
Mr. Harris membuka pintu dan memasuki ruangan. Saat ia masuk dan duduk dikursinya, ia memandang sejenak murid-murid nya dan berhenti pada Renxa yang terlihat memperhatikan handphone yang ada ditangannya.
" Ms. Nocthadhanaksa.."
" Huh? " Renxa terkejut dan mendongak kearah seseorang yang memanggilnya
" Yes, sir? " Tambahnya dengan sopan
" Saya hanya penasaran, selama anda di Zurich anda menggunakan bahasa German. Karena saya French teacher saya penasaran apakah anda.."
" Ah.. never mind, I'm good at everything.
[Sudahlah, aku pandai dalam segala hal] " Canda gadis itu yang membuat seluruh kelas tertawa bahagia
" Ahaha.. saya hanya bercanda. Lalu apa masalahnya, Mr. Harris? " Terdapat raut bahagia di wajahnya, ia tidak menyangka kata-kata yang spontan ia katakan membuat Mr. Harris dan teman-temannya tertawa terbahak-bahak
" Oh.. no, no. Saya hanya penasaran, kalau pun anda tadi mengatakan tidaklah terlalu paham. Saya bermaksud untuk mengulanginya dari awal, saya tidak masalah. So.. seberapa lancar anda berbicara, saya ingin mendengarkannya. Bisa anda kedepan, dan berbicara sedikit? "
" Que devrais-je faire? Qu'est-ce que je vais dire de toute façon? Je n'ai pas besoin de le prouver.
[Apa yang harus saya lakukan? Lagipula apa yang akan saya katakan? Saya tidak perlu membuktikannya] " Tanpa bergerak dari tempat duduknya gadis itu mengatakan dengan yakin, Mr. Harris dan seluruh kelas benar-benar terkejut dengan apa yang gadis itu katakan
" Cittch.. this arrogant girl. " Tanpa basa-basi menyindir gadis disampingnya
" Mlle Nocthadhanakasa, vous n'avez pas déçu. J'ai pensé que vous parlez très couramment le Français.
[Nona Nocthadhanaksa, anda tidak mengecewakan. Saya telah berfikir anda sangat fasih berbahasa Prancis]." Mr. Harris sangat heran dengan apa yang ia dengar
" Je vous remercie!
[Terimakasih] "
" Saya berfikir, anda mungkin akan menjadi spare key [kunci cadangan] kelas ini. Saya sangat yakin itu.. "
Seluruh kelas terheran-heran dengan apa yang dikatakan gurunya. Renxa pun tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh gurunya.
Kunci cadangan? Emangnya gue kunci Inggris apa? Hahaha.. kunci Inggris, ngga kunci Italia sekalian, haha..
" Spare key? Kunci.. mak- "
" Hhmm.. bukankah mereka.. " Ia sangat binggung, hingga teman yang duduk didepannya memotong kata-katanya
" I'm only fluent in two languages. Spain and Indonesia only. Wow.. kamu memang sangat luar biasa.
[Saya hanya fasih dalam 2 bahasa saja. Spanyol dan Indonesia] " Sela Jessica, gadis cantik blasteran US yang kini membalikkan tubuhnya kebelakang
" Ah.. jadi begitu.. " Jawab Renxa
Renxa sebelumnya menganggap bahwa hal itu adalah hal yang biasa, karena setahu gadis itu karena keluarganya sering berpergian ke luar negara maka hal yang biasa bagi mereka jika harus mengguasai beberapa bahasa dasar sekaligus. Bahkan kakak Renxa sendiri fasih dalam 7 bahasa sekaligus, maka ia tak heran jika orang disekitar keluarganya memiliki kemampuan yang sama dalam berbahasa. Ini pertama kalinya ia mengetahui bahwa bahwa dirinya sangat tidak main-main dalam hal komunikasi didunia nyata, padahal ia adalah orang yang paling tidak bisa berkomunikasi bahasa dilingkupan keluarganya sendiri.
