MY Lovely Story

MY Lovely Story
Eps. 39



B/n Joe


(Carlton Place Restaurant)


9.34 AM



" Ah.. tidak, tidak. Gue hanya memastikan saja. Kalau begitu, gue pergi dulu ya. Dadah.. "


" Eh.. tunggu.. du- "



" Haha.. " serentak semua orang tertawa dengan begitu keras melihat Joe


Gadis itu telah menutup telepon-nya sebelum ia selesai berbicara. Ia tersenyum sinis melihat handphone-nya, hampir ia akan segera melemparkan handphone ditangannya. Ia sangat kesal dengan yang gadis itu lakukan kepadanya.


" Huh.. " (menatap handphone-nya dan akan melemparnya)


" Eits.. " Suara dekil seorang Brian Acharzia, ia menghentikan apa yang akan Joe lakukan


" Kenapa? Ditolak? " Christ mengangkat salah satu alisnya dan bertanya kepada Joe yang duduk didepannya


" Ah.. udah pasti itu mah. " Tambah Brian yang tertawa keras dengan segelas red wine ditangan kirinya


Joe dan teman-temannya sedang menikmati sarapannya disebuah restoran mewah bintang 5. Restoran yang pengolahan makanannya dilakukan oleh seorang Chef dengan gelar Michelin. Bagi yang sedikit binggung, Michelin adalah gelar profesional tertinggi didalam industri kuliner. Gelar ini sangatlah ekslusif dan prestugius, masih sedikit restauran Indonesia yang menyandang gelar ini dan kebanyakan berada di luar negeri.


Mereka beristirahat dan mampir untuk sarapan di restoran ini, sesaat setelah mereka menyelesaikan urusan pribadi mereka. Sebelumnya, Billan pagi ini menelepon-nya untuk membahas pekerjaan mereka diluar negeri yang telah Billan selesaikan. Tetapi, Billan juga mengatakan bahwa adik Billan kini sedang terluka, dia sangat mengkhawatirkan adiknya. Billan mengatakan agar Joe bisa melihat keadaan adik kecilnya tersebut, tetapi sepertinya gadis itu tidak ingin lagi berurusan dengannya lagi. Entah apa yang difikirkan gadis itu, ia juga tidak mengerti.


" Jarang banget gue liat loe kaya gini. Malah nggak pernah kayanya. " Richo mengoda Joe dan tertawa bersama yang lainnya


" ... " Joe bisa melihat semua teman-temannya sedang menggoda dirinya, ia tidak memperdulikannya


Mereka telah menyelesaikan makanannya dan hanya menikmati sebotol wine di mejanya. Joe berkali-kali menghubungi gadis itu tetapi tidak kunjung diangkat juga. Ia hampir saja marah dan akhirnya gadis itu baru menjawab panggilannya dengan alasan yang menurutnya tidak masuk akal.


Selama Joe berbicara dengan gadis itu, teman-temannya melihatnya dan menahan tertawa sebisa mungkin. Mereka tidak bisa melihat Joe dengan biasa saja tanpa tertawa, kelakuan Joe saat hampir kehilangan akal, mereka tidak bisa menahannya. Sampai pada akhirnya gadis itu untuk kedua kalinya memutus panggilan telepon Joe saat berbicara, mereka tertawa dengan keras.


Ini pertama kali baginya ditolak oleh seorang gadis, tidak biasanya wanita-wanita yang bersamanya memperlakukan dirinya seperti ini. Justru sebaliknya, biasanya ia yang selalu menolak semua wanita yang ingin bersamanya, ia selalu memilih dengan siapa ia ingin berbicara dan menghabiskan malamnya. Bukan dia yang mengejar, tetapi wanita-wanita-lah yang mengejarnya.


" Gue.. benar-benar kesal dengan gadis ini... " Joe meneguk seperempat wine digelas depannya sampai habis


" Udahlah Joe.. loe taukan, dia sekarang bukanlah anak kecil yang dulu selalu mengejar loe.. " Richo yang duduk disebelah kanan Joe berusaha menenangkan keadaan dan menuangkan seperempat wine kembali ke gelas Joe


" Maksud loe, dia udah nggak suka lagi dengan gue? " Ia tambah kesal dengan apa yang baru saja dikatakan Richo kepadanya


" Ah.. um, ya.. siapa tau. " Ragu-ragu Richo menjawabnya dengan tawa dibibirnya


Cittch.. tidak mungkin. Gue sangat yakin, dia tidak mungkin melupakan gue..


