
Renxa mengikuti pria itu dibelakangnya dengan cemberut. Ia tidak mengerti dengan hal yang baru saja pria itu katakan kepada orang-orang penting disekolahnya. Padahal ia telah berusaha membuat semua orang tidak terlalu terganggu dengan apa yang terjadi padanya, tetapi pria itu mengacaukan segalanya.
Diturutin, eh.. kok sekarang malah merintah. Mana dia nggak punya sopan lagi sama orang. Huh.. Renxa-renxa.. loe dalam masalah jika loe harus berurusan dengan cowok brengsek ini..
Gadis itu terus memikirkannya sampai tanpa sadar ia telah mengikuti pria itu ke parkir mobil bagian dalam. Sesaat sebelum pria itu membukakan pintu mobilnya, ia sadar.
Dalam parkiran mobil-mobil tersebut terlihat sudah sepi, tidak banyak yang masih tertinggal didalamnya. Renxa tidak tau bahwa disini juga ada tempat parkir, ia pikir tempat parkir untuk mobil bisa ditempatkan di depan pelataran sekolah yang luas. Ia tidak salah juga karena bukan hanya dia yang memarkirkan mobil disana.
Tertuju pada satu-satunya mobil mewah yang terparkir disana. Begitu kosong sisi kanan dan kiri mobil itu, sehingga membuatnya dengan mudah mencuri perhatian. Bukan hanya tempatnya, melainkan dengan body supercar-nya. Ferrari F12 Berlinetta merupakan salah satu supercar yang berasal dari Italia.
Pria itu memilih Ferrari F12 Berlinetta berwarna hitam. Dengan tampilan yang sangat mewah dan elegan. Mobil seharga Rp 9,8 milyar ini hadir dengan dasar masih setir kiri, tidak seperti pasar Indonesia biasanya dengan setir kanan. Tetapi, bukan berarti model Ferrari F12 Berlinetta di Indonesia menggunakan setir kiri, saat ini sudah banyak mobil-mobil mewah yang sudah standart dengan pasar Indonesia setir kanan. Kebetulan saja pria itu menggunakan setir kiri.
Design eksteriornya terkesan lebih kalem dan masih elegan khas Italia. Keseluruhan lekuk body-nya dirancang bukan tanpa alasan tapi lebih mengedepankan unsur aerodinamis sehingga performa akselerasi menjadi semakin meningkat.
Eksterior depan menunjukkan wajah yang kalem seakan berhasil menutupi performa mesin buasnya. Grille depannya tampak memanjang dengan rongga-rongga yang dapat membelah angin. Pilihan yang sangat tepat untuk selera yang tinggi.
" ... " Berjalan kearah mobilnya dan mulai membukakan pintu untuk gadis disebelahnya
" Eh.. nggak-nggak. Gue juga bawa mobil, g-gue bisa sendiri. Thanks.." Ia bahkan sudah bersiap untuk meninggalkan pria itu
Pria itu berbalik serta menatapnya sekejap. Ia merasa tidak enak hati dan berbalik meninggalkan pria itu. Tetapi, sekali lagi tangan pria itu menahan pergelangan tangannya dan menarik dirinya masuk kedalam mobil mewah pria itu. Dengan cepat ia ditarik masuk kedalam dan pintu mobil tersebut segera ditutup rapat. Setelah menutup pintu mobilnya, Jorgo berjalan memutar untuk masuk dan duduk dibangku setir mobilnya.
Ia sangat terkejut dengan apa yang pria itu lakukan. Ia bahkan tidak bisa berkata-kata kepada seseorang yang kini berada disampingnya, sekali lagi ia tidak bisa mau menatap kearah dimana pria itu berada dan ia lebih memilih untuk duduk diam menatap lurus kedepan.
Tiba-tiba..
" Pakai... " Jorgo mencondongkan tubuhnya untuk menggapai kursi gadis disebelahnya
" Safety-belt.. kamu! " Tambahnya
(Deg..deg..)
