
" Sampai.. loe menjadi milik gue seutuhnya! " Joe terdengar serius dengan ucapannya dan menatap gadis itu
" ..." Mata gadis itu dan Joe bertemu selama beberapa detik
" ..." Joe membutuhkan waktu untuk mencerna kembali apa yang baru saja ia katakan. Saat menyadarinya, Joe sangat terkejut. Renxa sudah memalingkan wajah darinya dan menyandarkan kembali dahinya dimeja keramik bar itu
Arrkk.. apa yang baru saja gue katakan? You're such a dumb fool, Joe! Very stupid..
[Loe benar-benar bodoh, Joe! Sangat bodoh]
" Ehem.. maksud gue, bukankah semua anak kecil mengatakan mereka sudah dewasa. Padahal belum.." (memalingkan wajah) Sekarang dia menjadi sangat canggung, ia tidak bisa lagi menatap gadis itu
" Hhm.. loe mungkin benar! Gue masih belum dewasa.. " Gumam gadis itu yang terdengar jelas ditelinga Joe. Suara gadis itu semakin lama semakin lemah
Bagaimana hal itu bisa keluar dari mulut gue? Gue bahkan tidak menyadarinya..
" Kevin, berikan saya Whiskey Cobbler." (menutupi pandangannya dengan tangan kiri) Untuk menutupi rasa canggungnya, Joe kembali memanggil bartender-nya dan meminta sebuah minuman campuran
" Baiklah.. " Bartender segera meracikkan minuman yang pria itu inginkan
Whiskey Cobbler adalah minuman yang berbahan dasar spirit(minuman beralkohol: whiskey, wine, vodka, dll), gula, dan fresh fruit. Cobbler merupakan jenis minuman campuran yang memiliki ciri khas rasa manis dan segar. Cobbler juga merupakan minuman yang sudah ada sejak tahun 1830-an.
Tidak lama setelah itu, bartender memberikan minuman yang ia pesan tadi. Joe meminumnya perlahan, selama beberapa waktu ia tidak bisa menatap kearah gadis itu.
" ..."
" ..." Joe hanya meminum isi gelasnya dan tidak mengatakan apapun.
Lebih baik gue mengantarnya pulang..
Beberapa menit semuanya hening, Joe ataupun gadis itu tidak ada yang berbicara. Joe segera menghabiskan minumannya dan menengok kearah gadis itu. Saat menatapnya, Renxa terlihat sangat hening. Tubuh gadis itu bersandar pada meja bar dan ia sama sekali tidak bereaksi apapun. Joe tidak bisa melihat apakah gadis itu tertidur atau tidak, karena arah wajah gadis itu berlawanan dengannya.
" ..." Joe menyentuh tangan gadis itu, tetapi dia masih terdiam
" Renxa.. " (menggoyangkan) Joe tidak terlalu keras menggoyangkan tubuh gadis itu, ia hanya penasaran
Saat Joe menggoyangkan gadis itu, tiba-tiba Renxa akan terjatuh. Joe sontak terkejut dan menahan tubuh gadis itu sebelum jatuh.
Ah.. ternyata benar, dia tidur!
Joe manahan tubuh gadis itu dengan tangan kirinya, ia segera berdiri dan membenarkan posisi gadis itu dengan kedua tangannya.
" Tuan Joe, apa bisa saya bantu? " Tanya Kevin dengan penasaran, karena melihat gadis itu terus saja bergerak yang membuat Joe kesulitan menggendongnya
" Tidak perlu, saya bisa sendiri. Kamu lanjutkan saja pekerjaan kamu.. " Jawab Joe dengan datar
Joe membungkukkan tubuhnya dan membawa tubuh gadis itu. Joe menggendong gadis itu dipunggungnya.
" Hhm.. " Gumam gadis itu. Dia langsung melingkarkan kedua tangannya pada leher Joe dengan erat
" ..." Joe melirik gadis itu dengan senyum dibibirnya. Ia perlahan berjalan menuju pintu keluar
" Kita pulang sekarang.." (tersenyum)
Kedua pria diluar pintu melihat mereka dan segera membukakan pintunya. Saat Joe akan melangkah menuju lift, salah satu penjaga menghentikannya.
" Tunggu sebentar, tuan muda.." (memegang telinga) Salah seorang dari mereka mencegah Joe untuk pergi
" ..." (berbalik) Joe tidak tau mengapa mereka menghentikannya
" ...cctv-nya..."
" ...jelas, baik..."
" ...menyampaikannya..."
Mereka mendapatkan informasinya dari earpiece yang mereka berdua gunakan.
" Ada apa? Saya mau pergi.. " Joe hampir berbalik dan meninggalkan mereka, tetapi mereka menghentikannya sekali lagi
" Monitor cctv sudah bisa anda cek diruangan anda, tuan.." (menundukkan kepala)
" Oh.. "
Renxa, sorry.. sepertinya kita tidak bisa pulang sekarang. Gue harus mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan loe..
" Bawakan tas nona Nocthadhanaksa dan ikut saya naik.. "
" Baik.. " Salah satu dari mereka akan ikut Joe keruangannya dan dia segera mengambil tas yang gadis itu bawa ditangannya
Beberapa detik kemudian mereka sampai di lantai 10 dan mereka semua keluar. Lantai ini adalah zona private untuk Joe, satu lantai hanya untuknya saja. Saat masuk pertama kali dilihat adalah ruangan luas dengan lantai kayu dan meja besar dengan bunga dan buku ditengah ruangan. Pada semua sisi dindingnya memiliki pajangan, seperti lukisan ataupun hiasan lainnya. Ruangan minimalis modern, dengan nuansa kayu dan warna putih menjadikan ruangan ini sangat nyaman.
