pertanyaan gue. Apa gue menyakiti loe, sebelum ini? " Pria itu terlihat sangat serius


" Tidak, loe tidak pernah menyakiti gue.. " Ia tidak berani menatap mata pria itu


" Tidak, tidak ada yang menyakiti gue. Loe sedang tidur, mungkin itu perasaan loe ada air yang menetes. Gue sama sekali tidak menangis.."


" ..." Joe melepaskan kedua tangannya dari tubuh gadis itu


Renxa segera menanggalkan selimut mereka dan berdiri meninggalkan tempat tidur pria itu. Ia berdiri sedikit lebih jauh dari pria itu dan berdiam diri.


" Huh.. " Joe manatap gadis itu dan menghembuskan nafasnya. Ia langsung bangkit dan duduk disudut tempat tidurnya. Ia meraih kemeja yang ia taruh asal diatas ranjangnya.


" Kenapa loe sangat keras kepala? " Joe menatap sekilas gadis itu dan segera memakai kembali kemejanya


" ..." Ia melihat pria itu memakai kembali kemejanya dan berdiri. Joe perlahan berjalan kearahnya


" Ayo.. katanya harus segera turun? Kenapa loe malah diam kaya patung disini? " Joe menatap gadis itu dengan binggung


" Ah.. rambut loe. Rapikan dulu sebentar.. " Ia telah memperhatikan rambut pria itu yang acak-acakan kembali setelah bangun tidur


" Kenapa? Bukannya loe yang udah mengacak-acak rambut gue tadi?" (tersenyum) Joe berjalan melewati gadis itu dengan senyum disudut bibirnya


" ..." Renxa tidak mempercayainya, mulutnya sedikit terbuka lebar mendengar hal itu dari mulut pria itu


Apa dia sudah bangun saat itu..


Joe membuka pintu kamar itu dan meninggalkannya sendirian. Ia segera berbalik dan berjalan mengejar Joe.


" Bentar, tunggu-tunggu.. " Ia berlari untuk mendahului pria itu, ia berhasil membuat pria itu berhenti dan menatapnya dengan datar


" Ada apa? "


" Apa loe sudah bangun saat gue mulai memasuki kamar loe?" (mengangkat alisnya)


" Hhm.. jawab atau nggak ya? " Pria itu menggodanya dan tersenyum. Joe mengambil jalan lain yang tidak dihalangi gadis itu, ia mulai mendahului gadis itu


" Apa? Jawaban macam apa itu? Ka Joe.. jawab gue dengan benar. " Ia berlari kecil menjangkau pria itu, entah bagaimana tetapi Joe berjalan sangat cepat dari pada dirinya. Atau mungkin karena Joe jauh lebih tinggi darinya, maka dari itu dia bisa secepat itu


" ..." Joe berhenti dan membalikan tubuhnya


" Eh.. " Renxa tidak sengaja menabrak tubuh pria itu. Karena dengan mendadak pria itu berhenti saat ia berlari.


Tubuhnya hampir saja terjatuh menabrak dada pria itu. Joe meraih lengan kanan gadis itu dan menahannya.


" Iya.. gue sudah bangun saat loe mulai masuk dan duduk disebelah gue. Loe tidak bisa menyangkalnya, gue merasakan semuanya, sentuhan loe.. " Joe menatap mata gadis itu dan tanpa ragu ia mengatakannya


" ..."


" ..." Joe melepaskan lengan gadis itu dan berbalik, berjalan pergi meninggalkan gadis itu