
Mata Renxa berat rasanya, ia tidak ingin mendebat pria itu lagi. Ia menyerah dan mengikutinya, dalam perjalanan pulang ia bermaksud hanya memejamkan matanya sampai mereka sampai nantinya. Ia tidak menyadarinya bahwa ia tertidur dalam perjalanan pulang.
Tidak lama setelah ia memejamkan matanya, ia sedikit tersadar. Ia merasakan dahinya membentur sesuatu yang hangat, rasanya sangat sesak. Ia tidak bisa bergerak, saat ia mulai merasakan dirinya, ia telah berada ditempat tidur. Saat setengah sadar tidurnya, pada awal ia tidak menyadarinya. Menyadari ada seseorang yang memeluknya.
" Hhm.. hangat.. " Gumamnya tanpa sadar
Beberapa detik kemudian ia menyadari ada yang salah dengan tidurnya. Semakin yakin saat ia benar-benar bisa mendengar sebuah detak jantung pada manusia. Selain itu, hal pertama yang ia sadari adalah aroma harum dari benda yang menempel pada tubuhnya. Ia merasa bahwa pernah menciumnya sebelumnya, tetapi ia terlalu lelah untuk mengingatnya.
Detak jantung? Sejak kapan guling gue sehangat dan nyaman ini?
Aroma ini.. tidak asing di hidung gue.
Ia semakin sadar dari tidurnya saat merasakan seseorang sedang mengelus rambutnya beberapa kali.
Pertama kali ia membuka matanya, ia hanya bisa melihat bagian dada orang tersebut. Satu hal yang pasti, ia bisa mengenali baju yang dikenakan orang itu yang merupakan pakaian yang sama oleh pria itu, pria yang menyebalkan. Ia berusaha menyadarkan dirinya sepenuhnya, perlahan ia mendongak melihat wajah pria itu.
K-ka Joe? Bagaimana bisa..
Setelah menyadari bahwa pria itu adalah Joe. Renxa berteriak terkejut dan langsung mendorong tubuh Joe menjauhi tubuhnya. Ia segera bangun dan duduk menjauhi pria itu.
" ..." Joe terkejut dan mengangkat tangannya
" Aa.. ka Joe, kenapa bisa disini? " Renxa segera duduk dan mundur perlahan, ia segera menarik semua selimutnya mendekatinya
" ..." Joe tersenyum dan dengan santai ia membenarkan posisi tidurnya dikasur gadis itu seakan ia tidur ditempat tidurnya sendiri
" Huh? Ih.. ini tempat tidur gue, kenapa loe bisa ada disini? " Tanya gadis itu dengan panik
" Hhm.. kenapa ya? " Dengan santai Joe menutup matanya dan tersenyum tipis
" Eh.. gue serius. "
" Hhm.. gue juga serius. Loe sendiri yang mau gue tidur dengan loe tadi, apa loe tidak ingat? Atau.. loe pura-pura tidak ingat. "
" Apa? Gue tidak melakukan itu, lebih baik loe pergi! Ini sudah tengah malam lewat.. pergi! " Ia berusaha mendorong Joe pergi dari tempat tidurnya tetapi Joe menolak
" Udahlah.. gue tidak keberatan jika menginap disini. Lagipula.. bukannya loe juga menginginkannya. Haha.. " Joe menggoda gadis itu dan tertawa lebar
" Uh? Apa? Tidak, tidak. Gue tidak pernah berfikir seperti itu dan hanya loe yang dapat berfikir seperti itu, tidak dengan gue.. "
" Oh.. kalau begitu, kenapa loe menarik gue mendekati loe? Kalau loe sendiri tidak menginginkannya.. " Joe tersenyum disudut bibirnya, sebenarnya ia tau betul bahwa gadis itu tidak sengaja melakukannya
" Aa.. gue tidak pernah melakukannya! K-kalian.. kenapa kalian diam saja? Cepat bawa pria brengsek ini pergi.. " Renxa sangat marah, saat ia mendongak dan melihat keluar kamarnya. Ia melihat ada beberapa pelayan dan penjaga yang berada didepan kamarnya. Ia berfikir kenapa mereka tidak mencegah pria itu, bahkan mereka tidak berani melihat kearahnya dan Joe.
" ..." Joe juga melirik kearah pelayan-pelayan itu saat gadis itu memerahi mereka. Ia hanya tersenyum melihatnya.
" Mereka tidak akan berani melakukannya. Tanpa seizin gue.. mereka tidak akan pernah berani memandang kita. Hahaha.. " Tambah Joe dengan tenang
" Aa.. pergi! Pergi.. pergi.. gue harus bangun pagi besok! " (Mendorong)
" Ah.. iya, iya.. gue pergi. " Tanggap Joe tersenyum kepada Renxa. Ia akhirnya menyerah dan bangkit dari tempat tidurnya
" Yakin.. tidak mau ka Joe temenin? " Canda Joe berbalik kepada gadis itu
" TIDAK! " Jawab gadis itu
" Kenapa? Beneran, gue pulang? " Joe memastikannya sekali lagi
" Loe GILA? Gue bilang pergi!" Renxa melemparkan bantal dan gulingnya pada Joe
" Hahaha.. iya-iya. Pergi.. " Joe mengindarinya, ia tertawa meninggalkan ruangan itu
Tidaklah mungkin gue yang memulainya.. pasti dia! Gue yakin..
