
Dalam drinks storage didalam ruangan ini ada lebih dari 150 jenis/merk yang berbeda disetiap bilik-nya, yang Joe dan ayahnya sendiri memilihnya. Sebagian besar merupakan lebel milik perusahaan ayahnya sendiri Dafiose D'ouevres Company yang juga merupakan sebuah merk ternama di benua Amerika.
G-ra terlihat menyelesaikan dessert-nya dan dengan cepat ia mengambil handphone yang ada disamping mejanya dan mulai mengerjakan sesuatu. Ia menatap layar sambil sesekali meneguk air yang ada di tangan kirinya. Tiba-tiba ia sangat kaget dengan apa yang dikatakan kakak-nya sampai-sampai ia menyemburkan air yang ada dimulutnya ke bawah.
" G.. loe mau Red Wine or White Wine?" (Dengan kedua botol wine ditangannya) Joe sangat santai menawarkan kepada adiknya itu apa yang ada ditangannya
" Burtt.." (Menutup mulutnya)
Semua orang terkejut karena G tiba-tiba menyemburkan air dari mulutnya. Semua orang terkejut karena tingkah laku G, kecuali satu orang. Renxa bukanya terkejut dengan apa yang dilakukan G, tetapi ia sangat terkejut dengan apa yang dikatakan kakak G kepada G.
" Hah.. loe minum? " Bisik Renxa dengan penasaran
" Ah.. yang bener aja loe. Enggak mungkin lah." Jelas G dengan awkward laugh-nya
" Uh.. Joe, yang bener aja. Gue kan masih dibawah umur, mana boleh gue minum?" (awkward laugh) Membalikan tubuhnya kebelakang dan menatap kakak-nya
" Ah.. kaya nggak biasa aja loe? " Jawab Christ dengan segelas martini ditangan kirinya, tanpa memandang kearah G-ra dengan tawa kecilnya
Semua pria yang ada diruangan itu sangat terheran-heran dengan apa yang baru saja dikatakan oleh G-ra. Mereka mulai menertawai G-ra karena ini baru pertama kali mereka dengar dari mulut G
" Baru kali ini gue denger G baru pembelaan diri." Tambah Brian melirik kearah G dengan gelas champagne ditangan kanannya
" Okay.. yasudah kalau tidak mau. " Menaruh white wine bottle ditangan kanannya dan membawa red wine
G melihat kakaknya menaruh kembali botol white wine diraknya, lalu ia membisikan pelan yang membuat semua orang tertawa dengan sangat kencang
" Um.. Joe. White Wine, please.." Tambah G menghadap kearah kakaknya dan mengedipkan sebelah matanya
" Uh? Tadi katanya nggak minum? " Tanya Renxa dengan binggung
" Um.. sedikit, gue cuman minum sedikit." Jawabnya dengan diiringi tawa dari semua orang
" Jangan percaya sama G. Dia itu pembohong, kalau ngumpul dia itu pasti dan nggak mungkin nggak minum. " Tambah Zab disela ia meminum segelas martini ditangan kanannya
" Yaela.. nggak usah diperjelas lagi kali ka." Jelas G sambil menyodorkan gelas wine-nya ke arah Joe
"..." Joe menuangkan seperempat gelas wine kepada adiknya
Semua orang sangat terhibur dengan apa yang G lakukan termasuk Renxa, G-ra memang masih dibawah umur tetapi G tidak sungkan untuk meminum minuman beralkohol. Ia meminumnya tetapi dengan aturan tidak lebih dari dua gelas wine.
" Loe.." Joe memberikan isyarat kepada Renxa apakah gadis itu juga ingin ia tuangkan sedikit
" Uh.. um, no no no. I'm..." Renxa mengeleng-gelengkan kepalanya dan memberi isyarat tangan kepada pria yang berdiri dihadapannya
" Okay. Let's enjoy our drink, cheers.." Tambah Brian dengan mengangkat gelas ditangannya
" Hallo, yeah..." pergi meninggalkan ruangan tersebut
" Cheers.." Jawab mereka bersama dan meneguk habis isi dalam gelas mereka masing-masing
Handphone gadis itu memang sudah berulang kali berdering tetapi ia tidak segera mengangkatnya, sampai pada dering ke lima ia baru mengangkatnya. Bukannya ia tidak mau mengangkatnya tetapi ia hanya ingin menghargai waktu makan malam mereka tanpa adanya gangguan.
