MY Lovely Story

MY Lovely Story
Eps. 55



[Kediaman Nocthadhanaksa, Indonesia]


12. 43 PM


" Huahh... " Renxa membaringkan tubuhnya diranjang dengan tv yang masih menyala, ia mengantuk tetapi tidak bisa tertidur


Setelah kejadian itu, Joe sama sekali tidak berbicara kepadanya. Bahkan setelah penawaran itu, Joe tetap tidak membicarakannya. Joe mengantarnya pulang dengan selamat, tetapi saat ia hendak meninggalkan pria itu. Tanpa ia sadari, pria itu mengikutinya masuk kedalam rumahnya. Ia bertanya dengan binggung kepada pria itu, tetapi dia tidak menjawabnya. Bukan pria itu, melainkan bu Wan/personal assistant ibunya yang menjawab untuk pria itu. Wanita itu bilang, bahwa Joe akan singgah sebentar di Kediaman Nocthadhanaksa sampai Joe selesai beristirahat.


Renxa tidak mengerti, kenapa pria itu dengan mudah menguasai rumahnya. Memangnya dia atau gue yang punya rumah ini?


Sejak kapan Joe membicarakan ini kepada asisten ibunya, tanpa ia ketahui. Saat berada diruang tengah, ada seorang wanita yang telah menunggunya. Ia adalah suster yang bertugas membersihkan dan mengganti perban lukanya. Joe hanya melewati mereka dan sama sekali tidak memperhatikan gadis itu.


Setelah mereka sampai, para pelayan sudah menyiapkan makanan untuk mereka. Ia dan pria itu makan disatu meja yang sama, tetapi dengan suasana yang berbeda. Beberapa kali ia membuka pembicaraan dengan canggung, tetapi Joe masih datar kepadanya. Dari pada pria itu membuatnya kesal, lebih baik ia tidak melihatnya. Renxa memutuskan untuk dengan cepat menyelesaikan sarapannya dan pergi menuju kamarnya. Joe sama sekali tidak merespon dan memperdulikannya, dia hanya sibuk dengan makanan dan gelasnya.


Pukul 10 pagi lewat ia naik kekamarnya. Ia awalnya merasa sangat mengantuk dan membaringkan tubuhnya. Satu jam ia memejamkan matanya, tetapi ia tidak bisa tertidur, ia tetap tidak bisa tenang dalam posisinya. Akhirnya ia memutuskan untuk menonton film ditv-nya sampai ia merasa mengantuk.


Kadang ia berfikir, apakah yang sedang dipikirkan pria itu? Ia bahkan tidak bisa mengerti.


(Kring..kring)


~Billan Nocthadhanaksa~


Renxa meraih handphone-nya disampingnya dan melihat siapa yang meneleponnya. Kakaknya tiba-tiba saja menghubunginya, ia sangat binggung kenapa tiba-tiba sekali. Dalam waktu seperti ini..


...


...


" Halo.."


" Hai, kamu ada dimana sekarang? "


" Dirumah. Ada apa kak? Kakak belum tidur? Bukannya di Mexico, udah.." (menengok jam)


" Oh.. tidak. Aku ada di Netherland, masih jam 7 pagi disini. "


" Ah.. belanda? Gue ingin ikut, kenapa kamu tidak mengajak gue? Kenapa kamu ada disana?" Ia bangkit dari ranjangnya dan duduk


" Hahaha.. iya maaf. Ada pertukaran mahasiswa dan.. ada yang harus gue lakukan disini. Mungkin.. lain kali gue akan menyuruh ka Joe membawamu kesini liburan bersama. Hahaha.. " Goda pria itu pada adiknya


" Ah.. malas ah. Kenapa jadi mbahas dia? Kak, apa ka Billan memperbolehkan ka Joe ada disini?"


" Hhm.. tentu saja. Gue memberikan dia hak penuh untuk berbuat apapun dirumah itu. Terserah dia mau ngapain.. " Jawab pria itu dengan santai.


Pantas saja, dia bisa datang dan pergi sesukanya..


" Tapi.. kenapa? Gue tidak menyetujuinya, mama papa juga tidak mengatakannya. "


" Renxa, adik gue yang paling imut. Itu adalah hal yang biasa diantara keluarga kita. Kakak juga mendapatkannya dari ka Joe dan teman lainnya, apa yang salah? Bukankah kamu juga seperti itu dengan G-ra? "


" Hahaha.. apa maksudmu? Dia adalah pria yang baik.. hanya saja kamu tidak bisa melihatnya. "


" Aku penasaran, sebenarnya definisi kata BAIK dalam kamus kakak itu seperti apa sih? Kenapa selalu berkebalikan dengan apa yang gue fikirkan? "


" Hahaha.. " Billan hanya tertawa tanpa henti, ia tidak bisa menjelaskannya


" ..." Renxa menyipitkan matanya melihat handphone ditangannya. Pria itu masih saja tertawa mengejeknya.


