
Renxa menyandarkan tubuhnya pada punggung sofa tempat ia duduk. Ia mengangkat tangan kirinya dan melihat jarum jamnya yang menunjukkan pukul 11 lewat. Ia menengok kearah semua orang, dirinya dan mereka seperti memiliki 2 dunia yang berbeda.
" ...tidak bisa..."
" ...Richo, yang harus meminumnya..."
" ...hahaha..."
" ...baiklah, gue..."
" ...loe sangat kacau..."
Ihh.. gue mengantuk! Gue tidak bisa seperti ini..
Gadis itu beberapa kali mengusap lembut kelopak matanya. Ia berusaha untuk tidak tertidur, ia ingin bermain handphone untuk mengisi waktunya. Tetapi, ia melihat semua orang tidak ada yang memegang handphonenya. Jadi ia tidak bisa melakukannya, karena itu merupakan hal yang tidak sopan.
" ..." Renxa menatap langit-langit tempat itu. Entah kenapa, ia merasa bahwa suara musik semakin lama semakin keras. Tetapi disaat itu juga ia seperti mendengar seseorang memanggil namanya, ia terdiam sejenak dan memastikannya
" Renxa.. " Luke memanggil nama gadis itu untuk kedua kalinya
" Ah.. iya, ada apa? " Ia langsung bangkit dan mendapati pria itu memanggil namanya
" Loe tidak papa? Memikirkan apa, sampai melamun begitu?" (tersenyum)
" Ah.. tidak, tidak. Gue hanya merasa sedikit pusing, karena.. suara musiknya terlalu keras." (tersenyum)
" Apa loe mau tempat yang tidak terlalu ramai? Kalau begitu kita masuk ruangan biasanya.. " Ujar Joe kepada teman-temannya, ia bersiap untuk bangkit dari tempat duduknya
" Ah.. tidak, tidak. Kalian disini saja, gue yang akan pergi. Gue mengganggu kesenangan kalian.." Gadis itu merasa bersalah, karena dirinya maka kesenangan mereka terganggu
" Apa maksud loe, kita tidak berfikir seperti itu. Jika loe terganggu dengan musiknya, It's okay.. kita pindah aja. " Kata Christ dengan santai
" Yeah.. nggak papa, santai aja. Ini adalah hal yang biasa, bahkan kita juga selalu melakukannya.. " Tambah Luke
" Hhm.. baiklah.. " (tertawa) Mereka berdiri dan mulai meninggalkan tempat itu, Renxa menunggu dan mengikuti mereka semua dari belakang. Joe menunggunya dan berjalan bersama dengannya tanpa wanita-wanita itu ketahui
" Loe tidak boleh kemana-mana. Tunggu gue.. " Bisik Joe
" ..." (menyipitkan matanya)
Dia bahkan sudah bersama wanita-wanita itu..
Ia sangat kesal, pria itu sudah bersama dengan wanita-wanitanya tetapi kenapa pria itu masih saja mengganggunya.
" Apa maksud loe? Loe sudah bersama wanita-wanita loe, kan? " Ia mendongak dan dengan kesal menatap pria itu
" Oh.. jadi loe tidak suka gue bersama mereka?" (tersenyum) Joe berusaha menggoda Renxa
" Haha.. tidak mungkin! " Jawab gadis itu dengan tegas
" ..." (tersenyum)
Renxa mendorong Joe untuk menjauh darinya dan tepat saat itu Lateshia melihat mereka. Lateshia segera meraih tangan Joe dan membuat pria itu berjalan bersama dengannya. Renxa sangat lega melihat itu, tetapi Joe tetap saja melirik kearahnya dan tersenyum disudut bibirnya.
Renxa berjalan mengikuti dari belakang, mereka mengambil jalan kanan dan terdapat jalan setapak langsung pada 1 ruangan. Jalan sedikit masuk tetapi langsung tujuan, hanya terdapat ruangan itu. Heart VIP Room 00, ruangan khusus yang hanya untuk mereka dan ruangan tersebut tidak pernah disewakan kepada orang lain. Saat mereka mulai memasuki ruangan itu, didalam sudah ada beberapa pelayan yang menunggu.
Renxa terkejut melihat kedalam ruangan. Ruangan yang cukup luas dengan segala kemewahannya, fasilitasnya juga sangat lengkap. Pertama kalinya gadis itu melihat ruangan dengan fasilitas selengkap ini. Didalam ruangan terasa lebih tenang karena suara musik yang keras tidak terlalu terdengar disini. Hanya ada suara samar-samar saja, jauh lebih tenang dan nyaman.
" Ah.. ada popcorn.. " (tertawa) Ia melihat ada mesin popcorn disudut ruangan dan ia langsung berlari menuju mesin itu
Salah seorang pelayan mengikutinya dan menyediakan untuknya. Renxa sangat senang karena begitu banyak snack box diruangan itu, baginya ini adalah kesenangan yang sebenarnya.
" Tolong berikan saya dengan caramel and chocolate.. " Ia meminta tolong pelayan untuk membantunya mengambil popcorn
Hhm.. kalau begini, gue tidak akan mengantuk..
Sambil menunggu popcornya jadi, gadis itu berjalan sesana kemari dan memakan setiap snack yang ia lihat. Semua jenis snack adalah kesukaannya.