" Atau.. jangan-jangan. Sekarang loe yang jadi.." Brian kembali menggoda Joe


" Ah.. gila loe, nggak lah! " Sontak Joe menyangkal apa yang akan dikatakan oleh sahabatnya


" Ya sudah.. tidak perlu marah. " Brian membuang mukanya kearah lain agar tidak melihat wajah Joe


Joe.. Joe sadar! Loe harus menyangkalnya.


" Memangnya seberapa parah luka dia? " Tanya seorang Zab dengan serius


" Gue tidak tau pastinya. Gue berencana melihatnya sendiri, tapi.. dia tidak memperbolehkan gue kerumahnya.. " Jawab Joe dengan ragu


" Tidak seperti loe saja. Kenapa jadi begini? " Entah apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh Christ


" Bukankah.. seorang Joe tidak akan menuruti perkataan orang lain. Loe akan melakukan apa yang loe sukai, itu yang gue tau.. Apa yang berubah? " Tambah Christ, lagi-lagi ia menggoda Joe. Semua orang tertawa kecuali Joe sendiri


" ..." Ia baru saja tersadar dengan apa yang Christ katakan. Ia berfikir, ada apa dengan dirinya sekarang. Kenapa dia tidak bisa mengendalikan fikirannya kembali?


" Kenapa diam? " Christ kembali menanyakan kepada Joe, apa yang sebenarnya terjadi


" Ehem.. enggak. Gue hanya tidak mau berdebat soal ini. Tidak ada salahnya menuruti apa yang gadis itu mau, toh nggak ada keuntungannya juga bagi gue. " Ia meluruskan tubuhnya dengan tangan yang bertumpu pada meja dan menatap teman-temannya dengan serius


" Cittch.. gue tidak percaya ini! " Christ membuang pandangannya dari Joe dengan tawa lebar dibibirnya


" Okay, terserah loe. Gue.. masih berfikir, kenapa Renxa begitu tidak ingin bersama loe. Seperti bukan dia yang dulu, gue tidak tau kalau dia bakalan balik disaat yang tidak tepat ini. " Ujar Zab tiba-tiba


" Apa loe yakin keputusan loe tidak akan melepaskan dia? Setelah loe tau Renxa udah balik.. " Tambah Brian


" Fiuh.. gue tidak bisa melepaskan dia. Gue sangat menyayangi dia. Keluarga Mandella juga sudah banyak membantu kita selama ini. Jika bukan karena ayahnya dan mereka.. mungkin kita sudah mati 2 tahun yang lalu. " Joe menunduk seakan ia tidak ingin membahasnya


" Huh.. " Semua teman-teman Joe mengangguk, mendengarkan dan membiarkan Joe berbicara


" Mungkin, sebentar lagi Neisya balik dari Boston. Malam kemarin lusa, dia menghubungi gue dan bilang itu. "


...°¢¢¢¢¢°...


3 hari yang lalu..


[Kediaman Arvadhafiose, Indonesia]


11.36 PM


Mereka sedang mengobrol ditaman belakang rumahnya, hari ini semua teman-teman Joe pergi menginap. Tak terkecuali, Renxa.. gadis itu. Gadis itu baru saja kembali setelah bertemu dengan client kakaknya, Billan. Dia bergabung bersama dirinya dan teman-temannya.


Kenapa dia jauh lebih cantik dibandingkan dengan yang dulu. Aku tidak menyangka kamu, akan tumbuh menjadi gadis yang seperti ini.


Arrkk.. Joe, berhenti menatap dia! Atau.. loe tidak akan bisa menghentikan fikiran loe tentang dia.


Disela-sela perbincangan teman-temannya, ia beberapa kali melirik kearah gadis itu. Ia tidak tau kenapa matanya selalu saja mencari keberadaan gadis itu, ia berulang kali menyangkalnya tetapi tetap saja ia berakhir dengan menatap kearah gadis itu.


" Huaa.. Ren, ayo kita kita tidur yuk." (Menguap) Canda Brian yang membuat semua orang terkejut dan berakhir dengan tawa mereka


" Ehem.." Joe terkejut saat tiba-tiba sahabatnya mengatakan hal itu. Joe, terlihat sedikit terganggu dengan handphone-nya yang ada disakunya. Ia meraih handphone-nya dan melihat siapa yang mengiriminya pesan singkat


Huh.. disaat seperti ini, dia..


" Ah.. nggak, maksud gue ayo kita semua tidur. Udah malem juga." Brian tertawa dan sesekali melirik ke arahnya