MY Lovely Story

MY Lovely Story
Eps. 15



[Kediaman Nocthadhanaksa, Indonesia]


(7.14 AM)


" Huh.." (Melemparkan tas dan sepatunya)


Renxa membaringkan tubuhnya diranjang kamarnya sendiri. Ia dan G-ra bangun lebih awal pagi ini, sebenarnya memang ia sudah merencanakan akan kembali kerumah pagi hari sebelum yang lainnya bangun. Ia tidak bisa jika harus berlama-lama dirumah itu dengan pria yang gila. Ia bangun pukul 6.25, tetapi G-ra sudah lebih dulu bangun dari tempat tidurnya. Hal itu membuatnya menjadi jauh lebih mudah untuk berpamitan, tanpa mandi dan berganti pakaian ia segera pergi meninggalkan rumah itu.


Sebenarnya ia telah membuat beberapa janji temu dengan G-ra beberapa hari kedepan. Tetapi sebelum itu ia harus segera menyelesaikan semua tugas-tugas sekolahnya, karena saat ini dia sudah berada pada kelas 12 SMA maka ia harus mempersiapkan ujian kelulusannya. Ya.. dia seharusnya belum pada kelas 12, tetapi karena semua nilainya jauh lebih unggul dari teman-temannya maka ia diberikan beberapa tes oleh pihak sekolahnya sehingga ia bisa langsung melompati 2 kelas sekaligus saat itu. She's good at all, dan ia sangat menyukai kelas bahasa terutama bahasa Belanda. Ia sangat ingin untuk bisa masuk salah satu universitas di Belanda tahun depan.


Sesaat memikirkan masalahnya ia secara tidak sengaja kejadian malam kemarin melintas dibenaknya. Ia memiringkan tubuhnya dan berfikir bahwa harum aroma tubuh pria itu masih bisa ia rasakan dipunggungnya. Harum aroma yang begitu khas dan menggambarkan seorang Joe Arvadhafiose, begitu seksi dan menggoda-nya. Jika Joe menyukai aroma tubuhnya, maka begitu pun dengan dirinya, ia sangat-sangat menyukai aroma tubuh Joe dan ia bahkan tidak bisa melupakan sensasi aromanya.


No! Renxa, come'n jangan bermimpi deh...


Ia rasa sudah cukup untuk tubuhnya beristirahat dan fikirannya yang entah kemana arahnya. Ia mulai bangkit dari ranjangnya dan menanggalkan robe-nya lalu berjalan menuju kamar mandi.


Setelah selesai membersihkan diri, ia mulai berjalan dengan rambutnya yang basah kuyup menuju meja riasnya untuk mengeringkannya. Sebenarnya ia bukanlah tipe remaja yang suka merias diri dengan make up, ia hanya membutuhkan meja rias untuknya saat setelah mandi baik itu untuk mengeringkan rambut, meng-hair styling rambutnya sesuai keinginannya. Mejanya tidaklah penuh dengan make up, hanya beberapa lip cream/lip tint, bedak/foundation, and face cream-nya. Itu pun hanya beberapa yang ia pakai, terkadang ia tidak menggunakan make up saat pergi. Karena mungkin ia masih remaja maka dari itu ia masih belum tertarik dengan mempercantik diri seperti wanita-wanita lainnya, ia akan menggunakan make up apabila terlibat dalam acara-acara penting.


Suara bising dari hairdryer memenuhi ruangan, ada suatu suara kecil yang mengetuk pelan pintu kamarnya. Ia segera mematikan hairdryer ditangannya untuk mendapati siapa dibalik pintu itu.


" Permisi, nona Renxa. Sarapan sudah siap, nona bisa turun sekarang." Suara salah seorang pelayan dengan sopan


" Oh.. iya, nanti aku turun habis keringkan rambut." Jawabnya dan menyalakan pengering rambutnya kembali


" Baik, saya permisi dulu."


Renxa membutuhkan waktu beberapa menit untuk menyelesaikan hal itu. Setelah semua rambutnya telah kering, ia menjepit sebagian rambutnya ke atas agar ia tidak terganggu saat sarapan nanti. Ia berjalan meninggalkan kamarnya dan menuju ruang makan yang ada dibawah.


Nocthadhanaksa's dining room family menggangkat karakter Natherland classic minimalist room[Ruangan minimalis klasik Belanda]. Ciri khas dari ruangan ini yang mencerminkan klasik gaya Belanda adalah terlihatnya karakter dari jumlah kaca jendelanya yang tegas serta pintu kayu besarnya. Warnanya seringkali menggunakan warna yang netral dan terang, baik pada interior maupun eksterior ruangan. Tetapi dengan adanya tambahan aksen minimalis ruangan, maka 'The White navy room' menjadi pokok utama ruangan ini. Untuk menjaga ruangan tetap formal, mereka mengaplikasikan warna putih bersih pada dinding-dinding serta langitnya bersamaan beberapa ukiran pada dinding dan langit yang tidak tertupi dengan lukisan-lukisan artistik.


