MY Lovely Story

MY Lovely Story
Eps. 45



Mereka mengobrol ringan satu sama lainnya sampai makanan mereka datang. Renxa malam ini diperbolehkan memakan makanan protein, karena ada Christ sebagai pendampingnya. Boleh tetapi ada batasannya, ia tidak masalah dengan itu asalkan ia bisa makan makanan yang enak.


Restorannya sangatlah nyaman dan luas bahkan diarea outdoor. Dari atas terlihat pemandangan kota dengan lampu-lampu yang menyala disetiap rumah dan gedungnya. Sangat indah untuk waktu makan malam tiba, mereka menikmati hidangan dan suasana sekitarnya.


" Joe.. whiskey? " Tanya Christ


" Yeah.." Joe menganggukan kepalanya dan melanjutkan makan


" Permisi.. saya boleh minta 1 botol whiskey? " Christ memanggil seorang pelayan yang tidak jauh dari meja mereka, pelayan itu menghampirinya


" Baik tuan.. " Pelayan itu berjalan meninggalkan mereka


" ..." Renxa melirik kearah dua pria itu dengan penasaran, ia tetap mengunyah makanan dimulutnya


Apa mereka tidak bisa.. tidak meminum alkohol? Bahkan satu hari saja..


" G-ra.. loe bawa mobil sendiri, atau.. " Tanya gadis itu yang membuat G-ra mendongak dari makanannya


" ..." G-ra hanya mendongak, sebelum sempat untuk berbicara kakaknya sudah menjawab untuknya


" Kalau ada gue disini, buat apa dia bawa sendiri? Memangnya kenapa? " Jawab Joe dengan santai tanpa harus memandang kedua gadis itu


" Oh.. tidak, cuman tanya.. "


Huh.. maka dari itu, kalau nyetir ngapain dia masih mau minum? Ntar.. ada apa-apa dijalan, baru tau rasa!


Beberapa menit kemudian pelayan tadi kembali ke meja mereka dan menyerahkan sebotol whiskey beserta gelasnya. Christ segera membukanya dan menuangkan kedalam dua gelas sekaligus, untuk dirinya dan juga Joe.


G-ra pertama kali yang menyelesaikan makanannya, karena ia hendak ke kamar mandi. G-ra perlahan berjalan meninggalkan mereka, tidak lama kemudian Renxa mengikutinya dari belakang meninggalkan kedua pria tampan itu sendiri.


" ..." Kedua pria itu melihat dan memastikan bahwa gadis-gadis itu telah meninggalkan mereka


" Joe.. "


" Hhm.. " (minum)


" Sebenarnya.. gimana sih hubungan loe dengan Renxa? Kalian itu seperti apa? " Tanya Christ penasaran, ia memajukan tubuhnya mendekati Joe


" Hhm.. gimana ya? Gue tidak tau, mungkin karena gue sudah menganggap dia sebagai adik gue sendiri.. dari dulu. " Jawabnya santai


" Apa loe yakin? Terus.. kenapa loe bersikeras buat ikut G-ra ketemu dia, terlebih lagi.. loe menyuruh adik loe buat ngomong agar Renxa dijemput dan itu sama loe sendiri.. "


" Awalnya gue memang mau menjemput dia, tanpa sepengetahuannya. Tapi.. dia menolak, terus.. apa itu berarti gue menyukai dia? Tidak Christ.. loe buang-buang waktu jika loe berfikir seperti itu. Gue hanya peduli, menjaga dia.. hanya itu. " Jawab Joe dengan serius


" Joe.. apa seperti ini, cara loe mempertahankan Neisya? "


" Iya.. "


" Kalau begitu.. loe akan menyesal. Sekali loe dengar apa yang sebenarnya loe mau.. sekali saja, loe pasti akan sadar! "


" Christ.. nothing I have to regret. Semua berjalan pada tempatnya, tidak perlu khawatir.


[Tidak ada yang harus aku sesali] "


" Cittch... " Christ menghembuskan nafas dan memutar kedua bola matanya. Ia menyandarkan kembali tubuhnya pada kursi, ia tidak percaya ternyata sahabatnya se-bodoh ini!


...°¢¢¢¢¢°...


