
Ahaha.. kenapa dia tidak membuka matanya, jika dia tau gue masuk? Dia selalu memanfaatkan gue..
Renxa sangat kesal merasakan pria itu. Tanpa fikir panjang ia ingin melampiaskan rasa kesalnya pada pria itu. Renxa diam-diam berlari kecil mendekati pria itu.
(Plakk..plakk..plakk..plakk..)
Renxa tanpa ragu beberapa kali memukul dengan keras punggung dan bahu pria itu, menggunakan kedua tangannya sekaligus.
" Ouch.. " (menyentuh bahu kirinya) Rintih Joe, ia membalikkan tubuhnya dan mengerutkan dahinya melihat gadis kecil itu
" Ups.. hihi.. " (tertawa) Renxa segera menghindar dan berlari sekencang-kencangnya meninggalkan pria itu
" Eh.. hey, damn! Awas sampai loe, gue tangkep.. hey, anak kecil! " Joe berteriak sangat marah, ia berlari mengejar gadis itu kembali
" Arrk.. takut-takut.. aa.. " (berlari) Renxa berteriak sepanjang ia berlari. Joe berlari menghampirinya dengan cepat
Karena panik seharusnya ia mengambil jalan kekiri untuk bisa turun kebawah dan terbebas dari pria itu. Tetapi.. ia tidak bisa berhenti ataupun berbelok, ia akhirnya berlari lurus melewati arah tangga rumahnya. Ia dan Joe saling berlari memutari lantai 2 rumah itu tanpa henti.
" Renxa Nocthadhanaksa.. " Teriak Joe dari belakang, ia bahkan hampir mendekati gadis itu
" Aa.. ka Joe.. maaf-maaf. Takut-takut.." (berteriak) Ia sangat lelah hingga membuat laju kecepatannya melambat
Gue tidak bisa membiarkan dia menangkap gue.. tidak-tidak!
Renxa terus berlari dan memasuki setiap sela cabang ruangan lantai itu. Saat ia mulai melewati jalan cabang terakhir lantai itu, seharusnya ia tau bahwa itu adalah jalan buntu. Tetapi ia terlalu panik dengan pemikirannya sehingga ia tidak bisa mengingatnya.
Benar saja, Renxa memasuki itu dan terkejut. Tempat yang ia masuki adalah ruangan yang seharusnya menjadi study dirumah mereka nantinya, jadi tidak ada jalan keluar. Satu-satunya jalan untuk keluar adalah jalan masuknya.
Shit.. gue terjebak!
Renxa membalikkan dirinya dan melihat pria itu memasukinya.
" ..." (berbalik) Ia bahkan tidak bisa bernafas dengan benar
" Huh.. bukankah loe tau ini tidak ada jalan keluar.. selain jalan yang loe lewati? " Joe tidaklah terlalu terengah-engah separah gadis itu, ia terlihat menikmatinya
" Ah.. ka Joe, gue tidak bermaksud. Haha.. iya.. huh-huh.. " (terengah-engah)
" Hhm.. apa loe yakin. " (mengangkat salah satu alisnya) Joe perlahan berjalan mendekati gadis itu, setiap langkah ia maju gadis itu juga mundur mengikuti langkahnya
" Haha.. iya, gue hanya bercanda. Bentar.. beri waktu gue untuk bernafas. " (melambaikan tangannya) Ia berusaha bernafas dengan lancar
" ..." Joe menghentakkan kakinya dan berlali mendekati tubuh gadis itu. Membuat gadia itu terkejut dan berjalan mundur lebih cepat
" Aa.. tidak-tidak. Jangan dekati gue.. gue tidak ingin melakukannya.. Aaa.." (memejamkan mata) Ia mundur hingga tubuhnya membentur dinding belakangnya
" ..." Joe mengangkat kedua alisnya dan tersenyum tipis
" Melakukannya? Apa yang loe fikirkan? Ini kedua kalinya loe berfikir aneh. Gue tidak mengerti dengan jalan fikiran loe.. " Joe tersenyum, perlahan ia mundur menjauhi tubuh gadis itu
" Eh? " (membuka matanya)
" ..." Joe menatapnya dan tersenyum disudut bibirnya
" Uh? Em? Um.. lebih baik kita segera turun. Mereka sudah menunggu kita sangat lama. Haha.. " Ia berusaha bersikap biasa saja dan berjalan melewati pria itu
Renxa berjalan melewati pria itu dengan tenang. Saat ia akan meninggalkan ruangan itu, Joe menarik lengan kirinya dan membalikkan tubuhnya. Ia terkejut dan tidak ada waktu untuk menapisnya
" Gue.. apa loe tau, seberapa keras gue mencoba untuk tidak memakan loe.. " Joe membisikkannya pada telinga kiri gadis itu
" ..."
