
Renxa bahkan sudah tidak bisa merasakan rasa sakitnya bersamaan dengan ia melihat wanita itu menangis. Ia melepaskan dan memakaikan jacketnya pada tubuh wanita itu. Renxa tidak memperdulikan lukanya dan fokus untuk menenangkan wanita itu, ia menunggu hingga keadaan benar-benar tenang.
Mungkin karena wanita itu terlalu panik dan takut, maka dia tidak menyadari bahwa gadis itu terluka. Tetapi Renxa juga tidak berniat untuk menunjukkan lukanya pada seseorang yang juga sedang terluka. 5-6 menit Renxa menunggu dan wanita itu kembali tenang. Ia melihat jam tangannya, sudah pukul 1 lewat.
Ini sudah pagi, apa ada taksi online yang masih lewat? Mana gue nggak bawa mobil sendiri lagi..
" Kamu kesini naik apa? " Tanya gadis itu
" Aku tadi bersama taksi online.. "
" Hhm.. kalau begitu, ayo kita pulang. Aku akan memesankannya untukmu, semoga dijam seperti ini masih ada.. " Renxa menatap layar handphonenya dan berusaha memesan taksi online dijam seperti ini
Setelah beberapa saat mereka menunggu, notifikasi app-nya bergetar. Renxa berhasil memesankan wanita itu taksi online, dan mereka bersiap untuk meninggalkan tempat itu.
" Kita sudah mendapatkannya, sebentar lagi mobilnya akan sampai didepan.. " Renxa membantu wanita itu berdiri
Renxa perlahan membuka pintu itu dan ia yang pertama keluar. Tempat itu memanglah sepi dan tidak ada orang lain. Mereka berjalan melewati koridor kecil dan langsung terhubung dengan ruangan utama. Walaupun sudah benar-benar larut tetapi suara musik dan pengunjung tidak pernah sepi. Hanya berkurang sedikit dari pada saat pertama ia datang. Musik dan keramaian melewati gendang telinga gadis itu. Renxa selalu berjaga-jaga dan melihat sekitarnya, tetapi mereka berusaha bersikap biasa saja didepan umum agar tidak menimbulkan keributan.
Ah.. dingin! Gila.. disini dingin banget. Kenapa wanita-wanita itu bisa bertahan dengan pakaian terbukanya?
Saat menginjakkan kakinya pada aula utama diskotek itu, udara dingin AC menusuk seluruh kulitnya. Karena sebelumnya ia memakai jacket maka tidak akan terasa. Tetapi karena jacketnya bersama orang lain maka ia harus merasakannya. Dengan baju yang terbuka di kedua bahu dan punggungnya, membuat gadis itu kedinginan. Terlebih lagi dengan lengan pendek dan bahan yang tidak terlalu tebal menambahkannya menjadi kesan terbuka. Maka tidak heran jika gadis itu membutuhkan jacket untuk menutupi sebagian besar tubuhnya yang tidak tertutup bajunya.
Mereka berjalan mendekati pintu keluar, dari luar kedua pria itu melihatnya dan langsung membukakan pintu untuknya dengan terkejut.
" Nona.. anda dari mana saja? Tuan muda mencari anda tadi.. " (membuka pintu) Kedua pria itu berusaha menghentikan Renxa
" Tidak papa saya hanya berada disekitar sini saja, tidak perlu khawatir. Tuan Joe sekarang ada dimana? " (tersenyum)
" Beliau masih ada diruangannya bersama teman-teman beliau. Beliau berpesan kepada saya agar tidak membiarkan anda pergi dari sini. " Mereka menghadang gadis itu dan menundukkan kepalanya
" Oh.. tidak-tidak. Saya tidak akan pergi dari sini, saya hanya ingin mengantarkan nona ini kebawah. Tetapi saya akan kembali lagi kesini.." Renxa membiarkan wanita itu untuk berjalan mendahuluinya
" Baik. Eh.. nona, tangan anda.. " Kedua pria itu menyadari darah yang mencolok ditangan gadis itu. Saat akan mengatakannya, Renxa langsung memberikan isyarat tangan untuk diam. Mereka melihatnya dan langsung terdiam menuruti apa yang gadis itu inginkan
" Dan.. jangan memberi tahukan, hal ini pada Joe. Tidak juga dengan saya yang pergi.." (berbalik) Ia sedikit menurunkan suaranya agar tidak terdengar sampai wanita didepannya
" Baik. " Mereka mengangguk mengerti dan membiarkan gadis itu pergi
...°¢¢¢¢¢°...
Sebuah mobil masuk dan berhenti tepat didepan pelataran pintu utama menuju dalam gedung. Tidak lebih dari 5 menit mereka berdua menunggu didepan.
