MY Lovely Story

MY Lovely Story
Eps. 8



B/n Joe


Brian menyela akhir pembicaraan mereka berlima dengan pertanyaan yang sudah sangat jelas bagi Joe.


" Joe, loe udah tau kan dia baru balik? Sumpah, gue kaget banget ngeliat dia tadi waktu ketemu. Kaget gue, setahu gue dia dulu anak ceria dan nggak tau yang namanya malu. And.. now, she's grow be a beautiful girl dan anehnya sekarang dia jadi cewek yang bener-bener pemalu. " Jelas Brian dengan sela candanya agar tidak membuat suasana menjadi tambah menegangkan


" Eh.. iya, gue juga kaget tadi. Pertama kalinya gue ngeliat dia, sampai-sampai kita nggak bisa ngenalin dia sangking lamanya kita nggak ketemu dia. " Tambah Zab


" Yeah... udah. Huh.. awalnya gue nggak tau sama sekali kalau dia mau dateng, G-ra nggak kasih kabar apa-apa ke gue." Jelas Joe dengan tanggap tapi serius


" Dia? Dia siapa maksud loe semua? Kok gue jadi binggung." Tanya seorang pria yang tidak mengerti kearah mana mereka berbicara


" Huh? Katanya kalian udah ketemu sama dia? " Jawab Joe dengan penasaran


" Dia? Gue sama sekali nggak ngerti kemana arah kalian semua." Dia adalah Richo,


Richo Arshenieol Raymond. Putra dari salah satu pengusahan ter-sukses didunia Neyson Arshenieol Raymond sekaligus calon pewaris dari Arshenieol Companies, perusahaan yang bergerak di Industrial and Automotive Sectors.


" Ric, loe ingat nggak sama adik kecilnya Billan? Dulu waktu itu kita.. lagi ngumpul dirumahnya Billan, awal-awal waktu kita baru dipertemuin sama nyokap bokap. Waktu itu, dia berusia 4 tahun.. ya dia memang udah nggak inget sama kita karena waktu itu dia memang masih kecil banget dan kita akhirnya pindah ke negara tujuan masing-masing.. and walla.. gue baru liat pertama kali dia udah gede baru tadi siang. " Jelas Christ panjang lebar


" Ahh.. Renxa Nocthadhanaksa Widjaya? Anak kecil yang dulu selalu nempel sama Joe itu? " Jawaban spontan dari Richo yang membuat semua orang terkejut termasuk Joe sendiri


" Ahh.. iya-iya." Jawab Brian dengan semangat diiringi gelak tawa keras darinya dan teman-temannya


" Wah.. baru inget gue, gila lama banget. " Tambah Richo dengan senyum lebar di bibirnya


" Wah... kenapa nggak kepikiran ya tadi gue, loe barusan ngomong gue baru keinget-an juga. " Jelas Christ


" Aigo... waktu itu dia lucu banget, karena masih kecil. Dan lucunya, iya bener banget dia selalu nempel ke Joe." Tambah Zab


" Seinget gue waktu pertama kali kita berlima masuk ke play ground dia, waktu dia ngeliat kita dia langsung aja lari ke arah loe nggak sih Joe? Dia langsung peluk kaki loe, dan minta digendong. " Jelas Richo disertai tawa dari teman-temannya


" Wah.. bener-bener, karena kita waktu itu masih usia 8 atau 9 tahunan dan masih terlalu kecil akhirnya nyokap nggak ngebolehin gue ngendong dia karena nyokap takut dia, gue jatuhin. Ah.. dia tetep aja minta gue buat gendong dia. " Joe menceritakan masa lalu dengan senyum tipis dibibirnya


" Akhirnya, sebagai gantinya loe ajak dia jalan-jalan muterin taman doang dan nemenin dia main seharian. " Tambah Christ yang membuat suasana menjadi lebih ramai


Mereka semua tertawa begitu keras saat mengenang masa-masa kecil mereka bersama.