" Nona.. ini.. " Pelayan menyerahkan popcorn yang Renxa inginkan
" Wah.. yey.. " Ia segera menerima dan memakannya
Disisi lain, yang lain duduk dengan nyaman dan pelayan melayani mereka. Mereka menyajikan berbagai jenis minuman terbaik dimeja Joe dan teman-temannya.
" ..." (mengunyah) Renxa langsung menyodorkan popcorn yang ada ditangannya kepada Brian.
" ..." (tersenyum) Brian mengambil beberapa popcorn dan memakannya
" Berikan saya itu... " Ucap pria itu kepada pelayan yang ada disitu
Brian ternyata sama dengan gadis itu, dia mengambil beberapa snack dan memakannya.
" Bukankah itu terlalu banyak? " Tanya Brian yang binggung melihat banyaknya snack yang gadis itu ambil dan makan
" Tidak, ini cukup. Belum banyak.." (tersenyum)
" Haha.. baiklah, terserah.. " (tertawa) Brian juga menikmati snack-nnya
" Ka Brian, apa mereka tidak menyukai snack? Hanya loe dan gue yang ada disini.. "
" Hhm.. coba loe cari tau sendiri.." (mengunyah)
" Em.. guys, apa kalian ingin snack? Perlu gue ambilkan? " (berteriak) Gadis itu sedikit ragu menawarinya. Mereka melihat kearahnya dan tertawa, Renxa bahkan tidak mengerti dengan itu
" Tidak perlu, semua itu hanya untuk anak kecil. Seperti loe dan Brian.. haha. " (tertawa) Ujar Zab menatap mereka
" Kalian boleh pergi... " Joe menyuruh semua pelayan untuk pergi meninggalkan mereka sendirian
" Huh? " Renxa masih tidak mengerti
" It's okay, mereka adalah orang dewasa bodoh yang tidak mengerti betapa enaknya snack itu. Usia kita tidaklah terlalu jauh.. " (tertawa) Memang benar, Brian adalah pria paling muda diantara Joe dan temannya. Maka tidak heran, Brian dapat bergaul dengan mudah kepada Renxa. Walaupun tidak jauh hanya 2 tahun, tetapi pria itu tetaplah lebih tua dari Renxa
Brain berbalik kembali untuk bergabung bersama dengan teman-temannya. Renxa akhirnya mengikuti pria itu dan duduk bersama mereka. Lagi-lagi hanya ada tempat dimana ia tidak ingin menempatinya. Lateshia tidak pernah melepaskan Joe, gadis itu terpaksa harus duduk disamping wanita itu. Sebenarnya ia tidak ingin berada didekat mereka, tetapi satu-satunya tempat yang tersisa luas adalah tempat itu.
" ...haha..."
" ...tentu saja..."
" ...wine, terbaik..."
Lagi-lagi mereka mendebatkan sesuatu yang tidak begitu gadis itu mengerti. Renxa hanya tersenyum menanggapi mereka yang bercanda. Begitu banyak botol yang terbuka disana, semua orang dengan senang meminumnya, kecuali Renxa.
" Renxa, loe tidak mau minum bersama kita? " Gerald menawarkan minumannya
" Ah.. haha.. tidak. Kalian saja, gue hanya melihat. " (melambaikan tangan) Renxa secara halus menolak tawaran mereka
" ..." (tersenyum) Joe, Christ, Richo, Zab dan Brian yang sudah mengetahui bahwa gadis itu tidak pernah minum sebelumnya. Mereka hanya tersenyum dan berusaha menahan tawa mereka sebisa mungkin
" Kenapa? Udah ayo.. " Cassie menuangkan segelas Champagne dan menyodorkannya pada gadis itu
" Hahaha.. tidak, tidak perlu.." (mendorong gelasnya kembali)
Cittch.. ka Joe dan yang lain kan tau gue tidak minum. Belum cukup umur sayang.. Ah..
Renxa berkali-kali berusaha menolak pada wanita itu. Tetapi, Cassie seakan terus memaksanya untuk minum apapun yang terjadi. Mereka yang tidak mengetahui itu terlihat binggung karena ia terus menolaknya. Tetapi, Joe.. dia hanya tersenyum lebar tanpa menatapnya, ia yakin bahwa pria itu mengetahuinya.
" Loe dari tadi belum minum bersama kita bukan.. " Lateshia mengambil gelas itu dari Cassie dan memaksa gadis itu untuk minum
" Baiklah, baiklah.. biarkan gue meminumnya sendiri.. " Renxa menyerah dan terpaksa ia harus menurutinya, karena wanita itu terus saja memojokkan dirinya. Lateshia menyerahkan gelas itu padanya.
" Okay, gue udah pegang ini. Kalian minum aja dulu.. " (memegang tangkai gelas)
" Gue ingin melihat loe meminumnya lebih dulu.." (tersenyum) Ujar Lateshia kepada gadis itu
" ..." (menggigit bibir bawah) Renxa terkejut. Ia tidak tau apa yang akan ia lakukan, apakah ia akan benar-benar meminumnya?
" ..." Joe menatap Brian yang ada di sebrangnya dan memberinya isyarat mata
" ..." Brian menyadarinya, ia mengangguk mengerti
" ..." Renxa perlahan mendekatkan Flute glass itu pada bibirnya. Gadis itu sangat ragu-ragu melakukannya
Apa gue harus meminum semuanya? Tidak..
Renxa memutuskan untuk hanya sekedar menyicipinya, tidak meminumnya. Ia akan berhenti jika minuman itu telah menyentuh ujung lidahnya.