MY Lovely Story

MY Lovely Story
Eps. 31



(Click..click..)


" ..." Renxa mendongak untuk melihat siapa orang yang baru saja keluar dari ruangan. Ia terkejut mendapati ternyata pria itu yang baru saja keluar dari ruangan. Disisi lain ia merasa senang karena akhirnya ia bisa pulang, tetapi disisi lain juga ia merasa kesal karena pria itu membuatnya menunggu sangat lama untuk bisa pulang kerumah.


" ..." Sepertinya pria itu sama terkejutnya dengan apa yang ia lihat. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat, ia fikir bahwa sudah dari tadi gadis itu pergi meninggalkannya entah menggunakan apa. Tetapi ia salah..


" Udah selesai? Huaah.. aku sangat lelah. " Tanya gadis itu dengan malas


" Ak- gue, gue pikir loe udah pergi dari tadi.." (menutup pintu dibelakangnya)


" Mana mungkin.. gue kan.. Tunggu. " Ia terkeju pria itu berjalan melewatinya dengan cepat, ia segera lari mengejar pria itu dari belakang dan berjalan bersamanya


" ... "


" ..."


" Terimakasih.. loe baik banget udah bantuin gue. " Renxa membuka pembicaraan mereka saat berjalan dari belakang punggung pria itu sambil menundukkan kepalanya


" ..."


" Padahal kita tidak saling kenal, tapi loe udah tulus bantuin gue. Kalau boleh tau, alasan loe mau bantuin gue.. " Ia tetap berjalan perlahan dengan kepala tertunduk dan tidak melihat jalan yang akan ia lewati


" ... " Pria itu berhenti tiba-tiba dan membalikkan tubuhnya kearah gadis dibelakangnya.


Jorgo berhenti dan berbalik tiba-tiba, ia juga tidak menyadari bahwa gadis itu mengikutinya dari belakang. Gadis itu tidak melihatnya berhenti sehingga tidak sengaja tubuh Renxa menabraknya.


" Eh.." Teriak kecilnya karena terkejut menabrak seseorang


Kepala Renxa membentur dada pria dihadapannya dan hampir saja membuatnya terjatuh. Pria itu terkejut dan menopang tubuh Renxa dengan tangannya agar tidak terjatuh. 3 detik mereka saling memandang dan melepaskannya. Pria itu segera melepaskan tangannya dari punggung gadis itu.


Lagi-lagi mereka merasa sangat canggung. Renxa berusaha untuk tidak menatap kembali mata Jorgo dan menjauhkan dirinya serta memperbaiki letak bajunya yang kusut bercampur bercak darahnya sendiri.


" Sorry.. gue tidak sengaja. " Jawab Renxa dengan canggung


" Lain kali bisa.. tidak menangis dihadapan gue?" Ia melipat kedua lengan panjang hoodie-nya yang telah berwarna merah darah dan mengatakannya dengan tenang


" Huh? " Ia mendongak dan memandang pria itu dengan heran


Menangis..


Ah.. pasti gara-gara itu.


" Gue tidak suka melihat cewek menangis.. " Ia berbalik dan berjalan menjauh meninggalkan gadis itu


Tuh kan. Seharusnya sudah gue duga, tidak mungkin dia berubah jadi orang sebaik ini..


Renxa kembali mengejar pria itu hingga ke depan pintu rumah sakit, kali ini dia menempatkan dirinya disamping pria itu agar tidak terjadi kesalahan yang sama. Jorgo beberapa kali melirik kearah Renxa dengan heran dan berkata,


" Kenapa masih mengikuti gue? Memangnya loe nggak pulang. " Ia berhenti di depan pintu rumah sakit dan berbicara dengan gadis itu


" Lah.. gue kan pulangnya sama loe. "


" Kenapa? "


" Huh? Kan loe yang bawa gue kesini, jadi loe yang harus bawa gue pergi dari sini. Memangnya mau ngapain lagi? Kalau nggak sama loe, terus pulangnya gue pake apa? "


" Nah.. itu sih terserah loe. Jalan kaki sampai ke sekolah juga bisa. Pokoknya jangan ngikutin gue.. " Dengan santai ia pergi meninggalkan gadis itu disana dan menuju parkiran mobilnya


" Eh.. gue nggak tau jalan balik ke sekolah.


Mr. Chatzi.. dasar cowok brengsek.. " Teriaknya dengan kesal sambil menghentakkan kakinya


Renxa berusaha meneriakki nama Jorgo dengan kesal, ia menyerah saat melihat pria itu dengan cepat berlari meninggalkan dirinya.