...°¢¢¢¢¢°...
(8.16 PM)
Saat semua orang didalam ruangan sedang berbincang dengan santai dan menikmati minuman mereka. Tetapi, Renxa masuk tergesa-gesa tetap dengan handphone ditangannya. Semua orang terlihat memperhatikan pergerakan tingkah lakunya.
" Iya.. aku mau jalan ini, 8.30 kan? Cepat kirim present-nya ke aku, mau baca bentar. "
" Ah.. jangan bikin panik aku dong.. Iya-iyaa... berangkat." Renxa segera meraih tas yang ada dibangkunya dan mematikan telepon-nya
" Um.. sorry, gue duluan ya G." (mencari kunci mobilnya)
" Huh? Kenapa buru-buru? " Tanya Christ yang penasaran
" Iya, masih sore juga." Tambah G-ra
" Uh.. G gue boleh pinjam laptop loe sebentar? " Renxa terus saja melihat arah jarum jam di tangan kananya
" Ah.. itu kakak gue, ka Billan. Nyuruh gue ketemu sama client-nya. Ganti in dia sementara, mana udah mau mepet lagi. Gue buruan jalan ya.." Renxa mengambil jacket dan handphone yang ia letakan dimeja
Renxa dan teman-temannya memanglah masih sangat muda, tetapi tidak dengan otaknya. Hal yang biasa bagi keluarga-keluarga ini untuk diharuskan meng-handle pekerjaan-pekerjaan yang ditugaskan orang tua mereka masing-masing. Bahkan gadis itu sudah diperkenalkan dan dilatih secara khusus oleh seorang profesional dunia bisnis sejak ia masih berusia 12 tahun. Ia sudah terbiasa dengan adanya kertas-kertas, client, dan masalah-masalah perusahaan sejak ia kecil. Selama di Zurich ia berlatih, sehingga pada usia 14 tahun ia sudah cukup mampu meng-handle semua urusan client bersama dengan kakak dan orang tuanya. Maka tidak heran kalau ia selalu bisa menggantikan posisi kakak-nya yang tidak di Indonesia untuk menemui client kakaknya, karena memang ia sudah sangat bisa diandalkan. Keluarga-keluarga mereka diberkahi oleh kemampuan otak yang sangat berkualitas serta dapat diandalkan. Tujuan orang tua mereka mendidik dan mengenalkan dunia kerja serta wawasan kepada anaknya adalah untuk membantu anak-anak mereka memahami semua terlebih dahulu bahkan sebelum mereka masuk ke jenjang perkuliahan, dan mereka tidak akan membuang masa mereka untuk duduk dibangku perkuliahan lebih lama seperti anak lainnya.
" Hhm.. boleh, tanya ada sama pelayan didepan dan suruh ambilin sekalian. Oh ya.. kita kan baru ketemu, hari ini loe nginep disini ya? Biar gue ada temennya juga. Loe nggak kangen sama gue? " Tambah G sebelum gadis itu benar-benar pergi
" Gue nggak bawa baju tidur. Ah.. yaudah deh, lama juga kita nggak kumpul bareng. Nanti habis gue ketemu client ka Bill, gue mampir beli dulu deh. Yaudah.. gue pergi dulu ya. " Berlari ringan dan berhenti sebentar di kaca panjang ujung ruangan untuk melihat bagaimana keadaannya dan merapihkan sedikit rambut panjangnya, karena memang dia belum sempat untuk membersihkan dirinya
" Ah.. udah, cantik-cantik! " Tambah Brian yang tertawa ringan saat melihat gadis itu tengah merapikan diri
" Okay.."
" Be careful.." Teriak ringan G kepada sahabatnya
" Yea.." Suara samar-samarnya karena ia segera berlari dengan cepat meninggalkan rumah itu
...□■□■...