MY Lovely Story

MY Lovely Story
Eps. 21



Setelah perkenalannya selesai, ia dipersilahkan menduduki bangku kosong dibaris ke tiga bagian pojok. Semua bangku terlihat rapi berjejer, ada jarak yang memisahkan satu murid dengan murid lainnya. Semua murid terlihat tertarik berteman dengannya, mereka semua ramah, kecuali satu orang pria. Seorang pria berkisar 18-19 tahun, ia duduk tepat disebelah kiri Renxa. Renxa dan pria tersebut satu deret dan hanya ada ia dengan pria itu yang menduduki deret tersebut.


Renxa sangat yakin bahwa ia mengenali pria tersebut, seorang pria Indo-Jerman yang sangat tampan dengan topi baseball putih yang hampir menutupi seluruh wajahnya dan alis tebal. Dengan bawaan tubuh yang tinggi, ia sangat santai dengan hoodie putih polos yang lengannya sudah ia tarik keatas. Ia terlihat sama sekali tidak perduli dengan adanya siswa atau siswi baru. Pria itu hanya menatap lurus saat Renxa melewatinya dengan chewing gum(permen karet) yang ia kunyah dalam mulutnya. Entah kenapa hanya dengan bersandar dikursi, diam menatap lurus dan mengunyah permen karet saja, ia sudah terlihat sangat tampan dan berkarisma. Renxa menyapa semua orang yang ia lewati sampai bangku, kecuali pria tampan yang tidak mengindahkannya. Ia benar-benar gugup saat melewatinya, ia hanya berfikir apakah ia akan menyapa pria itu atau tidak.


Gue.. kaya pernah liat dia sebelumnya. Arrk.. why he's really good looking! Gue nggak bisa mengelaknya.. bahkan dari samping dia sangat tampan, hidungnya terlihat tajam setajam mata pedang. Huh.. hahaha. Udah-udah sadar woy!


Pikir gadis itu, ia saku kali melirik kearah pria disebelah kirinya dan berusaha menahan tawanya dengan menutupi dengan punggung tangannya. Ini aneh, tetapi saat ia melihat orang yang tampan ia pasti tidak tahan untuk tertawa sekeras-kerasnya.


Renxa tidak bisa mengelaknya, pria cuek, tinggi, pintar dan tampan adalah tipenya. Baru kali ini ia melihat pria lain yang sama seperti 'dia'.


Renxa memutuskan untuk diam tidak melakukan apapun kepada pria tampan yang ada disampingnya. Mr. Harris berpamitan kepadanya dan meninggalkannya diruangan kelas itu. Dengan cepat Ms. Wilda mengambil alih keadaan kelas dan melanjutkan kelasnya, karena seluruh kelas sudah mengumpulkan tugasnya kecuali Renxa, ia memanggil Renxa untuk melihat apakah sudah menyelesaikan tugas-tugasnya belum.


" Ms. Nocthadhanaksa? "


" Huh? " Gadis itu mendongak kedepan karena ada yang memanggil nama belakangnya


" Apakah anda sudah menyelesaikan semua tugas-tugas anda? " Tanyanya kepada gadis itu dan mendapati jawaban dari anggukan gadis tersebut


" Baiklah. Bisa saya lihat, tolong maju kedepan." Pintanya dengan lembut dan dengan cepat gadis itu berdiri dari tempat duduknya dan berjalan kearahnya


" ... " menyodorkan tugas-tugasnya dan menunggu dihadapan gurunya dengan tenang tanpa melihat apa yang gurunya lakukan


" Wah.." Ms. Wilda sangat terkejut dengan apa yang dikerjakan salah satu muridnya tersebut


Renxa dan teman-teman satu kelasnya jauh lebih terkejut mendapati tingkah laku gurunya. Ia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, apakah ia membuat kesalahan dalam mengerjakan tugas-tugasnya?


" Huh.. there's nothing I can comment on your homework. How do you know all the details, like anti-biotic substances produced by microorganisms? Pinicillins, cephalosporins, and the others.


[Tidak ada yang bisa saya komentari untuk PR mu. Bagaimana Anda mengetahui semua detailnya, seperti zat anti biotik yang diproduksi oleh mikroorganisme? Pinicillins, sefalosporin, dan lainnya] " (menutup dan menyerahkan buku yang ia minta)


" Memang anda tidak diragukan lagi, Ms. Nocthadhanaksa. " Ms. Wilda memuji gadis itu dengan anggun


Seluruh isi kelas tak terkecuali Renxa sendiri sangat terkejut dan binggung dengan itu semua. Renxa sekali lagi menanyakan kepada Ms. Wilda apa yang terjadi, ia bahkan hanya mengerjakannya dengan biasa asal cepat selesai.


