MY Lovely Story

MY Lovely Story
Eps. 29



" Mr. Chatzi.. apakah anda baik-baik saja? Tiba-tiba saja saya mendengar kabar bahwa anda akan segera kesini dan bertemu janji dengan Dr. Isyana. " Tanya seorang pria berumur yang tertulis tanda pengenal Wakil Direktur RS. Laskar Pelita/ Dr. Rian Poernomo.


" Ya tuhan.. apakah anda terluka? Banyak bercak darah dipakaian anda. Suster cepat... " Tambah seorang dokter wanita cantik yang berada didepan pria itu


" Tidak, tidak. Saya baik-baik saja, seorang gadis dimobil saya yang sedang terluka ditangannya. Saya sudah mengambil janji dengan Dr. Isyana. Apakah dia sudah mengosongkan jadwalnya untuk saya? " Bantah pria itu kepada dokter serta perawat yang mengkhawatirkannya. Ia menunjuk mobil dibelakangnya kepada semua orang agar tidak salah paham.


" Baiklah. Iya, Dr. Isyana sudah mengkosongkan jadwalnya untuk anda tuan. Beliau sudah menunggu anda diruangannya. " Jawab sopan Wakil direktur RS tersebut


" Kalau begitu, tolong.. " Jorgo segera berlari bersama dengan beberapa suster dibelakangnya menuju mobil


Ia segera membukakan pintu mobilnya dan membantu gadis itu untuk turun. Perawat-perawat itu sudah siap dengan kursi roda yang akan dibawanya.


" Ayo keluar.. " Membukakan pintu mobilnya


" Silahkan nona. " Seorang suster dengan sopan menyodorkan kursi roda supaya gadis itu bisa duduk


" Ah.. tidak, tidak. Tangan saya yang sakit, bukan kaki saya. Saya masih bisa berjalan, kalian bisa menyingkirkan ini semua. Tidak perlu repot-repot, terimakasih.. " Ia terkejut dengan apa yang dilakukan perawat itu, sehingga ia menolaknya dengan sopan


" ... " Pria itu mengerutkan dahinya dan memandang gadis itu. Tanpa butuh waktu lama ia menarik kursi roda yang ada pada perawat tidak jauh darinya dan melekatkan digenggaman tangannya


" Tidak, tidak papa. Gue bisa jalan, bukan kaki gu- " Gadis itu menatap kembali pria itu, tiba-tiba tanpa ia selesai berbicara, pria itu menarik dan mendorong tubuhnya agar duduk dikursi roda yang sudah pria itu kendalikan


" Huh.. " Pada akhirnya ia tetap duduk dikursi roda itu dengan paksaan. Ia menunjukan muka cemberutnya kepada pria yang melakukan itu kepadanya


" Dari pada banyak bicara, lebih baik banyak bertindak. Benar bukan?" Pria itu berbicara dengan senyum palsu dibibirnya


Dasar cowok.. cowok brengsek! Gue udah tidak tahan bersama dengannya. Dia benar-benar brengsek! Damn.. kenapa gue bisa tidak seberuntung ini..


Dalam hati gadis itu, ia berteriak dan benar-benar marah kepada dirinya sendiri.


" Tuan muda.. serahkan nona ini kepada saya. Saya yang akan mendorongnya sampai ruangan Dr. Isyana berada. " Tawar salah seorang perawat disitu


" Ah.. tidak, tidak perlu. Gadis ini tanggung jawab saya, biar saya saja. Kalian menyingkirlah, saya akan masuk.. " Jorgo mendorong kursi roda yang ia pegang dan memecahkan keramaian


" Baiklah.. " Seluruh perawat yang ada disitu menyingkir dari hadapan pria itu dan mengikutinya dari belakang


Jika bukan karena meja itu.. gue tidak akan seperti ini. Kenapa sih dia pakai balik ke kelas segala, gue pikir dia udah pergi..


" Tanggung jawab? Emangnya dia bapak gue? " Gumam gadis itu dalam sepanjang perjalanan mereka


" Aku bisa denger.. " Tanpa memandang kearah gadis itu


" ... " Renxa mendongak keatas, kearah pria yang tidak memandangnya dengan sangat heran


" Ini.. adalah salah satu rumah sakit milik keluarga nyokap. My grandfather.. lebih tepatnya. "


" ... "


Pamer... terus aja pamer. Gue nggak tanya dan nggak mau tanya juga. Memangnya penting tau semua informasi ini..


Gue rasa tidak perlu..


...°¢¢¢¢¢°...


