
" ...bagaimana, cukup parah..."
" ...itulah alasan kenapa..."
" ...mengenai tangannya..."
" ...baikla..."
Samar-samar gadis itu mendengar pembicaraan kedua orang tersebut, tetapi ia benar-benar tidak mendengarnya dengan jelas dan tidak berniat untuk mendengarkan mereka berbicara. Walaupun mereka dalam satu ruangan, cukup sulit untuk mendengarkan percakapan yang begitu pelan dan perlahan.
Ia memutuskan untuk tidak memperdulikan apa yang sedang mereka bahas. Ia lebih memilih untuk tetap memberikan perhatian kepada luka yang sangat meninggalkan kesan baik dan buruk baginya. Tetapi ia terkejut saat mendengar ada seseorang yang tiba-tiba saja memecahkan keheningannya dan memanggil namanya.
" Nona Nocthadhanaksa.. " Suara dokter yang baru saja merawatnya
" Bisa anda bergabung dengan kami sebentar? " Tambah dokter itu yang terlihat tertawa ringan kepada gadis itu
" Ya.. baiklah. " Ia berjalan mendekati meja ruangan tersebut dan duduk tidak jauh di sebelah pria itu
" Bagaimana keadaan anda? "
" S-saya baik-baik saja. "
Apakah terjadi hal yang lebih buruk lagi kepadaku? Ah.. benar-benar ceroboh.
" Saya langsung saja. Bolehkan saya mengetahui siapa.. siapa yang telah memberikan pertolongan pertama kepada anda saat itu? " Dengan serius ia menatap Renxa
" Ah.. it- " Terbata-bata ia menjawabnya, kemudian pria itu langsung memotongnya
" Aku.. kenapa? " Dengan segera pria itu menjawab
" Oh.. " Dokter itu langsung tersenyum lebar mendengar jawaban yang tidak ia duga
Aku sudah menduganya, ini benar-benar buruk..
" Kenapa dokter? Apakah ada yang salah dengan itu? Apak- " Respon gadis itu dengan cemas karena menyangkut hidupnya
" Tidak, tidak. Jangan salah paham, ini merupakan hal yang bagus.. "
" Huh? " Kini Renxa sangat binggung dengan apa yang akan dikatakan dokter itu kepadanya
" I mean.. the first aid you get is amazing. You're lucky with that, your wound doesn't get infected.
[Maksud saya, pertolongan pertama yang anda dapatkan luar biasa. Anda beruntung dengan itu, luka anda tidak menjadi infeksi] "
" Ehem.. gimana? " Pria itu sangat bangga dengan apa yang telah ia lakukan. Ia melirik kearah gadis itu dengan pangkal alis kanannya yang terangkat
" ... " Gadis itu melihat kearah pria yang telah menolongnya tersebut dan tersenyum paksa kepadanya
Bangsat..
Huh.. baiklah. Dia telah menyelamatkan gue, terus mau gimana lagi..
Ia beralih mendengarkan apa yang dokter itu katakan kembali dengan tenang
" And.. karena luka anda cukup dalam, maka itulah sebabnya kenapa darah terus saja mengalir yang dalam kata lain pendarahan. Perlu saya ingatkan, kulit tubuh anda sangatlah tipis dan sensitif, jadi hanya dengan goresan kecil saja akan menimbulkan luka yang besar. Lain kali anda harus berhati-hati. "
" Hhm.. baiklah. " Jawab gadis itu dengan menunduk dan memandang lukanya
" Aku sudah mengatakan kepadanya, bahwa kulitnya sangat tipis. Tetapi, sepertinya dia tidak mempercayai ku. Dia lebih mempercayaimu Isyana. " Tambah pria itu yang membuat Renxa terkejut dan mendongak kearah pria itu
" Apa? Aku kan sudah berkata iya kepadamu waktu itu. Aku tidak mengatakan tidak percaya kepadamu.. " Bantah gadis itu kepada pria menyebalkan yang ada disampingnya
" Oh ya.. " Jawabnya yang singkat disertai senyum tipis dibibirnya
" Mr. Chatzi.. anda sebaiknya lebih menjaga keadaan kekasih anda. " Kalimat yang baru saja dikeluarkan oleh Dr. Isyana membuat kedua anak muda tersebut sangat terkejut hingga mereka sama-sama membantahnya dengan keras
