
Renxa segera menuruni anak tangga, ia sudah selesai membersihkan dirinya. Ia berjalan menuju ruang tengah dimana semua orang berada. Renxa merasa tidak enak, karena ia sudah membuat mereka menunggunya selama satu setengah jam lamanya.
Dari jauh ia melihat kedua orang itu sedang mengobrol santai dengan bu Wan. Ia perlahan berjalan memasuki ruangan dan mereka langsung berdiri melihat kedatangannya.
" Maaf, aku membuat kalian menunggu begitu lama. Tadi aku harus menerima telepon dulu.. " Dengan nada bersalah gadis itu mengatakannya
" Ah.. tidak masalah, nona Renxa. Lagi pula kami tidak sedang terburu-buru. " Jawab Clara dengan sopan
" Haha.. kalau begitu, bu Wan? Apa semua sudah siap? " Renxa beralih pada wanita dewasa yang berdiri disamping kedua orang asing itu
" Sudah, nona. Anda bisa masuk ruangan.. " Jawab wanita itu dengan sopan
" Baiklah, ayo.. " Renxa memberi isyarat pada asisten ibunya itu untuk mendahului mereka untuk menuntun tamunya
Mereka masuk dan duduk dikursi, kemudian beberapa pelayan masuk dan menyajikan makanan lezat diatas meja untuk mereka. Renxa sangat lapar, ia hampir meneteskan liurnya melihat makanan yang disajikan dihadapannya. Tidak menunggu lama, gadis itu langsung menyantap makanannya.
Ferry dan Clara juga memulai makanannya. Beberapa menit tidak ada yang berbicara, mereka hanya fokus dengan makanannya tanpa mengeluarkan suara. Hanya ada suara sendok dan garpu yang bersentuhan dengan piringnya, serta suara benturan gelas mendenging ditelinga.
" Nona maaf, tetapi saya melihat beberapa foto masa kecil anda dan teman-teman anda dibeberapa sudut ruangan rumah ini.. " Ferry orang pertama yang memecahkan kesunyian mereka. Pria itu penasaran pada orang-orang yang bersama dengan gadis itu. Ferry melihat beberapa foto dipajang diatas meja dan digantung di dinding, karena penasaran ia memutuskan untuk bertanya dengan langsung
" Hhm.. iya, ada sahabat dan beberapa teman kakak aku.." (mengangguk)
" Oh.. saya merasa, saya melihat G-ra An Arvadhafiose disana dan beberapa anggota keluarga besar lainnya.." (tersenyum)
" G-ra sahabat saya, kita sudah kenal dari kecil. Disana ada Cyndy Arshenieol Reymond (adik Richo) dan yang lainnya. Orang tua kita bersahabat, jadi saya mengenal mereka. " (mengunyah) Jawab gadis itu tanpa menatap Ferry
" Ah.. pantas saja kalian terlihat akrap disana." (tertawa)
" Uh? Hhm.. Clara, apa kamu sudah melihat kakak ku? " Renxa langsung beralih pada wanita yang duduk disebelah kanannya itu
" Ah.. Tuan Billan Nocthadhanaksa Widjaya? " Clara langsung menengok gadis yang berbicara kepadanya
" ..." Renxa tersenyum dan mengangguk cepat
" Untuk melihatnya langsung saya belum pernah, hanya.. melalui media saja. Haha.. " (tertawa)
" Dia sangat tampan, benar-benar tampan. Kamu pasti akan menyukainya jika melihatnya.. hihihi. " Renxa malah menggoda wanita itu didepan kekasihnya
" Huh? Tentu saja, saya bahkan sudah menyukainya hanya dengan melihat beliau diberita. Tuan muda benar-benar tampan, bahkan jauh lebih tampan dari Ferry! " Clara melirik kearah pria itu dan tersenyum. Ia terlihat sengaja menekankan kalimat akhirnya
" ..." Ferry mendongak dan menatap kedua wanita itu
" Hhm.. okay, aku mengakuinya. Tuan muda memang sangat tampan. Hahaha.. " (mengangkat tangan) Ferry tertawa bahagia menanggapi tunangannya itu. Tidak ada nada kesal dikalimatnya. Semua orang tau dan mengakuinya, bahwa Billan Nocthadhanaksa Widjaya adalah pria tampan dan ideal bagi semua wanita
" Hahaha... " Kedua wanita itu tertawa bahagia dan melanjukan makan malam mereka
...____________...
