MY Lovely Story

MY Lovely Story
Eps. 36



Yes.. gue bisa terbebas..


Gue tau, dia pasti akan lemah jika melihat seseorang menangis..


Yang ada didalam pikiran gadis itu. Ya.. dia memanfaatkan keadaannya untuk bisa terbebas dari ikatan pria itu. Memang sebagai gantinya ia harus merasakan kesakitan lagi. Lukanya kembali terbuka dan mengeluarkan darah.


" Gimana? Udah baikkan? " Tanya pria itu setelah membersihkan serta mengoleskan antibiotik dan menutup kembali luka dengan kasa dan perban yang baru


Renxa sudah berhenti menangis sejak pria itu mulai membersihkan lukanya kembali. Ia sangat panik saat itu dan tanpa sengaja membenturkan tangannya, tetapi dengan ini juga ia akhirnya bisa terbebas dari pria itu. Ia mengusap sisa air matanya dan menjawab pria itu dengan tenang.


" Sudah.. terimakasih. " Ia segera menarik kembali tangan kirinya dari genggaman pria itu


" ... " Jorgo menatap gadis itu kembali dengan heran


" Apa loe masih kedinginan? " Tanyanya dengan heran, karena gadis itu kembali memeluk erat dirinya sendiri


" ... " Kali ini gadis itu tidak menjawabnya. Ia tau jika ia menjawabnya maka akan terulang kejadian itu kembali dan ia tidak mau itu, alasan ia mengusap kembali lengannya adalah. Pertama, ia memang kedinginan karena sudah terlalu lama ia tidak memakai kembali jacketnya. Dan yang kedua, ia tidak ingin pria itu melihat kembali tubuhnya, hanya akan merepotkan saja.


" Kenapa, tidak menjawab? Kalau kedinginan bilang saja, gue bisa ambilkan. " Jawabnya begitu santai dan ia meraih kembali jacket gadis itu


Dasar brengsek.. dari tadi kan gue udah bilang. Kalau nggak gara-gara loe, gue nggak bakalan ambil sendiri.


" ... " Jorgo baru saja akan menyerahkannya, tetapi gadis itu mengatakan sesuatu


" Dasar bajingan! Kan loe sendiri yang suruh gue ambil sendiri. Kalau loe tidak menyuruh gue, kita tidak akan ada dalam posisi itu.. " Tanpa sadar hal ini keluar dari mulutnya, yang membuat Jorgo sangat terkejut dan heran


" Ms. Nocthadhanaksa.. apakah kamu masih mengujiku? Atau.. kamu masih menginginkan hal itu kembali? " Ia menarik kembali jacket yang akan ia berikan dan tersenyum disudut bibirnya


" Ah.. tidak, tidak, tidak. Kamu adalah pria yang baik, aku tau itu. Tolong berikan punyaku.. " Ia tertawa dengan canggung agar tidak merusak suasana hati pria itu. Ia segera meraih jacket yang akan diberikan pria itu kepadanya


Jorgo tertawa dan kali ini ia menyerahkan kembali jacket gadis itu. Renxa segera memakai kembali jacketnya dan saat ini ia merasa nyaman, tidak terlalu banyak udara dingin yang menyentuh kulitnya dan pria itu tidak akan melihatnya kembali.


" Udah? Udah puas.. gue selalu berbaik hati sama loe. Pantesan aja loe pakai jacket, baju loe aja kaya gitu. Hati-hati ntar masuk angin. " Ia mengangkat salah satu pangkal alisnya dan memandang gadis itu dari atas hingga bawah


Masuk angin? Loe tu yang kemasukan setan..


" Udah.. iya. TERIMAKASIH.. " Renxa menekankan kata akhirnya dan tersenyum dengan paksa


" Huh.. I think, lain kali loe tidak boleh melakukannya.. " Ia menghembuskan nafasnya dan mengatakannya dengan datar, tanpa memandang kearah gadis itu


" Huh? Tidak boleh melakukan apa? " Dengan heran


" Loe.. tidak boleh membuka jacket, saat ditempat umum. Apa lagi dengan baju yang memperlihatkan.. tubuh loe. Di Indonesia tidak seperti di luar negeri, yang semua diperbolehkan.. "


" ... " Renxa menyipitkan matanya kepada pria itu


" Terlebih lagi, loe.. itu sangat cantik dan menarik. Akan lebih mudah menarik perhatian laki-laki. "


" Saat gue melihat loe yang sudah ada dipinggir jalan. Dari jauh gue bisa melihat, ada beberapa laki-laki yang akan menghampiri loe. Loe tidak melihat mereka, saat itu loe sudah lemas dan berjongkok dipinggir jalan.."


" Masih untung mobil gue tidak terlalu jauh dari situ, gue membawa mobil gue jauh lebih dekat dan membunyikan klaksonnya. Supaya mereka pergi dari dekat loe. "


" ... " Renxa membiarkan pria itu berbicara dan mendengarnya


" Setelah beberapa kali gue membunyikannya. Gue memutuskan untuk turun menghampiri loe, dan akhirnya mereka pun pergi melewati kita. Saat gue membopong tubuh loe dan masuk ke mobil. "


" Kita baru bertemu, tetapi gue sudah merasa.. hhm. Apalagi mereka.. " Kalimat pria itu sekarang terdengar sedikit canggung


Ah.. kalau loe mah.. sama semua wanita juga tergoda. Dasar brengsek!


