
" ..." Mereka semua menatap gadis
Bibir gelas itu mulai menyentuh bibirnya. Renxa akan mencobanya untuk kali pertama dalam hidupnya. Ia memejamkan matanya, isi gelas itu menyentuh bibir atasnya dan mengalir menuju lidahnya. Saat aliran pertama mimuman itu menyentuh ujung lidahnya, Renxa membuka matanya dan ia langsung berhenti ditegukkan pertamanya.
" Uh.. em.. " (mengerutkan dahi) Renxa menjauhkan gelas itu dari bibirnya, ia memalingkan wajahnya dan menutup mulutnya
Ih.. uweekkk.. kenapa rasanya seperti ini? Sangat tidak enak.. kenapa mereka bisa meminumnya dengan banyak, sedangkan gue.. satu teguk saja sudah tidak suka.
Itu adalah rasa yang paling asing dihidupnya, pertama kalinya. Dua detik ia mengecapnya dan menengok kearah mereka.
" Huh? " (mengedipkan matanya berulang kali) Renxa tidak tau bahwa mereka masih menatapnya
" Enak? " (mengangkat salah satu alisnya) Ujar Christ yang tersenyum menatap gadis itu
" Ah.. hahaha. Hhm.. Em? Eh? Uh? Rasanya.. agak sedikit tajam ya.. haha. " (tertawa canggung)
" Baiklah.. kita bersulang.. " Ujar Luke
" Cheers.. " (berdiri) Brian tertawa dan mengangkat gelasnya. Tetapi, pria itu berjalan mendekati Renxa dan duduk disamping gadis itu
" Tenang saja, gue yang akan meminum gelas loe.. " Brian berbisik pada telinga kanan gadis yang duduk disebelahnya
" ..." Renxa hanya mengangguk ringan pada pria itu
(Ting..)
Mereka bersulang dan meneguk habis isi gelas mereka. Brian segera meraih gelas Renxa dan menghabiskannya dengan sekali tegukkan.
" Terimakasih.. " (berbisik) Renxa tersenyum bahagia
" ..." (mengangguk) Pria itu segera kembali ke tempat dduduknya
Joe tersenyum melihat Brian melakukan apa yang tidak bisa ia lakukan. Jika tidak karena wanita pengganggu yang mengikutinya, dia mungkin akan melakukannya juga kepada gadis itu. Renxa tersenyum dan tidak sengaja matanya bertemu dengan mata pria itu, mereka saling menatap untuk beberapa detik. Tetapi, Renxa langsung memalingkan wajahnya agar tidak menatap pria itu.
" ..." Joe tersenyum melihat gadis itu salah tingkah dan terfikirkan olehnya satu hal
" Bagaimana kalau kita bermain? " Tambah pria itu
" Hhm.. gue setuju. Kita akan bermain apa? " Ujar Richo
" Something like.. Bridge card. Tetapi berbeda.. " Jelas Joe, semua orang mengangguk mendengarkan. Mereka semua mengerti permainan itu, kecuali Renxa
" Apa itu? Gue baru mendengarnya.. " Pertama kalinya ia mendengar permainan itu
" Oh... " (tersenyum) Joe sudah mengetahuinya sejak awal, bahwa gadis itu pasti tidak akan mengerti permainan itu
" Dalam permainan ini siapa pun yang mendapatkan kartu utama, bisa menunjuk dua orang untuk melakukan apa yang ia inginkan. Tetapi hanya bisa menyebutkan angka, seperti 3 dan 15 harus bertukar baju. Misal seperti itu, dan loe tidak bisa untuk mengatakan tidak. " Jelas Christ menyambung pria itu
" Ah.. seperti itu, jadi kesimpulannya acak nih? Nggak bisa siapa yang kita inginkan? "
" Tidak, semuanya adil disini.. " Joe memanggil salah satu pelayan dan pelayan itu memberikan kartu yang akan mereka gunakan
Joe mulai mengacak semua kartu dan membagikannya masing-masing satu kartu. Mereka mulai melihat kartu mereka dan tersenyum.
" Siapa yang dapat kartu as.. "
" ...gue..."
" ...apel dimulut..."
" ...haha..."
Permainan itu sangat seru, waktu berlalu tanpa mereka sadari. Setiap pemain yang disebutkan selalu berbeda, entah kebetulan apa ini. Nomor yang dipegang oleh Renxa setiap permainan kebetulan tidak pernah disebutkan. Ia sangat bersyukur, karena saat ia melihat dan mendengarkan taruhan mereka, rasanya ia sangat ingin permainan itu berhasil. Semua taruhan itu menguntungkan bagi mereka masing-masing, tetapi tidak baginya. Menurud-nya taruhan mereka justru membebani dirinya, tetapi ia bersyukur bahwa ia tidak ambil bagian dalam permainan itu. Selama ini ia hanya mengikuti mereka semua.
