
" Ka Joe.. ka Joe.. ka Joe! " Teriak Renxa memanggil nama pria itu
" Ka Joe.. " Renxa berteriak sekali lagi, tetapi pria itu tidak meresponnya sama sekali
Ah.. kemana dia? Kenapa tidak menjawab gue..
Renxa sudah beberapa kali berteriak dari dalam kamar mandi. Ia tidak mendengar satu pun jawaban dari pria itu. Ia membutuhkan pria itu, karena ia lupa untuk membawa handuk ataupun baju ganti saat hendak membersihkan dirinya. Ia sudah selesai mandi dan ia baru ingat bahwa ia tidak memiliki handuk atau pun baju disana, tidaklah mungkin ia akan memakai pakaian yang kotor karena sudah ia pakai seharian.
Renxa sangat kesal, ia memutuskan untuk membuka sedikit pintu kamar mandinya untuk menengok pria itu.
(Click..)
" Joe An Arvadhafiose! " (berteriak) Ia membuka sedikit pintu itu dan hanya mengeluarkan kepalanya saja
" Hhm.. " (tersenyum) Gumam Joe dengan santai menjawab gadis itu, ia tidak menatap kearah gadis itu
Joe masih berada didalam ruangan itu, ia baru saja menjawab saat Renxa sudah benar-benar kesal terhadapnya. Joe terlihat sedang mengeringkan rambutnya, suara gumam Joe terdengar jelas walaupun bercampur dengan suara bising hairdryer.
" Ihh.. Joe An Arvadhafiose! Apa loe tidak mendengar gue mamanggil nama loe berkali kali tadi? " (berteriak)
" Dengar.. " Dengan santainya ia menjawab gadis itu
Dia sudah mendengarnya tapi masih diam saja? Ihh.. dasar cowok brengsek! Brengsek! Brengsek!
Dalam hati gadis itu sungguh kesal. Ia tau bahwa Joe adalah pria yang menyebalkan, tetapi ia tidak tau level menyebalkannya pria itu setinggi ini.
" Joe An Arvadhafiose.. kenapa kamu sangat menyebalkan? Sejak kapan kamu menjadi seorang pria brengsek?" Ia menarik nafas dan berusaha tenang dihadapan pria itu. Mendengar hal itu Joe mematikan hairdryer-nya
" Hey, Renxa Nocthadhanaksa Widjaya.. apa kamu lupa? Se-brengsek apapun aku, bukankah pria brengsek ini yang kamu suka? " Joe menengok gadis itu dan tersenyum disudut bibirnya
" ..." Renxa terkejut mendengar pertama kali kalimat pria itu. Bukankah dia memang tidak salah? Tidak..
" Uwweekk.. ngomong apaan sih loe? Jangan mengada-ada. " Dengan cepat Renxa menjawab pria itu, ia tidak ingin dia curiga kepadanya karena terlalu lama menjawab
" Cittch.. saat loe kecil, loe sangat menyukai gue.. benar-benar menyukai gue.. " Joe menyalakan pengering rambutnya kembali. Ia berbalik ke kaca panjang dihadapannya dan menata rambutnya
" ..."
" Apa yang loe butuhkan? " Tanya Joe disela mengeringkan rambutnya
" Gue membutuhkan handuk dan.. apa dikamar loe ada baju cewek? Boleh gue meminjamnya.. " Sebenarnya gadis itu sangat canggung meminta hal itu pada Joe
Ka Joe selalu bersama dengan banyak wanita. Pasti ada baju salah satu dari wanitanya yang tertinggal di kamarnya.
" ..." Joe mematikan hairdryer-nya dan terdiam sejenak
" Apa.. yang membuat loe berfikir dikamar gue, ada baju wanita lain? " Tambah pria itu tanpa menengok kearah Renxa
" Huh? Karena.. loe selalu bersama dengan banyak wanita. Jadi gue fikir, mungkin ada salah satu dari mereka yang bajunya tertinggal. " Dengan polosnya gadis itu mengatakan apa yang ada didalam fikirannya
" ..." Joe berjalan dan membuka lemarinya bajunya
Gue sudah menduganya, pasti akan ada..
" Huh? " Renxa binggung, pria itu menghampirinya dan menyodorkan handuk bersih. Hanya handuk yang pria itu berikan
" Gue tidak pernah membawa wanita lain ke kamar ataupun ruang pribadi gue. Loe adalah satu-satunya cewek yang pernah masuk dan tidur dikamar pribadi gue.. "
" Pakai ini, gue yang memintanya sendiri untuk loe. "
Renxa sebenarnya ragu-ragu menerima bingkisan itu, karena ia tidak tau bagaimana selera pria itu apakah akan cocok dengan dirinya. Tetapi akhirnya ia memerima itu juga, tidak ada pilihan lain.
Renxa menutup pintunya dan saat ia membuka bingkisan itu, ia terkejut. Didalamnya ada sebuah dress yellow mustard berpotongan pendek yang sangat indah. Sebuah casual dress yang merupakan selera gadis itu sendiri, ia tidak menyangka bahwa pria itu akan memberikan sesuatu yang ia suka.
