MY Lovely Story

MY Lovely Story
Eps. 7



Damn it! Mati gue.. apa mereka..


Ketiga pria sungguh terhibur dengan apa yang baru dikatakan oleh Brian, mereka tertawa dengan sangat kencang kecuali kedua orang gadis itu, G-ra benar-benar tidak mengerti dengan apa yang mereka maksud dan katakan. Sedangkan, Renxa dia benar-benar terkejut dan tidak tau akan menanggapinya bagaimana lagi, tubuhnya seketika benar-benar langsung menjadi patung manusia.


" Emang loe udah ketemu sama ka Joe? " Tanya G kepada sahabat disampingnya yang tidak bergerak sama sekali


Renxa sudah cukup terkejut dengan apa yang dikatakan Brian, dan sekarang dia kembali dikejutkan dengan apa yang dipertanyakan G. Ia terkejut seketika langsung memejamkan kedua matanya, ia sudah menduga jika pertanyaan ini akan diajukan G-ra akan segera dilontarkan. Apa yang harus gue jawab? Pikirnya yang ditutupi oleh senyum tipisnya kepada G-ra


" Um.. belum tu. Ah.. tadi itu gue ada sempet ketemu sama seorang cowok sih didapur." (mengusap lehernya)Tawanya untuk menutupi perasaannya


Tak kan mungkin loe nggak mengenali seorang Joe. Good job, girl! Hal yang ada didalam pikiran seorang Christ V.M Afferther


Christ Van.M Afferther merupakan putra sulung dari seorang dokter berbakat dan terkenal didunia yang memiliki jam terbang sangat tinggi, DR. Isacco Van.M Afferther sekaligus calon pewaris dari Afferther Family's Hospitals.


" Huh? Cowok, jangan-jangan ka Joe kali. Orangnya kaya gimana? " Tanya G dengan penasaran


" I know it, itu adalah seorang Joe yang mojok-in loe didapur. Kita nggak sengaja lewat tadi. " Jelas Christ dengan disertai tawa dibibirnya


" What! Mojok-in? Bentar gue kok jadi binggung ya.. Um, you guys have kissed before? " Pada akhir kalimatnya dia menutup mulutnya dan tertawa dengan kencang


" Ah.. dia ka Joe, uh? No, no, no.. nggak ada yang kaya begituan. Um.. tadi itu, um.. um.. kalian salah paham. Haha.. tadi itu cuman.. dia mau ambil gelas disamping gue, iya ambil gelas. Jadi kesannya kaya lagi deketan, padahal sih enggak.. haha.." Dengan awkward laugh-nya


" Ah.. yang bener? " Tanya Zab penasaran


" Um.. " G-ra menyipitkan kedua matanya yang menunjukkan ketidak percayaan-nya


" Ah.. haha.." (awkward laugh)


" Lagian kalaupun 'iya' emang apa salahnya. Kan udah takdir juga.." Sindir G-ra yang mengundang gelak tawa dari semua orang yang ada disana


" Uh.. no no no. Tidak boleh! We're still a minors.. no no no. " Canda-nya sambil menggelengkan ringan kepala dan tangannya


Semua yang ada dalam ruangan tersebut sontak langsung tertawa dengan keras karena pernyataan yang baru saja diberikan gadis itu. Mereka mengobrol dan bercanda sambil menikmati snake yang sebelumnya Renxa bawa, hingga tak terasa waktu begitu cepat berlalu dan menunjukkan pukul 6.43 malam. Ketiga pria itu mengakhiri percakapan mereka dan memutuskan untuk membersihkan diri mereka di kamar mereka yang ada dilantai 2. Karena mereka memang sudah berencana untuk menginap di rumah Joe hari itu.


