
Tersenyum? Ah.. kenapa gue harus mengenal dia? Menyesal..
Padahal masih banyak pria didunia ini.. kenapa harus dia?
" Loe.. menyapa semua orang, kecuali gue.. " Ia menyindir secara terang-terangan kepada gadis itu. Ia tersenyum puas saat melihat gadis itu meliriknya dengan kesal
" Maaf.. saya tidak mengacuhkan anda. Tetapi.. andalah yang mengacuhkan saya!" (menekankannya)
Semuanya tertawa mendengar pernyataan Renxa kali ini. Mereka semua sangat terhibur dengan perkataannya, Joe juga akhirnya bisa tertawa dengan wajah dinginnya.
Gue pikir tidak bisa tertawa.. haha..
Ia tersadar dengan apa yang baru saja ia katakan dan menjadi malu. Ia juga ikut tertawa dengan mereka semua.
" Seharusnya.. kamu, mengatakannya. Jika kamu ingin aku perhatikan.. " Jawab Joe dengan tenang, ia menarik tangan kanan gadis itu untuk lebih dekat dengannya
" Eh.. " Renxa terkejut, tangannya ditarik Joe tiba-tiba. Pria itu sebenarnya ingin meraih tangan kirinya, tetapi pria itu harus membuatnya lebih dekat dengannya agar bisa meraih tangan kirinya
" Kalau tidak bisa.. jangan dipaksakan. Gue tau.. tangan loe sakit lagi, kan? " Tanpa ragu ia meraih pergelangan tangan kiri gadis itu
" ..." Renxa tidak melawan terhadap Joe kali ini. Joe meraih tangannya dan pria itu melipat lengan hoodie panjangnya sedikit agar pria itu bisa melihat lukanya
" Loe seharusnya lebih hati-hati, bagaimana bisa seperti ini? Kenapa loe begitu ceroboh dengan tubuh loe sendiri? " Joe menegur gadis itu, ia mengusap lembut perban yang menutupi tangan kiri gadis itu. Ia melihat perbannya telah ada bekas-bekas noda darah baru
" ..." Renxa berusaha untuk tidak memperdulikan pria itu, ia hanya menyipitkan matanya dan tidak ingin memandang wajah Joe
" Apakah itu sakit? Kenapa bisa terjadi? Loe memangnya ngapain.. " Tanya G-ra yang berdiri dari kursinya dan mendekati Renxa
" Ah.. tidak, tidak. Ini tidak sakit, sebenarnya.. cuman kecelakaan saja. Tidak perlu dibesar-besar kan. " Jawab gadis itu kepada G-ra dengan senyum lebar dibibirnya. Ia hendak menarik kembali tangannya, tetapi Joe menahan pergelangan tangannya sedikit lebih kuat lagi agar ia tidak bisa menariknya.
Joe terlihat sangat cemas, pria itu tidak menyadarinya. Beberapa saat kemudian, ada seorang pria yang mendatangi meja mereka. Pria itu berpakaian rapi dan sopan menyapa mereka dengan membawa sebuah tas plastik kecil ditangan kanannya.
" Selamat malam, tuan muda nona muda. Ini barang yang anda minta. " Pria itu menundukkan kepalanya dan merendahkan suaranya dengan sopan. Ia menyodorkan tas plastik itu kepada Joe.
" Sudah lengkap? Semuanya yang saya inginkan, kasa, antibiotik?" (Meraih tas itu)
" Sudah, seperti yang tuan muda inginkan. " Pria rapi tersebut adalah asisten pribadi Joe di Indonesia, sekaligus tangan kanan Joe di perusahaan ayahnya.
" Louis, kamu bisa pergi.. "
" Baik, selamat malam. " Ia mundur perlahan dan berbalik dengan sopan
" Huh? Buat apa ka Joe beli ini? " Renxa binggung karena tiba-tiba saja pria itu membawa kebutuhan yang ia butuhkan
Jangan bilang buat ini.. please!
Pikir gadis itu
" Buat loe! "
" Huh? Sejak kapan.. " Belum selesai ia mengatakannya, Joe sudah memotong pembicaraan
" Gue hanya menyediakannya, bukan gue yang akan merawat luka loe. Christ.. yang akan melakukannya. Tidak perlu cemas, bokap dia dokter profesional.. dia pasti mewarisi ayahnya!" Joe mengubah nada pembicaraannya menjadi datar kembali, ia menyangkal semua perasaannya
" Huh? G-gue.. " Sedangkan Christ jauh terlihat binggung dengan apa yang Joe katakan. Sebelumnya Joe tidak mengatakan kepadanya mengenai hal ini.
Hurf.. emang siapa yang mau minta loe ngrawat luka gue? Hhm..
Pikir gadis itu dengan binggung. Setelah mendengar Joe mengatakannya, ia merasa sangat lega karena bukan dia yang melakukannya. Ia dengan senang hati menarik kembali tangan kirinya dari Joe dan menggeser kursinya mendekat ke kursi Christ. Tanpa berkata-kata ia melakukannya dengan senyum lebar penuh arti.