" Huh.. " Ia menghembuskan nafasnya dengan kesal dan berusaha untuk tenang


Ia berusaha melihat apa yang ada pada dirinya dan.. ternyata ia sama sekali tidak membawa apapun juga. Tas, handphone, kunci mobil bahkan dompetnya sendiri. Semua barang itu berada didalam tas sekolahnya yang ia tinggalkan di kelas.


" Great.. sama sekali tidak punya apa-apa. Tenang Renxa, tenang.. " Ia menenangkan hati dan pikirannya, ia memejamkan mata dengan tangannya didada dan mengangguk serta mengembuskan nafasnya


Tetapi..


" Ih.. sialan. Dasar cowok brengsek, brengsek.. gue tidak bisa menahan kemarahan gue. Gue sumpahin.. "


" Ops.. tidak, tidak. Maafkan aku Tuhan. Aku tidak bermaksud.. seperti itu. Terimakasih telah memberikanku keselamatan, itu sudah cukup. Amin.." Ia menahan amarahnya sekali lagi dengan melipat tangannya dan memejamkan matanya


Ah.. tenang, tenang. Akhirnya..


Huh.. lupakan!


Ia berusaha melupakan apa yang telah terjadi. Ia perlahan berjalan keluar pelataran rumah sakit dan melewati pintu gerbangnya. Ia melihat sekitarnya, kiri dan kanan. Ia sama sekali tidak mengerti ada dimana ia saat ini. Karena jalan rayanya satu arah dan mereka saat masuk kesini dari darah selatan(kirinya) maka seharusnya pulang kearah utara(kanannya).


Tidak tau apakah ini jalan yang benar untuk dirinya kembali ke sekolah, ia hanya berjalan lurus mengikuti arah jalannya berada. Kurang lebih 10 menit ia berjalan tanpa tau dimana ia berada, hari rasanya sangat begitu panas. Gadis itu merasakan keringat mengalir dari dahinya ke pipi. Ia beberapa kali mengusapnya tetapi tak kunjung menghilang. Ia sangat lelah, tiba-tiba kepalanya terasa sangat berat dan pusing. Ia melepas jacketnya karena terlalu panas dan melipatnya ditangan kanan-nya, ia memutuskan untuk berhenti sejenak dan duduk berjongkok ditempat ia berdiri.


Tiba-tiba..


(Tin..tin..tin..) bunyi suara klakson mobil yang ada dibelakangnya


Ia mendengar suara bising klakson mobil mengganggunya yang sedang beristirahat sebentar. Padahal ia tidak berada pada posisi yang mengganggu pengguna jalan lain, ia sudah berada dipinggir jalan dan masih saja ada orang yang tidak waras terganggu kepadanya.


Ia tidak bergerak dari posisinya, tetapi ia sekilas menengok kebelakang. Ia sangat familiar dengan mobil itu, sebelumnya ia pernah melihatnnya tetapi udara terlalu panas untuknya berfikir jernih.


Ah.. siapa itu, kenapa cuaca disini terasa sangat panas..


Ia tidak memperdulikan kembali siapa yang mengganggunya. Ia kembali berkonsentrasi dengan dirinya, ia memejamkan matanya dan memeluk erat jacket yang telah ia lepaskan.


Tidak lama kemudian ia mulai tidak mendengar bunyi klakson mobil yang ada dibelakangnya. Tetapi, ia bisa mendengar seseorang baru saja menutup pintu mobil. Sekali lagi ia tidak memperdulikannya, matanya yang terbuka kembali ia kantupkan.


Tetapi..


Ia merasakan tubuhnya mulai terasa ringan dan tidak menyentuh lantai. Sebaliknya, ia merasakan sandaran yang begitu hangat di lengan kiri dan dahinya.


Siapa? Aroma tubuhnya.. rasanya pernah mencium aroma ini.


Bukan 'Ka Joe'..


Seseorang menggendongnya dan menempatkannya duduk bersandar dibangku mobil dan menutup pintunya. Sebelum seseorang itu membuka pintu mobilnya, ia berusaha melihat siapa seseorang yang baru saja menolongnya.


Gue.. tidak bisa melihatnya.


Ia berusaha membuka matanya dan melihat ke atas, tetapi matahari terlalu bersinar terang hingga menutupi pandangannya. Ia mengangkat telapak tangan kanannya untuk menutupi pandangannya dan memejamkannya kembali.


Tetapi satu hal yang dapat ia tangkap, ia mengenali baju yang orang itu kenakan.


" Kenapa? Tadi nggak.. " Ia bertanya dengan pelan kepada seseorang yang menggendongnya tetapi ia tidak bisa meneruskannya


" ..."


Renxa sangat ragu untuk mengatakannya, hal yang pasti adalah.. udara terlalu panas untuknya berfikir maupun berbicara.