" Ah.. enggak ah, gue nggak bawa baju ganti soalnya. Tapi, biasanya sih gue baru bersih-bersih waktu mau tidur aja sih. Nggak usah, loe naik aja gue tunggu diruangan tengah ya? Gue mau baring-in badan gue sebentar, Huaa..." Jelasnya sambil meregangkan punggungnya


" Oh.. mau di kamar gue aja? Atau mau disiapin kamar bentar? Kalau iya gue panggil asisten gue suruh nyiapin kamar buat loe tidur. "


" Ah.. nggak usah repot-repot, diruang tengah aja nanti gue. Yaudah, ayo.." (mengambil tas dan handphone-nya)


" Nanti, mau dinner apa? Biar mereka siapin dulu." Tanya G-ra sambil berjalan


" Hm.. apa aja yang enak deh, kalau laper kan bisa makan apa aja. " Jelas Renxa yang disertai tawa


" Hhm.. mau western cuisine nggak? " Tanya G untuk meyakinkan


" Etnis.. kebetulan Chef Mario asli dari Eropa, jadi itu udah bidangnya dan loe tau.. masakannya enak banget parah." Tambah G-ra


" Hhm.. interesting. Boleh-boleh.."


Mempekerjakan seorang chef profesional sebagai private chef merupakan hal yang biasa dikalangkan keluarga-keluarga ini, mereka mempercayakan hasil cita rasa mereka kepada orang yang profesional jadi dengan begitu mereka dapat lebih nyaman menikmati makanan mereka.


...□■□■...


(Joe's Room)


Joe sendiri merupakan seseorang yang memiliki sifat simple dan ambisius, dia bukanlah seorang pria yang humoris dan dapat menghibur orang lain, dia tidak suka diatur oleh orang yang baru ia temui.


Joe's room merupakan identitas diri yang ia tuangkan dalam ruangan, kamar yang mengadaptasi diri dari gaya Modern Masculinity. Simplelitas merupakan DNA utama dari gaya interior ruangan bergaya maskulin ini. Warna-warna netral seperti hitam, putih, dan abu-abu mendominasi seluruh ruangan disertai furnitur beraksen tegas, tak hanya menghadirkan maskulinitas tapi juga modernitas. Dengan dekorasi kamar yang terkesan kaku ada beberapa furniture yang dapat melembutkan dan mengurangi kesan tegas interior tersebut, dengan pemilihan aksen bertekstur geometris pada karpet dan lukisan dinding diatas ranjang menjadi kunci utama dalam meluluhkan kesan tegas kamar tersebut.


Joe terlihat sedang menyandarkan tubuhnya dengan bantal pada punggung tempat tidurnya. Dalam berpakaian Joe sebenarnya adalah seorang yang perfeksionis dalam pekerjaan dan penampilan, tetapi jika dia tidak sedang pergi ke suatu tempat atau pergi ke acara tertentu ia akan memilih tetap santai dirumah saja. Dia hanya menggunakan kaos putih polos disertai dengan celana jenz hitam panjang. Rambutnya hanya ditata asal, tetapi tidak mengurangi aura ketampanannya.


Handphone ditangan kiri Joe dan tangan kanannya mengenggam sekaleng minuman soda. Menit selanjutnya, ada beberapa pria yang mulai memasuki kamar Joe. Joe hanya menengok siapa yang masuk, tetapi ia tidak begitu peduli dan memilih untuk tetap fokus pada handphonenya. Pria-pria tersebut ternyata sahabat-sahabatnya sendiri, mereka semua juga terlihat santai dengan dominasi kaos hitam putih dan celana jenz panjang. Joe seketika langsung menyila kakinya dikasur dan duduk dengan tegak untuk memberikan ruang bagi teman-temannya duduk bersamanya. Awalnya, kelima pria tampan tersebut terlihat sibuk dengan handphone mereka masing-masig. Akhirnya, Christ Afferther membuka awal perbincangan dengan membahas masalah pekerjaan, tugas dan misi mereka kemarin. Semua orang mendengarkan dan mengatakan pendapat masing-masing mereka dan orang tua mereka, semuanya berawal dengan sangat runtut dan lancar mereka menghabiskan waktu kurang lebih 1 jam untuk menyelesaikan masalahnya. Pada waktu akhir-akhir mereka akan menyelesaikan perbincangan serius tersebut, dengan sengaja Brian Brigitte menyebutkan nama dan pertanyaan yang sebenarnya ingin dipertanyakannya dan teman-temannya, dengan tanpa basa-basi ia mengatakannya karena ia ingin tahu dari mulut Joe sendiri.