Tidak lama Joe mulai meninggalkan kamar, salah satu pelayan perlahan menutup pintu kamarnya. Renxa bernafas lega dan membaringkan dirinya kembali diranjangnya, ia memejamkan matanya sejenak dan berusaha mengingat semuanya. Beberapa menit setelah memejamkan matanya, ia mulai mendapatkan ingatannya kembali.
" Huh? " Renxa terkejut dan langsung bangun dari tidurnya. Ia baru saja menyadari kalau Joe tidaklah bohong, kali ini dirinya yang menarik tangan Joe
Ah.. bodoh! Kenapa bisa-bisanya gue melakukan ini padanya.. kenapa tidak dengan orang lain? Hihihi...
Renxa menahan tawanya dengan tangan. Ia baru saja mengingatnya, awalnya saat Joe menyelimuti tubuhnya, ia mengira dirinya sendiri yang melakukannya dan bermaksud untuk meraih gulingnya. Tetapi ia salah mengira Joe adalah gulingnya dan menarik paksa pria itu.
Renxa bangkit dari tempat tidurnya dan menuju ruang ganti disamping kamar mandinya. Ia berniat untuk mengganti pakaiannya, tidaklah mungkin ia akan memakai pakaian itu untuk tidur.
(Ceklek.. ciutt..)
Saat ia akan menanggalkan hoodie-nya dan memasuki ruang ganti, seseorang membuka pintu kamarnya dengan pelan. Ia mendengarnya dan mendongak melihatnya.
" ..." Seorang pria berjalan memasuki kamar pribadi gadis itu
" Ka Joe! " Teriak gadis itu dengan kesal
Ia tidak mengetahuinya, Joe kembali dan berjalan memasuki kamarnya. Saat ia mulai mendapati seseorang tersebut, ia sangat terkejut. Joe kembali kekamarnya dan menemuinya. Ia sangat kesal dengan Joe dan mendorong Joe keluar dari ruang gantinya.
Ah.. untung saja gue masih belum melepaskan apa-apa..
Renxa langsung membanting pintu ruangan itu saat mendorong Joe keluar.
" Loe mau ngapain disana? Wah.. sayang banget, seharusnya gue datang sedikit lambat tadi. Jadi gue ada diwaktu yang tepat.. hahaha.. " Joe menyandarkan tubuhnya pada pintu yang ditutup rapat oleh gadis itu
" Oihh.. dasar cowok brengsek! Loe sangat menyebalkan.. " Teriaknya kepada Joe. Ia sangat kesal dengan apa yang dilakukan Joe kepadanya
" Hahaha... " (tertawa) Joe mulai menjauhi pintu ruangan tersebut
" Apa loe tidak punya etika? Seharusnya loe mengetuk dulu sebelum masuk keruangan orang lain." (Membuka pintu) Renxa berteriak kepada pria itu, ia tidak jadi untuk mengganti pakaiannya sementara hingga pria itu benar-benar pergi
" Cittch.. " (membuang muka)
" Mau apa lagi ka Joe datang kesini? Mau gangguin gue? "
" ..." Joe melemparkan topi gadis itu yang tertinggal dimobilnya, sebelumnya ia melepaskan topi gadis itu karena terganggu. Setelah melemparkannya ia berbalik dan berjalan menuju pintu
" Eh.. " (menangkap)
Topi gue? Sejak kapan ini ada padanya?
Renxa meraba kepalanya dan tidak menemukan topinya terpasang. Ia tidak sadar topinya sudah tidak padanya. Ia lega saat melihat Joe yang perlahan meninggalkannya.
" ..."
" ..."
" Oh ya.. gereja loe.. mulai jam berapa? " Joe berbalik dan menanyainya tiba-tiba
" Jam 6 pagi. Kenapa, mau ikut? " (tersenyum) Tanya santai gadis itu tanpa berfikir
" Hhm.. boleh juga. Okay, besok gue jemput!" (berbalik dan berjalan)
" Ah? A-apa? Beneran.. gue cuman bercanda. " Renxa terkejut, ternyata pria itu menanggapinya dengan serius
" Iya, gue jemput besok. Gue pergi.. " Joe terlihat serius dengan apa yang ia katakan
" Loe serius? Kenapa loe tidak ibadah digereja loe sendiri? Kenapa harus ikut gue.. "
" Soal Tuhan gue serius.. " Joe berbalik dan menatap gadis itu dengan tajam
" ..." Renxa tidak tau apa yang harus ia katakan lagi. Joe sekali lagi membuat jantungnya berdetak kencang, ia sangat menghargai apa yang baru saja Joe katakan
" Beberapa minggu ini gue.. belum sempat ikut ibadah. Gue.. hanya ingin ibadah dan menemani loe, apa tidak boleh? "
" Hhm.. i-iya, boleh. " Renxa membalikkan dirinya agar tidak menatap pria itu
" ... " Joe tersenyum lebar melihat gadis itu
" Besok gue akan menjemput loe lebih awal, agar kita tidak datang terlambat." Joe berbalik dan berjalan meninggalkan gadis itu. Joe perlahan mulai menutup pintu kamar gadis itu
" ..."
...□■□■...