" Berulang kali gue hampir tidak bisa mengendalikan akal sehat gue. Setiap kali melihat loe.. gue tidak bisa mengendalikannya."
" ..."
" ..." Joe melepaskan genggamannya dari gadis itu. Ia berjalan pergi mendahului gadis itu
Tapi, apa loe juga mengetahuinya? Seberapa keras gue mengeraskan perasaan gue untuk tidak ikut masuk jauh kedalam kehidupan loe. Dulu.. hingga saat ini?
Ka Joe, setiap kali loe mendekati gue.. gue dengan bodohnya selalu berfikir loe akan mencintai gue. Tetapi gue salah, maka dari itu gue berusaha untuk tidak bermain terlalu jauh dengan loe..
" ..."
...°¢¢¢¢¢°...
(Dining room)
Beberapa pelayan memasuki ruangan itu dan menyajikan menu-menu pilihan Chef Lydia untuk mereka. Renxa mengambil jarak dua bangku dihadapan pria itu, ia tidak ingin duduk berhadapan langsung dengannya. Renxa sangat lapar, sebelumnya ia harus minum air putih yang banyak dulu sambil menunggu mereka menyajikan makanannya. Tidak ada ruginya, kebetulan ia juga sangat haus karena terus saja berlarian mengelilingi rumah.
" ..."
" ..." Joe menatapnya dengan aneh. Pria itu duduk disisi kiri, sedangkan ia disisi kanan. Ia berusaha untuk menghiraukan pria itu dan memfokuskan dirinya pada makanannya
" Kenapa duduknya jauh banget? Sengaja menghindari gue? "
" Ah.. tidak. Biasa aja, itu cuman perasaan loe. " Ia mulai melahap makanannya
Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut keduanya. Mereka makan dengan tenang dan hening. Semua menu dari appetizer hingga dessert terasa sangat enak dimulut gadis itu.
Renxa berusaha untuk tidak menatap pria itu sampai pada dessert terakhirnya. Joe mulai membuka pembicaraan mereka, hal yang dikatakan pria itu membuatnya sangat terkejut.
" Gue mau, loe menemani gue malam ini bertemu dengan teman-teman gue.. " Jelas Joe dengan datar. Ia masih menikmati makanan penutupnya yang manis
" Uhuk.. uhuk.. uhuk. " Renxa tersedak oleh makanannya. Saat pria itu berbicara, Renxa sedang melahap 1 sendok penuh Chinese Mooncake-nya. Ia sangat terkejut sehingga sebelum ia sempat menelannya ia berusaha untuk berbicara dan membuatnya tersedak
" ..." Joe hanya menatap gadis itu dengan datar
" Uhuk.. uhuk.. apa loe bilang? " Ia meminum air putih yang diberikan pelayan kepadanya
" ..." (mengunyah) Joe tidak ingin mengulangi apa yang baru saja ia katakan
" Loe gila? Buat apa gue menemani loe? Mereka teman loe, bukan gue. Tidak, gue tidak mau! "
" Hhm.. apa loe lupa dengan apa yang tadi pagi loe katakan? Apa perlu gue ingatkan.. " Joe tersenyum menatap gadis itu
" ..." Gadis itu menggigit bibir bawahnya dan mengingat semua yang ia katakan
Sialan, dia benar-benar memanfaatkan gue!