Setelah selesai, Ferry dan Clara segera pamit kepada Renxa untuk pulang. Hari sudah mulai larut malam saat mobil mereka meninggalkan kediaman Nocthadhanaksa.
Renxa kembali naik ke kamarnya, ia harus segera menyelesaikan tugas sekolahnya hari ini. Hari ini hari Rabu, dan besok ia harus bersekolah lagi. Kamis sebenarnya bukan harinya sekolah, tetapi pihak sekolahnya meminta semua murid untuk hadir pada hari Kamis. Biasanya sekolah akan mengadakan pertandingan kecil untuk murid-muridnya sesudah jam pembelajaran selesai.
Renxa tidak tau dan tidak ingin tau, ia hanya menuruti apa yang sekolahnya tetapkan. Ia berjalan menuju meja belajarnya, diatas meja sudah ada beberapa tumpukan buku yang sudah menunggunya untuk dikerjakan. Baru saja ia membukannya dan.. ia sudah merasa pusing. Tugas fisika dan biologi, semua itu bukanlah keahliannya. Ia masih berfikir lama untuk bisa mendapatkan jawaban yang benar dari tugasnya.
Kenapa ini sangat sulit? Jika..
Pikir gadis itu. Ia sangat ingat betul, bahwa Joe sangat pintar di Matematika dan Fisika. Dulu itu adalah mata pelajaran favorit pria itu, tetapi entah itu sudah berubah darinya atau tidak.
Eh, eh.. tidak-tidak! Kenapa gue jadi memikirkannya. Ada-ada saja, Renxa loe pasti bisa!
Gadis itu segera fokus kembali dengan buku-bukunya. Beberapa kali ia membolak-balikkan bukunya dan akhirnya menemukan jawaban atas soalnya.
(Kring..kring)
Ada panggilan masuk di handphone gadis itu. Renxa segera meraih handphonenya dan melihat ID nomor pada handphonenya.
~G-ra An Arvadhafiose~
" Halo. "
" Renxa.. besok jemput gue ya! " Tiba-tiba saja gadis itu mengatakan ingin dijemput
" Kemana? "
" Dibandara lah. "
" Bandara? Loe habis pergi dari mana? Tumben loe tidak membawa mobil sendiri? "
" Dari.. ada deh, haha..
Pokoknya jemput gue dibandara ya! "
" Apaan sih, cuman tanya doang. Jam berapa? Gue besok ada kelas ampe siang! Kalau loe dateng pagi, pulang sendiri! "
" Hhm.. tenang aja, gue sampe di Indo kira-kira jam makan siang. Pesawat gue tengah malam, jadi paling lambat jam 2 siang gue udah mendarat. "
" Yaudah, jan lupa beli-in gue cincin yang bagus!" (tersenyum) Renxa tidak mengatakannya dengan serius. Ia hanya ingin menggoda sahabatnya
" Cincin? Oh.. loe mau gue lamar?" (tertawa)
" Haha.. gue hanya bercanda. Btw, kapan loe pergi? Ngga ada kabar.. "
" 1 minggu yang lalu sih. Gue tidak ingin lama-lama disini, gue sangat pusing. Haha.. "
" Ih.. loe mah aneh! Yaudah kalau gitu, gue mau lanjut kerjain tugas sekolah gue. Bye.. "
" Okay, bye.. "
Renxa mengakhiri panggilannya dan fokus kembali pada pekerjaan rumahnya. Saat menerima telepon, ia tetap mengerjakan tugasnya. Jadi ia membagi otaknya menjadi dua, ia bisa fokus pada keduanya tanpa kesulitan.
Sebenarnya, ia ingin menanyakan soal Joe pada G-ra. Tetapi.. ia mengurunkan niatnya itu dan mengalihkan pada hal lain. Ia tidak ingin jika malah nantinya, G-ra akan menggodanya balik saat ia menyebutkan nama Joe An Arvadhafiose!
Disisi lain, sebenarnya Renxa juga penasaran kenapa G-ra tidak mengatakan kemana ia pergi. Dengan jarak penerbangan 10 jam keatas.. sepertinya gadis itu berada dinegara lain, misalnya AS, Spanyol, Mexico mungkin? Tapi pertanyaannya.. untuk apa dia kesana dengan terburu-buru?
...□■□■...