" Um.. maksud Ms. Wilda? Pekerjaan saya benar semua? "


" Yes of course. Bahkan lebih dari itu, anda tau saya bahkan belum mengajarkan hal itu kepada mereka semua termasuk anda sendiri. Saya sengaja memberikan pekerjaan yang berbeda kepada anda, hanya untuk mencari tahu yang sebenarnya. "


Wah.. pantes gue kemarin kerjanya binggung amat, baru kali ini gue liat soal kaya gitu. Damn you, Ms. Wilda!


Pikir gadis yang bisa ia tutupi dengan awkward laugh-nya kepada guru 'tercintanya'.


" And now.. ternyata benar rumor yang memberitakan tentang anda selama ini. " Tambah Ms. Wilda dengan yakin


" Ah.. padahal gue kemarin kerjanya asal-asalan, ternyata... " Ucap gadis itu dengan pelan serta tangannya yang mengusap lehernya dengan pandangan ke arah jendela luar dan ia menggigit lembut bibir bawahnya


" Sorry, did you say something? " Ms. Wilda memastikan, ia yakin gadis itu mengucapkan sesuatu tetapi ia tidak bisa mendengarnya dengan jelas


" Ah.. no, no. I was just.. just shocked. Yeah.. saya hanya terkejut Ms. Wilda mengatakan hal itu. Waktu saya di Zurich, saya pernah membaca sedikit mengenai Biotechnology di perpus." Jelas gadis itu dengan canggung


" I know it. You do your homework carelessly, right?


[Aku tahu itu. Kamu mengerjakan pekerjaan rumahmu dengan sembarangan, bukan] " Kalimat bisikan yang dilontarkan pria itu dengan senyum disudut bibirnya tanpa memandang gadis disebelahnya


" ... " Renxa sama sekali tidak menatap kembali pria yang mendekatinya. Renxa sangat terkejut dengan apa yang pria itu katakan, ia bahkan tidak bisa berkata-kata dan mulutnya hanya bisa terbuka tidak terlalu lebar sampai beberapa detik kemudian..


" Em.. tidak-tidak. Aku benar.."


Sebelum sempat gadis itu membela dirinya, pria disampingnya memotong kata-katanya.


" I can see it.. on your lips. Gue bisa melihat, semuanya. " Tambah pria itu dengan senyum lebar dibibirnya serta mengunyah kembali permen yang ada dimulutnya dan perlahan mulai menjauhkan kursinya dari gadis itu


Ah.. kelakuannya, sama juga ternyata. Oh my god, memangnya nggak ada cowok tampan yang baik ya?


" Ehem... honestly, cakep tapi brengsek juga. " Bisik Renxa pada dirinya sendiri dengan punggung tangan kanannya menutupi bibirnya tanpa memandang pria itu sedikitpun


Ternyata pria itu mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Renxa.


" Seriously? Gue.. " Belum selesai ia mengatakan, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil nama belakangnya dan sontak ia mengongak ke sumber suara


" Mr. Chatzi.."


" Yes, ma'am? " Jawab pria itu dengan sopan. Ternyata yang memanggilnya adalah Ms. Wilda guru mereka dikelas itu


" Bisakah kamu melihat kembali pekerjaan Ms. Nocthadhanaksa? Apakah saya betul dalam menilai pekerjaan beliau? Kamu bisa melihatnya dengan teliti. " Jelas wanita cantik itu dengan sopan


Chatzi? Apakah dia benar...


" Okay, saya akan mencoba melihatnya lagi. Where's your homework? " Tanggap pria itu yang kini menatap kearah Renxa. Renxa benar-benar terkejut sekaligus tidak mengerti dengan apa yang gurunya perintahkan


" Apa? Kenapa harus dia juga yang meneliti pekerjaan saya? Bukankan anda Ms. Wilda sudah lebih dari cukup untuk mengamatinya. Aren't you the teacher?


[Bukankah kau gurunya] " Bela gadis itu dengan tegas


" Yes, I am. Tetapi Mr. Chatzi unggul dalam beberapa mata pelajaran, salah satunya pelajaran saya. Jadi dia memiliki rasionalitas yang bagus dalam menela-ah suatu pekerjaan, saya sering bekerja sama dengannya dalam mengurus beberapa siswa kelas lain. Jadi bisa kan? " Jelas Ms. Wilda


" ..." Pria itu menatap gadis itu dengan datar dan membalikkan telapak tangannya kearah gadis itu


"..." Renxa benar-benar terkejut, dengan terpaksa ia menyerahkan pekerjaannya kepada pria disampingnya. Ia sangat berharap bahwa pria itu tidak mengatakan hal aneh yang dapat mempermalukan dirinya didepan Ms. Wilda


Oh God! Semoga saja dia nggak bicara apa-apa soal tadi.


" Hhm.. menurut saya..." Kalimatnya yang sedikit diperlambat dengan pemberian jeda pada setiap kata


Mampus gue..