
Beberapa detik Joe hanya menatap gadis itu. Renxa mulai terganggu dengan apa yang ia kenakan, jacket Joe mulai mengganggunya. Beberapa kali gadis itu berusaha menarik resleting jacket yang ia kenakan hingga separuh.
Apa dia juga terganggu dengan jacket itu? Haha.. sayang sekali kalau dia Renxa.
Joe mengerutkan dahinya melihat gadis itu. Joe perlahan mulai membantu gadis itu melepaskan jacketnya, ia mengangkat sedikit tubuh gadis itu dan menarik kembali jacketnya.
" Piuhh.. " Gumam kecil gadis itu, dia kembali memeluk erat gulingnya
Joe mendengarnya, ia fikir ia telah membangunkan gadis itu. Tetapi ternyata tidak, ia melepaskan kedua sepatu gadis itu dan menarik selimut hingga menutupi separuh tubuh gadis itu.
Joe membawa jacketnya dan melemparkannya pada sofa didekat meja kerjanya. Joe melihat sudah ada laptop yang menyala disamping komputernya. Ia menarik dan memutar laptopnya menghadap kearahnya.
(Ding..dong..)
Saat Joe hendak melihat rekaman cctv malam ini, seseorang menekan bell kamarnya. Suara itu membuat Joe berbalik dan mendongak.
Itu pasti mereka..
Joe berjalan menuju pintu dan membukanya. Benar saja, ada dua orang pria tampan yang berdiri didepan pintu kamarnya.
" Huuaahh.. Joe, loe sangat ceroboh." (menguap) Ujar Brian dengan malas. Ia menyandarkan tubuhnya pada dinding disisi kiri Christ
" Masuk.. " (berbalik) Joe berjalan mendahului dan membiarkan mereka masuk kekamarnya. Brian masuk kemudian diikuti Christ yang menutup kembali pintu kamar Joe
" Apa yang terjadi? " (berjalan) Saat Christ masuk, ia melihat Renxa sudah tertidur diranjang Joe
" Yeah.. gimana jelasinnya. Gue juga tidak mengerti.. " Joe berjalan menuju laptop dimeja kerjanya
" So.. Renxa, menolak loe? Bahkan disaat dia tidur? " (minum) Brian berjalan mendekati kulkas kecil disebelah tv. Ia mengambil sebotol susu dan meminumnya
" Hhm.. " Joe hanya menjawab mereka dengan gumamannya
" Ahahaha.. " Mereka berdua malah tertawa dengan keras
" Gue bahkan tidak mengerti kenapa dia tidak mau gue sentuh, bahkan disaat dia tertidur. Apa dia sebenci itu dengan gue.. " (tertawa) Joe dengan santai menanggapinya. Ia mengangkat laptopnya dan menyandarkan tubuhnya pada meja
" Apa yang loe lakukan? " Brian dengan penasaran menghampiri Joe yang sedang menatap layar laptop ditangannya
" ..." Christ baru saja akan melihat tangan gadis itu, menjadi tertarik dengan apa yang Joe sedang lakukan. Dia mulai menghampiri mereka berdua
" Oh.. ini. " Joe melihat mereka berdua berjalan kearahnya. Ia meletakkan kembali laptop itu di atas meja, sehingga mereka bisa melihatnya bersama
" Ini rekaman cctv tadi malam. Gue sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada Renxa.." Jelas Joe. Ia mulai memutar video rekaman cctv malam itu dan mereka melihatnya bersama
" ...tolong..."
" ...hahaha..."
" ...kamu tidak bisa..."
Mereka melihat semuanya dan mempercepat apa yang sedang terjadi.
" ...ayo..."
" ...are you looking for this key..."
" ...Ahh..."
" ...you can get the stick..."
" ...Ahh..."
" ...loe sangat cantik, sangat sayang..."
(Brakk..)
Joe memukul mejanya dengan keras, ia sangat marah dan benar-benar marah.
" Sialan.. " Gumam Joe dengan marah
That damn bastard! How dare he touch my girl..
[Cowok sialan itu! Beraninya dia menyentuh milik gue]
" ...damn *****..."
" ...Ah..."
" ...seharusnya lebih menghargai..."
" Yeahh.. wow! Begitulah seharusnya.." (tertawa) Brian sontak senang melihat gadis itu mengatasi masalahnya
" ..." Joe dan Christ langsung menatap Brian dengan serius
" Ah.. haha. " Brian melihat mereka dan ia langsung fokus pada rekaman cctv itu kembali
" ...minum ini..."
" ...baru saja mengenal..."
" ...tidak papa, sekarang..."
" ...pakai saja, kamu lebih... "
Setelah itu Joe segera menutup laptopnya. Mereka berdiam diri sejenak, Joe merasa sangat marah.
" Jadi ini yang terjadi. Mangkanya.. dia masuk ke-ruangan kita dengan tergesa-gesa." (menyilangkan tangan) Ujar Christ menatap gadis itu
" Hhm.. gue juga sempat berfikir, kenapa dia sangat lama dan datang tanpa memakai jacketnya.. " Tambah Brian
" Gue sangat kesal, dia membohongi gue. Gue khawatir dengan dia saat gue tanya, dia selalu bilang baik-baik saja dan tidak ada yang terjadi.." Kali ini ia menyadarinya, bahwa ia sangat marah dengan gadis itu
" Ketiga cowok sialan itu... " Joe dengan cepat berjalan menuju pintu. Christ yang ada didekatnya berusaha menghentikannya
" Joe.. Joe. Loe mau kemana dengan keadaan seperti ini?" (memegang tanganChrist dengan tenang berusaha menghentikan Joe
" Lepasin gue. Gue akan menghabisi ketiga cowok sialan itu.. " Joe berhasil menapis tangan Christ dengan keras
" Brian.. " (berteriak) Christ memberikan kode pada pria itu
Cittch.. gue tidak terima. Liat saja apa yang akan gue lakukan..