(Dr. Isyana Wychana's room)


" Ah.. kenapa ini sangat sakit? Ini pertama kalinya saya terluka karena ceroboh. " Teriaknya kepada dokter yang duduk dihadapannya


Wah.. sangat cantik..


" ... " Dokter tersebut hanya tersenyum lebar melihat gadis itu dan tetap melanjutkan apa yang ia harus lakukan. Seorang wanita cantik dewasa yang mendapatkan gelar lulusan terbaik dari salah satu universitas di Sydney.


Sedangkan Jorgo hanya melihat tanpa mengeluarkan kata-kata tidak jauh dari gadis yang diperiksa dokternya tersebut. Ia tidak bergerak, hanya menyilangkan tangannya dan menyandarkan tubuhnya pada dinding dibelakang tubuhnya. Beberapa kali ia melihat dokter itu tersenyum kepadanya dengan heran.


" Bukankah.. anda adalah Renxa Nocthadhanaksa Widjaya? " Tanya dokter tersebut sambil membersihkan dan mengoleskan obat antibiotik pada luka gadis itu


" Hhm.. iya. Bagaimana anda bisa mengenali saya? "


" Haha.. bagaimana saya tidak bisa mengenali putri seorang Afton Nocthadhanaksa Widjaya? Semua orang didunia ini mengenal ayah anda. Selain itu, saya pernah bertemu anda beberapa kali pada acara seminar study di Mexico beberapa tahun yang lalu. Saya kira saat itu anda masih sangat muda.. "


" Ah.. maaf, saya tidak bisa mengingatnya. Terlalu banyak orang yang saya temui hingga saat ini. " Ia tertawa canggung kepada wanita itu


" Tidak, tidak. Saya mengerti itu, wajar jika anda tidak mengingat saya. "


" Baiklah.. saya sudah selesai. Anda tidak perlu terburu-buru, anda bisa beristirahat sejenak. " Tambah wanita itu yang beranjak dari kursi yang ia duduki untuk menyelesaikan beberapa hal dengan perawatnya.


" Hhm.. lebih baik. Terimakasih dokter.. "


Huaa.. sakit, sakit. Ini pertama dan terakhir di hidup gue.. harus diacak-acak. Huu.. tidak bisa, tidak bisa lagi.. jika saja dokter Isyana tidak halus dan lembut gue pasti udah pingsan saat ini juga. Mama.. sakit.


Gadis itu mengangkat dan memandang sejenak luka yang telah dibalut dengan perban bersih. Ia berusaha menghilangkan rasa sakit itu dengan mengusap lembut area sekitar lukanya.


Jorgo berjalan perlahan menghampiri gadis itu dan memastikan keadaannya.


" Gimana? Udah.. "


Dokter itu berbalik, berjalan dan menyela pembicaraan mereka. Mereka mendongak dan terkejut dengannya.


" Tidak perlu khawatir.. kamu membawanya tepat waktu. Sudah lama tidak melihatmu kemari.. "


" Yeah.. karena tidak ada alasan untukku kemari. " Jorgo menegakkan tubuhnya dan menjawab dokter itu dengan tenang


" Hhm.. aku pikir, pertama kali kamu datang hari ini. Dengan bekas darah diseluruh pakaianmu.. hampir saja membuatku khawatir. " Wanita cantik tersebut kini duduk di kursinya


" Tidak perlu khawatir, aku sudah tidak seperti yang dulu. Bagaimana kabarmu? " Ia berjalan menghampiri wanita cantik tersebut dan duduk dihadapan meja dokter tersebut


" Fine.. I'm fine. Dirimu sendiri? Dengan keadaan.. seperti ini.. " Dengan heran ia menunjuk kearah pakaian yang dikenakan pria tersebut


" Hah.. " Ia menghembuskan nafasnya sejenak


" Aku baik-baik saja. Soal luka gadis itu bagaimana? Apakah itu parah? " Tambahnya


" Tidak, tidak. Dia baik-baik saja, lukanya memang cukup lebar hingga hampir ke pergelangan tangannya dan dalam. Maka itulah alasan kenapa darah terus saja keluar dari lukanya, apakah itu terkena.. seperti benda tajam.. atau hal lainnya? "


" Iya, ada sesuatu yang tajam tidak sengaja mengenai tangannya. Beruntung aku sampai padanya tepat waktu. "


" Oh.. baiklah. Aku bisa mensyukurinya.. "


" Nona Nocthadhanaksa.. " Tambah dokter itu yang memanggil gadis yang duduk diranjang rumah sakit. Gadis itu terlihat mengusap lembut area sekitar lukanya dan terkejut mendapati seseorang memanggilnya


" Y-ya.. ada apa? " Ia terkejut dan sontak langsung berdiri dari tempat ia duduk