Hampir setengah jam mereka mengobrol. Seorang pelayan mengetuk pintunya yang menghentikan percakapan mereka. Pukul 1 lewat, pelayan memberitahukan bahwa makan siang mereka sudah siap. Gadis itu hanya memakan salad dan sandwich sebagai menu sarapannya. Kali ini adalah makanan yang sebenarnya dimulai. Tepat saat itu perutnya berbunyi dan mau tidak mau ia mengakhiri panggilan kakaknya sementara.


Renxa meninggalkan kamarnya dan berjalan turun menuju ruang makan keluarga mereka. Saat dalam perjalanan, ia melirik kedalam ruangan dan pria itu tidak ada disana. Ia penasaran apakah pria itu sudah meninggalkan rumahnya atau belum, maka ia memutuskan bertanya pada asisten pribadi ibunya didekat ruangan itu.


" Hhm.. bu Wan, ka Joe.. dia sudah pergi dari sini? " (tersenyum) Ia sangat yakin dengan itu


" Oh.. tuan Joe belum pulang, saat ini beliau sedang beristirahat di kamar atas. Kamar tuan muda Billan.. " Dengan sopan disertai senyum lebar dibibirnya, wanita itu tidak berani menatap Renxa dan ia hanya sedikit menundukkan kepalanya dengan sopan


" APA? Ah.. kenapa belum pulang juga? Apa dia juga akan ikut aku lunch(makan siang).. " Ia menghembuskan nafasnya dengan putus asa


" Tentu saja, nona muda. Ada masalah? Saya akan menyuruh pelayan untuk membangunkan beliau.. " Ia hampir akan menunjuk pelayan wanita untuk datang menemui pria itu, tetapi Renxa memotongnya..


" Oh.. tidak, tidak perlu. Biar aku aja yang membangunkan dia, kalian disini saja. Aku ingin melihatnya, di kamar kakak aku, kan? " Renxa berbalik dan perlahan pergi meninggalkannya setelah melihat anggukan mereka


" ..." (mengangguk)


...°¢¢¢¢¢°...


Renxa menaiki anak tangga dan mengambil jalur kanan. Ada koridor yang memisahkan ruangan utama dan sampingnya. Kamar Billan sebenarnya tidaklah jauh dari kamarnya, hanya berjarak 7 meter kesamping dari pintu kamarnya hingga pintu kamar Billan. Ia melewati pintu kamarnya dan berjalan lurus hingga sampai pada ruangan kakaknya.


(Click..click)


Renxa perlahan membuka pintu kamar itu, ia sangat hati-hati membukanya agar tidak mengganggu tidur pria itu.


Kamar tidur design Neoclassical menjadi unsur utama kamar Billan. Didominasi satu warna, yakni abu-abu. Klasik, simple, tetapi futuristik. Kamar yang luas dengan tatanan rapi pada lemari dan sofa-sofa senada. Tidak terlalu banyak barang yang kakak gadis itu pajang dikamarnya, hanya beberapa lukisan dan alat musik kesukaannya, seperti gitar akustik dan keyboard disudut ruangan. Terdapat juga meja kerja yang lengkap dengan komputernya berada disamping jendela balkon panjang sisi ruangan.


" ..." Renxa berhenti dengan membuka separuh pintu kamar itu dan melihat sekelilingnya


Ditempat tidur, terlihat ada seorang pria yang membaringkan tubuhnya. Joe tertidur dengan sangat tenang dan menghadap arah pintu. Matanya masih terpejam sangat erat, gadis itu fikir tidak akan ada masalah jika ia mendekati pria itu diam-diam. Ia perlahan masuk dan menutup pintu dibelakangnya sebisa mungkin tanpa menimbulkan suara.


Ruangan itu sangat dingin, tetapi pria itu tidak menyelimuti tubuhnya. Pria itu tertidur sangat pulas, Renxa menjadi tidak sampai hati membangunkannya.


" ..." Sejenak ia menatap pria itu dengan sungguh-sungguh


Renxa menyipitkan matanya saat melihat dahi pria itu. Bahkan saat akan tertidur, ia masih saja memakai headband-nya. Entah apakah dia terlalu lelah untuk melepasnya atau itu memang kebiasaannya.


Renxa mengambil tempat disebelah pria itu, ia duduk disampingnya. Sangat lama saat ia mulai menatap pria itu, ia tidak bisa menyangkalnya. Bahwa Joe adalah orang yang berhasil membuatnya jatuh cinta untuk pertama kali dalam hidupnya. Joe tidak mengetahuinya dan ia memastikan pria itu tidak akan pernah mengetahuinya.


" ..." (mengusap) Gadis itu menangis