
B/n Renxa
" By the way, kamu masih 16 ya? " Tanya Jessica dengan penasaran sambil mengarahkan pulpen yang ia pegang ke arah Renxa
" Hhm.. iya. Lebih tepatnya, baru akan ke-17 tahun. Is there something wrong? "
" Ah.. no, no. Hhm.. would that's mean, I am older than you by one year? I'll be 19 years old, in next year.
[Apakah itu berarti, saya lebih tua darimu satu tahun? Saya akan berusia 19 tahun, pada tahun depan] "
" Huh.. " Renxa tertawa canggung kepada Jessica
" But, I'm surprised that you are young but have extraordinary brain power. You are even the youngest among our friends here.
[Saya terkejut kamu masih muda tetapi memiliki kekuatan otak yang luar biasa. Anda bahkan yang termuda di antara teman-teman kita di sini] " Jelas Jessica dengan senyum dibibirnya
" Oh.. wow, I really didn't expect.
[Saya benar-benar tidak menyangka] " Renxa mulai tidak canggung lagi tertawa bersama dengan gadis cantik yang ada dihadapannya itu
" Tentu saja.."
" Kamu tidak mau kembali ke tempat kelompokmu berada? " Renxa memberanikan dirinya untuk bertanya kepada gadis cantik yang duduk dihadapannya tersebut
" Ah.. tidak. Aku sudah terlalu malas dengan Jorgo, saat ini. After all, it's time for class to end. Yey..
[Setelah ini, saatnya kelas berakhir] " Jessica sangat bersemangat dengan mengetahui bahwa jam kelas akan segera habis dan pulang
" Okay.. " Renxa tersenyum lebar kepada Jessica yang bahagia
...°¢¢¢¢¢°
...
Jessica dan Renxa sendiri akhirnya menyibukkan diri dengan buku-buku dan kertas tugas yang ada ditangan kanannya. Tidak lama setelah itu, terdengar bel sekolah yang menandakan bahwa semua kelas berakhir dan mempersilahkan murid-muridnya untuk kembali kerumah.
Yey.. finally pulang!
" Eh.. udah bel. Aku kembali ke tempat aku dulu ya. *I'm very happy to know you and study with you..
[Saya sangat senang mengenal Anda dan belajar dengan Anda]
" Jelas Jessica sambil berdiri meninggalkan bangku Renxa*
" ... " Ia hanya tersenyum ramah kepada Jessica, karena ia tidak memiliki jawaban untuk Jessica
Mr. Harris merapihkan kembali laptop dan buku-buku dimejanya, begitupun dengan murid-muridnya. Setelah mereka semua selesai membereskan barang-barang mereka, Mr. Harris dan para murid berdiri dan memberikan salam terakhir mereka.
Renxa bangkit dari bangkunya dan memberi salam kepada Mr. Harris dan duduk kembali.
" Merci pour la rencontre, M. Harris.
[Terimakasih atas pertemuannya, Mr. Harris]" (semua murid menundukkan kepala dengan sopan)
* M. untuk Monsieur (Sir/pak)
" Nous nous rencontrerons la semaine prochaine, c'est peut-être tout votre mission de groupe.
[Kita akan bertemu minggu depan, mungkin itu tugas seluruh kelompok anda] " Tambah Mr. Harris sebelum meninggalkan ruangan
" Oui.. [Iya] "
Mr. Harris meninggalkan ruangan diikuti beberapa murid dibelakangnya. Hampir semua murid telah pergi meninggalkan kelas kecuali 3 murid lainnya. Jorgo, Jessica dan gadis sombong itu.
" Jess, ayo pulang sama aku. Aku antar kamu..." Ucap Jorgo
" Ah.. nggak perlu.. " Jawab Jessica yang membelakangi Jorgo
Setelah semua teman-temannya pergi, ia beranjak bangkit dari tempat duduknya. Ia tidak menyadari ada yang salah dengan kursinya, tetapi setelah ia mulai meninggalkan kursinya ia mendapati bahwa dress yang ia kenakan tersangkut kecil pada bagian kursi tempat ia duduk.
Awalnya ia sangat tenang dan terlihat sangat sibuk dengan dress yang ia kenakan. Namun, ia menjadi sangat panik ketika mengetahui ujung bajunya yang tersangkut begitu rapat di sela-sela kursi yang ia duduki. Ia berdiri dan menarik ringan bajunya agar terlepas dari kursi, ia tidak tau kenapa bisa bajunya tersangkut disitu. Padahal awalnya tidak ada sela untuk tersangkutnya barang apapun disana.