(Toilet)


" G-ra.. kenapa loe menghindari gue? "


Kedua gadis itu keluar bersamaan dari kamar mandi, G-ra membasuh tangannya di wastafel dan dengan cepat berjalan meninggalkan Renxa. Ia tau bahwa gadis itu akan menanyainya 1000 hal sekaligus, lebih baik ia menghindarinya malam ini.


" Hhm.. apa? Haha.. nggak, gue hanya sudah selesai. " Jawab gadis itu dengan canggung


" Huh? Come'n.. semua bisa melihat, loe menghindari gue. Gue yakin loe pasti tau apa yang akan gue tanyakan.. "


" Yaudah.. iya, iya. Habisnya mereka dateng-dateng memaksa gue, bukan mereka.. tapi Joe. " Ia menyerah dan mengatakan yang sebenarnya


" Lalu, kenapa mereka bisa tau kalau kita ada janji? Loe pasti yang memberitahukannya, kan?" (menunjuk)


" Hhm.. gue nggak sengaja. Habisnya.. pertanyaan Joe memancing, jadi ya.. haha. " Gadis itu tertawa begitu tenang seperti tidak terjadi apa-apa


" ..." Renxa memutar kedua bola matanya dan menggelengkan kepala


" Tapi.. loe tidak pernah membongkar tentang.. hal itu kan? Kepada Joe.. selama beberapa tahun belakangan ini? " Entah kenapa raut wajah dan suara gadis itu terdengar pelan dan sedih, ia bahkan tidak menatap G-ra


" Tenang saja.. tidak akan ada yang tau selain loe dan gue. Walaupun dia kakak gue, tapi gue tau perasaan loe kepada kakak gue sebenarnya." Jelas gadis itu


" Huh.. kapan? Gue tidak tau.. " Renxa merasa tidak percaya kepada gadis itu


" Tadi.. sewaktu gue telfon loe, gue menawarkan untuk jemput loe kan? Waktu itu, dia ada disamping gue dan minta itu. Tapi.. dia tidak mau loe tau, karena dia tau loe pasti akan menolak jika tau dia yang jemput loe. "


" Oh.. hurrff.. untung saja gue menolak. Pastesan aja gue rasa ada orang lain didekat loe.. " Ia menghembuskan nafasnya dan mengusap dadanya dengan lega


" Hih.. aslinya loe kecewa kan? Ya kan? Ya kan? Gagal deh.. haha.." G-ra menggoda gadis itu, Renxa mengerutkan dahinya dan menggelengkan kepalanya.


" ..." Renxa berbalik dan berjalan meninggalkan G-ra


" Eh.. tunggu. " Ia berlari mengejar Renxa


Kedua gadis itu berjalan menuju meja mereka, mereka bisa melihat kedua pria itu sudah menyelesaikan makanannya dan kini beralih menuju layar handphone mereka. Mereka tidak saling berbicara satu sama lain, hanya beberapa kali membahas pekerjaan dan akhirnya tetap sibuk dengan urusan masing-masing.


" Udah selesai? Lama banget.. " Christ mendongak dan meletakkan kembali handphone di tangannya


" Udah.. urusan perempuan! " Jawab G-ra, kedua gadis itu segera duduk dikursi mereka


" ..." Christ hanya tersenyum tipis menanggapi gadis itu


Joe menyadari mereka, ia meletakkan handphone-nya dimeja dan bergabung dengan mereka. Mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol santai. Banyak hal yang mereka bahas, baik itu sekolah, pekerjaan atau pun perihal keluarga mereka. Tidak satu pun yang tidak dibahas, kecuali.. masalah pribadi yang berhubungan dengan perasaan mereka. Mereka ber-empat merupakan seorang profesional di bidang pekerjaan, tidaklah mungkin mereka akan mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan.


Hari semakin larut malam, bukannya hening tetapi semakin ramai. Pada hari menjelang tengah malam, restoran tersebut memberikan hiburan yang bervariasi. Kebanyakan dari mereka yang ada disini masih dominan anak-anak muda yang tidak tau kapan akan pulang. Semua orang sangat bersenang-senang disana, menikmati malam yang menyenangkan. Musik dimainkan begitu keras dan menyenangkan, banyak dari mereka yang terlena oleh musiknya.


