
Jika menengok keatas meja makan, hadir sebuah lampu chandelier yang masih mengandalkan keunggulan tradisi pembuatan gelas Murano (hand blown) lebih dari 700 tahun. Penataan meja diperkaya dengan keanggunan meja kayu berukuran masif dengan kursi yang rapi. Ditambah dengan tatanan rapi bunga-bunga segar berwarna selaras dengan tema ruangan dan lilin-lilin aromaterapi kecil dideretan tengah meja. Pada sisi kiri ruangan terdapat deretan Wine Closet/Wine Storage. Deretan merk minuman terkenal dan terbaik di Eropa, tidak hanya Red Wine/White Wine saja yang memenuhi storage tersebut tetapi Champagne, Snifter, Whiskey dan Martini juga mendapatkan tempat disana dan dilengkapi masing-masing jenis gelas minumannya.
Meja-nya berbentuk persegi panjang yang menyesuaikan dengan bentuk ruangan itu, kursi tersebut dapat menampung 12 orang sekaligus, 5:5 sisi kanan kiri, dan 1:1. Renxa duduk di kursi ke 2 sisi kiri ruangan dengan G-ra dikirinya, ia tengah menunggu makanannya datang. Saat Joe dan yang lain mulai memasuki ruangan, Joe dan teman-temannya terlihat mengambil posisi kursi sisi kanan yang berarti berhadapan secara langsung dengan kedua gadis itu. Joe memutuskan untuk duduk tepat bersebrangan dengan kursi Renxa, seorang gadis yang telah menolaknya. Renxa sudah menduga itu akan terjadi, Joe dari awal memasuki ruangan terus saja menatap kearah Renxa tetapi gadis itu berusaha untuk lebih tenang dan tidak menatap balik kearah pria yang menatapnya. Tidak lama setelah mereka sampai dan berada pada posisi, pelayan terlihat memasuki ruangan dan menyajikan makanan mereka masing-masing. Semua hidangan Western Main Course terkenal ada disini, seperti : Confit de Canard, Foie Gras, Grilled Beef Emince, Al-Majles Chicken, dan hidangan lainnya
" Yey.. dateng." Ucap G-ra dengan semangat
Setelah Renxa mendapatkan makanannya, ia terlihat tidak terlalu tertarik dengan apa yang ada dihadapannya. Sebaliknya ia bahkan ingin menukarkan piringnya dengan orang lain, ia mencari hidangan favoritnya.
" G-ra, gue mau tuker piring." Bisik gadis itu kepada G yang ada disebelahnya
" Ah? Kenapa? Grilled Beef Emince kan enak! " Tanya G yang binggung dengan tingkah sahabatnya, sementara para pelayan masih sibuk menghidangkan hidangan lain kepada pria-pria tampan yang ada diruangan tersebut
" Iya enak, tapi gue mau Foie Gras. Udah ada dipikiran gue soalnya." Bisiknya dengan pelan dan disertai tawa kecil
" Gue nggak dapet, coba loe tanya yang lainnya." Mulai melahap hidangan yang disajikan dihadapannya
" Um.. Sorry ganggu. Kalian ada yang dapet Foie Gras ngga? " Tanyanya dengan canggung kepada pria-pria dihadapannya tanpa melirik kearah pria yang berada tepat dihadapannya
" ... " Joe menatap gadis aneh di depannya dengan mengangkat salah satu alisnya
" Sorry, gue nggak dapet. " Jawab Brian yang berada tepat disebelah kanan Joe
" Kenapa emangnya? " Tanya Joe dengan penasaran
" Gue, mau tuk- .. Um.. nggak jadi deh." (Menggeleng-gelengkan kepala) Jawabnya dengan menatap piring Joe sampai akhirnya ia menyadari bahwa apa yang ia inginkan ada pada Joe, ia memilih untuk mulai memotong daging dan memakan apa yang ada padanya saat itu
" Uh? Mau tuker sama Foie Gras gue?" Menggeser piringnya ke arah gadis yang ada dihadapannya
Foie Gras merupakan salah satu hidangan favorite gadis itu. Foie Gras adalah sebuah hidangan klasik sejak zaman kerajaan di-abad pertengahan. Foie Gras juga merupakan makanan paling tua di Eropa, bahkan orang Bulgaria sendiri telah memasaknya sejak 20 abad yang lalu. Hidangan ini memakai hati angsa sebagai bahan utamanya yang dibuat pasta.
