MY Lovely Story

MY Lovely Story
Eps. 32



Sinar matahari menghalangi pandangannya kepada orang itu. Ia tidak dapat melihatnya dengan jelas. Ia hanya dapat merasakan dan mencium aroma familiar orang itu. Saat ia mulai memejamkan matanya, ia sekilas melihat pakaian orang tersebut.


Pakaian putih yang terdapat bercak darah tepat disetiap sisi dadanya, membuatnya tersadar. Seseorang yang sudah menggendongnya adalah orang sama yang telah menolongnya.


" Mr. Chatzi.. apakah itu anda? " Gumamnya dalam pelukan pria itu


" ..."


" Kenapa? Tadi nggak.. " Ia merasakan tubuhnya kini berada dalam bangku mobil yang sangat nyaman


Jorgo menutup kembali pintu mobilnya dan berlari memasuki bangku setir.


" Hhm.. " Renxa memejamkan matanya dan sedikit bergumam


Ia bisa merasakan ada udara dingin yang menembus melewati setiap kulitnya, ia merasa sangat tenang dan nyaman. Tubuhnya kini merasa sangat sejuk dan tidak terasa panas lagi. Dengan seperti ini dia merasa dapat tertidur dengan lebih cepat.


Sesaat setelah pria itu masuk, ia memandang dan menyadarinya. Bahwa gadis itu merasa panas, ia membenarkan letak AC mobilnya kearah dimana gadis itu berada. Ia sedikit menaikkan suhu AC mobilnya agar lebih dingin dari ini untuk membuat tubuh gadis itu menjadi dingin kembali. Sampai pada akhirnya ia menancap gas dan melanjutkan perjalanannya.


...□■□■...


" Hhm.. nyaman. " Gumam kecil gadis itu


Renxa perlahan membuka kedua belah matanya kembali. Pertama kali ia membuka dan menyadarkan dirinya, ada empat hal yang ia sadari. Pertama, ia melihat sekitar dan mobil ini sudah ada dipelataran sekolah, terparkir tepat disebelah mobilnya. Kedua, ia berada didalam mobil yang bukan miliknya. Ketiga, sejak kapan ia menyelimutkan jacket-nya ke tubuhnya? Ia sangat ingat bahwa ia melepaskannya tadi. Ke-empat dan yang terpenting, kenapa pria itu masih berada disebelahnya.


Ia sangat terkejut dengan kehadiran pria itu disebelahnya, pria itu terlihat sedang memainkan handphone-ya.


" Udah bangun? " Kalimat pertama yang dilontarkan Jorgo tanpa memandang kearah gadis itu


" Em.. "


Ia terkejut pria itu tiba-tiba berbicara kepadanya. Dengan tergesa-gesa ia menyipak jacketnya dan berbalik kekanan, kearah dimana pria itu tidak bisa melihat tubuhnya. Ia berniat untuk memakai jacketnya kembali, tetapi ia lebih terkejut ternyata ia memakai sefety-belt dibalik selimut jacketnya yang membuatnya tidak bisa bergerak leluasa.


Ah.. sialan. Sejak kapan gue disini lagi dan pakai sabuk sialan ini..


Mana susah banget lagi lepasinnya.. Arrkh..


Ia sangat frustasi dengan itu. Ia tidak bisa melepaskannya, entah kenapa safety-belt dimobil ini sangat suka mengerjainya dan menjadi musuh terbesarnya.


Jorgo menyadari hal itu, ia memandang gadis itu dan tersenyum heran. Ia tidak pernah melihat gadis bodoh seperti itu sebelumnya.


" I think your jacket.. menghalanginya." Ia menarik jacket gadis itu kepadanya, memberikan jalan agar bisa melepaskan sabuk pengaman itu


" Eh.. " Ia terkejut dengan apa yang dilakukan pria itu


Sontak Renxa langsung membalikkan tubuhnya memunggungi pria itu dengan sabuk yang masih terpasang ditubuhnya.


(Click..)


Sabuk pengaman yang ia kenakan kini telah longgar karena pria itu melepaskannya. Ia membuka matanya sebentar dan menutupnya kembali dengan cepat. Tidak sampai disitu, ia mulai merasakan nafas hangat dari punggung dan bahu kirinya.


