MY Lovely Story

MY Lovely Story
Eps. 54



10 menit perjalanan pertama, semuanya terasa sangat tenang. Mereka tidaklah saling berbicara saat perjalanan, baik saat ini ataupun tadi sewaktu mereka berangkat. Rute perjalanan yang ditempuh Joe sangatlah mudah, tidak ramai ataupun berbelok-belok. Karena jalanan sangat sepi pada jam pagi itu, Joe membawa motornya berlaju sangat cepat. Bahkan, Renxa pun sedikit merasa takut, tetapi ia tidak ingin memberitahunya, karena ia tau jika ia memberitahu maka pria itu akan membawanya jauh lebih cepat dari saat ini. Joe adalah tipikal pria seperti itu, ia akan melakukan semuanya jika ia dilarang.


Aa.. apa dia tidak memiliki rasa takut? Apa cuman cewek yang takut dengan kecepatan motor?


Renxa memejamkan matanya, ia berusaha untuk terlihat biasa saja. Tetapi tubuhnya tidak bisa mengikuti kehendaknya, tangannya memeluk dan menggenggam baju Joe dengan keras. Bahkan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, ia sangat gugup.


Tiba-tiba..


" Eh? " Gadis itu merasakan angin tidak terlalu kencang menghantam tubuhnya, seperti yang lalu. Tidak, pria itu mengurangi kecepatannya dan membawa motornya sedikit lebih pelan


" Takut? Kenapa loe tidak mengatakannya?" (membuka kaca) Ia perlahan mengurangi kecepatannya. Joe terdengar tertawa pada kalimatnya


" Ah.. haha, tidak. Gue biasa aja, siapa yang bilang gue takut. Tapi, dengan kecepatan seperti ini lebih baik dari pada yang tadi. Haha.." Bantah gadis itu. Ia melepaskan genggaman dan melonggarkan tangannya pada tubuh pria itu


" Itu namanya, loe takut! Loe tidak mengakuinya, gue bisa merasakan detak jantung loe sangat cepat. Loe fikir gue tidak bisa merasakannya, saat tubuh loe sedekat ini dengan gue, hah? "


" Baiklah, karena loe yang pertama bilang, maka gue mengakuinya. Gue tidak mau mengatakannya, karena apa? Karena gue tau loe pasti malah akan membawanya lebih cepat saat gue mengatakannya.. "


" ... " (tersenyum) Joe tau bahwa gadis itu memang benar, dia sangat mengenalnya dengan baik. Bahkan jika mereka masih kecil


" Dan, gue ingat. Dulu kita pernah naik.. naik apasih namanya, yang kaya mangkok yang diputar-putar itu. Gue inget banget, loe yang mutarin buat gue dari luar dan waktu itu loe muterin dari lambat hingga kenceng banget. Gue kan yang merasakan, jadi gue bilang buat loe tidak terlalu kencang muternya. Eh.. tapi apa yang loe perbuat, loe tau gue takut dan malah muterin sekencang-kencangnya. Disitu gue merasa benar-benar kesal, gue sampai muntah gara-gara kelakuan loe. Setelah itu, gue tidak mau mengatakan perasaan gue jika itu dengan loe. Kesimpulannya adalah kelakuan loe sangat nakal jika dengan gue, padahal jika dengan orang lain loe tidak pernah memperlakukan mereka seperti loe mempermainkan gue? " Renxa sangat teliti dengan apa yang ia katakan. Ia bahkan sangat kesal hanya dengan mengingatnya


" Hahaha.. " Joe tidak bisa menahan tawanya saat mengingat masa kecil mereka bersama. Ia perlahan meminggirkan kendaraannya dan berhenti. Jalan memanglah tidak banyak kendaraan, tetapi ia tidak mau mengambil resiko berkendara tanpa kendali


" Kenapa berhenti? Kan bentar lagi nyampe. "


" Memangnya loe tau jalan ini? Sampai bisa kita mau sampai atau tidak? " Ia menengok kearah gadis itu


" Tidak, gue hanya mengira-ngira." (Tersenyum) Renxa melepaskan tangannya dari pria itu, sekarang ia bisa menegakkan tubuhnya dengan aman


" ..." (Joe memperbaiki rambut)


" ..." (menyipitkan mata)


Kenapa dia berhenti tiba-tiba, dan sekarang tidak mengatakan sepatah kata pun. Mau dia apa sih sebenarnya?


Suasana menjadi hening sejenak saat, tadi Joe melepas helm-nya dan mematikan mesin motornya. Ia menengok ke arah kiri, memandang hamparan tanah yang dipenuhi tanaman padi. Kebetulan jalan setapak yang dilewati mereka pada sisi kiri dan kanan-nya memanglah tanah luas dengan padi tertanam. Matahari tidaklah terlalu bersinar terang, sedikit mendung dilangit. Karena matahari tidak bersinar membuat suasana menjadi sedikit dingin dan berangin.