" ..." Ia menyipitkan matanya kembali sambil menatap pria itu dan ia sangat kesal


" Jadi.. loe harus hati-hati. " Ia akhirnya menengok kearah gadis itu, dan ternyata gadis itu sudah menatapnya dengan heran


" Iya.. terimakasih loe sudah menolong gue 2 kali. Gue sangat berhutang budi sama loe.. " Ia melihat keluar kacanya


" Hutang budi.. ternyata itu. " Gumam pria itu tanpa memandang gadis disebelahnya


" Ah.. pintu gedung sudah ditutup. Udah pukul 5 lewat. Tas gue.. ada disana. " Ia sangat kebingungan, tanpa sadar ia telah melupakan waktunya


" ..." Melihat dengan heran


" Gimana caranya gue pulang? Kalau tas gue disana, mana kunci mobil ada disana pula. "


" Gue anterin pulang. Dimana alamat rumah loe." Pria itu melihatnya dan menawarinya untuk pulang bersama


" Tidak, tidak. Loe sudah banyak membantu gue, gue tidak bisa menerimanya. Lagi pula, gue bawa mobil dan ada disisi kiri mobil loe. " Ia menolak pria itu dengan sopan


" Tidak papa. Sekalian gue juga pulang. Mobil loe, tinggal aja disini. Suruh orang loe buat ambil. "


" No.. sebenarnya gue lebih butuh sama barang yang ada di mobil gue. Ada file penting yang tadi pagi gue bawa dan harus gue pelajari. Tapi.. tas gue.. "


" Ada dibelakang.. " Tiba-tiba saja pria itu mengatakannya, ini membuat Renxa binggung


" Huh? " Ia mendongak kebelakang dan menemukan tasnya sudah tertata rapi disana dengan beberapa barang pria itu


" Sesampainya kita disini, loe masih tertidur nyenyak. Gue nggak tega membangunkan loe, jadi gue pergi ambil barang-barang gue dikelas dan lihat tas loe juga masih disana, akhirnya gue bawa sekalian. And.. sebenernya gue tadi mau sekalian anter loe pulang, tapi sayangnya gue nggak tau alamat rumah loe. Jadi, gue tunggu loe sampai bangun disini. "


Kenapa nggak dari tadi ngomongnya, bego! Mana gue susah-susah carinya..


" Okay.. makasih. " Ia meraih tasnya yang ada dibelakang kursinya


" Hhm.. " Renxa mengambil kunci mobil yang ada dibagian depan tasnya


" Nggak sebaiknya gue antar? Tangan loe masih sakit, nggak? "


" Nggak, udah mendingan. Mending gue pulang sendiri aja, loe sibuk banyak urusan. Udah dari pagi loe nemenin gue, sampai jam segini. " Ia menutup kembali semua kancing tas yang sudah ia buka


" Bentar lagi mau hujan deras. Yakin mau nyetir sendiri? "


" Hhmm.. " Renxa mengangguk yakin


" Yaudah, oh ya. Nanti loe minum obat ini, biar luka loe cepat kering. Jangan terkena air dulu, sebelum kering! " Pria itu menyerahkan sebungkus obat-obat yang ia terima dari Dr. Isyana tadi kepada gadis itu


" Oh.. thanks. Gue pulang dulu.. " Ia membawa tasnya, Jorgo membuka kunci pintu mobilnya supaya gadis itu bisa keluar dari mobil


Renxa membuka pintu dan keluar dari sana. Ia melihat sekelilingnya dan menutup kembali pintu mobil pria itu.


Akhirnya.. bisa bebas. Pulang, pulang!


Ia sangat bahagia karena sudah bisa menghirup udara segar.


Renxa berjalan maju perlahan, ia melihat disana benar-benar hanya ada mobilnya dan mobil pria itu yang terparkir. Hanya pintu gerbang utama saja yang dibiarkan terbuka lebar, mungkin karena masih ada kita..


Ia mendongak keatas langit, ia melihat awan hitam benar-benar menutupi langit biru. Ia merasakan percikan air menjatuhi pipi dan tubuhnya. Sebelum ia berjalan menuju mobilnya, ia membuka kembali pintu mobil yang sebelumnya ia tutup, yaitu mobil pria itu.


" Kenapa? Berubah pikiran.. " Tanya pria itu yang menoleh kepada gadis yang membuka kembali pintu mobilnya, tetapi gadis itu tidak masuk kedalam


" Nggak.. gue cuman mau bilang. Kalau, loe adalah cowok paling brengsek yang pernah gue temui.. Makasih atas bantuan loe.. " Ia tersenyum lebar kepada pria itu dan akan menutup kembali pintunya


" Apa.. loe.. " Samar-samar terdengar suara kesal pria itu, sebelum ia dengan cepat menutup pintu mobilnya. Ia tidak ingin berada dalam masalah lagi jika ia terlalu lama membuka pintunya


Ia menutupnya dan tepat setelah itu hujan turun begitu deras. Ia menyembunyikan tangan kirinya ke dalam jacketnya dan berlari menuju mobil. Sebelum masuk mobilnya, ia mendengar pria itu membunyikan klakson mobilnya 2 kali dengan kesal.


Renxa segera memasuki mobil dan menyalakan mesinnya. Karena hujan semakin deras, ia lebih dahulu mulai meninggalkan tempat itu dan diikuti mobil pria itu dibelakangnya. Sesampainya dipintu gerbang utama, mereka mengambil jalan yang berbeda. Ia belok ke kanan dan mobil pria itu ke kiri. Renxa melihat melalui spionnya dan merasa sangat lega.


Huh.. Thanks God. Akhirnya..


...□■□■...