Ia tidak bisa menyangkal hal itu, memang benar hal yang dikatakan pria itu. Sebenarnya ia tidak sengaja mengatakan hal itu, karena untuk pertama kalinya Joe merasa kesal dengannya. Ia tidak bisa menghadapinya, satu-satunya pilihan adalah menerimanya.
Cuman kali ini, and.. selesai!
" Baiklah.. jam berapa gue harus bersiap? Dan kita akan pergi kemana?" Ia sangat malas menanggapi pria itu dan pria itu malah tersenyum lebar kepadanya
Ih.. perasaan gue tidak enak, melihat dia. Dia adalah biang dari semua perasaan tidak enak..
Dasar cowok sialan!
" Jam 10 malam, di.. loe tidak perlu tau tempatnya. Yang loe lakukan hanya menuruti gue! " Jelas Joe dengan santai
" ..." Mulut gadis itu terbuka seketika mendengar pernyataan pria itu.
Ah.. perasaan gue semakin tidak enak. Apa dia tidak bisa bermain dengan orang lain?
Sialan.. sialan! Renxa kenapa loe harus bermain dengan pria itu..
" Loe bawa gue kemana? Jam 10 malam, loe gila? Loe bawa anak orang pergi malam-malam?" (menyipitkan matanya) Renxa sangat kesal, hingga kesalnya ia bahkan tidak bisa berbicara kasar! Dengan nada yang putus asa ia menatap pria itu
" Iya, terserah gue.. " (tersenyum) Jawab pria itu dengan santai tanpa menatap gadis itu
" Loe tidak akan berbuat macam-macam dengan gue, kan? "
" Hhm.. lihat saja nanti. "
" Apa? Gue ini masih anak-anak.. apa loe sadar itu? " Ia sedikit berteriak pada pria itu
" Tentu saja, loe masih anak-anak!" (tersenyum)
Tidak lama setelah itu Joe terlihat menyelesaikan makanannya dan bersiap untuk pergi dari situ. Renxa melihatnya, ia belum menyelesaikan dessertnya maka dia tidak ingin pergi. Lagi pula ia juga ingin melihat pria itu pergi dari sini.
" ..." Joe bangkit dari kursinya dan berjalan melewati gadis itu
" Loe balik sekarang kan? " Dengan yakin
" Kenapa? Loe mau gue pergi?" (berbalik)
" IYA.. " Ia sangat jujur dengan apa yang ia katakan. Ia menengok kearah pria itu dan pria itu malah tersenyum tipis kepadanya
" ..." Joe tersenyum dan berjalan mendekati gadis itu
" ..." Renxa melihat pria itu berjalan mendekatinya, ia berusaha untuk terlihat biasa saja
" Baiklah, jika itu mau loe. Gue pergi! " Joe membungkukkan tubuhnya
(Cup...)
Joe mengecup kepalanya, Renxa tidak bisa berbuat apa-apa. Ia terkejut dan tidak berani mendongak menatap pria itu. Joe berbalik dan berjalan menjauhi gadis itu.
" Ambilkan barang-barang saya dikamar. Saya menunggu didepan.. " Ucap Joe kepada pelayan-pelayan yang berada didalam ruangan. Mereka mengangguk mengerti dan mengikuti pria itu. Ia perlahan mulai keluar meninggalkan ruangan
" ..." Renxa masih diam terpaku ditempat duduknya
Kemudian..
" Uweekk.. ihh. Kepala gue dicium oleh bibir yang sudah menyentuh orang lain. Uweek.. tidak mau!" Gadis itu mengibas-ngibaskan rambutnya
Setelah beberapa saat ia menyelesaikan makanannya, gadis itu segera pergi meninggalkan ruangan. Pelayan mulai membersihkan meja saat ia mulai bangkit dari kursinya. Renxa ingin kembali kekamarnya dan beristirahat, ia hanya ingin tidur yang cukup. Karena pria itu bilang mereka akan pergi pukul 10 malam, jadi tidak akan lucu jika ia tiba-tiba mengantuk disana.
...□■□■...