" Haha.. okay, ini adalah permainan yang selanjutnya. Gue akan membagikannya.. siapa yang mendapatkannya?" (tersenyum) Rafael segera mengacak dan membagikannya kembali
" Gue.. " Christ menunjukkan dan meletakkan kartunya ditengah meja
" Hhm.. gue tidak tau, tapi.. gue rasa Renxa harus mendapatkannya.." (tersenyum) Ia menyipitkan matanya dan menatap gadis itu
" Tidak perlu, selama ini gue senang walaupun tidak mendapatkannya. " Renxa tertawa canggung dan menutupi angka di kartu miliknya
Semoga dan semoga.. bukan gue!
Sial..
Ia hampir putus asa dengan apa yang disebutkan pria itu.
" ..." Renxa memutar bola matanya dan menundukkan tubuhnya
" Siapa 16.. " Tanya Christ, ia menyandarkan tubuhnya dengan santai
" Gue! " (membalik kartu) Seorang pria menunjukkan angka dikartunya dengan santai
" ..." Renxa langsung mendongak dan menengok sumber suara, ia terkejut
Ah.. damn! Ka Joe? Kenapa harus dia.. mampus gue..
" And.. 23? "
" Cittch.. " (memalingkan wajah) Renxa dengan malas bangkit dari tempat duduknya. Tanpa basa-basi ia langsung melemparkan kartunya yang bertuliskan angka 23 ke atas meja
" ..." Joe mendongak dan ia tersenyum sangat lebar. Tidak, ia tidak tersenyum.. tetapi tertawa. Pria itu tertawa
" Hhm.. bagus! " Gumam Christ. Mereka semua tertawa, dibalik tawa mereka berlima ada maksud tersembunyi yang tidak gadis itu pahami
" Okay, loe mau gue apa? Menggendong ka Joe, berjalan diatas air dengannya, atau.. "
" Bukan, gue mau loe memberikan minuman ini kepada Joe, dengan.. " Jelas Christ, gadis itu tidak mendengarkan perkataannya dengan selesai dan memotongnya begitu saja
" Ka Joe, minum ini.. " Tanpa mendengarkannya lebih dahulu, ia segera mengambil gelas wine dan menyodorkannya pada pria itu
" Dengan mulut loe.." (tersenyum) Christ melanjutkan tanpa basa-basi. Ia sengaja memberikan sedikit tekanan pada akhir kalimatnya
" ..." (mengangkat kedua alisnya bersamaan) Joe tersenyum disudut bibirnya
" ..." (cemberut) Lateshia terlihat tidak menyukai kemungkinan itu. Ia menatap Joe dan Renxa dengan kesal
" ..." Mata Renxa langsung terbuka lebar mendengar kalimat terakhir Christ. Saat ia menatap pria yang tersenyum kepadanya, ia merasa hal ini salah
Gue tidak bisa melakukannya..
Dengan kesal ia membalikkan tubuhnya menghadap Christ. Ia meletakkan kembali gelas wine yang sebelumnya ia ambil.
" Apa? Apa loe sedang memanfaatkan gue? " Gadis itu berteriak dengan kesal, tetapi mereka menanggapinya dengan tawa
" Terserah gue.. " (mengangkat bahu) Jawab Christ
" Tidak, gue tidak mau.." (menyilangkan tangan) Renxa berjalan menjauhi pria itu
" Kalau begitu permainan.. What would you choose. " Tambah Christ
" Huh? " (berbalik)
" Loe harus memilih satu. Loe memilih untuk menghabiskan 1 botol wine, atau melakukan permainan tadi? " Christ tau kelemahan gadis itu. Dia tidak akan bodoh dengan memilih menghabiskan 1 botol wine
" ..." (menggigit bibir bawah) Ia masih memikirkannya
Damn you, Christ! Mereka semua tau cara untuk memanfaatkan gue..
" Ha-ha-ha.. loe menang. " Renxa tersenyum sinis kepada pria itu
" Hhm.. kalau begitu, silahkan.. kita sudah menunggu terlalu lama karena loe. " Christ menyodorkan gelas wine kembali pada gadis itu
" Gue tidak bisa meminumnya.. " Ia harus mengeles agar terbebas dari hukuman itu
" Hhm.. kalau begitu, maksud loe pasti gue yang harus meminumnya, dan.." Joe mengambil gelas dari Christ, ia berdiri dan berjalan mendekati gadis itu
" Tidak.. gue, hanya tidak mau minuman beralkohol.. " Ia mendorong pria itu menjauhinya
" Disana ada banyak minuman yang bisa loe minum. Juice, tea, minuman soda.. " (menunjuk)
" ..." Ia menengok kebelakang dan benar, banyak minuman biasa yang bisa ia minum. Ia sangat salah jika beralasan hal itu