
Christ V.M Afferther dan Joe An Arvadhafiose terlihat sangat tampan malam ini dengan gaya tampilan masing-masing.
Christ menghadirkan gaya casual rock and roll dengan kemeja flannel. Ia memilih motif kemeja flannel dengan warna yang lebih gelap dan membiarkan semua kancingnya terbuka, sehingga menjadi outer dengan dalaman kaus putih. Dipadu-padankan dengan ripped skinny jeans dan black leather sneaker. Dengan semua itu terlihat cocok ditubuhnya, terlebih dengan rambut panjangnya yang lebih menyempurnakan tampilannya.
Sedangkan Joe.. apa pun yang ia kenakan, semua terlihat tampan dimata gadis itu.
Dengan flaid shirt hitam putih motif kotak-kotak yang kedua lengan ditekuk se-siku dan black ripped jeans, membuat kepribadiannya sangat nakal tetapi kalem. Ditambah sepatu converse-nya terlihat benar-benar menyatu dengan penampilannya. Dengan membuka kancing atas kemejanya, dia terlihat sangat seksi.. terlebih rambut hitam panjangnya kini rapi dengan adanya headband hitam melingkar dikepalanya.
Aduh.. sadar Renxa! Loe tidak boleh menatapnya. Tapi.. kenapa malam ini dia sangat seksi? Ditambah sikapnya yang seperti ini.. dia jadi tambah seksi.
Oh my god, gue pasti udah gila karena memikirkan hal ini. Sadar, sadar...
Ia beberapa kali melirik kearah Joe yang tidak melihatnya sama sekali, ia bisa melihat sisi kiri wajah tampan pria itu dari tempatnya duduk. Karena memang pria itu tidak menatapnya, melainkan kearah lainnya. Ia bisa melihat dengan jelas pesona Joe yang di inginkan semua wanita sebenarnya.
Renxa tidak ingin pria itu melihat ia menatapnya. Ia hanya berdiam diri dan menundukkan kepalanya.
" ... " Selama beberapa detik tidak dari mereka yang berbicara setelah ia duduk. Suasana mereka sangat canggung, akhirnya Renxa memulai membicaraan mereka. Sebenarnya G-ra dan kedua pria itu bukan merupakan tipe yang ramah dan mudah untuk di ajak bicara
" Hhm.. kalian, maaf udah nunggu lama gara-gara gue. Kalian udah nunggu lama? " Tanyanya dengan canggung kepada G-ra
" Eng- " Baru saja G akan menjawabnya, tetapi seseorang memotong pembicaraannya dengan tiba-tiba
" 35 menit.. kita menunggu loe, 35 menit! " Jawab Joe dengan datar tanpa memandang kearah gadis itu
" Ah.. haha.." G-ra tertawa dengan canggung kepada Renxa dan ia menyenggol kasar kaki Joe dengan tangannya
" Ouch.. apa? " Tanggap Joe menatap adik perempuannya
" Ah.. gue minta maaf, tadi macet banget dijalan. Jadinya.. haha. " Alasan gadis itu untuk menutupi kesalahannya dan tertawa canggung
" Iya.. It's okay, santai aja. " Jawab Christ yang mencairkan suasana canggung
" Iya. Gue fikir.. disini cuman kita berdua, ternyata.. jadi ber-empat. " Sindir Renxa yang menyipitkan matanya kepada G-ra, gadis itu hanya bisa tertawa dan memalingkan wajahnya sambil meminum minumannya
" Haha.. " G-ra dengan cepat memalingkan wajahnya dengan canggung dan meneguk minuman soda yang sudah ia pesan
" Haha.. maaf ya ganggu kalian berdua. " Jawab Christ dengan senyuman lebar
" Ah.. tidak, tidak. Gue merasa senang kalian bisa gabung dengan kita. " Terlihat sekali bahwa ia berpura-pura bahagia
Ya kali.. gue seneng. Pahit.. iya! Hihi..
" Beneran senang? Kok gue rasa nggak begitu? " Ia menengok kearah gadis itu dengan dingin
" ...."
Untuk pertama kalinya Renxa bisa melihat Joe dengan begitu jelas tanpa adanya paksaan. Ia tidak menyangka ternyata Joe adalah pria yang tampan, walaupun ia tidak tersenyum kepadanya. Untuk beberapa detik ia tidak bisa melepaskan pandangannya dari pria itu, sampai pria itu sendiri yang memalingkan wajahnya kearah lain.