Tanpa basa-basi pria itu meraih sabuk pengaman yang berada di sisi kanan tubuhnya. Matanya terbuka lebar saat wajahnya begitu dekat dengan wajah pria itu, ia tidak bisa bergerak saat melihat wajah tampan dari pria yang berada tepat didepan wajahnya. Ia bisa merasakan pipinya menjadi menjadi merah karena jarak hidungnya terlalu dekat dengan sisi samping wajah pria itu.
S-sejak kapan dia.. melepaskan topinya..
Untuk pertama kali ia sadar kini pria itu tidak memakai topinya kembali. Rambutnya yang sedikit panjang dibagian depan kini telah disingkirkan disisi belakang kepalanya, membuat dahi serta wajahnya terlihat begitu jelas dan menunjukkan pesona tersendiri.
" ... " Renxa membuang pandangannya kesisi kiri sehingga ia tidak dapat melihat wajah pria itu yang begitu dekat dengannya
Setelah meraih sabuk pengaman gadis itu, Jorgo segera memasangkannya dan menarik kembali tubuhnya menjauh dari gadis itu. Ia menyalakan mesin mobilnya dan menjauh dari tempat parkirnya.
Selama perjalanan 15 menit ke rumah sakit tidak ada satupun dari mereka yang membuka mulutnya. Sepanjang perjalanan Renxa tidak berani untuk bertanya atau pun mengatakan sesuatu. Ia menjadi sangat canggung kembali setelah ia bisa berfikir jernih dengan apa yang sebelumnya terjadi kepadanya.
Hurff.. mati gue! Dia udah baik banget lagi, g-gue binggung harus gimana lagi. Kenapa jadi canggung? Ah.. Stupid.. stupid!
Pria itu memarkirkan mobilnya tepat didepan pintu rumah sakit, dari kaca mobil terlihat beberapa perawat dan dokter datang menghampiri pria itu. Renxa tidak tau dimana ia berada dan apa yang akan ia lakukan disana, dia benar-benar asing dengan semua tempat di Indonesia. Ia baru saja 4 hari kembali ke Indonesia, bukan berarti ia akan dengan mudah menghafal semua rute perjalanan yang tepat.
" Diam disini, aku bukakan safety-belt dan pintu. Tangan kamu masih sakit. " Melepaskan sefety-belt nya dan bersiap membuka pintu mobilnya
" Eh.. tidak perlu, gue bisa sendiri. " Bersiap melepaskan sefety-beltnya dengan tangan kirinya, ia lupa bahwa jari kirinya sedang terluka
" Ah.. s-sakit.. " Ia terkejut dan sontak menarik kembali pergelangan tangannya. Ia melihat kasa yang sebelumnya tidak terlalu ada bercak darah kini mengeluarkan lebih banyak darah hingga terlihat
" ..." Gadis itu mengelus lembut tangannya dan dengan segera menarik serta menyembunyikan luka yang kembali terbuka dari pandangan pria yang kini menatapnya kembali
" Apa aku bilang. Lihat tanganmu.. " Pria itu menarik paksa tangan kiri gadis disampingnya
" Darahnya keluar lagi.. pasti gara-gara kamu terlalu kencang menekannya. Kali ini diam dimobil, aku saja yang membukakan. " Melepaskan genggaman dan menarik sefety-belt dari tubuh gadis itu
" Tap- " Ia berusaha mengelak tetapi pria itu sudah memotong terlebih dahulu kata-katanya
" DAN.. TIDAK ADA PERDEBATAN. " Dengan nada sedikit kesal pria itu membuat Renxa tidak berkutik sama sekali. Ia segera turun dan berlari menemui orang-orang yang sudah menunggu dari jauh mobilnya sejak awal
" Huu.. sakit. Dasar brengsek! Lebih sakit tangan gue dari pada denger dia bicara. Huu.. " Ia mengeluh saat pria itu sudah pergi meninggalkannya, ia mengelus-elus tangannya dan mendekatkan ke pipinya
Tapi.. gue tidak bisa mengeluh dengan apa yang telah dia lakukan untuk gue..
Ah.. gue pasti sudah gila karena memikirkan ini semua. Ini sudah jauh dari kesan baik dalam hari pertama gue masuk sekolah.
Apa seorang Renxa Nocthadhanaksa baru saja berhutang budi dengan seorang asing..