
Setelah mereka menyelesaikannya, mereka memutuskan untuk mengobrol ditaman belakang kediaman Arvadhafiose, karena G juga bergabung mereka memanfaatkaan waktu bersama mereka untuk mengurus beberapa pekerjaan yang orang tua mereka berikan. Karena orang tua mereka juga saling mengenal, mereka semua sering diberikan tugas bersama juga. Namun, terkadang memang ada waktunya mereka harus menyelesaikannya sendiri. Billan adalah satu-satunya orang yang bekerja individu, ia jarang sekali mendapat mission bersama-sama.
" Uh.. Billan lusa yang menggantikan kita ke Texas, gue bener-bener nggak enak sama dia. Ini tugas kita dan dia yang harus menyelesaikannya. " Ujar Richo setelah menerima beberapa phone call dari handphonenya
" Yah.. kita juga harus lebih bekerja keras lagi." Tambah Zab
...□■□■...
(9.43 PM)
Gadis itu tengah menyelesaikan diskusinya bersama dengan client di sebuah restoran ekslusif. Ia segera merapikan beberapa lembaran kertas yang dimejanya.
"...baik terimakasih atas kerjasamanya, pak." Jawab gadis itu dengan sopan seraya membungkukan kepalanya
" Baik-baik, saya sangat kagum dengan deportasi anda. Anda memang sangat sangat muda, tapi anda bisa meng-handle ini dengan mudah. Saya sangat salut dengan Mr. Afton yang membesarkan kedua anaknya dengan baik." Jelas seorang pria yang belum terlalu tua usianya
" Ah.. terimakasih pak. " Jawab gadis itu dengan senyum dibibirnya
" Baik, terimakasih atas kerja samanya dan saya akan segera menghubungi Mr. Afton and Mr. Billan secepat mungkin, Good night." Tutup pria itu dengan menjabat tangan gadis itu
" Terimakasih pak, selamat malam." Jawab gadis itu dengan menjabat sopan tangan pria dihadapannya
" Mari.. selamat malam." Tambah wanita cantik dewasa disamping pria tersebut yang juga merupakan istrinya
"Oh.. iya selamat malam bu, terimakasih. " Ucap terakhir gadis itu sambil mengantarkan client-nya pergi
Setelah client kakaknya bersama beberapa sekertaris dan asistennya pergi meninggalkan ruangan tersebut, ia kembali ke-mejanya dan membereskan sisa proposal yang berserakan diatas meja dan memasukkannya dengan rapi kembali kedalam map, serta mengurus beberapa hal di laptop G sampai ia benar-benar menyelesaikannya dan mulai menelepon seseorang.
" Hello.. yeah, we got the job. Aku berhasil meyakinkan client. " Jelas Renxa dengan senyum merekah dibibirnya
" Tentu saja, katanya cepat lambat akan menghubungi kalian.."
" Iya ka. Okay.." Tutupnya dengan manis
Gadis itu segera merapihkan barangnya yang ada dimeja dan bersiap-siap untuk pergi. Sebelum ia pergi ia menghampiri kasir untuk membayar tagihannya malam itu dan dengan segera ia menuju tempat parkir restoran itu. Ia sungguh sangat lelah, terlebih lagi dia belum sempat untuk membersihkan dirinya. Rasanya ia ingin segera mandi membersihkan diri dan pergi tidur, dengan memikirkannya saja sudah membuatnya merasa senang. Tetapi, dia harus berhenti sejenak disebuah mall untuk membeli baju tidurnya nanti karena memang saat pergi ia tidak berfikir untuk menginap dirumah sahabatnya tersebut. Dan yang paling sial baginya adalah kehadiran 'pria itu' yang telah menjadi gangguan dari ketenangannya. Awalnya ia tidak berfikir bahwa pria itu akan menjadi seperti itu, tetapi ia salah setelah kejadian tadi siang menimpanya ia menjadi tidak segan-segan untuk berfikir dua kali dalam berhadapan dengan pria itu. Pria itu membuatnya sangat kesal sekaligus kecewa, ia tidak bisa mengatakannya kepada seorang pun.
...□■□■...