Joe dengan cepat menggapai pintu dan akan pergi dari situ. Saat ia marah bahkan untuk berfikir jernihpun ia tidak akan bisa melakukannya. Ia akan melakukan apa yang ada didalam fikirannya.
Brian melihat Joe melintasinya dan dia mengikutinya. Seketika sebelum Joe benar-benar membuka pintu, Brian menghentikan Joe dan mengatakan sesuatu yang akhirnya membuat Joe menyerah.
" Joe.. apa, apa loe mau membongkar semua identitas kita? Apa loe tidak tau, perbuatan loe bisa membuat Renxa mengetahui semuanya. Semua yang.. tidak pernah kita bahas kepada dia." (bisik) Brian memegang bahu Joe dan ia mengatakannya dengan tenang
" ..." Joe hanya terdiam. Ia berusaha menenangkan dirinya
" Baiklah, kalian menang." (berbalik) Joe berjalan menuju tempat dimana gadis itu berada
" Hahaha.. " Dengan cepat Brian berubah menjadi pria yang dekil dan blagu lagi. Sebelumnya ia terlihat sangat serius dan tidak seperti dirinya
" Dengan luka seperti itu kenapa dia terlihat biasa saja.. " Christ kembali menghampiri gadis itu
" Brian.. ambilkan P3K di ruangan ini. " Tambah Christ
" Ok, siap.. " Brian berjalan mendapatkan kotak P3K yang ada didekat meja kerja Joe dan ia memberikan kembali pada Christ
Joe membalikkan tubuh gadis itu agar Christ dapat menjangkau tangannya dengan mudah. Christ membuka perbannya perlahan dan mengamatinya beberapa detik.
Sialan, dia tidak menolak Christ! Bener-bener..
Ia sangat heran apakah gadis itu hanya akan menolaknya saja. Joe menempatkan dirinya disamping gadis itu dan melihat Christ.
" Sebenarnya lukanya sudah kering dan mulai menutup. Tapi, mungkin karena cowok itu menindasnya.. jadi separuh dari lukanya terbuka kembali. But.. it's okay, sejauh ini baik-baik saja."
Christ mengikatkan kembali perban baru ditangan gadis itu. Joe sangat lega mendengarkan hal itu, ia hanya khawatir karena saat lukanya akan sembuh pasti akan ada yang membuka luka itu kembali.
" Aah.. sakit! " Gumam Renxa dalam tidurnya. Dia menarik kembali tangannya dari Christ
Mereka terkejut karena tiba-tiba gadis itu menariknya, bahkan Christ belum selesai mengikatnya. Joe mengambil langkah, ia menarik perlahan tangan gadis itu dan mengikat perban itu dengan benar dan meletakkan kembali tangan gadis itu.
" ..." (tersenyum) Christ mengemas balik kotak yang ia pegang dan mengembalikannya kembali ketempatnya
" Okay.. apa sudah selesai? Bisa kita pulang.. " Brian terlihat sangat lelah, seharusnya sudah dari tadi mereka sampai dirumah dan tidur. Tetapi Joe tiba-tiba memanggil mereka dan memaksa mereka untuk naik menemuinya
" Oh.. sudah. Kalian bisa pergi, thanks udah bantuin gue.. " (berdiri)
" Okay, kita pulang.. " Jawab Brian
" Apa loe juga akan balik sekarang? " Tanya Christ yang mulai menjauhi pria itu
" Hhm.. gue sangat lelah.. " Jawab pria itu dengan santai. Joe juga menyadari bahwa dirinya dan teman-temannya sangat lelah. Ia hanya butuh istirahat sebentar
" Mungkin gue akan menginap.. " Tambah Joe, ia membukakan pintu kamarnya pada teman-temannya
" Eh.. loe pasti memanfaatkan keadaan ini, kan? Gue sudah menduganya.. hahaha. " (tertawa) Brian dengan polosnya mengatakan apa yang ada difikirannya
" Apaan sih, Bri? Udah pergi sana.. " Jawab Joe dengan tenang, ia mendorong Brian untuk segera meninggalkan kamarnya
" Ah.. hahaha. Udahlah Joe, gue tau apa yang ada difikiran loe.. hahaha. " Brian menolak untuk segera pergi dari kamar Joe
" Oh.. kalau begitu gue akan memberi tahu louis untuk datang ke RS bokap, gue akan menitipkan obat sama dia.." (berbalik)
" Yeah.. okay, terserah loe.. "
" Hahaha.. " Brian tidak bisa berhenti tertawa menanggapi mereka
" Huh..." Joe menghela nafas menatap sahabatnya itu
" Ahaha.. kalau begitu kita pulang dulu, Good night. Kita tidak akan mengganggu kalian.." (tersenyum) Christ segera menarik baju Brian dan berjalan meninggalkan menjauh dari Joe
" Eh.. " Brian berjalan mundur karena Christ menarik bajunya
" Oi.. singkirkan fikiran aneh kalian.." (tersenyum) Joe menyandarkan tubuhnya pada sisi pintu yang terbuka dan menatap kedua sahabatnya pergi
" Yeah.. okay, mungkin nanti.. haha." (tertawa) Jawab Christ sambil berteriak dari kejauhan