" Ehem.. udah selesai menatapnya? Renxa? " Canda G-ra yang menahan tawa dengan punggung tangannya
Walaupun udara malam disana dingin, ia tetaplah merasakan telinganya panas dan merah. Ia benar-benar malu dengan apa yang baru saja ia lakukan, sampai telinganya memerah. Ia menundukkan kepalanya dan menyentuk kedua telinganya. Ia menarik lengan panjang yang menutupi kedua telapak tangannya dan mengusap telinganya. Ia sangat malu dan memejamkan matanya, ia berusaha bersembunyi dari mata mereka bertiga dengan menundukkan tubuhnya.
Ahh.. gue pasti gila. Malu.. kenapa bisa seperti ini? Dasar bajingan Joe.. aa..
Dalam fikirannya ia berteriak sekencang-kencangnya.
Ia berhasil menyembunyikan dari mereka, tetapi ia mulai membuka matanya dengan cepat. Ia merasakan luka ditangan kirinya terasa tidak bagus baginya. Terasa sedikit nyeri kecil pada lukanya, mungkin ia terlalu keras saat mengepalkan tangannya sehingga lukanya bereaksi.
Ia merasa keadaan sekitarnya tidaklah tepat dalam hal ini, ia berusaha menahannya dan bergumam tanpa terdengar orang lain. Ia beruntung banyak orang yang berbicara dan sangat ramai suara, sehingga mungkin mereka tidak mendengarkannya.
" Ah.. " Ia menundukkan tubuhnya lebih dalam lagi agar tidak terlihat oleh mereka.
Ia melihat perban lukanya sekilas, dengan cepat ia menarik kembali lengan panjangnya untuk menutupi tangan kirinya. Ia menarik nafas dan saat ia akan menegakkan tubuhnya tanpa sengaja ia melirik ke arah Joe disebelah kanannya. Ia hanya melihat separuh badan Joe yang menghadap kearahnya.
Apa dia melihat kearah gue? Ah.. tidak mungkin!
Ia dengan cepat menegakkan tubuhnya dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Ia mendongak dan melihat kearah pria itu, ia terkejut ternyata pria itu sudah melihatnya dari awal. Tidak hanya dia, tetapi G-ra dan Christ juga memperhatikannya.
" Uh? " Gadis itu binggung dengan tatapan semuanya kepadanya
" Kenapa? Ada yang salah? " Tanya Christ
" Loe nggak kenapa-kenapa kan? Nggak pingsan kan? " Canda G-ra dengan tiba-tiba
" Hhm.. tidak, tidak. Baik-baik saja.. " Ia menjawab dengan begitu canggung. Ia melambaikan tangan kirinya seakan tidak terjadi apa-apa dan tersenyum bahagia
" ..." Renxa tidak sengaja menatap Joe yang sudah menatapnya, ia menjadi canggung dan tidak tau apa yang akan ia lakukan
" ..." Tanpa basa-basi Joe menarik rambut gadis itu mendekatinya, ekspresinya sama sekali tidak berubah
" Ah.. ka Joe, s-sakit.. sakit-sakit.. " Teriaknya, ia sama sekali tidak menyangka bahwa pria itu akan menarik rambutnya. Ia berusaha memegang dan menarik kembali rambutnya, tetapi gagal
G-ra dan Christ awalnya terkejut dengan apa yang dilakukan Joe kepada gadis itu, tetapi lama kelamaan mengubahnya menjadi candaan. Mereka tertawa diatas penderitaan Renxa, Joe tetap tidak mau melepaskan rambut Renxa dari genggamannya. Joe tidaklah menarik terlalu kuat rambut gadis itu, tetapi cukup untuk merasakan sakit.
" ... " Joe menaikkan salah satu alisnya kepada gadis itu
" Ka Joe! Lepasin.. apa salah rambut gue. Sakit.. sakit-sakit. " Ia tidak bisa melihat wajah Joe saat ini, karena pria itu menarik kearah berlawanan
" Apa loe berusaha mengacuhkan gue malam ini?" Melepaskan tangannya dari rambut gadis itu
" Huh? Ah? Uh? Em.. Hhm.. nggak. Aw.. s-sakit! Sakit tau.. " Ia mengusap lembut kepalanya karena tarikan pria itu
" ..." Renxa menyipitkan matanya kepada Joe dengan kesal, ia terlihat cemberut kepada pria itu. Sedangkan, pria itu.. dia malah tersenyum lebar kepadanya
Tersenyum? Ah.. kenapa gue harus mengenal dia? Menyesal..