" Ka Joe.. " Ia berusaha mencari tau kenapa dia tidak melanjutkan perjalanan mereka


" Gue.. bagaimana menurut loe tentang dia? " Sangat mengejutkan, tiba-tiba saja dia menanyakan pertanyaan yang ambigu. Hanya dia yang tau apa yang sedang ia pikirkan


" Eh? Apa? Siapa, dia? " (binggung)


" ..."


" Kenapa loe jadi seserius ini? Siapa yang loe maksud? " Ia tidak mengerti, pria itu tidak menjawab pertanyaannya


" Cittch.. cowok yang tadi! Bagaimana menurut loe? " Joe menegaskan kalimat awalnya dan melanjutkannya dengan datar


" Ah.. Jackson? Dia Jackson, ka Joe. Memangnya kenapa, nggak suka?" (melepas helm) Renxa tersenyum lebar menatap pria itu. Ia merapikan rambutnya dan mulai mendekati pria itu, ia ingin melihat bagimana ekspresi pria itu


" Ih.. apa sih? " Joe menghindarinya dengan kesal


" Hahaha.. ka Joe, nggak suka? Gue sama Jackson? Jadi selama ini loe memikirkannya? " Ia menggoda pria itu, tetapi dia masih saja bisa bersikap biasa saja


" Oh.. hhm.. gimana ya ngomongnya. Dia itu pria yang baik, pintar dan tampan. Dulu waktu kita pertama kali bertemu, dia adalah orang yang paling tampan dalam kelompok besar gue di Zurich. Waktu itu ad- " Renxa menjelaskannya dengan santai, tetapi sebelum selesai Joe memotong pembicaraannya


" Jadi maksud loe dia itu pria yang baik, sedangkan gue pria brengsek, gitu? " Sela Joe dengan kesal. Ia terlihat sangat marah dengan gadis itu


" Eh.. um? Bukan, maksud gue.. " Renxa terkejut, ia membutuhkan waktu untuk memahami perkataan pria itu.


" Loe selalu mengatakan bahwa gue adalah pria brengsek. Cittch.. " Joe semakin dibuat marah oleh gadis itu


Apa? Gue bahkan tidak bermaksud seperti itu, kenapa dia jadi seperti ini..


Ia dan pria itu bertengkar dipinggir jalan. Renxa bahkan tidak mengerti apa yang sedang mereka perdebatkan.


" Ah.. tidak, tidak. Haha.. ka Joe, gue tidak bermaksud seperti itu. " Sekarang Renxa bahkan jauh lebih canggung kepada pria itu


" ..."


" ..." Renxa mengedipkan mata berulang kali menatap pria itu, Joe sama sekali tidak menghiraukannya. Mereka berdiam diri sesaat dan gadis itu pun mengalah


" Terus, apa kita harus selamanya disini? Semua orang yang lewat, memperhatikan kita. Ayo kita jalan.. "


" Loe bisa jalan dari sini, kalau loe mau.. " Jawab Joe


" Apa? Tidak, tidak mau. Gue tidak tau jalan ini."


" ... "


Kalau loe tidak bersikeras menjemput gue, gue tidak akan berada pada posisi ini. Sialan.. Joe, sialan!


" Ka Joe, loe marah sama gue? Kalau begitu gue minta maaf, gue hanya bercanda saat mengatakannya. " Ia sangat binggung, ia tidak berani menatap pria itu dan ia hanya memandang tangan kirinya yang dibalut perban karena lukanya


" Jadi? " Joe melirik gadis itu


" Jadi.. apa yang loe inginkan? Supaya loe tidak marah lagi. Gue bisa membelikan loe ice cream yang banyak. Atau, menteraktir loe makan jika loe mau. " Ia lupa dengan siapa ia berhadapan. Tanpa fikir panjang, gadis itu menawarinya dengan mudah


" ..." Joe tersenyum lebar dan menengok gadis itu


" ... " Renxa tidak percaya dengan apa yang ia lihat, baru saja ia menyadari apa yang ia tawarkan dengan mudah pada pria itu


Ah.. bodoh! Kenapa.. apa loe lupa dengan siapa loe berhadapan. Di adalah Joe, pria yang paling brengsek.


Mampus gue, dia pasti akan memanfaatkan hal ini


" Anu, maksud gue.. " Ia melambaikan tangannya dan tertawa canggung


" Loe sudah berjanji, dan loe harus menepatinya. Gue bukalah anak kecil yang bisa loe suap dengan ice cream. Dan.. gue tidak butuh loe meneraktir gue, gue bisa membelinya sendiri.. " Joe tersenyum puas, gadis itu tidak bisa melihatnya.


" Kita pulang, pakai helm loe.. " Joe memakai helm-nya kembali dan menyalakan mesin motornya. Ia akhirnya membawa kendaraannya pergi menjauh dari tempat itu


...□■□■...


...