" Um.. nggak usah. Gue makan ini saja. " Jawabnya tanpa memandang kearah pria itu dan melahap daging yang ia potong
" ..." Tanpa persetujuan, pria itu langsung menggangkat piring gadis dihadapannya dan menukarnya dengan miliknya
" Udah! Tadi katanya mau tukar piring? " Jawab Joe kalem dengan senyum tipis dibibirnya
" Ehem.." Sela Christ selagi menikmati makanannya dan tetap melanjutkannya dengan santainya seperti tidak terjadi apa-apa
" Hurf.. G, kok gue panas ya? AC nyala nggak sih? " Canda Brian yang duduk tepat disebelah kanan Joe yang mengundang tawa ringan teman-temannya
" Huh? AC bener nyala, tapi kayanya ada hati yang membara. Ups.. salah." Canda G sambil melirik ke kakaknya, dan membuat suasana diruang makan tidak kaku lagi
Joe terlihat tidak peduli dan memilih untuk mulai menyantap hidangan yang ada dihadapannya. Beberapa saat kemudian ruangan kembali terasa tenang, semua orang tengah menikmati hidangan dan tepat sebelum mereka selesai beberapa pelayan memasuki ruangan dengan membawa hidangan penutup mereka malam ini. Crème Brulee menjadi pilihan Chef Mario untuk memanjakan lidah keluarga ini, dessert khas perancis ini selalu tidak pernah mengecewakan para penikmatnya. Dessert olahan dari campuran susu, vanila dan buah-buahan yang dimasak dalam oven ini memiliki tekstur lembut dengan rasa manis dan segar membuatnya menjadi hidangan penutup yang sempurna.
" Wow.. Crème Brulee, this's my favorite dessert." Ujar Brian
Semua pelayang segera membersihkan piring kotor yang ada dimeja dan segera menyajikan hidangan penutup kepada mereka. Sesaat setelah pelayan menyajikan dessert, Richo dan Christ meninggalkan meja-nya dan berjalan menuju drinks storage yang ada disebrang meja-nya. Champagne dan Martini menjadi pilihan masing-masing dari mereka.
" Bisa kurangin-in suhu AC-nya? " Tanya Christ kepada seorang pelayan yang berada pada pojok ujung ruangan, pelayan tersebut menuruti apa yang diperintahkan kepadanya dengan sopan dan hati-hati.
Karena ketahanan suhu dapat mempengaruhi temperatur minuman mereka saat sudah dituang kedalam gelas. Karena itulah Christ meminta agar suhu ruangan tidak terlalu dingin.
Kedua gadis yang ada diruangan tersebut tidak terlalu peduli dengan apa yang kakak-kakak mereka lakukan, mereka hanya menikmati dessert yang memanjakan lidahnya tersebut. Renxa benar-benar menikmatinya hingga dia tidak sengaja menatap Joe yang ada disebrangnya dan ternyata Joe memang sudah menatap gadis dihadapannya. Joe menyandarkan tubuhnya dibangku yang ia duduki, ia terlihat sedikit merendahkan tubuhnya agar bisa menyandar dipunggung kursi dan mulai menatap apa yang ada dihadapannya.
Ah.. dia liat ke arah gue nggak sih? Pikir gadis itu dan tetap menikmati dessert-nya
Sepertinya pria itu menyadari apa yang telah dipikirkan gadis disebrangnya, benar saja ia berhenti menatap gadis itu, dan mulai meluruskan serta meregangkan tubuhnya dikursi.
" Tenang aja, gue nggak ngeliat kearah loe kok. Gue liat apa yang ada dibelakang loe, wine mana yang mau gue minum kali ini." Sindir Joe dengan melirik kearah gadis itu dan mulai berdiri jalan menuju wine closet tepat dibelakang gadis itu
" Siapa juga kali ya, yang ngomong kaya gitu? Ya kan G. Nggak ada yang ngomong." Sindir balik gadis itu kepada Joe tanpa memandang kearahnya
" ... " Joe hanya tersenyum tipis disudut bibirnya menanggapi hal itu dan tetap memilih wine mana yang akan ia minum
Joe memang sebenarnya sedang menatap gadis itu, ia sungguh penasaran dengannya. Tetapi ia tidak ingin mengakuinya dan memilih untuk membangkang kata hatinya.