" Waktu loe pertama kali ngeliat dia gimana Joe? Dia masih nempel sama loe nggak?" sindir Brian kepada sahabatnya dengan menggangkat salah satu alisnya


" Eh.. bukannya Joe yang jadi nempel? Ops.. " Dengan asal Zab mengucapkannya yang membuat semua teman-temannya berakhir dengan tawa


" And.. what happened in the kitchen? Gimana? " tanya Christ yang penasaran kepada Joe


" Kitchen? Ah.. kok loe bisa tau?"


" Kita sekilas lewat aja, lagian pintunya kan juga udah kebuka. Jelaslah kita bisa liat, tenang aja kita cuman sekilas lewatnya dan nggak nonton." Jawab Zab diselingi tawa bersama teman-temannya


" Hhm.. I don't care. Hurrf... hah, dia itu.. tadi gue deketin.. dia nggak mau gue deketin. Even when I was about to kiss her, she pushed me away. Wah.. gue nggak habis fikir, mana ada coba cewek yang nolak seorang Joe An Arvadhafiose. "


" But.. loe sadar nggak sih? Sejak kapan loe mau mulai duluan? As far as I know, Joe wouldn't start kissing a girls if she hadn't started it first.. karena itu gue bener-bener kaget lihat Joe yang take a step. " Jelas Christ yang membuat Joe terkejut, tetapi tidak dengan teman-temannya yang malah tertawa dengan kencang


" Huh.." Joe terdiam sejenak untuk mencerna apa yang barusan saja dikatakan oleh sahabatnya


Semua sahabatnya tertawa bersama-nya, ia pertama kalinya menyadari apa yang dia lakukan. Ia tak pernah sadar bahwa dia melakukannya selama ini. Dia mengatakan bahwa, tubuhnya bergerak dengan sendirinya tanpa ia sadari dan entah kenapa dia berkata fikirannya dan perbuatannya kali ini selaras dengan apa yang hati kecilnya inginkan.


Saat waktu menunjukkan pukul 7.30 tepat itu merupakan waktu makan malam keluarga Arvadhafiose. Sesaat setelah waktu tiba, ada seorang pelayang yang mengetuk pelan pintu besar kamar Joe. Awalnya mereka semua terkejut karena ada yang mengetuk pintu tiba-tiba, tetapi setelah Joe melihat jam tangannya ia sadar bahwa memanglah sudah waktunya makan malam tiba.


" Permisi tuan muda, maaf mengganggu sekarang sudah waktunya makan malam. Silahkan, tuan bisa turun sekarang. " Jelas salah satu pelayan diluar kamar dengan jelas dan sopan


" Yeah.. I'm coming.." Jawab Joe


Joe menanggalkan handphone yang ada ditangannya dan mereka segera pergi meninggalkan ruangan tersebut, menuju ruang makan yang ada dilantai bawah.


Joe awalnya mengira bahwa gadis yang ia temui di dapur tadi sudah lama pergi dari rumahnya. Tetapi ia salah, ia mendapati gadis itu duduk dengan tenang dikursi sambil menunggu makanannya disajikan. Gadis itu juga tidak mengetahui bahwa Joe telah datang dan nanti juga akan ikut bergabung.


Ternyata masih ada disini? Gue fikir udah kabur duluan tadi! Pikir pria itu dengan senyum tipis dibibirnya


...°¢¢¢¢¢°...


Dining Room, dengan menganggkat tema 'The Blue Room' . Table setting atau tata saji dalam dunia kuliner bukanlah hal yang baru, dalam mendakan jamuan makan formal maka dibutuhkan kepiawaian dalam menata sebuah meja makan. Sebuah ruang makan yang elegan dan tematik, dengan memilih produk yang tepat, menentukan ragam furniture dan aksesoris termasuk pelapisan dinding yang dipilih, terciptalah sebuah ruang yang dinamakan The Blue Room yang merupakan karya seorang perancang design interior asal Italia.


Sebuah penataan meja bernuansa selaras dengan ruang. Permainan gradasi warna biru dan keselarasan pernak-pernik meja makan seperti piring porselen, perak, kristal dan atribut lainnya. Ruangan tersebut menampilkan sebuah gagasan cantik, elegan dan inovatif dalam kreasi tata saji.


...□■□■...