" Eh.. " Joe terkejut tiba-tiba saja gadis itu menarik tangannya. Ia bisa melihat betapa cepatnya gadis itu menghindarinya dengan senang. Ia menghembuskan nafasnya dan menyipitkan matanya
" ..." Tanpa memperdulikan Joe
" Cittch.. lembut banget dia? " Gumam Joe dengan kesal kepada gadis itu, ia menyandarkan kembali punggungnya ke kursi dan menatap Christ dengan kesal
" Ah.. haha." Christ tertawa canggung kepada gadis itu dan beberapa kali melirik kearah Joe yang marah
G-ra adalah satu-satunya orang yang tertawa dengan gembira disana, ia merasa menjadi pertengahan antara mereka bertiga. Suasana Joe dengan awan hitam dan awan biru pada Renxa. Christ tidak bisa menolaknya begitu saja, tetapi ia merasa canggung kepada Joe saat ini.
" Joe.. apa gue.. " Dengan ragu
" Ya.. ya, ya. Silahkan, apa hak gue melarangnya. " Ia tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya kepada semua orang. Bahkan gadis itu tidak memandangnya sama sekali, ia melempar asal tas plastik yang diberikan asistennya kepada Christ dan Christ berhasil menangkapnya
" Haha.. loe seperti anggur masam! " Gumam Christ dengan pelan dan menahan tawanya
" Hah.. ka Christ ngomong apa? Gue nggak dengar. " Tanya Renxa dengan penasaran, ia tidak bisa mendengar gumaman Christ dengan jelas walaupun ia berada disebelah pria itu. Tetapi, Joe mendengar dengan jelas apa yang Christ ucapkan, ia hanya menggelengkan kepala dan memalingkan wajahnya
" Ah.. nggak, nggak. Mana, gue mau lihat tangan loe.. " Christ membuka tas plastik ditangannya dan menaruhnya dimeja
" ..." Renxa menyodorkan kembali tangan kirinya kepada Christ
Christ perlahan membuka ikatan perban ditangan gadis itu. Ia mulai membersihkan luka dan noda darahnya dengan kasa steril baru. Beberapa detik ia mengamati luka yang cukup panjang ditangan gadis itu, ia cukup tenang dan hening saat berkonsentrasi. Christ memiringkan kepalanya dan menyipitkan matanya kepada gadis itu. Renxa terkejut, ia beberapa mengedipkan dengan cepat bulu matanya kepada Christ, ia tidak mengerti kenapa pria itu melihat lukanya setelah itu melihat kearahnya.
" Kenapa? " Renxa tidak yakin dengan apa yang ia fikirkan, pria itu tetap melihatnya dengan heran
" Enggak.. maksud gue, kenapa loe bisa seceroboh itu mendapatkan luka seperti ini. Hhm.. gue rasa, loe begitu ceroboh lagi membuat luka loe terbuka kembali. " Ujar pria itu yang ini memfokuskan dirinya pada luka gadis itu kembali
" Memangnya separah itu? Apa lukanya baru saja terbuka karena tadi? " Tanya G-ra dengan ppenasaran
" Hhm.. tidak, bukan malam ini. Rasanya seperti ada jeda waktu.. mungkin kemarin? Apa gue salah.. " Jawab Christ
" ..." Renxa terkejut, baru saja terpikirkan kembali olehnya kejadian waktu itu. Ia hanya diam menatap luka ditangannya
" I think.. luka loe sebenarnya sudah pada tahap proliferatif atau pembentukan jaringan baru. Kolagen mulai tumbuh didalam luka yang memberikan kekuatan dan tekstur baru pada kulit. Tapi, karena sebelum selesai luka loe berbuka kembali, jadi.. mungkin akan memakan waktu lagi. " Christ mengoleskan antibiotik pada luka gadis itu dengan hati-hati, selanjutnya ia menutupnya dengan kasa dan dibalut perban baru
" Hah.. kenapa loe pintar banget sih ka Christ? Sampai hal sedetail itu bisa tau.. iya, kemarin tidak sengaja gue membenturkan tangan gue pada meja dikamar gue. " Ia melihat Christ sedang melilitkan perban baru ditangannya
" Okay.. terimakasih! " Ucap gadis itu dengan senyum lebar. Ia segera menarik tangannya dari pria itu sesaat setelah selesai merekatkannya
" Terus.. imbalan gue apa? " Canda Christ pada Renxa
" ..." Mata Joe langsung mencari keberadaan Christ. Ia menengok dan mengerutkan dahinya kepada sahabatnya
" Huh? Imbalan.. " Ia dengan santai memperbaiki letak kursinya kembali pada tempatnya, ia mulai menjaga jaraknya kepada kedua pria itu
" Hhm.. minta ka Joe! Haha.. " Renxa tidak sengaja melihat Joe yang menatap Christ, lalu tanpa sadar ia langsung menyebutkan nama pria itu tanpa canggung
" ..." Joe kini berbalik menatap gadis itu
" Yey.. sudah selesai, gimana kalau kita mulai pesan makanan? Gue udah lapar.." G-ra melihat jam ditangannya dan menengahi suasana
" Yeah.. kalau begitu, malam ini gue traktir gimana? " Dengan gembira
" Yey.. boleh, boleh. Eh.. hhm.. nggak jadi deh, biar kakak gue aja gimana? Kan ada dia disini, ya kan Joe.. hihi. " Sindir G kepada kakaknya, Joe tidaklah terlalu menanggapi perkataan adiknya
" ..." Joe hanya melihat adiknya dengan datar
" Ah.. nggak usah. Kalian udah bantu gue, jadi kali ini saja.. " Jelas gadis itu dengan canggung
" Yaudah.. " Mereka mulai memilih menunya masing-masing
...°¢¢¢¢¢°...