Penambahan warna navy blue pada kursi dan karpet bulu menjadikan aksen modern minimalist. Ruangan yang luas dengan meja panjang tepat ditengah ruangan, serta pengaplikasian crystal chandalier panjang berwarna biru awan/clear blue diatas meja yang mengikuti panjangnya meja ruangan. Dekorasi meja yang sangat rapi, dengan 3 vas bunga mawar putih disetiap 3 sisi meja memecahkan kesan navy-nya dan menyatu dengan tema utama. Terdapat dua jendela kaca besar yang menjadi penerangan alami ruangan dengan pemaduan korden putih biru. Pemilihan alas mejanya menjadi penghias utama yang menimbulkan kesan mewahnya, warna white gold menjadi pilihan yang tepat melampirkan sisi-sisi kosong meja.


Semua kondimen ada pada makanannya, termasuk dengan secangkir cappuccino dan orange juice. Ia melihat semua sarapannya dan menyipitkan mata, ia rasa ada yang kurang dari semua menu yang disajikan pelayannya.


" Eh.. excuse me. Something is missing here, please tell Lydia's chef that I also want the Swedish Meatball.


[Permisi. Ada yang kurang disini, tolong katakan kepada Chef Lydia, aku menginginkan Swedish Meatball juga] " Tegurnya kepada pelayan yang menyajikan makanan untuknya.


" ..." pelayan itu mengangguk pelan dan mulai meninggalkan ruang itu


Renxa sangat menyukai setiap jenis makanan umum didunia, disetiap negara ia memiliki makanan favorite-nya. Salah satunya Swedish Meatball, menu ini merupakan makanan khas dari Swedia. Sebuah olahan daging kasar yang dibentuk menyerupai bola(bakso), olahan daging ini disajikan bersamaan dengan saus kental yang sangat memanjakan cita rasa, biasanya juga disajikan bersamaan dengan salad dan mashed potato. Swedia merupakan negara yang terkenal dengan meatball-nya, jadi tidak salah jika Swedish Meatball merupakan icon negara ini.


Renxa bukannya tidak suka dengan menunya yang sebelumnya, ia sangat menyukai juga. Tetapi jika melihat Scandinavian breakfast ia pasti sudah memikirkan setiap menu yang ada di Scandinavia.


Dengan memandang menunya saja membuat gadis itu tidak sabar untuk mencicipinya.


" Wah.. kali ini ada Flaeskesteg dan Risalamande, suka-suka. Biasanya waktu malam natal aja gue makan." Ujarnya dengan mulut terbuka lebar dan pisau serta garpu dikedua tangannya


Pertama-tama ia menikmati hidangan utamanya terlebih dahulu sebelum pada dessert-nya.


" Wah.. Flaeskesteg-nya enak banget. Terakhir makan kapan ya? " (dengan mulut yang penuh)


Ia sangat menyukai Flaeskesteg-nya, karena sensasi daging gurih dan manisnya meleleh dilidahnya. Kira-kira 20 menit setelah ia menikmati Flaeskesteg-nya dan masih belum selesai, seorang pelayan memasuki ruangan dengan hidangan yang ia pesan secara khusus dan menyajikannya.


" Uh.. Swedish Meatball, aromanya! " Ujarnya sambil meletakkan peralatan makanan yang sebelumnya dan beralih kemenu yang sangat ia inginkan


Ia menyantap semua makanan yang disediakan dengan senang hati. Ia menikmati setiap menit waktunya yang ditemani oleh makanan-makanan yang ia sukai. Setelah ia hampir menyelesaikan sarapannya, ia teringat bahwa ada suatu hal yang harus dia kerjakan dan memutuskan untuk segera menyelesaikan sarapannya. Semua pelayan diruangan itu melihat bahwa nona mudanya sudah selesai dengan sarapannya dan beranjak dari kursi tempatnya duduk. Dengan segera sebagian pelayan mempersilahkannya untuk meninggalkan ruangan dan sebagiannya lagi membereskan meja tempatnya makan.


Gadis itu perlahan meninggalkan ruangan dan menuju kamarnya. Ia harus mengerjakan sesuatu, sekaligus semua pekerjaan sekolahnya minggu ini. Karena ini sudah hari kamis, ia harus menyelesaikannya dan pada hari berikutnya ia harus mengumpulkannya sendiri.