Wah.. bukankah ini terlalu indah? Hihihi.. gue sangat suka dengan dress ini. Thanks ka Joe..
Renxa menyukainya dan ia ingin memakainya. Saat ia memakainya, ternyata dress itu sangat pas ditubuhnya. Dress itu tidaklah terlalu pendek hanya 2 centi di atas lutut, jadi Renxa tidaklah terlalu khawatir jika memakai pakaian itu. Terlebih lagi, dress-nya menggunakan lengan panjang yang membuatnya terlihat sangat sopan namun tetap elegan.
10 menit kemudian..
Renxa membuka pintu dan keluar dari kamar mandi. Ia melihat Joe kini telah memakai kemeja putih yang sangat rapi, sebelumnya ia tidak pernah melihat pria itu dengan pakaian formal seperti ini.
Dia memang sangat tampan. Tidak heran banyak wanita yang ingin bersamanya..
Renxa hanya sekilas menatap sisi samping kiri pria itu dan ia tidak berani untuk melihatnya kembali. Ia sadar bahwa dengan melihat pria itu kembali hanya akan membuatnya semakin jatuh cinta.
Renxa mencari kaca diruangan ini tetapi, pria itu sedang menggunakannya. Ia menghela nafas dan menunggu dari jauh. Walaupun ia sudah menetapkan untuk tidak melihat pria itu tetapi, mata dan hatinya tidak dapat menuruti perintahnya. Joe mungkin memang sudah mendengar gadis itu telah keluar dari kamar mandi, tetapi dia tidaklah menengok kearah Renxa.
" ..." Tanpa sadar Renxa tersenyum tipis saat menatap pria itu. Joe sedang mengenakan jam tangannya dan pria itu terlihat sangat seksi saat melakukannya. Renxa tidak bisa berhenti tersenyum
" Gimana, ud- " Belum selesai ia mengucapkan kalimat utuhnya. Ia menengok kearah gadis itu dan terdiam memaku menatap gadis itu
" Eh? Hhm.. apa loe sudah selesai? Gue mau meminjam kacanya.." (melepas ikat rambut) Renxa terkejut saat pria itu menengok kearahnya. Ia seketika langsung memalingkan wajahnya
Apa dia melihat gue saat menatap dia? Ih.. gue sangat malu..
Ia merasakan kedua telinganya terasa panas dan mulai merah, ia sangat malu. Ia melepaskan ikatan rambutnya untuk menutupi kedua telinga merahnya, rambut gelombang panjangnya kini terurai lepas.
" ..." (tersenyum) Joe perlahan mundur. Hal ini mengisyaratkan kepada gadis itu bahwa ia sudah bisa memakai kacanya
Renxa melihat hal itu dan ia perlahan melangkah maju menuju kaca. Pria itu tidak berhenti menatapnya, dia bahkan tidak berkedip sekalipun. Ia sudah didepan kaca dan pria itu tidak membiarkannya sendiri, dia tetap saja mematap gadis itu.
" Hhm.. ka Joe, bisa gue pinjam sisir?" Ia mengacak rambutnya dan sedikit menyisir dengan kedua tangannya
" ..." Detik selanjutnya, Joe berjalan kearah meja didekat kacanya dan mengambil sisir yang ia taruh diatas meja itu
Joe berjalan kearah gadis itu, ia mencondongkan tubuhnya mendekati gadis itu. Joe membelai rambut gadis itu dan menyisirnya dengan lembut.
" Loe terlihat sangat cantik dengan gaun itu.. gue senang melihat loe memakainya. " Bisik pria itu dengan pelan
" ..." Renxa mengeliat geli. Pria itu terlalu dekat dengannya, sangat dekat hingga ia bisa merasakan hidung pria itu dileher belakangnya
" Aa.. maaf, saya bisa melakukannya sendiri.." (berteriak) Renxa segera menapis tangan pria itu dari tubuh dan rambutnya. Ia kesal dan merebut sisir yang dipria itu genggam untuk menyisir rambutnya
" ..." (tersenyum) Joe mengangkat kedua tangannya dan perlahan mundur, menjauhi gadis itu
Renxa sedang sibuk merapihkan rambutnya dan pria itu.. sedang sibuk memperhatikannya dari samping kirinya. Jarak mereka tidak terlalu jauh, hanya 2 meter saja. Joe menyandarkan tubuhnya pada lemari pakaian dibelakangnya dan menyilangkan tangan. Joe tidak bisa berhenti tersenyum sambil memperhatikan gadis itu merapihkan rambutnya.
Kenapa dia melihat gue seperti itu? Gue jadi takut..
Renxa menyipitkan matanya, ia bisa merasakan bahwa pria itu selalu memperhatikannya. Ia merasa risih dengan itu, lalu ia meluruskan dan menekuk tangan kirinya hingga menutupi sisi samping wajahnya. Ia sedikit membelakangi pria itu, karena ia tidak ingin melihatnya lagi.