Ah.. sialan. Kenapa baju gue pake tersangkut juga..
" Renxa, ayo kita turun.. " Jessica terlihat berjalan menuju arahnya
" Eh.. ya. Kamu turun aja dulu, aku masih.. pokoknya duluan aja deh. Bye.." Tutupi gadis itu dengan melambaikan tangannya
" Oh.. yaudah duluan ya. Bye.. " (pergi meninggalkan ruangan)
Renxa sangat kesal dan menyerah dengan dressnya. Ia memandang sekitarnya dan ada 2 orang saja disana Jessica dan pria brengsek itu. Pandangannya kini tertuju pada pria yang berusaha mengejar Jessica yang telah meninggalkan ruangan. Ia sangat binggung apakah ia akan meminta bantuan dari pria itu atau tidak. Ia memutuskan untuk mencoba sekali lagi sampai ia benar-benar bisa melakukannya atau tidak. Sampai ia putus asa..
" Jess.. " Teriak pria itu sambil berjalan cepat menghampiri Jessica yang telah meninggalkan ruangan
Damn.. cuman dia satu-satunya cowok yang bisa gue minta bantuan.
" Um.. gue butuh.. bantuan, sedikit.. bisa nggak.. loe bantu gue? " Ucapnya dengan terbata-bata
" Katanya.. 'gue bagus dalam segala hal. Tidak ada yang perlu gue buktikan' . Mana? Ah.. urus aja urusan loe sendiri, gue sibuk.. " Dengan kesal pria itu berbalik dan berjalan menuju pintu keluar
" Huh.." Ia menghembuskan nafasnya perlahan untuk membuang fikiran negatifnya
Great.. loe bakalan tau juga kalau minta bantuan cowok brengsek itu juga percuma, kan? Sekarang mau apa.. marah? Nggak bisa..
Ia melupakannya dan segera fokus kembali dengan apa yang ada didepannya. Sebelumnya ia bisa mendengar pria itu menutup pintu didepannya dan berlari mengejar Jessica. Ia tidak ingin memusingkan apa yang baru saja terjadi.
Ia beberapa kali menarik lembut pangkal bajunya agar terlepas dari jeratan kursinya.
Kenapa ini susah banget? Padahal seharusnya nggak sesusah ini, terus harus pakai cara apa lagi coba?
Entah berapa lama ia telah berusaha, kurang lebih 30 menit ia berada disana dengan keadaan seperti itu. Karena sebelumnya ia hanya menarik dengan setengah tenaga agar bajunya tidak robek terlalu lebar, akhirnya kali ini ia memutar badannya menghadap sisi lainnya dan berjongkok. Hal ini diharapkannya akan memudahkan ia untuk melepaskan bajunya.
Dengan sekuat tenaga ia menarik bajunya kearah berlawanan dari bangkunya dan membuahkan hasil. Tetapi, karena ia terlalu keras menarik, tangannya terpental dan terbentur sela kaki meja besinya yang ternyata cukup tajam. Alhasil, tanpa sengaja pangkal sisi ibu jari tangan kirinya menyeret pada sisi tajam meja itu. Ia tidak sadar hal itu, tetapi lama kelamaan terasa sangat sakit hingga ia melihat lukanya yang tidak terlalu lebar mengeluarkan darah yang cukup banyak.
" Ow.. ah.. s-sakit.." Kata yang terucap dimulutnya
Ia terkejut dan membalikkan tubuhnya menghadap tembok belakang kelas itu. Ia menutupi lukanya agar tidak mengeluarkan darah lagi dengan tangan kanannya. Ia menahan rasa sakitnya hingga nafasnya berhembus tidak beraturan. Tanpa ia sadar, air matanya mengalir bersamaan rasa sakit yang ia rasakan. Ia memejamkan matanya dan menekan lukanya, hal ini justru membuat lukanya mengeluarkan lebih banyak darah lagi hingga menetes di lantai.
Tiba-tiba..
Renxa merasakan tubuhnya membalik arah tanpa ia inginkan, dan tertangkap dalam telinganya suara sosok seorang pria yang tidak asing..
" Are you alright?
[Kamu tidak papa] " Terdengar suara lembut serta cemas mendekatinya dan memeluknya
" Ah.. " Ia mengeluh pelan dan membuatnya menumpahkan air matanya setelah melihat siapa yang memeluknya
" G-Gue.. sakit, t-tolong.. gue.. " Tambah gadis itu dengan suara menangis tersedu-sedu dipelukkan hangat pria itu
" Hey.. hey. It's okay. " Suaranya begitu pelan dan lembut