" Saat itu.. aku sudah berkali-kali meminta tolong, tetapi tidak ada yang mendengarku. Tetapi, kamu datang dan menolongku. Aku tidak tau, kenapa kamu bisa disana dan berada disaat yang tepat. Kamu adalah gadis yang sangat baik, mungkin hanya Tuhan yang tau apa yang telah terjadi kepada kamu sehingga kamu berada ditempat itu dan menenangkan perasaan tanpa orang lain sadari. " Wanita itu tersenyum lemah pada Renxa
" Malam ini Tuhan telah berpihak kepadaku, apa yang terjadi kepadamu mungkin adalah salah satu jalan Tuhan untuk menolongku. Jadi aku mohon tolong jangan menangisi semua kejadian yang telah terjadi sebelumnya, sehingga kamu bisa berakhir pada tempat itu. Karena dengan semua kejadian itu, akhirnya kamu bisa menjadi malaikat kecil penolongku. " Wanita itu selalu tersenyum disetiap kalimat yang ia ucapkan, bahkan air matanya hampir saja terjatuh
" Tentu, tentu saja. Aku tidak akan menyesali atau pun menangisinya lagi.. " Bukan wanita itu, tetapi sekarang Renxa yang menitihkan air matanya. Ia tidak bisa membendung dan menumpahkannya. Renxa memeluk wanita itu, mereka memang tidaklah saling kenal. Tetapi, Renxa merasakan sosok seorang kakak perempuan pada wanita itu
" Terimakasih.. terimakasih. " Wanita itu memeluknya dengan erat dan tersenyum bahagia
Renxa membantu wanita itu masuk dan menutup pintunya. Renxa ingin memastikannya lagi supaya tidak terjadi kejadian itu lagi, ia melihat siapa yang mengendarai taksi online itu. Renxa mengetuk kaca mobil dan pengemudi itu mulai menurunkannya. Terlihat seorang wanita berusia 30-35 tahunan yang menjadi pengemudi taksi online yang gadis itu pesan. Renxa merasa sangat lega melihat wajah wanita itu.
" Ada apa, nona? " (menurunkan kaca) Wanita itu terlihat sangat sopan
" Huh.. saya sangat lega melihat bahwa kamu adalah seorang wanita. Kenapa kamu masih bekerja dimalam seperti ini, bahkan seorang wanita? " (mengelus dada) Tetapi gadis itu juga sangat penasaran, bagaimana bisa seorang wanita masih bekerja dijam seperti ini. Padahal sangat tidak aman jika sendirian
" Iya, nona. Saya harus bekerja lebih untuk mendapatkan uang, jadi kadang saya membawa serta putra saya sambil bekerja hingga selarut ini.." (menengok arah kiri) Memang benar, ada seorang anak laki-laki yang masih kecil sedang tertidur pulas dibangku depan
" Oh.. " Renxa melirik anak itu, ia sebelumnya tidak menyadari bahwa ada seorang anak disamping wanita itu.
Renxa mulai meraih handphone ditasnya dan memainkannya sejenak.
" Saya memberikan kamu bonus 20x lipat dari tagihan sebenarnya, karena kamu sudah menerima order saya. Itu sudah lebih dari cukup untuk malam ini, jadi saya minta kamu pulang saja. Ini sudah sangat larut, tidak baik seorang wanita bersama anaknya masih bekerja sendirian malam-malam. Lebih baik kamu bekerja keesokan harinya, tetapi tidak perlu sampai selarut ini.. " Renxa menunjukkan layar handphone-nya pada wanita itu
" Terimakasih, terimakasih nona. Baiklah, setelah mengantar nona dibelakang ini, saya akan segera pulang. " Wanita itu terlihat sangat senang dan senyum merekah menghiasi bibirnya
" ..." Renxa tersenyum dan mengangguk melihat wanita itu. Renxa mulai beralih pada wanita di bangku penumpang belakang, wanita itu membuka kaca mobilnya dan menatap Renxa
" Kamu benar-benar baik, sekali lagi terimakasih. Selamat malam.." (tersenyum)
" ..." Renxa mengangguk dan tersenyum tipis. Wanita itu menutup kaca mobilnya
Mobil yang sebelumnya berhenti, kini perlahan mulai meninggalkan tempat itu. Renxa melihatnya sediri, mobil melewati pintu pagar utama gedung dan menghilang.
Sebelum ini, aku benar-benar menyesali apa yang telah aku lihat. Melihat ka Joe dengan.. orang lain, aku selalu menyesalinya. Terlebih malam ini.. hatiku benar-benar hancur.
Tetapi, kamu membuatku sadar. Memang benar mungkin jika semua ini tidak pernah terjadi kepadaku, maka aku tidak akan pernah menyelamatkan kehormatan kamu.
Aku adalah orang yang Tuhan pilih untuk menderita sekaligus menjadi penyelamat kecil kamu..
Sekarang aku bisa untuk tidak menyesali semuanya. Terimakasih...