Waktu sudah menunjukkan pukul 11.04 saat Renxa tiba dirumah sahabatnya kembali, ia berhenti tepat diluar gerbang utama rumah tersebut dan mematikan mesin mobilnya. Tidak lama kemudian seseorang terlihat membukakan pintu gerbang dari dalam, setelah Renxa melihatnya ia segera turun dari mobilnya dengan bingkisan ditangan kanannya serta jacket yang mengantung. Ia menyerahkan kunci mobilnya kepada satpam yang berjaga disitu untuk membantunya memarkirkan kendaraannya digarasi, ia sudah terlalu lelah untuk mengendarai mobilnya malam itu. Dengan santai ia perlahan memasuki rumah itu, dan kebetulan masih ada pelayan-pelayan yang masih diruang tamu untuk membereskan ruangan tersebut. Ia segera menanyakan dimana keberadaan semua orang saat ini, apakah mereka sudah tertidur atau belum. Salah satu pelayan mengatakan dengan sopan bahwa mereka masih belum tertidur dan saat ini sedang mengobrol ditaman belakang rumah itu. Tanpa banyak berfikir ia segera menghampiri mereka ditaman belakang, dan benar saja mereka semua terlihat duduk disalah satu tempat dipertengahan taman yang luas dengan penerangan lampu disetiap sudut bangku taman. Mereka menyadari kehadiran Renxa dan memanggilnya untuk bergabung.
" Hey.. disini." Teriak G-ra sambil melambaikan tangan
" ..." Renxa berlari kecil
" Udah sampai? Terus gim- " Tanya Brian yang terlihat belum menyelesaikan kalimatnya dan sudah dipotong oleh gadis yang berdiri disampingnya
" Wait.. (click..) " Menjentikkan jari kirinya dan menunjuk kearah orang yang ada dihadapannya masing-masing
" You are not drunk, right? Kalian.." (menunjuk kearah mereka)
" Cittch..." (Joe memalingkan pandangannya)
" Yow.. disini cuman ada two whiskey bottle, dan itupun belum habis. Gimana loe bilang, we're drunk?" Tanggap G disela tawanya
" Ah.. perut gue sakit." Tambah Brian yang terus saja tertawa tanpa henti dengan tangan menyangga perutnya
" Yeah.. apa salahnya bertanya. Siapa tau juga kalau.." (menggangkat kedua bahunya dengan mata terpejam)
" Bentar, loe beneran nggak minum ya? " Tanya Richo dengan penasaran
" Huh? Minum, air putih? Ya minumlah. " Jawab gadis itu dengan santainya dan mengambil tempat disebelah G-ra
" No.. bukan, maksudnya ya ini ni? " Tambah Richo sambil menunjuk
" Ah.. enggak-enggak. Gue sangat patuh sama peraturan." Jelasnya
" Ah.." Tanggapan Richo
" Eh.. by the way, loe Richo Arshenieol Raymond, kan? " Tanya gadis itu tiba-tiba
" Eh.. oh ya, gue belum kasih tau soal ka Richo ke loe. " Jelas pada sahabatnya
" Ah.. it's okay. " Jawab gadis itu santai
" Udah tau? Dari siapa? " Tanya Christ penasaran
" Hhm.. gue baru inget tadi diperjalanan, katanya temen bokap dari dulu. Setelah gue fikir, gue inget dulu uncle Neyson sering banget kasih hadiah ke gue. Ya kan? "
" Ah.. iya bener-bener. Sering banget, sampai Cyndy adik gue suka cemburu ke dia." Jawab Richo dengan senyum lebar dibibirnya
" Oh.. Cyndy, apa kabar? Sekarang dia ada Indo atau? " Tanya Renxa
" Madrid, dua bulan lagi dia baru balik."
" Huaa.. Ren, ayo kita kita tidur yuk." (Menguap) Canda Brian yang membuat semua orang terkejut dan berakhir dengan tawa mereka
" ..." Renxa menyipitkan matanya kepada pria tampan disampingnya tersebut
" Ehem.." Tanggap Joe tanpa menatap sahabatnya
" Ah.. nggak, maksud gue ayo kita semua tidur. Udah malem juga." Brian tertawa dengan sangat keras dan sesekali melirik ke arah Joe
Mereka semua meninggalkan taman dan pergi menuju kamar mereka kecuali satu orang. Ya.. Joe An Arvadhafiose, ketika semua orang mulai meninggalkannya ia terlihat tengah sibuk dengan ponsel ditangannya. Dari jauh ia terlihat menerima sebuah telepon penting.
Telepon dijam seperti ini? Siapa sebenarnya yang menghubunginya, apakah sepenting itu untuk diangkat di jam seperti ini.
Pikir gadis itu yang secara perlahan mulai memasuki rumah
...°¢¢¢¢¢°...