Mereka masuk dan berjalan lebih dalam hingga pada sebuah koridor yang hanya ada satu-satunya pintu disana, yang merupakan ruangan Joe sendiri. Tidak ada yang pernah masuk kelantai ini selain Joe dan staff-nya, Joe tidak pernah membawa wanita-wanitanya untuk datang kesini. Gadis itu adalah yang pertama dan.. akan selalu menjadi yang terutama.
Bodyguard itu mengeluarkan sebuah kunci kartu dan membukakan ruangan itu untuk dirinya. Pria itu sadar bahwa ia sedang menggendong gadis itu dipunggungnya, jadi ia tidak bisa membukakakan pintu untuk dirinya sendiri. Joe adalah orang yang kompetitif, ia sangat menghargai privacy orang lain dan ia juga tidak menyukai orang yang tidak mempunyai sopan santun ditempat orang lain. Maka dari itu, pintu ruangannya seperti menggunakan hotel lock management system/sistem seperti pintu dihotel. Hanya dirinya dan dua orang staff lainnya yang bisa masuk ruangan itu. Jadi jika ada orang lain yang akan masuk kamarnya, maka harus menekan bell terlebih dahulu.
" Saya akan menyiapkan monitornya.." (berbalik) Bodyguard itu berjalan menuju sisi ruangan pada meja kerja Joe yang ada disana.
Ternyata ruangan itu adalah kamar pribadi sekaligus ruang kerja Joe jika sedang ada diclub itu. Joe terkadang menginap disini jika ia sedang dalam keadaan mabuk ringan ataupun berat.
Joe berjalan menuju tempat tidurnya ditengah ruangan dan membaringkan gadis itu diranjangnya.
" Ka Joe.. ayo pulang.. " (peluk guling erat) Gumam kecil gadis itu, seakan-akan dia tau bahwa Joe tidak membawanya pulang
" ..." Joe mengerutkan dahinya menatap gadis itu
Huh.. mulutnya bilang pulang. Tapi.. kelakuannya malah kaya nggak mau pulang. Hadehh..
Joe menggeleng-gelengkan kepalanya. Saat gadis itu bergumam ingin pulang, tetapi dia malah memeluk guling dan membuat dirinya terlihat sangat nyaman tidur ditempat itu.
Mata Joe tidak sengaja menangkap tangan kiri gadis itu. Karena ia membaringkan gadis itu disisi kiri dan gadis itu memiringkan tubuhnya kekanan, maka dari itu ia bisa melihat dengan jelas tangan kiri gadis itu.
" Tuan Joe, semua sudah siap. " suara yang membuat Joe terbangun dari lamunannya dan berbalik melihatnya
" Ah.. baiklah. Kamu bisa pergi.. " Joe mengisyaratkan pria itu untuk pergi meninggalkannya
Bodyguard itu pergi meninggalkan ruangan pria itu. Joe perlahan menarik lembut tangan kiri gadis itu, tetapi Renxa selalu menarik kembali tangannya setiap kali pria itu menyentuhnya. Karena itu Joe jadi tidak dapat melihatnya dengan jelas.
Arrk.. sialan! Dia selalu saja tidak mau untuk gue sentuh, bahkan disaat dia tidak sadar..
Joe sangat khawatir dengan luka gadis itu, ia ingin melihatnya. Saat ia hendak melihat dan memperbaiki ikatannya, gadis itu tanpa sadar selalu menolaknya. Hal ini membuat Joe sangat kesal dan akhirnya ia menyerah.
Lebih baik gue minta Christ!
Joe tidak yakin apakah sahabatnya masih ada ditempat itu atau sudah kembali. Karena saat ia melihat jam di handphone-nya, waktu sudah menunjukkan hampir pukul 3 pagi. Ia menekan ID Christ dihandphone-nya dan pada detik ke kempat pria itu menjawabnya.
...
...
" Yeah.. " Jawab Christ dengan malas
" Loe sekarang ada dimana? "
" Basement.. " Jawab pria itu dengan singkat tanpa menjelaskan secara detail basement mana yang ia maksud
" Basement? Basement mana, loe fikir didunia ini cuman ada satu basement? " (berteriak)
" Hey you punk! I'm still in the basement of your club. Brian and I were just leaving, what do you need?
[Dasar berandal! Gue masih di basement club loe. Brian dan gue baru saja akan pergi, apa yang loe butuhkan] " (kesal)
" Huh? Hahaha.. sorry-sorry. Gue hanya bertanya.. " (tertawa)
" Kita mau pergi. Ada apa? " Tanya pria itu sekali lagi
" Kalian cepetan naik ke kamar gue dilantai 10. Gue butuh dokter buat Renxa! " Joe tanpa basa-basi langsung mengatakannya
" Huuaahh.. apa-apaan sih? Apa yang loe lakukan bersama dia dijam 2 pagi?" (Menguap) Christ sangat malas menjawab pria itu dan ia baru saja melihat jam ditangannya
" Ah.. udah naik aja! "
" Loe belum mengantar dia pulang? Bukannya loe sudah keluar dari tadi? "
" Belum. Ada masalah dan lukanya terbuka, gue butuh loe.. " Dengan santai Joe mengatakannya
" Aarrkk... memangnya apa yang loe lakukan pada dia? Bukannya loe sudah terlatih, tidak mungkin loe tidak bisa mengatasinya sendiri.. "
" Iya.. tapi, loe fikir untuk apa gue melakukan ini? Kalau dia mau dengan gue, gue tidak mungkin menghubungi loe. "
" Hahaha.. okay, gue mengerti sekarang. Gue naik.. " (tertawa) Christ segera memutuskan panggilan mereka dan berjalan menuju lift ditempat itu
......
...°¢¢¢¢¢°
...