" Saya bukan kekasih dia. "
" Dia bukan kekasih saya. "
" Eh.. kalau begitu teman anda. " Lagi-lagi ia membuat kesalahan dengan mengatakan itu. Sekali lagi mereka sama-sama membantahnya
" Saya bukan teman dia. "
" Dia bukan teman saya. " Bersamaan mereka menjawabnya
" Kalau begitu.. kalian sebagai apa? " Dr. Isyana mengerutkan dahinya dan bertanya kepada mereka berdua
" Hhm.. hanya seorang kenalan. " Jawab Jorgo dengan santai
" Oh.. baiklah. Aku rasa aku tidak melihatnya Jorgo? " Ia tidak bisa berhenti tersenyum kepada pria itu
" Berhentilah. Jangan menggodaku.. "
" ... " Renxa hanya terdiam melihat mereka berdua, ia tidak mengerti dengan apa yang mereka lakukan
" Dokter, apakah saya sudah bisa pulang? Rasanya kepalaku sangat pusing disini, mencium semua aroma obat-obatan.. " Tambah gadis itu memecahkan keributan yang ditimbulkan kedua orang yang ada dihadapannya
" Baiklah.. anda hanya perlu beristirahat yang lebih saat anda sampai nanti. Kalian bisa pergi sekarang. " Jawab dengan sopan wanita cantik itu.
" Kamu.. baik-baik saja? " Pria itu memastikan sekali lagi keadaan gadis itu yang akan beranjak dari tempat duduknya
" Iya.. baik-baik saja. " Ia bangkit dari tempat duduknya
Ia berjalan meninggalkan mereka berdua yang masih duduk dikursi, ia heran dengan apa yang dikatakan pria itu. Pria itu tidak langsung pergi dengannya keluar.
" ...aku ingin berbicara dengan kamu..."
Samar-samar suara pelan pria itu kepada wanita cantik yang berada dihadapannya.
Renxa berjalan kepintu keluar dan membukanya. Ia melihat kedua orang itu sedang berbicara dengan serius, ia tidak ingin mengganggunya dengan kehadirannya. Masih beruntung ia bisa keluar dari ruangan itu.
Mereka terlihat sangat akrap, gue penasaran siapa mereka sebenarnya. Wanita itu sangat cantik, tidak banyak gue melihat wanita dewasa yang cantik sepertinya..
Hihi.. kalau gue cowok, pasti gue tidak akan melepaskannya.
Huh.. rasanya benar-benar sakit, ingin cepat pulang. Kangen sama ranjang..
Setelah ia keluar, ia melihat begitu banyak orang yang berlalu-lalang melewatinya. Rumah sakit ini tidak pernah sepi pengunjung, begitu banyak orang sakit yang mengunjungi tempat ini setiap harinya. Lalu, ia menempatkan dirinya duduk disebuah kursi tunggu panjang yang berada tepat disebelah kanan pintu ruangan Dr. Isyana. Ia sejenak menyandarkan kepalanya didinding dan memejamkan matanya.
Ia sangat lelah, bahkan terlalu lelah untuk berjalan kembali. Ia mendengarkan begitu banyak suara orang yang berbicara, entah apa yang terjadi. Sangat bising, benar-benar bising. Ia perlahan merasakan suara-suara itu menjauh dan tidak terdengar sampai ke telinganya, ia merasa tenang dan nyaman.
...°¢¢¢¢¢°...
25 menit kemudian..
Renxa tidak menyadari bahwa dirinya telah tertidur. Saat ia menyadarinya sudah 25 menit telah berlalu saat ia memejamkan matanya. Ia melihat jam ditangannya, sudah pukul 02.45 siang. Ia sangat panik mengetahui waktu berlalu begitu cepat, seharusnya sudah dari 4-5 jam yang lalu ia sudah berada dirumah. Ia mulai berfikir apakah pria itu sudah selesai dengan percakapannya atau malah dia sudah meninggalkannya ditempat ini.
Damn.. kenapa dia sangat lama sekali. Hampir setengah jam aku menunggunya, hingga tertidur. Aku sangat mengantuk..
Huah.. apa jangan-jangan dia telah meninggalkanku? Dasar cowok...
Tepat detik itu juga ia mendengar ada suara seseorang sedang membuka pintu disamping kursi tempat ia duduk.
(Click..click..)