Hampir semua orang bergabung untuk menari ditengah lantai, tetapi tidak untuk ke-empat orang. Renxa dan teman-temannya hanya duduk dengan santai dan memilih menikmati pemandangan semua orang menari.


Arrk.. kenapa musiknya sangat keras? Bukankah ini restoran, tetapi serasa bar clubbing?


Dentuman suara musik yang keras membuat Renxa frustasi. Ia sebelumnya tidak pernah pergi ke club dengan kemauan dirinya sendiri. Dia hanya pernah beberapa kali menemani kakak dan teman-temannya. Suasana malam seperti ini, mungkin tidaklah cocok dengannya.


" ..." G-ra tidak sengaja melihat Renxa yang tidaklah terlalu nyaman dengan musik-musik yang dimainkan


" Aigo.. " Gumam Renxa, ia berusaha menutup sebelah kuping dan sebelahnya lagi. Tetapi, tetap saja musik ini terlalu keras


" Kenapa? " Teriak G kepada gadis itu


" Apa? Gue tidak bisa mendengar suara loe.. ini semua.." (melambaikan tangan) Renxa tidak dapat mendengar G dengan jelas, walaupun G-ra dan dirinya saling berteriak


" Kenapa dengan loe? " Sekali lagi G berteriak dengan gerakan tangannya


" Oh.. suaranya, suara musiknya terlalu kencang. Gue bahkan tidak bisa mendengar suara gue sendiri. " Ia menutup telinganya dan berteriak


Rasanya seperti orang gila dengan berteriak satu sama lainnya. Renxa berfikir apakah mereka tidak terganggu dengan suara kencang ini. Beberapa menit kemudian Renxa melihat jam yang ada ditangannya, 1 jam lagi waktu sudah hampir tengah malam. Ia membereskan barangnya yang ada dimeja dan mengambil tasnya. Saat ia berdiri dari tempat duduknya mereka bertiga menyadarinya dan bertanya kepadanya.


" Mau kemana? Udah buru-buru banget? " Tanya G-ra


" Uh.. sorry, gue harus balik. Besok gue ada gereja pagi, jadi.. gue takut besok nggak bisa bangun. " Gadis itu mendekatkan dirinya agar bisa terdengar


" Oh.. iya, ya. Ibadah gue jam 8, makanya gue santai. " Jawab G


" Kalau gue lebih pagi soalnya.. " Sahut gadis itu


" Pulang naik apa? " Teriak Christ


" Gue? Dijemput.. yaudah gue balik dulu ya. Ini semua biar gue yang mengurusnya.. " Teriak Renxa agar mereka mendengarkannya, ia berbalik dan berjalan meninggalkan meja.


Renxa menerobos melalui keramaian ditengah-tengah dan melewatinya. Ia perlahan keluar dari ruangan, setelah menutup pintu kaca ruangan tadi ia baru bisa bernafas lega. Perlahan ia mulai tidak mendengarkan suara musik yang keras pada setiap langkahnya menuju koridor lift dan menaikinya.


" Hurrf.. suara musiknya membuat gue pusing.. " Gumam gadis itu yang mengusap-usap dahinya


Renxa berjalan meninggalkan lift dan menuju kasir yang ada ditempat receptionist awal.


" Excuse me, Let me get the bill atas nama G-ra An Arvadhafiose..


[Permisi, berikan saya tagihannya] " Renxa mengeluarkan dompet dan menyodorkan kartu kreditnya


" I'm sorry Ms. Nocthadhanaksa, but the bill is covered.


[Maaf, tetapi tagihannya sudah ditanggung] " Jawab pelayan itu dengan sopan


" Apa.. s-sa- " Renxa merasakan tubuhnya di tarik tiba-tiba oleh seseorang dari belakang. Sebelum menyelesaikan pembicaraannya kepada pelayan itu, seseorang menarik tubuhnya berbalik dan menuntunnya berjalan meninggalkan pelayan itu.


" Baik, terimakasih atas kunjungannya. Tuan dan nona.. " Pelayan itu menundukkan tubuhnya melihat mereka berdua pergi


" Huh? Ka Joe.. "