Beruntung rambut panjangnya terurai menutupi sebagian besar punggung dan bahunya yang terbuka. Itulah alasan kenapa ia harus memakai jacket diluar, dress yang ia kenakan saat ini sebagian besar tidak bisa menutupi punggung serta bahu dan lengannya. Hal ini membuatnya tidak terlalu nyaman maka dari itu ia menutupinya dengan jacket. Karena sebelumnya ia merasakan tubuhnya terlalu panas, akhirnya ia terpaksa melepaskan jacketnya.


Ia sedikit merasa lega saat rambutnya menutupinya, tetapi ia seketika panik saat ia bisa merasakan udara dingin AC menyentuh punggungnya.


Aaa.. kenapa hal ini selalu terjadi kepadaku? Dia.. benar-benar gila.


Jorgo melepaskan sabuk pengaman yang mengikat gadis dihadapannya. Tanpa ragu pria itu mengangkat semua rambut yang menutupi punggung, bahu serta telinga gadis itu dan memegangnya.


Renxa sangat tidak nyaman dengan apa yang dilakukan pria itu kepadanya. Ia perlahan mulai merasakan nafas hangat itu dileher serta telinganya. Ia segera memejamkan matanya dengan erat, tetapi ia mendengarkan pria itu berbisik kepadanya.


" Mau sembunyi? Percuma, sebelum loe sadar gue udah melihatnya. Loe fikir siapa lagi yang menggendong, memasangkan safety-belt, dan menutupi tubuh loe dengan jacket. That's me.. " Bisik pria itu perlahan tepat ditelinga Renxa dan tersenyum


Brengsek.. rasanya gue mau.. mau mencincang loe. Dasar.. you masher!


Ah.. bukan hanya wajah dan postur serta cara bicaranya, tetapi tingkah laku mereka sangat sama. Sama-sama brengsek..


Renxa berusaha menapis pria itu, ia menarik kembali semua rambut yang pria itu genggam agar melepaskannya. Pada akhirnya pria itu melepaskan rambutnya, tetapi ia sama sekali tidak beranjak dari posisinya. Justru ia semakin mendekatkan wajahnya diantara rambut panjang yang telah menutupi punggung serta bahu gadis itu dan leher gadis itu.


Gadis itu melebarkan bola matanya dan berusaha menghindar darinya. Tetapi, kali ini salah satu tangan pria itu bergerak melingkarkan dan menahan kedua bahunya agar tidak bergerak lagi.


" Mr. Chatzi.. tolong jangan seperti ini." Berusaha menyingkirkan tangan pria itu dari lehernya


" Mr. Chatzi.. Mr. Chatzi.. " Dengan panik ia memanggil nama pria itu berulang kali, tetapi tidak dihiraukannya.


Pria itu memang tidak berbuat apa-apa kepadanya, bahkan untuk berusaha menciumnya juga tidak ia lakukan. Tetapi dengan apa yang dilakukan dilakukan Jorgo, ia sangat merasa tidak nyaman dengan posisi itu. Kelihatannya pria itu terganggu dengan apa yang terus saja dikatakan Renxa. Ia perlahan menutup mulut gadis itu dengan lembut agar tidak mengeluarkan kata-kata kembali. Renxa jauh lebih terkejut dengan apa yang baru saja dilakukan pria itu.


Huaa.. dia bahkan jauh lebih gila dari pada.. 'dia'. Tolong gue..


Aa.. tidak mau lagi... tolong..


Renxa sama sekali tidak bisa bergerak, ia memilih untuk tidak bergerak. Karena ia tau jika ia bergerak maka akan ada hal yang jauh lebih buruk menimpanya nanti. Pria itu menutup mulutnya tidak terlalu keras, hanya untuk membuatnya berhenti. Pria itu lagi-lagi membisikan kalimat ketelinganya.


" Let me talk first. I thought I'll do something crazier to you, when I get closer to you. Smell.. scent of your body, really makes me lose my mind. I feel like.. I'm crazy.


[Biarkan aku bicara dulu. Aku pikir aku pernah akan melakukan sesuatu yang lebih gila padamu saat aku lebih dekat denganmu. Mencium aroma wangi tubuhmu, benar-benar membuatku kehilangan akal. Aku merasa seperti.. aku gila] " Pernyataan yang diberikan pria itu membuat Renxa terkejut. Renxa tau ini bukanlah pertama kalinya ia mendengar hal itu.


...°¢¢¢¢¢°...