Mr. Harris pun melanjutkan kelasnya dengan tenang. Pada saat pertengahan pembelajaran, Mr. Harris membagi murid-nya menjadi kelompok 2 orang seperti biasa ia mengajar. Karena kelas tersebut kedatangan murid baru dan menjadikannya 7 murid maka akan ada salah satu murid yang bekerja secara individu. Mr. Harris harus mengulang kembali kelompok-kelompok yang sudah ia tetap kan sebelumnya menjadi yang baru, melihat hal itu Renxa mengajukan dirinya untuk bekerja secara individu. Lebih baik baginya untuk bekerja individu dari pada harus merumitkan situasi dimana pembagian ulang dilakukan. Anak-anak lainnya kurang setuju dengan itu, begitupun dengan Mr. Harris. Karena jika Renxa masuk kedalam salah satu kelompok maka ia bisa memberikan arahan yang tepat dalam mengerjakan tugas-tugas berbahasa Perancis. Semua murid ingin satu kelompok dengannya, karena ke-fasihannya dalam berbahasa membuat semua murid ingin belajar lebih bersama dengannya dan mereka yakin kalau belajar dari sesama teman akan lebih mempermudah penyerapan materinya.
Renxa binggung, mengapa mereka membutuhkan dirinya untuk mengajari mereka sendiri. Dengan cara mereka berbicara bahasa perancis, apa yang akan Renxa ajarkan? Sedangkan mereka sendiri sudah sangat bisa berbicara, walaupun belum sempurna.
Tidak ada hal yang bisa gue ajarkan ke mereka. Mereka.. bahkan mereka sudah lancar dari pada orang lain. Walaupun ada beberapa yang harus mereka ubah dan mengerti.
" Guys.. kalian semua sudah sangat mampu. Que dois-je faire d'autre pour vous apprendre?
[Apa lagi yang harus saya ajarkan kepada kalian] " Renxa mengerutkan dahinya dan memecahkan semua keributan yang terjadi
" Mais, je ne peux pas..
[Tetapi, saya tidak bisa..] " Jawab salah satu murid, tetapi Mr. Harris memotongnya dan menetapkan keputusannya
" Baiklah.. baiklah. Saya akan menyetujui Ms. Nocthadhanakasa untuk bekerja sendiri. Tetapi, saya mengharapkan Ms. Nocthadhanakasa untuk membantu murid-murid lainnya. Untuk kalian semua tidak perlu ribut, kalian bisa meminta bantuan kepada Ms. Nocthadhanaksa atau pun kepada saya. Ms. Nocthadhanaksa.. "
" Hhm.. okela, okela. " Jawab gadis itu dengan senyum kepuasan dibibirnya
Kelas mulai berhenti berdebat, dengan pembagian kelompok tersebut semua kelompok duduk berhadap-hadapan 2 orang kecuali Renxa. Suasana kelas yang begitu ramai dengan formasi duduk 2 orang, membuat Renxa sedikit lebih tenang. Ia menghabiskan waktunya dengan membaca buku dan melihat beberapa tugas yang diberikan Mr. Harris kepada mereka. Semua murid terlihat berdiskusi dengan rekan sekelompok mereka, Renxa menilai dan melihat mereka semua sangatlah baik dalam berbahasa perancis. Ia melihat dari pojok satu persatu kelompok serta kesibukan yang mereka lakukan, ia sangat bahagia mendapatkan teman-teman yang baik dan cerdas, pikirnya.
Dalam kesibukan yang Renxa lakukan saat ini, terbesit suara ditengah keramaian tertangkap telinganya. Dari kelompok disamping kirinya, mungkin karena posisinya yang paling dekat dari pada kelompok lainnya membuatnya mendengar beberapa percakapan mereka. Ya.. disana ada Jorgo Constantinos Chatzi dan Jessica. Mereka berdua terlihat akrap dan beberapa kali saling bertukar pikiran masing-masing, tetapi beberapa kali Jessica terlihat membicarakan hal lain diluar tugas mereka. Sangat terlihat jelas bahwa gadis cantik itu sangat mengagumi sosok pria itu, dari caranya berbicara dan menatap. Renxa sekilas menengok mereka dan tersenyum tipis, ia tidak bisa terus-terusan menatap mereka karena hal itu bisa saja membuat mereka terganggu.
Wah.. Jessica benar-benar menyukai pria itu. Tentu saja, siapa yang akan menolak seorang Jorgo Constantinos Chatzi. Mereka mungkin akan cocok, yang satu tampan dan yang satunya lagi cantik..
Renxa menatap buku yang ia bawa dan tertawa ringan dengan punggung tangan yang menutupi mulutnya.